Senin, 09 Januari 2017

Kritik kepada penguasa

Assalamualaikum…
Ust. Mengenai berita yg beredar terhadap pemerintahan sekarang, utusan mahasiswa dari berbagai daerah sudah melakukan musyawarah. Yg isinya menyerukan semua mahasiswa se-Indonesia untuk turun kejalan, untuk menyuarakan inspirasi rakyat yg semakin tertindas akibat kebikajan pemetintah yg terlihat tidak pro rakyat dan melempar tanggung jawab.
Selain itu juga, akan ada penyeruan reformasi jilid 2. Entah itu waktu itu juga atau menunggu proses dari pemerintah.
Pertanyaannya, bagaimana kalau memang reformasi jilid 2 ini benar2 berlangsung/terjadi?
Dan bagaimana saya selaku mahasiswa untuk menanggapinya?

Dari Hendra – Tasikmalaya

Wa ‘alaikumsalam Wr.wb, Akhi Hendra yg dirahmati Allah SWT. Situasi & kondisi ekonomi masyarakat hari ini memang sedang tak menentu. Artinya daya beli masyarakat sangat lemah & pengangguran meningkat shg jumlah kemiskinan terus bertambah. Apalagi pemerintahan Jokowi-Jk per awal January kemaren menaikkan harga BBM & tarif dasar listrik (TDL).

Mahasiswa sbg kaum intelektual & agen perubahan masyarakat ikut andil utk peduli mengatasi problematika bangsa shg mrk mengikuti jejak generasi mrk terdahulu di Indonesia ada angkatan 66, angkatan 78 & angkatan gerakan reformasi 98. Alhamdulillah saya termasuk aktivis kampus era 98.

Apa yg direncanakan oleh gerakan mahasiswa se-Indonesia utk melakukan aksi demonstrasi reformasi jilid ke-2 utk mengoreksi penguasa menurut saya adl bagian dari aktivitas amar ma’ruf & nahyi mungkar.

Terkait dgn masyiroh atau unjuk rasa damai hanyalah uslub atau teknik atau cara dlm menyampaikan pendapat atau menyadarkn masyarakat utk membentuk opini publik menegakkan yg ma’ruf & mencegah yg mungkar.

Unjuk rasa berbeda dgn Demonstrasi sebab demonstrasi cenderung anarki & menimbulkan kedzoliman bagi masyarakat luas.

Bila fakta hukum antara unjuk rasa dgn demonstrasi berbeda maka kesimpulan hukumnya berbeda. Sementara kaidah ushul fiqh menyatakan, Al-ashlu filaf’ali taquyyudu bilhukmi syaar’i yaitu hukum asal perbuatan manusia terikat dgn hukum syara’.

Hukum asal berbicara ditempat umum utk mengoreksi penguasa yg dzalim tanpa ada bermaksud mendzalimi apalagi menimbulkan pertumpahan darah ditengah2 masyarakat adl mubah.

Salah satu bentuk aktivitas politik Islam adl melakukan koreksi thp kebijakan penguasa ketika menyimpang dari prinsip2 ajaran Islam. Aktivitas ini dpt dilakukan oleh individu, jama’ah maupun lembaga representatif ummat (majelis ummat). Aktivitas mengoreksi penguasa bagian dari aktivitas menyerukan yg ma’ruf & mencegah dari yg mungkar. Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ .( رواه مسلم)

Artinya :“Barangsiapa diantara kamu yg melihat kemungkaran maka hendaklah ia mengubahnya dgn tangannya, jika ia tdk mampu maka dgn lidahnya, jika tdk mampu maka dgn hatinya & itulah selemah2 iman “(HR.Muslim).

Hukum mengoreksi penguasa (muhasabah li alhukkam) adl fardhu atas kaum muslimin. Benar, seorang penguasa wajib ditaati walaupun mrk melakukan kedzaliman & memangsa hak2 rakyat. Akan tp taat kpd penguasa lalim bukan berarti meniadakan kewajiban melakukan koreksi atas diri mrk atau berdiam diri thp kemungkaran mrk.(Ref : Panduan lurus memahami Khilafah Islamiyyah menurut kitab kuning).

Mengoreksi Penguasa Bukan Ghibah.

Mengkritik penguasa di muka umum hukumnya boleh & tdk termasuk ghibah yg dilarang dlm Islam. Dalilnya ada dua yaitu :

1. Dalil2 mutlak mengenai kritik kpd penguasa bagian dari aktivitas amar ma’ruf & nahyi mungkar sprti hadist :

أَفْضَلُ الْجِهَادِ، كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

Artinya : ”Seutama2 jihad adl menyampaikan kalimat yg adil (haq) kpd penguasa (sulthan) yg zhalim.” (HR. Abu Dawud no.4.346).

Dalil ini mutlak, yakni tanpa menyebut batasan tertentu mengenai cara mengkritik penguasa, apakah secara terbuka atau tertutup. Maka boleh hukumnya mengkritik penguasa secara terbuka, berdasarkan kemutlakan dalil tsb sesuai dgn kaidah ushul fiqh :

العطلق يجري على عطلق مالم يرد الدليل يدل على التقيد

Artinya : Dalil mutlak tetap dalam kemutlakannya, selama tidak ada dalil yang menunjukkan batasan/syarat). (Ref : M. Abdullah Al Mas’ari, kitabMuhasabah Al-Hukkam, hlm. 60).

Bolehnya mengkritik secara terbuka jg diperkuat dgn praktik para shahabat Nabi Muhammad SAW yg sering mengkritik para Khalifah secara terbuka. Diriwayatkan dari ‘Ikrimah r.a, Khalifah Ali bin Abi Thalibr.a tlh membakar kaum zindiq. Berita ini sampai kpd Ibnu Abbas r.a, maka berkatalah Ibnu Abbas r.a :

لو كنت أنا لم أحرقهم، لنهي رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا تعذِّبوا بعذاب الله. ولقتلتهم، لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم: من بدَّل دينه فاقتلوه

Artinya : ”Kalau aku, niscaya tdk akan membakar mereka krn Nabi SAW tlh bersabda, Janganlah kamu menyiksa dgn siksaan Allah (api) & niscaya aku akan membunuh mereka krn sabda Nabi SAW, Barangsiapa mengganti agamanya, maka bunuhlah dia.” (HR. Bukhari no. 6.524). Hadits ini jelas menunjukkan Ibnu Abbas tlh mengkritik Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a secara terbuka di muka umum. (Ziyad Ghazzal, Masyru’ Qanun Wasa’il Al I’lam fi Al Daulah Al Islamiyah, hlm.25).

2. Adanya dalil2 bhw mengkritik penguasa yg zhalim tidaklah termasuk ghibah yg diharamkan dlm Islam. Imam Nawawi rahimahullahu didalam kitab Riyadhus Shalihin tlh menjelaskan banyak hadits Nabi SAW yg membolehkan ghibah2 tertentu sbg perkecualian dari hukum asal ghibah (haram).

Misalnya, hadits dari ‘A’isyah radhiyallahu ‘anha :

عن عائشة رضي الله عنها أن رجلاً استأذن على النبي صلى الله عليه وسلم، فلما رآه قال: (بئس أخو العشيرة، وبئس ابن العشيرة)

Artinya : “Seorang laki2 minta izin (untuk bertemu) Nabi SAW, kemudian Nabi SAW bersabda, Dia adl saudara yg paling jahat bagi keluarganya atau anak yg paling jahat di tengah2 keluarganya.”(HR. Bukhari no 5.685 & Muslim no.2.591).

Hadits ini menunjukkan Nabi SAW telah melakukan ghibah, yaitu menyebut seseorang di hadapan umum lantaran kejahatan orang itu.

Berdasarkan dalil2 semacam ini, para ulama tlh menjelaskan bhw ghibah di hadapan umum kpd orang yg jahat, termasuk jg penguasa yang zalim, hukumnya boleh. Imam Ibnu Abi Dunya rahimahullahu meriwayatkan pendapat Ibrahim An Nakha`i (seorang tabi’in) yg berkata :

ثلاث لا يعدونه من الغيبة : الامام الجائر والمبتدع والفاسق المجاهر بفسقه

Artinya : Ada tiga perkara yg tdk dianggap ghibah oleh mereka (para shahabat), yaitu; imam yg zalim, orang yang berbuat bid’ah & orang fasik yg terang2 an dgn perbuatan fasiknya.

Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata :

ثلاث ليس لهم غيبة : صاحبهوىوالفاسق المعلن بالفسق والامام الجائر

Artinya : Ada tiga orang yg boleh ghibah padanya, yaitu; orang yg mengikuti hawa nafsu, orang fasik yg terang2 an dgn kefasikannya & imam yg zhalim.” (Ibnu Abi Dunya, kitab Al-Shumtu wa Adabul Lisan, hlm. 337 & 343).

Memang ada ulama yg mengharamkan mengkritik pemimpin secara terbuka berdasar hadits Iyadh bin Ghanam, bhw Nabi SAW berkata

من أراد أن ينصح لسلطان بأمر فلا يبد له علانية ولكن ليأخذ بيده فيخلو به فإن قبل منه فذاك وإلا كان قد أدى الذي عليه له

Artinya : ”Barangsiapa hendak menasehati penguasa akan suatu perkara, janganlah dia menampakkan perkara itu secara terang2 an tp peganglah tangan penguasa itu & pergilah berduaan dengannya. Jika dia menerima nasehatnya, itu baik, kalau tdk, orang itu tlh menunaikan kewajibannya pd penguasa itu.” (HR.Ahmad, Al Musnad, Juz III no. 15369).

Namun hadits ini dha’if shg tdk boleh dijadikan hujjah krn 2 alasan : 1. Sanadnya terputus (inqitha’) & 2. Ada periwayat hadits yg lemah, yaitu Muhammad bin Ismail bin ‘Iyasy. (M. Abdullah Al Mas’ari, Muhasabah Al Hukkam, hlm. 41-43).

Wallahu a’lam

ISTIGHFAR

ISTIGHFAR
••••••••••••••••••••••••••
Imam Ahmad bin Hambal Rahimakumullah (murid Imam Syafi’i) dikenal juga sebagai Imam Hambali. Dimasa akhir hidupnya beliau bercerita;

Suatu waktu (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tau kenapa ingin sekali menuju satu kota di Irak. Padahal tidak ada janji sama orang dan tidak ada keperluan.

Akhirnya Imam Ahmad pergi sendiri menuju ke kota Bashrah. Beliau bercerita;
Begitu tiba disana waktu Isya’, saya ikut shalat berjamaah isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin istirahat.

Begitu selesai shalat dan jamaah bubar, imam Ahmad ingin tidur di masjid, tiba-tiba Marbot masjid datang menemui imam Ahmad sambil bertanya; “Kamu mau ngapain disini, syaikh?.”

Kata “syaikh” bisa dipakai untuk 3 panggilan:
1⃣bisa untuk orang tua, 2⃣orang kaya ataupun 3⃣orang yg berilmu.
Panggilan Syaikh dikisah ini panggilan sebagai orang tua, karena marbot taunya sebagai orang tua.

Marbot tidak tau kalau beliau adalah Imam Ahmad. Dan Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan siapa dirinya.

Di Irak, semua orang kenal siapa imam Ahmad, seorang ulama besar & ahli hadits, sejuta hadits dihafalnya, sangat shalih & zuhud. Zaman itu tidak ada foto sehingga orang tidak tau wajahnya, cuma namanya sudah terkenal.

Imam Ahmad menjawab, “Saya ingin istirahat, saya musafir.”
Kata marbot, “Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid.”

Imam Ahmad bercerita,
“Saya didorong-dorong oleh orang itu disuruh keluar dari masjid, Setelah keluar masjid, dikuncinya pintu masjid. Lalu saya ingin tidur di teras masjid.”

Ketika sudah berbaring di teras masjid Marbotnya datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad. “Mau ngapain lagi syaikh?”_ Kata marbot.
“Mau tidur, saya musafir”_ kata imam Ahmad.

Lalu marbot berkata;
“Di dalam masjid gak boleh, di teras masjid juga gak boleh.”_ Imam Ahmad diusir. Imam Ahmad bercerita, _”saya didorong-dorong sampai jalanan.”

Disamping masjid ada penjual roti (rumah kecil sekaligus untuk membuat & menjual roti). Penjual roti ini sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot tadi.

Ketika imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh; “Mari syaikh, anda boleh nginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil.”

Kata imam Ahmad, “Baik”. Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk dibelakang penjual roti yg sedang membuat roti (dengan tetap tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir).

Penjual roti ini punya perilaku khas, kalau imam Ahmad ngajak bicara, dijawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil melafalkan ISTIGHFAR. “Astaghfirullah”

Saat memberi garam, astaghfirullah, memecah telur_astaghfirullah_ , mencampur gandum astaghfirullah . Dia senantiasa mengucapkan istighfar. Sebuah kebiasaan mulia. Imam Ahmad memperhatikan terus.

Lalu imam Ahmad bertanya, “sudah berapa lama kamu lakukan ini?”

Orang itu menjawab;
“Sudah lama sekali syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan.”

Imam Ahmad bertanya;
“Apa hasil dari perbuatanmu ini?”

Orang itu menjawab;
“(lantaran wasilah istighfar) tidak ada hajat/keinginan yg saya minta, kecuali PASTI dikabulkan Allah. semua yg saya minta ya Allah…., langsung diwujudkan.”

Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah bersabda;
“Siapa yg menjaga istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rizki dari jalan yg tidak disangka-sangkanya.”

Lalu orang itu melanjutkan, “Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yg belum Allah beri.”

Imam Ahmad penasaran lantas bertanya;
“Apa itu?”

Kata orang itu;
“Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan imam Ahmad.”

Seketika itu juga imam Ahmad bertakbir, _”Allahu Akbar..! Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan – sampai didorong-dorong oleh marbot masjid – Sampai ke jalanan ternyata karena ISTIGHFARMU.”

Penjual roti itu terperanjat, memuji Allah, ternyata yg didepannya adalah Imam Ahmad.

Ia pun langsung memeluk & mencium tangan Imam Ahmad.

(SUMBER: Kitab Manakib Imam Ahmad)

Saudaraku & Sahabatku tercinta….. Mulai detik ini – marilah senantiasa kita hiasi lisan kita dengan ISTIGHFAR – kapanpun dan di manapun berada

Menaikkan BBM Kebijakan Dzalim

 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Bersabda,

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ هَذِهِ أُمَّتِي شَيْئاً فَرَفَقَ بِهِمْ، فَارْفُقْ بِهِ. وَمَنْ شَقَّ عَلَيْهَا فَاشْفُقْ عَلَيْهِ.( رواه مسلم)

Artinya : Ya Allah.. Barangsiapa memiliki hak mengatur suatu urusan umatku, lalu ia memberatkan atau menyusahkan mereka, maka beratkan atau susahkan dia. Dan barangsiapa memiliki hak mengatur suatu urusan umatku, lalu ia memperlakukan mereka dengan baik, maka perlakukanlah dia dengan baik.(HR. Muslim).

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaraku seiman,
Pemerintah Jokowi-JK menghadiahkan 3 kado pahit tahun baru 2017 bagi rakyat Indonesia. Kado pahit pertama yakni kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi sebesar Rp.300/liter. Kedua, kebijakan menaikkan tarif dasar listrik (TDL) 900 VA sebesar 123,4 % secara berkala. Ketiga, kebijakan menaikkah pajak kendaraan bermotor 2-3 kali lipat.
Kenaikan harga BBM mulai berlaku 5 Januari 2017 utk semua jenis BBM. Sedangkan kenaikan TDL berlaku lebih awal, terhitung mulai 1 Januari 2017.

Alasan klasik pemerintah menaikkan BBM & TDL adl utk mengurangi beban subsidi yg dikatakan sdh sangat besar. Dalam Undang2 APBN 2017 ditetapkan pendapatan negara sebesar Rp 1.750,3 triliun & belanja negara Rp 2.080,5 triliun, serta defisit Rp 330,2 triliun atau 2,41 % dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sedangkan, pertumbuhan ekonomi ditargetkan hanya 5,1 %.

Alokasi subsidi dianggarkan sebesar Rp 160 triliun. Subsidi itu terdiri dari subsidi energi Rp 77,3 triliun & subsidi non energi sebesar Rp 82,7 triliun. Subsidi energi terdiri dari subsidi jenis BBM tertentu dan LPG tabung 3 Kg sebesar Rp 32,3 triliun & subsidi listrik sebesar Rp 44,9 triliun.

*Kebijakan Dzalim*

Dlm perspektif Islam eksistensi seorang pemimpin adl bertanggung jawab penuh utk mengurusi urusan rakyatnya mulai dari sandang, pangan & papan. Pemimpin yg abai thp kebutuhan rakyatnya adl terkategori sbg pemimpin yg dzalim.

Pelaku kezaliman yg paling menonjol adl para penguasa thp rakyatnya. Di tengah2 ragam kesulitan & himpitan hidup yg dialami rakyat, mrk dgn seenaknya menaikkan harga2 (BBM, gas, tarif listrik, dll), meningkatkan pungutan berupa pajak yg makin memberatkan, memaksa rakyat utk ikut program asuransi atas nama BPJS, menyerahkan kekayaan milik rakyat kpd pihak swasa & asing atas nama privatisasi.

Mrk seolah abai thp ancaman yg mengerikan di akhirat bagi pelaku kezaliman. Padahal Allah SWT tlh berfirman :

{إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} [الشورى : 42]

Artinya : Sesungguhnya kesalahan hanya ada pd orang2 yg menzalimi manusia & melampaui batas di muka bumi tanpa mengindahkan kebenaran. Mereka itu bakal merasakan azab yg amat pedih.(QS. Asy-Syura: 42).

Kebijakan kenaikan harga BBM & TDL hrs ditolak dgn alasan :

Pertama, ini adl kebijakan dzalim, yg pasti akan menyengsarakan rakyat sementara hasil penghematan tdklah sebanding dgn penderitaan yg dialami oleh seluruh rakyat Indonesia. Setiap kenaikan BBM pasti akan mempengaruhi kenaikan barang & jasa. Akibatnya berdampak kpd lemahnya daya beli masyarakat

Kedua : ini adl kebijakan khianat. Kebijakan menaikkan harga BBM & TDL sesungguhnya tdk lain adl utk menyukseskan liberalisasi sektor hilir (sektor niaga & distribusi) setelah liberalisasi sektor hulu (eksplorasi & eksploitasi) sempurna dilakukan.

*Penutup*

Liberalisasi migas adl penguasaan yg lbh besar kpd swasta atau asing & pengurangan peran negara. Kebijakan kapitalistik yg menyengsarakan rakyat itu hrs segera dihentikan.

Sbg gantinya, migas & SDA lain dikelola sesuai dgn tuntutan syariah utk kemaslahatan & kesejahteraan seluruh rakyat, baik muslim & maupun non muslim. Jalannya hanya satu, melalui penerapan syariah Islam secara kaffah dlm naungan Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwah.

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Amalan Ikhlas Tanpa Pujian

 

Assalamu’alaikum

Saudaraku seiman, Memberi & menolong tanpa pamrih adalah sikap yg mulia lagi terpuji. Terpujianya suatu sikap ataupun perbuatan tidak akan ada dgn sendirinya tanpa diuji oleh Allah SWT. Orang yg ikhlas memberi akan diuji bila pemberiannya itu tidak dibalas dgn pujian shg ia pun tdk akan mengungkit pemberiannya.

Orang yg ikhlas menolong akan diuji bila pertolongannya tdk diingat oleh orang yg pernah ia tolong shg ia juga tdk mau membalas memberi pertolongan kpd orang yg pernah menolong dirinya. Kebaikan apapun yg pernah diberikan kpd orang lain maka tdk perlu di ingat & diharapkan balasannya bahkan segera lupakan saja agar tetap terjaga keikhlasannya. Sebab kita berbuat kebaikan bukan utk mengharapkan balasan dari manusia tetapi balasan dari Allah SWT.

Balasan dari manusia tak seberapa tetapi balasan dari Allah SWT luar biasa tanpa ada batasannya baik ketika ia msh hidup didunia apalagi kelak diakhirat. Pemberian & pertolongan akan terjaga keikhlasannya bila tetap dirahasiakan serta dilupakan. Sebagaimana tangan kanan memberi sementara tangan kiri tdk pernah melihatnya.

Allah SWT berfirman, “Hai orang2 yg beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebut nya & menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yg menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia & dia tidak beriman kepada Allah & hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yg di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tdk bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yg mereka usahakan & Allah tidak memberi petunjuk kepada orang2 yg kafir.(QS.Al-Baqarah:264).

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Hukum orang Islam yg menghadiri proses pemakaman orang yg beragama Kristen di Gereja

Assalamu’alaikum wr.wb,

Ustadz Saya mau bertanya tentang hukum orang Islam yg menghadiri proses pemakaman orang yg beragama Kristen di Gereja. Syukran

Dari Ibu Dyah – Kota Bandung

Wa ‘alaikumsalam Wr.wb,

Ibu Dyah yg dirahmati Allah SWT. Proses pemakaman jenazah dgn disemayamkan didlm Gereja adl bagian dari rangkaian ibadah ummat Nashrani.

Bila seorang mukmin bersengaja mengikuti proses ibadah mrk maka hukumnya adl Haram, bahkan bila sampai kpd tataran i’tiqodi (keyakinan) maka jatuh hukumnya murtad. Terkait dgn mengikuti kebiasaan orang2 Yahudi & Nashrani Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Artinya : “Barangsiapa yg menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian dari mereka.”(HR. Ahmad).

Adapun bila mengikuti mrk krn disebabkan oleh ketidak fahaman maka jatuh hukumnya kejahilan krn melakukan suatu amal perbuatan tanpa dasar ilmu agama Islam. Allah SWT berfirman,

{وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا} [الإسراء : 36]

Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(QS.Al-Isra’:36).

Al-Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat diatas, Qatadah mengatakan bhw makna yg dimaksud adl janganlah kamu mengatakan bhw kamu melihatnya, padahal kamu tdk melihatnya atau kamu katakan bhw kamu mendengarnya, padahal kamu tdk mendengarnya atau kamu katakan bhw kamu mengetahuinya, padahal kamu tdk mengetahui. Krn sesungguhnya Allah kelak akan meminta pertanggungjawaban darimu tentang hal tersebut secara keseluruhan.

Jd termasuk melakukan suatu perbuatan wajib mengetahui status hukum perbuatan sebab seluruh perbuatan & ucapan akan dimintai pertanggung jawaban.

Sementara seseorang yg melakukan sesuatu yg terlarang krn tdk faham maka hal ini termasuk perbuatan yg dimaafkan. Tp dia berdosa krn tdk mau belajar agama Islam. Rasulullah SAW bersabda,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَـا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَالَ : إِنَّ اللهَ تَـجَاوَزَ لِـيْ عَنْ أُمَّتِيْ الْـخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ. حَسَنٌ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالْبَيْهَقِيُّ وَغَيْرُهُمَـا

Artinya : Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma bhw Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallambersabda, ”Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memaafkan kesalahan (yang tanpa sengaja) dan (kesalahan karena) lupa dari umatku serta kesalahan yg terpaksa dilakukan.(HR.Ibnu Majah).

Wallahu a’lam

Minggu, 08 Januari 2017

Pengaruh Tabiat Istri Terhadap Cara Suami Mencari Nafkah

Hasan al-Bashri berkata:

“Aku datang kepada seorang pedagang kain di Mekkah untuk membeli baju, lalu si pedagang mulai memuji-muji dagangannya dan bersumpah, lalu akupun meninggalkannya dan aku katakan tidaklah layak beli dari orang semacam itu, lalu akupun beli dari pedagang lain.”

2 tahun setelah itu aku berhaji dan aku bertemu lagi dengan orang itu, tapi aku tidak lagi mendengarnya memuji-muji dagangannya dan bersumpah, Lalu aku tanya kepadanya:”Bukankah engkau orang yang dulu pernah berjumpa denganku beberapa tahun lalu?”Ia menjawab : “Iya benar”Aku bertanya lagi:”Apa yang membuatmu berubah seperti sekarang? Aku tidak lagi melihatmu memuji-muji dagangan dan bersumpah!”Ia pun bercerita:”Dulu aku punya istri yang jika aku datang kepadanya dengan sedikit rizki, ia meremehkannya dan jika aku datang dengan rizki yang banyak ia menganggapnya sedikit.

Lalu Allah mewafatkan istriku tersebut, dan akupun menikah lagi dengan seorang wanita. Jika aku hendak pergi ke pasar, ia memegang bajuku lalu berkata:’Wahai suamiku, bertaqwalah kepada Allah, jangan engkau beri makan aku kecuali dengan yang thayyib (halal). Jika engkau datang dengan sedikit rezeki, aku akan menganggapnya banyak, dan jika kau tidak dapat apa-apa aku akan membantumu memintal (kain)’.”Masya Allah…Milikilah sifat Qana’ah -suka menerima- / jiwa selalu merasa cukup.Biasanya Wanita (Istri) sering TERJEBAK pd KEINGINANnya tuk terlihat Cantik dgn Pakaian yg Serba Mahal.Janganlah menjadi jurang dosa bagi Suamimu.

Wanita shalihah akan mendorong Suaminya kpd kebaikan,keta’atan sedangkan wanita kufur akan menjadi pendorong bagi suaminya untuk berbuat dosa,kemakshiatan.CUKUPKAN DIRI DGN YG HALAL&BAIK. Ukuran Rizki itu terletak pada keberkahannya, bukan pada jumlahnya.

[Kitab al-Mujaalasah wa Jawaahirul ‘Ilm (5/252) karya Abu Bakr Ahmad bin Marwan ].

Keteladanan Pemimpin

Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Alloh Swt. Semoga Alloh Yang Maha Mendengar segala isi hati dan Maha Mengetahui segala rahasia, menggolongkan kita sebagai orang-orang yang husnul khotimah. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Keterampilan dari seorang pemimpin bukanlah hanya terampil memberikan instruksi saja kepada bawahannya, bukan hanya terampil memberi hukuman saja pada yang dipimpinnya, bukan pula hanya keterampilan membakar semangat bawahannya untuk kerja, kerja dan kerja.  Melainkan ada yang jauh lebih penting yaitu keterampilan memberi keteladanan, memberi contoh yang baik secara nyata.

Ada seorang pemimpin yang berorasi mengajak yang ia pimpin untuk bekerja disiplin, sedangkan dirinya sendiri berleha-leha di kantornya. Ada pemimpin yang menggebu-gebu berteriak agar semua orang menjauhi perbuatan korupsi, akantetapi malah dia yang digiring polisi karena memanipulasi anggaran. Ada pemimpin yang dengan fasihnya mengajak yang ia pimpin untuk menjaga kebersihan, akantetapi dirinya malas menyapu mejanya sendiri.

Alloh Swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Alloh bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash Shoff [61] : 2-3)

Saudaraku, jikalau Alloh menakdirkan kita sebagai seorang pemimpin, maka marilah kita ikuti apa yang telah Rosululloh Saw. contohkan kepada kita. Beliau senantiasa menjadi orang yang pertama mengamalkan kebaikan sebelum mengajak orang lain untuk melakukannya. Keberhasilan seorang pemimpin adalah berbanding lurus dengan sebaik apa ia memimpin dirinya sendiri. Kegagalan seorang pemimpin dalam memimpin sesungguhnya disebabkan kerapuhan ia dalam memimpin dirinya sendiri.

Setiap pemimpin mendambakan orang-orang yang dipimpinnya menjadi orang-orang yang jujur, disiplin, bertuturkata baik dan bersikap baik. Maka semua itulah yang perlu ia lakukan sebelum orang-orang yang ia pimpin melakukannya. Kepemimpinan adalah amanah dari Alloh Swt. Semoga kita yang sedang diamanahi kepemimpinan, termasuk para pemimpin yang senantiasa memberi keteladanan dan mendapat ridho Alloh Swt. Aamiin yaa Robbal’aalamiin.

 

Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )
Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung

Sabtu, 07 Januari 2017

Keutamaan Amalan Berdoa

Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman,

{وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ} [البقرة : 186] Artinya : “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yg berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) & hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS.Al-Baqarah:186).

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaraku seiman, Segala puji hanyalah milik Allah Subhana wa ta’ala. Shalawat & salam senantiasa tercurahkan kpd Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para keluarganya, sahabat2 nya & ummatnya yg istiqomah diatas sunnahnya hingga hari kiamat. Tausiyah group WA & BBM pagi ini akan membahas tentang keutamaan amalan berdoa.

Doa maknanya adl menyeru/meminta kpd Allah ta’ala. Doa adl wujud pengharapan makhluk yg lemah kpd kholiq yg maha kuasa. Doa adl senjata orang2 yg beriman & merupakan bagian dari pd ibadah shg orang yg tdk pernah berdoa adl manusia yg sombong. Doa dpt dijadikan sbg wasilah/sarana utk mencapai keinginan yg hendak dicapai.

Adapun diantara adab berdoa kpd Allah SWT sbb : Awali berdoa dgn memuji Allah ta’ala dgn menyebut nama2-Nya yg mulia yaitu asmaul husna, bersholawat ats Rasulullah SAW, mengangkat kedua tangan, berdoa dgn penuh harap & suara yg lirih, doa yg dipanjatkan tdk mengandung kejahatan, yakin doa akan dikabulkan Allah, tdk terburu2 minta dikabulkan shg putus asa didlm berdoa, menutup doa dgn sholawat atas Rasulullah SAW.

Diantara do’a yg di ijabah oleh Allah SWT adl do’a orang yg terdzalimi.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ »

Artinya : Dari Abu Hurairah, ia berkata bhw Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga do’a yg tidak tertolak : do’a pemimpin yg adil, do’a orang yg berpuasa sampai ia berbuka, do’a orang yg terzholimi.” (HR. Tirmidzi no. 3.595, Ibnu Majah no. 1.752).

Siapa saja yg berdo’a kpd Allah dgn menghadirkan hati ketika berdo’a, menggunakan do’a yg ma’tsur (dituntunkan), menjauhi hal2 yg dapat menghalangi terkabulnya do’a (seperti memakan makanan yg haram), maka niscaya Allah akan mengijabahi do’anya. Terkhusus lagi jika ia melakukan sebab2 terkabulnya do’a dgn tunduk pd perintah & larangan Allah dgn perkataan & perbuatan, jg disertai dgn mengimaninya. (Ref : Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 87).

Lalu kita perlu paham bhw ada beberapa jalan Allah ta’ala akan kabulkan do’a. Dari Abu Sa’id, Nabi SAW bersabda,

« ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ « اللَّهُ أَكْثَرُ »

Artiinya : “Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: Allah akan segera mengabulkan do’anya, Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak & Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yg semisal. Para sahabat lantas mengatakan, Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a. Nabi SAW lantas berkata, Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan : do’a kalian.”(HR. Ahmad 3/18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya jayyid).

Adapun waktu2 berdoa yg diijabah/dikabulkan oleh Allah adl : diwaktu 1/3 malam saat sholat tahajud, setelah sholat fardhu, diakhir sujud sholat, dihari jum’at, dihari arafah, disaat berbuka puasa, diwaktu kehujanan, diwaktu terdzolimi, diwaktu malam lailatul qodar.

Hanya kpd-Mu ya Allah kami menyembah & hanya kpd-Mu ya Allah kami meminta. Kabulkan doa2 kami ya Allah, sesungguhnya Engkau adl maha mengabulkan doa.

Amin ya Allah

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Jumat, 06 Januari 2017

Uwais Al-Qarni Terkenal Di Langit Tapi Tidak Terkenal Di Bumi

Di Yaman, tinggalah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan sangat berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji,” pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seeokar anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Olala, ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila.. Uwais gila…” kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.

Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa. “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais. “Bagaimana dengan dosamu?” tanya ibunya heran. Uwais menjawab, “Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga.”

Subhanallah, itulah keinganan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utama Rasulullah SAW untuk mengenali Uwais.

Beliau berdua sengaja mencari Uwais di sekitar Ka’bah karena Rasullah SAW berpesan “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia minta tolong dia berdua untuk kamu berdua.”

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan).” (HR. Bukhari dan Muslim)

CERITA KEHIDUPAN UWAIS AL QORNI

Pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak family sama sekali.

Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari.

Uwais Al-Qarni terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Uwais Al-Qarni seringkali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad, sedang ia sendiri belum pernah berjumpa dengan Rasulullah. Berita tentang Perang Uhud yang menyebabkan Nabi Muhammad mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya, telah juga didengar oleh Uwais Al-Qarni. Segera Uwais mengetok giginya dengan batu hingga patah. Hal ini dilakukannya sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammmad saw, sekalipun ia belum pernah bertemu dengan beliau. Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais untuk menemui Nabi saw semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad saw dan memandang wajah beliau dari dekat? Ia rindu mendengar suara Nabi saw, kerinduan karena iman.

Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah nabi Muhammad saw.

Akhirnya, kerinduan kepada Nabi saw yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinyadan mohon ijin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarni walaupun telah uzur, merasa terharu dengan ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

Betapa gembiranya hati Uwais Al-Qarni mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.

Uwais Ai-Qarni Pergi ke Madinah

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga dikota madinah. Segera ia mencari rumah nabi Muhammad saw. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarni menanyakan Nabi saw yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada dirumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al-Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah ra, istri Nabi saw. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi saw, tetapi Nabi saw tidak dapat dijumpainya.

Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “engkau harus lekas pulang”.

Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan amat haru.

Peperangan telah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi saw menanyakan kepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi saw, Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah ra, memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad saw melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit itu, kepada para sahabatnya., “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi saw memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu menanyakan dia?

Rombongan kalifah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.

Wajah Uwais Al-Qarni tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi saw bahwa dia itu adalah penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al-Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan do’a dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta do’a pada kalian.”

Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Seperti yang dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Fenomena Ketika Uwais Al-Qarni Wafat

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, disana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, disitu selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”

Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni disebabkan permintaan Uwais Al-Qarni sendiri kepada Khalifah Umar ra dan Ali ra, agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.

Subhanallah

Kamis, 05 Januari 2017

Bila Tidak Malu Perbuat Sesukamu

 

Assalamu’alaikum

Saudaraku seiman, Ekspresi perkataan & perbuatan merupakan pantulan cahaya iman dari dlm jiwa seorang hamba.

Keimanan yg bersih & lurus akan tampak dari pribadi yg memiliki akhlaq yg mulia. Diantara cabang kemuliaan akhlaq adl terdapatnya perasaan malu. Perasaan malu adl sifat terpuji yg ada pd diri seseorang yg akan membawa dirinya utk melakukan perbuatan mulia & akan membuat karakternya menjadi indah.

Orang yg memiliki perasaan malu akan menimbang akibat sebelum melakukan suatu perbuatan.

Sebaliknya orang yg sdh kehilangan perasaan malu bagaikan muka tembok yg tdk lagi peduli dgn kehormatan dirinya.

Ada orang yg berpakaian tp setengah telanjang, bermesraan ditempat umum, meremehkan meninggalkan shalat fardhu, bangga dgn khamar & judi serta merasa mulia dgn harta korupsi.

Memiliki perasaan malu bukan berarti orang yg tdk percaya diri sebab terdapat perbedaan antara pemalu & sifat malu. Orang yg memiliki sifat malu berarti ia memiliki sifat. muraqabah, dimana ia selalu merasa bhw ia senantiasa dlm pengawasan & pantauan Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya salah satu perkara yg telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah, Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.”(HR.Bukhari No.3483).

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Rabu, 04 Januari 2017

Apa yang Terjadi Ketika Malaikat Israfil Meniup Sangkakalanya?

Jika Malaikat Israfil diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk meniupkan terompet tersebut untuk pertama kalinya, maka seluruh alam semesta ini beserta segala isinya akan terkejut. Hal ini disampaikan oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan ingatlah hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah (ketakutan) segala yang di langit dan segala yang di bumi.” (Qs. An-Naml: 87)

Dengan ditiupkannya sangkakala atau terompet malaikat Israfil ini akan berdampak pada terjadinya huru-hara di seluruh jagat raya. Dengan tiupan tersebut maka terjadi gempa yang dahsyat. Ini dikarenakan dahsyatnya tiupan tersebut sehingga akibat yang ditimbulkan sangatlah luar biasa. Seakan ingin memberitahukan atau memberi aba-aba terhadap kejadian dahsyat berikutnya, maka malaikat Israfil pun melanjutkan dengan meniup sangkakala untuk kedua kalinya.

Kalau pada tiupan pertama semuanya terkejut dan kebingungan, maka ketika terompet itu kembali ditiupkan, seluruh penghuni alam semesta akan mati, kecuali yang dikehendaki Allah subhanahu wa ta’ala. Inilah yang disebut dengan kiamat kubra (kiamat besar). Pada saat itu, nyaris tidak ada makhluk hidup yang tersisa, semuanya akan binasa, kecuali para malaikat yang dikehendaki Allah untuk tetap hidup, yaitu malaikat Jibril, Israfil, Mikail, dan Izrail.

Setelah tidak ada makhluk yang hidup kecuali keempat malaikat, maka Allah menyuruh malaikat maut (malaikat Izrail) untuk mencabut nyawa malaikat Jibril kemudian dilanjutkan dengan mencabut nyawa malaikat Mikail, selanjutnya Israfil, dan yang terakhir adalah Allah mencabut nyawa malaikat Izrail. Masa tidak ada makhluk ini diperkirakan berlangsung selama empat puluh tahun lamanya.

Setelah seluruh makhluk, termasuk para malaikat telah binasa, maka Allah menghidupkan kembali malaikat-malaikat pendukung ‘Arasy seperti malaikat Israfil, Mikail, Izrail, dan Jibril. Setelahnya, Allah memberikan tiupan ketiga yang berguna untuk menghidupkan makhluk-makhluk yang telah lama mati. Tiupan yang dikirim Allah saat itu sama dengan yang pernah Allah berikan kepada kaum ‘Ad. Seperti kita ketahui dalam berbagai kisah bahwa kaum ‘Ad (kaum Nabi Luth) dibinasakan oleh Allah dengan menggunakan tiupan-Nya. Kejadian (saat tiupan ketiga) ini diabadikan Allah sebagaimana firman-Nya:

“Kemudian, ditiupkan sekali lagi, lihatlah mereka berdiri menantikan.” (Qs. Az-Zumar: 68)

Pada tiupan ini, maka makhluk-makhluk Allah akan hidup kembali. Mereka terjaga dari “tidur” mereka yang panjang tersebut. Seluruh manusia dan hewan yang sudah ada sejak zaman Nabi Adam hingga akhir zaman, baik dari jenis jin maupun manusia dihidupkan kembali oleh Allah di padang mashyar. Padang ini adalah padang kosong tempat berkumpulnya manusia untuk diadili oleh Allah. Kala itu, mereka tidak mengenakan sehelai pakaian pun sama seperti hari dimana mereka terlahir. Mereka sama-sama bingung untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing. Ketika itu, tidak lagi terpikirkan untuk dapat berkumpul dengan sanak saudara, anak, suami, istri, serta hubungan kekerabatan seperti layaknya di dunia. Masing-masing bingung dengan suasana huru-hara dan memikirkan dirinya masing-masing. Mereka takut berdiri di pengadilan Allah yang akan dimulai setelahnya.

Kebingungan makin menjadi-jadi karena tidak ada tempat berteduh dari sengatan matahari yang jaraknya kala itu hanya sejengkal dari kepala. Tidak ada naungan kecuali bagi hamba-hamba Allah yang memang dilindungi oleh-Nya. Hal ini dipertegas oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang menyatakan bahwa (kala itu) tidak ada naungan selain dari naungan Allah. Hanya mereka yang melakukan banyak amal kebaikan saja yang akhirnya dapat menerima naungan dari-Nya.

Di tengah suasana panik di antara manusia dan jin dalam masa penantian ini, maka Allah memerintahkan malaikat Israfil untuk mengumpulkan manusia dan jin ke suatu tanah lapang yang bernama padang mashyar. Seluruh manusia kecuali malaikat digiring untuk berkumpul. Kisah ini diabadikan dalam firman Allah di surat an-Naba’ ayat 18 sebagai berikut:

“Yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiupkan sangkakala, lalu kamu datang berkumpul berkelompok-kelompok.” (Qs. An-Naba’: 18)

Demikian pula dalam firman-Nya yang lain, Allah juga menceritakan sebagai berikut:

“Dan ketika binatang-binatang liar dikumpulkan kemudian datanglah setan-setan durhaka.” (Qs. At-Takwir: 5)

“Sebab itu, demi Tuhan engkau, sesungguhnya mereka dan setan-setan akan Kami kumpulkan. Kami bawa mereka itu berlutut dikelilingi neraka jahannam.” (Qs. Maryam: 68)

====

Referensi: Saifulloh dan Abu Shofia (2003). Menyingkap Tabir Alam Malaikat. Surabaya: Karya Agung, lampuislam

Sumber: http://ift.tt/2iG9T7t

Selasa, 03 Januari 2017

Bahaya Ikhtilat Menurut Hukum Islam

Oleh : KH. M. Shiddiq Al Jawi

Apakah Ikhtilath Itu?

Ikhtilath artinya adalah bertemunya laki-laki dan perempuan (yang bukan mahramnya) di suatu tempat secara campur baur dan terjadi interaksi di antara laki-laki dan wanita itu (misal bicara, bersentuhan, berdesak-desakan, dll). (Said Al Qahthani, Al Ikhtilat, hlm. 7).

Contoh ikhtilat, para penumpang laki-laki dan perempuan yang berada di suatu gerbong kereta api yang sama secara berdesakan-desakan. Jika seseorang pernah menumpang KRL Jabotabek jurusan Jakarta-Bogor pada jam-jam sibuk (jam masuk kerja atau pulang kerja), sangat mungkin dia terjebak dalam ikhtilat. Karena dalam KA Jabotabek itu para penumpang laki-laki dan perempuan berada dalam gerbong yang sama dan saling berdesak-desakan satu sama lain.

Contoh ikhtilat lainnya, para penumpang laki-laki dan perempuan dalam bus Trans Jakarta. Pada jam-jam sibuk para penumpang itu dipastikan akan berdesak-desakan. Kondisi seperti itu disebut ikhtilat. Contoh lainnya, misalkan di sebuah restoran, dalam satu meja ada laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, mereka makan dan ngobrol bersama. Ini juga ikhtilat.

Ikhtilat hukumnya haram dan merupakan dosa menurut syariah (Hukum Islam), meskipun disayangkan kaum muslimin banyak yang melakukannya. Mungkin itu karena ketidaktahuan mereka akan hukum Islam, atau mungkin karena terpengaruh oleh gaya hidup kaum kafir dari Barat yang serba boleh, yang tidak mengindahkan halal haram.

Di samping haram, ikhtilat juga berbahaya, karena mudah menjadi jalan untuk kemaksiatan-kemaksiatan lain yang merusak akhlak, seperti memandang aurat, terjadinya pelecehan seksual, terjadinya perzinaan, dan sebagainya. Banyak kitab karya para ulama yang khusus menerangkan bahaya-bahaya ikhtilat itu, seperti : (1) kitab Khuthurah Al Ikhtilath (Bahaya Ikhtlath), karya Syaikh Nada Abu Ahmad; (2) kitab Al Ikhtilath Ashlus Syarr fi Dimaar Al Umam wal Usar (Ikhtilat Sumber Keburukan bagi Kehancuran Berbagai Umat dan Keluarga), karya Syaikh Abu Nashr Al Imam, dan (3) kitab Al Ikhtilath wa Khatruhu ‘Alal Fardi wal Mujtama’ (Ikhtilat : Bahayanya Bagi Individu dan Masyarakat), karya Syaikh Nashr Ahmad As Suhaji, dan sebagainya.

Kriteria Ikhtilat dan Keharamannya

Seperti dijelaskan di muka, pengertian ikhtilat adalah bertemunya laki-laki dan perempuan di suatu tempat secara campur baur dan terjadi interaksi di antara laki-laki dan wanita itu. Maka berdasarkan pengertian ikhtilat itu, suatu pertemuan antara laki-laki dan peremuan baru disebut ikhtilat jika memenuhi dua kriteria secara bersamaan, yaitu : Pertama, adanya pertemuan (ijtima’) antara laki-laki dan perempuan di satu tempat yang sama, misalnya di gerbong kereta yang yang sama, di ruang yang sama, di bus yang sama, rumah yang sama, dan seterusnya. Kedua, terjadi interaksi (ittishal, khilthah) antara laki-laki dan perempuan, misalnya berbicara, saling menyentuh, bersenggolan, berdesakan, dan sebagainya.

Jika perempuan dan laki-laki duduk berdampingan di suatu bus angkutan umum, tapi tidak terjadi interaksi apa-apa, maka kondisi itu tidak disebut ikhtilat (hukumnya tidak apa-apa). Tapi kalau di antara mereka lalu terjadi interaksi, misalnya perbincangan, kenalan, dan seterusnya, maka baru disebut ikhtilat (haram hukumnya). Sebaliknya kalau di antara laki-laki dan perempuan terjadi interaksi, misalnya berbicara, tapi melalui telepon, maka tidak disebut ikhtilat karena mereka tidak berada di satu tempat atau tidak terjadi pertemuan (ijtima’) di antara keduanya.

Jadi yang disebut ikhtilat itu harus memenuhi 2 (dua) kriteria secara bersamaan, yaitu : (1) adanya pertemuan antara laki-laki dan perempuan (yang bukan mahramnya) di suatu tempat, dan (2) terjadi interaksi di antara laki-laki dan perempuan itu.

Mengapa ikhtilat diharamkan? Karena melanggar perintah syariah untuk melakukan infishal, yaitu keterpisahan antara komunitas laki-laki dan perempuan. Dalam kehidupan Islami yang dicontohkan dan diperintahkan oleh Rasulullah SAW di Madinah dahulu, komunitas laki-laki dan perempuan wajib dipisahkan dalam kehidupan, tidak boleh campur baur. Misalnya, dalam shalat jamaah di masjid, shaf (barisan) laki-laki dan perempuan diatur secara terpisah, yaitu shaf laki-laki di depan yang dekat imam, sedang shaf perempuan berada di belakang shaf laki-laki. Demikian pula setelah selesai shalat jamaah di masjid, Rasulullah SAW mengatur agar jamaah perempuan keluar masjid lebih dahulu, baru kemudian jamaah laki-laki. Pada saat Rasulullah SAW menyampaikan ajaran Islam di masjid, laki-laki dan perempuan juga terpisah. Ada kalanya terpisah secara waktu (hari pengajiannya berbeda), ada kalanya terpisah secara tempat. Yaitu jamaah perempuan berada di belakang jamaah laki-laki, atau kadang jamaah perempuan diatur terletak di samping jamaah laki-laki. (Taqiyuddin An Nabhani, An Nizhamul Ijtima`i fil Islam, hlm. 35-36).

Namun demikian, ada perkecualian. Dalam kehidupan publik, seperti di pasar, rumah sakit, masjid, sekolah, jalan raya, lapangan, kebun binatang, dan sebagainya, laki-laki dan perempuan dibolehkan melakukan ikhtilat, dengan 2 (dua) syarat, yaitu ;

Pertama, pertemuan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan itu untuk melakukan perbuatan yang dibolehkan syariah, seperti aktivitas jual beli, belajar mengajar, merawat orang sakit, pengajian di masjid, melakukan ibadah haji, dan sebagainya.

Kedua, aktivitas yang dilakukan itu mengharuskan pertemuan antara laki-laki dan perempuan. Jika tidak mengharuskan pertemuan antara laki-laki dan perempuan, hukumnya tetap tidak boleh. Sebagai contoh ikhtilat yang dibolehkan, adalah jual beli. Misalkan penjualnya adalah seorang perempuan, dan pembelinya adalah seorang laki-laki. Dalam kondisi seperti ini, boleh ada ikhtilat antara perempuan dan laki-laki itu, agar terjadi akad jual beli antara penjual dan pembeli. Ini berbeda dengan aktivitas yang tidak mengharuskan pertemuan laki-laki dan perempuan. Misalnya makan di restoran. Makan di restoran dapat dilakukan sendirian oleh seorang laki-laki, atau sendirian oleh seorang perempuan. Tak ada keharusan untuk terjadinya pertemuan antara laki-laki dan perempuan supaya bisa makan di restoran. Maka hukumnya tetap haram seorang laki-laki dan perempuan janjian untuk bertemu dan makan bersama di suatu restoran. (Taqiyuddin An Nabhani, An Nizhamul Ijtima`i fil Islam, hlm. 37).

Perlu diperhatikan juga, di samping dua syarat di atas, tentunya para laki-laki dan perempuan wajib mematuhi hukum-hukum syariah lainnya dalam kehidupan umum, misalnya kewajiban menundukkan pandangan (ghaddhul bashar), yaitu tidak memandang aurat (QS An Nuur : 30-31), kewajiban berbusana muslimah, yaitu kerudung (QS An Nuur : 31) dan jilbab atau baju kurung terusan (QS Al Ahzaab : 59), keharaman berkhalwat (berdua-duaan dengan lain jenis) (HR Ahmad), dan sebagainya.

Bahaya-Bahaya Ikhtilat

Sesungguhnya ikhtilat adalah jalan yang memudahkan terjadinya berbagai kemaksiatan. Antara lain : (1) terjadinya khalwat, yaitu laki-laki yang berdua-duaan dengan perempuan yang bukan mahramnya. Sabda Rasulullah SAW,”Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang perempuan, karena yang ketiganya adalah syaitan.” (HR Ahmad);

(2) terjadinya pelecehan seksual, seperti persentuhan antara laki-laki dan perempuan bukan mahram, dan sebagainya. Rasulullah SAW pernah bersabda,”Kedua mata zinanya adalah memandang [yang haram]; kedua telinga zinanya adalah mendengar [yang haram], lidah zinanya adalah berbicara [yang haram], tangan zinanya adalah menyentuh [yang haram], dan kaki zinanya adalah melangkah [kepada yang haram].” (HR Muslim). Rasulullah SAW juga melarang laki-laki dan perempuan berdesak-desakan. Maka dari itu pada masa Rasulullah SAW para perempuan keluar masjid lebih dulu setelah selesai shalat, baru kemudian para laki-laki. (HR Bukhari, no 866 & 870).

(3) terjadinya perzinaan, yang diawali dengan ikhtilat. Imam Ibnul Qayyim pernah berkata dalam kitabnya At Thuruqul Hukmiyyah,”Ikhtilat antara para laki-laki dan perempuan, adalah sebab terjadinya banyak perbuatan keji (katsratul fawahisy) dan merajalelanya zina (intisyar az zina).”

Dan yang lebih mengerikan lagi, jika zina sudah merajalela di suatu negeri, maka akan terjadi kerusakan atau bencana umum bagi sebuah negeri. Sabda Rasulullah SAW,”Tidaklah merajalela perbuatan zina di suatu kaum, kecuali kematian pun akan merajalela di tengah kaum itu.” (HR Ahmad, dari ‘A`isyah RA).

Maka dari itu, jelaslah ikhtilat adalah perbuatan buruk yang wajib kita jauhi. Jika tidak, berbagai kemaksiatan akan terjadi, dan bahaya kematian pun akan merajalela pula di tengah-tengah umat Islam. Nauzhu billah min dzalik.

Sumber: http://ift.tt/2hNFkvo

Jangan Menunda Beramal Soleh

Assalamu’alaikum

Saudaraku seiman, Melakukan ketaatan beribadah kpd Allah SWT memang mudah, yg sulit adl istiqamah mempertahankannya. Tak jarang godaan syetan datang utk menunda2 beramal soleh. Beribu alasan yg dinyatakan utk menunda beramal ibadah.

Azan subuh berkumandang merdu menyerukan shalat tp selimut ditarik kembali dgn bisikan sebentar lagi hari msh dingin. Rezqi harta berlimpah tp infaq & zakat dilupakan. Tabungan emas & perak jg tak terkira tapi ibadah haji & umrah msh belum ditunaikan. Diberi Allah SWT amanah kekuasaan tp enggan menerapkan Syari’at Islam. Dianugerahi wajah cantik menawan tp tdk mau menutup aurat hingga menunggu usia tua.

Pd hal ajal kematian bisa tiba kapan saja tanpa hrs berusia tua. Pernah Sahabat Rasulullah SAW Umar bin Khatab r.a terlambat mendatangi Shalat Ashar berjama’ah krn msh sibuk mengurusi kebunnya. Akhirnya beliau sangat menyesal krn terlambat Shalat Ashar berjamaah hingga akhirnya kebunnya itu dia Shadaqahkan krn tlh membuatnya lalai. Sementara ibadah yg tlh terlalaikan sangat sulit utk dpt dikejar krn waktu itu tak akan pernah kembali lagi.

Rasulullah SAW bersabda, “Segeralah beramal sebelum datang 7 perkara, tidaklah yg kalian tunggu itu selain kefakiran yg melalaikan, kekayaan yg menyombongkan, penyakit yg merusak, usia tua yg melemahkan, kematian yg melenyapkan, kedatangan Dajjal sejahat2 yg dinantikan atau hari kiamat & hari kiamat itu sangat pedih & sangat pahit.”(HR.Tirmidzi).

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Lebih Utama Mana, Ber-Sedekah/Infaq/Zakat Pada Orang Miskin Atau Pada Karib Kerabat?

Karib Kerabat adalah semua yang mempunyai hubungan darah dengan kita mulai dari ibu bapak, saudara kandung,paman,bibi,keponakan,misanan,mindoan dstnya,

Pertanyaan diatas mungkin dirasa sepele namun kenyataannya, kebanyakan muslim yang belum tahu lebih memilih untuk bersedekah pada fakir miskin daripada bersedekah terhadap keluarga atau kerabatnya sendiri.

Padahal, *_Setiap perintah sedekah dan infak di dalam al Qur’an, selalu yang pertama kali disebutkan adalah karib kerabat_*

Seperti yang termaktub dalam ayat berikut ini:

وءاتى المال على حبه ذوى القربى

“….dan memberikan harta yang ia cintai kepada karib-kerabat…..” (QS. Al Baqarah 177)

وءات ذى القربى حقه والمسكين

“Dan berikanlah kepada karib-kerabat akan haknya dan orang miskin….” (QS. Al Isra 26)

Dan banyak lagi ayat lain yang senada dengan itu.

Jika kita cermati, ada satu pesan yang sangat penting untuk kita amalkan. Yaitu mendahulukan karib kerabat atau orang terdekat untuk menerima infak atau apapun bentuk kebaikan. Sebelum kita memberi kepada orang lain, kita harus perhatikan apakah ada di antara orang terdekat yang masih membutuhkan atau semua sudah makmur, tidak perlu disantuni lagi.

Amat disayangkan bila seseorang memiliki kekayaan yang membuat ia mampu menyantuni orang lain, dan sangat peduli dengan masalah sosial di lingkungannya sehingga ia mudah memberi kepada fakir miskin, anak yatim dan berbagai bentuk amal sosial lainnya. Namun sayang beribu sayang ia sangat cuek dan pelit kepada karib kerabatnya sendiri.
Barangkali ia merasa pemberian kepada keluarga terdekat tidak mendapatkan pahala. Padahal justru itulah yang lebih besar pahalanya di sisi Allah. Oleh karena itu pemahaman yang salah ini perdu diluruskan.

Tidakkah memilukan, bila seseorang tinggal di rumah yang bagaikan istana, sementara saudara kandungnya tinggal di rumah RSSS (rumah sangat sederhana sekali).

Tidakkah kita mengangkat alis bila seseorang mempunyai kekayaan besar, turun dari satu mobil mewah dengan dibukakan pintu oleh para ajudan, berpindah dari satu gedung mewah ke gedung mewah berikutnya, Namun saudara kandungnya menjadi kuli atau babu yang siap diperintah-perintah dengan suara tinggi sambil diacungi telunjuk kiri, wajahnya penuh ketakutan dengan kepala tertunduk serta badan yang membungkuk.

Ingatlah.. Rasulullah SAW bersabda:

….يا أمة محمد، والذي بعثني بالحق لا يقبل الله صدقة من رجل وله قرابة محتاجون إلى صلته ويصرفها إلى غيرهم. والذي نفسي بيده، لا ينظر الله إليه يوم القيامة

“….Wahai umat Muhammad, demi Allah yang telah mengutusku dengan kebenaran, *_Allah tidak akan menerima sedekah seseorang yang mempunyai kerabat yang membutuhkan bantuannya, sementara ia memberikan sedekah atau bantuan itu kepada orang lain_*. Dan demi Allah yang jiwaku berada dalam genggamannya, Allah tidak akan memandangnya di hari kiamat nanti”. (HR. Thabrani)

Rasulullah SAW juga pernah bersabda:

الصدقة على المسكين صدقة، وعلى القريب صدقتان، صدقة وصلة

“Sedekah kepada orang miskin dinilai satu sedekah, sedangkan kepada karib kerabat nilainya sama dengan dua, nilai sedekah dan nilai silaturrahmi”.

Ada pesan penting yang sangat jelas disini:

Jika anda menjadi orang yang kaya, jadikanlah orang terdekat anda yang pertama sekali merasakan kekayaan itu. Ibu-bapak, anak-istri, saudara kandung, baru yang lainnya.

Jangan sampai masyarakat anda memuji kedermawanan anda, sementara orang terdekat mengurut dada karena kebakhilan anda, padahal mereka dianggap kaya oleh orang lain karena anda sebagai saudaranya.

Semoga bermanfaat. Aamiin YRA.

Sabtu, 31 Desember 2016

Manusia Gila Kehormatan

 

Assalamu’alaikum

Saudaraku seiman, Tak dpt dipungkiri bhw salah satu tabiat manusia itu suka disanjung & dihormati. Namun sanjungan & kehormatan yg berlebihan dpt membuat manusia terbuai lupa diri. Ia akan menganggap dirinya sbg seorang yg superior shg mudah utk meremehkan orang lain. Manusia yg suka dihormati jg cenderung sombong, arogan & suka menuntut pamrih.

Manusia yg gila kehormatan akan sulit memberikan pertolongan bila tanpa ada penghormatan, ia enggan berinfaq sodaqoh kalau tak disebut sbg dermawan, ia jg tak akan memberi nasehat kalau tak dibayar dgn yg sepadan. Baginya kehormatan & popularitas menjadi tujuan hidup. Pd hal berapa banyak orang yg menyesal menjadi populer krn membuat hidupnya sempit & menderita.

Lihatlah sosok sederhana pribadi Rasulullah SAW sbg seorang manusia yg paling agung nan sempurna. Dialah Muhammad SAW sbg pemimpin para Nabi & Rasul. Tanpa gelar kehormatan kebangsawanan tp ia senantiasa dikenal & dikenang manusia sepanjang zaman.

Mari kita luruskan NIAT dlm setiap beramal ibadah semata2 hanya utk mengharapkan ridho dari Allah SWT semata.

Allah SWT berfirman : “Jika kamu berpaling dari peringatanku, aku tak meminta upah sedikit pun dari padamu. Upahku tak lain hanyalah dari Allah belaka & aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yg berserah diri kepada-Nya”.(QS.Yunus:72).

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Jumat, 30 Desember 2016

Ilmu Tanpa Amalan

Tausiyah senja

#Ilmu Tanpa Amalan#

Assalamu’alaikum

Saudaraku seiman, Kita patut bersyukur kpd Alah SWT bhw perkembangan teknologi informasi sangat membantu mempermudah urusan kehidupan manusia. Tdk hanya dlm hal komunikasi tp jg dlm hal utk mendapatkan informasi ilmu yg bermanfaat.

Hampir setiap saat informasi broadcast dari media sosial berseliweran. Ada informasi sampah alias hoax & ada jg informasi yg berguna. Postingan da’wah melalui media sosial jg patut disyukuri kehadirannya sebab tanpa hrs menghadiri majelis ilmu kita msh bisa belajar tentang kemuliaan ajaran Islam. Meskipun sebaik2 belajar adl bertemu dihadapan seorang guru.

Ilmu akan menjadi bermanfaat bagi orang yg mempelajari & bagi orang yg mengajarkannya ketika diamalkan. Ilmu itu akan menjadi penerang jalan kehidupan ketika dikaji & diamalkan. Sebaliknya Ilmu akan menjadi tak bernilai & tak bermanfaat hanya sebatas difahami sbg pemuas kecerdasan intelektual. Ilmu jg akan membekas ke dlm jiwa ketika diamalkan & diajarkan kpd orang lain.

Pepatah Arab mengatakan, Al-‘ilmu bilaa ‘amalin kasyajari bilaa tsamarin : Ilmu tanpa amal ibarat pohon tidak berbuah. Mari jgn kita sia-siakan kehadiran media sosial da’wah utk menimba ilmu agar bisa diamalkan.

Rasulullah SAW bersabda, “Telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat kelak hingga ia ditanya tentang empat hal : (salah satunya adalah) tentang ilmunya, apa yang sudah dia amalkan dari ilmunya tersebut?”(HR.Tirmidzi).

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Pesta Tahun Baru Bukan Budaya Islam

Pelajaran Hadist Hari Ini :

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

Artinya : “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun), pasti kalian pun akan mengikutinya. Kami (para sahabat) berkata, Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi & Nashrani? Beliau menjawab, Lantas siapa lagi? (HR.Muslim No. 2669).

السلام عليكم ورحمة الله وبر كاته

Saudaraku seiman, Segala puji hanyalah milik Allah SWT. Shalawat & salam senantiasa tercurahkan kpd Rasulullah Muhammad SAW, para keluarganya, sahabat2 nya &ummatnya yg istiqomah diatas sunnahnya hingga hari kiamat.

Tahun 2016 akan segera berakhir. Detik2 pergantian tahun disambut dgn gegap gempita hampir diseluruh belahan dunia. Pesta malam tahun baru seolah2 sdh menjadi tradisi wajib tahunan dgn budaya pesta kembang api, meniup terompet, joget riang gembira, bergadang semalam suntuk, pesta miras & perbuatan maksiat lainnya.

Menurut catatan sejarah, Tahun Baru pertama kali dirayakan pd tgl 1 Januari 45 SM. Tdk lama setelah Julius Caesar dinobatkan sbg kaisar Roma, ia memutuskan utk mengganti penanggalan tradisional Romawi yg tlh diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yg menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dgn mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yg dilakukan orang2 Mesir.

Satu tahun dlm penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari & Caesar menambahkan 67 hari pd tahun 45 SM shg tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar jg memerintahkan agar setiap 4 tahun, satu hari ditambahkan kpd bulan Februari, yg secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dlm kalender baru ini. Tdk lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dgn namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dgn nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.

Pd mulanya perayaan ini dirayakan baik oleh orang Yahudi yg dihitung sejak bulan baru pd akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pd tgl 1 Januari. Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi 1 Januari pada tahun 1582 & hingga kini seluruh dunia merayakannya pd tgl tsb.

Bagi seorang Muslim perayaan pesta malam tahun baru Masehi bisa berakibat :

1. Terkontaminasinya aqidah umat Islam dgn aqidah orang2 kafir. Umat Islam merayakan hari besar orang2 nashrani sementara umat Islam hanya memiliki 2 hari raya. Sebuah hadist dari Anas bin malik r.a,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

Artinya : Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki 2 hari raya untuk bersenang2 & bermain2 di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, Aku datang kpd kalian & kalian mempunyai 2 hari raya di masa Jahiliyah yg kalian isi dgn bermain2. Allah telah mengganti keduanya dgn yg lbh baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri & Idul Adha (hari Nahr).”(HR.An-Nasai No.1556)

2. Perbuatan Tasyabbuh (menyerupai) orang2 kafir. Pasca perang salib yg berlangsung hampir 200 tahun ( dimulai thn 1095 M & berakhir thn 1247 M) yg dimenangkan oleh umat Islam.
Maka orang2 kafir merubah grand strategy utk memerangi umat Islam dari hard power menjadi soft power yaitu Ghazwu Al-fikri (perang pemikiran) & Ghazwu Ats-tsaqafi (perang peradaban). Perang ini memiliki tujuan jangka panjang yaitu pemurtadan. Jangka pendeknya pelarutan kepribadian (tdk bangga dgn identitas muslim), dekadensi moral, menanamkan pemikiran liberalisme, sekularisme, hedonisme, pluralisme. Dan pd akhirnya pelucutan akidah dlm arti tdk masalah secara identitas agamanya Islam tp perilaku sehari-harinya jauh dari tuntutan Islam.

Tasyabbuh adl sebuah perilaku yg dilarang oleh Rasulullah SAW sebagaimana sabdanya :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Artinya : Barang siapa mengikut-ikut kebiasaan kaum (Yahud & Nasrani) maka ia menjadi bagian dari kaum itu. (HR.Ahmad).

3. Perbuatan yg sia-sia.

Pesta malam tahun baru identik dgn hura-hura & pest pora yg menghabiskan uang, waktu & tenaga. Sebuah perbuatan yg sia2 lagi mubazir, sedangkan mubazir itu adl temannya syetan. Pesta malam thn baru jg tdk mendatangkan kemanfaatan sedikitpun baik bagi keimanan, keilmuan maupun amal soleh. Allah SWT berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

Artinya : Sungguh beruntunglah orang2 yg beriman, (yaitu) orang2 yg khusyu’ dlm shalat mereka. Dan orang2 yg menjauhkan diri dari perkataan & perbuatan yg tidak berguna.(QS.Al-mu’minun:1-3).

Imam Ibnu Katsir rahimahullahu menafsirkan ayat ini, Dan orang2 yg menjauhkan diri dari perbuatan & perkataan yg tiada berguna yakni dari kebathilan, yg mana hal itu mencakup jg kemusyrikn, sebagaimana yg dikatakan oleh sebagian mrk serta berbagai ucapan & perbuatan yg tdk membawa faedah & bermanfaat.

4. Melalaikan ibadah shalat.

Biasanya orang yg merayakan pesta tahun baru akan tidur diatas tengah malam ataupun bergadang. Bila tubuh kurang tidur & kurang istirahat dimalam hari maka akan sangat berat utk bangun shalat subuh. Pd hal orang yg berat mendirikan shalat subuh berjama’ah dimesjid adl ciri orang2 munafiq. Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ أَثْقَلَ صَلاَةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلاَةُ الْعِشَاءِ وَصَلاَةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيُصَلِّىَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِى بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

Artinya : “Sesungguhnya shalat yg paling berat bagi orang munafik adl shalat Isya & shalat Shubuh. Seandainya mereka tahu keutamaan yg ada dalam kedua shalat tersebut tentu mereka akan mendatanginya walau dengan merangkak. Sungguh aku bertekad untuk menyuruh orang melaksanakan shalat. Lalu shalat ditegakkan & aku suruh ada yg mengimami orang2 kala itu. Aku sendiri akan pergi bersama beberapa orang untuk membawa seikat kayu untuk membakar rumah orang yg tidak menghadiri shalat Jama’ah.”(HR. Bukhari no. 657 & Muslim no. 651, dari Abu Hurairah).

Jauhnya umat Islam dari kehidupan Islam dibawah naungan syari’at Islam membuat orang2 kafir semakin mudah mengajak umat Islam utk diarahkan kpd kekufuran bahkan berhasil dimurtadkan. Mari saatnya umat Islam sadar utk kembali kpd aqidah Islan yg lurus yaitu diantaranya dgn meninggalkan hadharah atau peradaban budaya yg bukan berasal dari aqidah Islam dgn tdk ikut-ikutan merayakan perayaan pesta malam tahun baru.

Bila hendak memanfaatkan hari libur maka perlakukanlah sama dgn hari2 yg lainnya tanpa hrs mengkhususkanya.

Ya Allah..lindungilah aqidah umat Islam dari serangan arus budaya orang2 kafir agar kami istiqomah diatas iman & Islam hingga ajal kami tiba. Aamiin ya rabb.

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Rabu, 28 September 2016

Obat Kecewa, Jeritan Hati TKW di Malaysia

SAUDARA setanah air kita banyak merantau ke negeri jiran ini, baik dengan keahlian professional, akademisi, maupun yang bekerja sebagai pembantu rumah dan buruh pabrik. Semua aktivitas mengais rezeki ditekuni sebagai rangka menjalani takdirNya, ada kalanya ketidak-tahuan atau hal miskomunikasi dapat membuahkan problematika yang tak ringan penyelesaiannya di tanah rantau. Sedikit kisah dalam rubrik khas Ramadhan kali ini, semoga dapat menjadi cambuk motivasi dan bumbu hikmah serta semangat berbagi buat kita semua.

Dengan melindungi privasi serta menjaga aib saudara kita, maka kisah ini penulis rangkum menggunakan ‘gaya aku’.

***
“Saya sudah enam belas tahunan bu’, di Malaysia…” aku mengawali kisah ini. Kalau cerita dari awal, terlalu panjang, yang jelas aku berada disini karena perlu makan. Daerah kami musim kering waktu itu, di dusun ujung Jawa Timur. Lalu era Pak Harto, ada transmigrasi, jadi keluarga besar terpisah-daerah, ada yang ke Kalimantan, ada yang ke Sumatera. Aku mendaftar ikut menjadi TKW, pergi ke kota dengan modal urunan sanak saudara. Sedangkan suami menjadi kuli bangunan di Jakarta.

Ditipu calo, sudah pernah, dipangkas gaji sudah sering, tetapi aku tetap suka bekerja disini. Awal bencana adalahpermit sudah mati, tapi boss diam saja. Lalu mulailah boss bikin ulah dengan tidak memberi upah berbulan-bulan, akhirnya aku kabur… Pekerjaan tidak ada habisnya, tetapi gaji tak dikasih, dari manakah uang buat makan orang tua, satu anakku, dan saudara-saudariku di tanah air? Pikirku waktu itu.

Aku lari ke kantor Polisi, berkilo-kilo meter tak tahu arah, walhamdulillah Polisi yang berjaga itu menampungku di rumahnya. Sudah kuceritakan bahwa passportku di majikan, dan aku tidak digaji. Beliau berjanji akan membantuku.

Aku bekerja dengan teliti di rumahnya, berusaha selalu melayani majikan dengan servis terbaik, cuma satu hal tak tahan disana, kali ini majikanku selalu bertengkar. Entahlah pasal apa, setiap pagi dan malam, mereka berdebat sehingga membuat jantung berdegup kencang.

Suatu hari, sang istri berteriak, dan melemparkan gelas besar ke arah suaminya, prang! Pecahlah gelas, sebelum jatuh membentur lantai, terkena kepalaku sekilas, perihnya… Lalu mereka saling berteriak, tak henti-henti, dan itu terjadi setiap hari, astaghfirulloh! aku jadi ketakutan. Makanya aku kabur lagi setelah empat bulan disana, belum sempat dikasih gaji, tetapi aku punya beberapa puluh ringgit pemberian keponakannya karena kubantu berbenah.

Dan keponakan polisi itu juga mengajariku sholat.

Kukumpulkan keberanian untuk mencari Enjit, teman keturunan India yang dulu mengantarkan makanan ke rumah majikan lama, barangkali Enjit bisa membantuku.

Ternyata Enjit sedang pulang kampung, dan temannya menyuruhku bekerja melayani para pengunjung rumah makannya. Aku menyanggupinya, berapa pun salary tak peduli, yang penting kerja halal. Alhamdulillah seminggu disana, boss kedai memanggilku, lalu memberi beberapa puluh Ringgit. Dia berkata, “Ada kerja lebih cocok buat kamu…” aku gembira sekali.

Boss ternyata memiliki teman di sebuah usaha pasar raya, aku dilatih untuk menjadi kasir. Sebagai cadangan saja. Sementara tugas utama adalah memindahkan barang-barang, membersihkan gudang dan membantu pelanggan dalam berbelanja.

Aku rajin menabung, meskipun minimal satu setengah juta rupiah kukirimkan kepada orang tua supaya dipakai untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anakku.

Dua tahunan itu aku akhirnya bisa membuat ‘permit’ dibantu oleh agent. Tetapi masih ada utang seribuan ringgit lagi dalam pembayaran kepada agent.

Didorong rasa ingin cepat melunasi pembayaran dan biaya sekolah anak yang bertambah, aku ditolong teman untuk menambah pekerjaan ‘part-time maid’.

Dan aku tak menyangka saat memiliki sekeping anting-anting dan 700 RM hasil kerja part-time dua bulan, sore itu pengalaman pahit terjadi.

Ada seorang lelaki besar yang merupakan warga lokal sini, dia meneleponku untuk membersihkan appartemennya, sebelum dia pindah ke appartemen yang baru. Mungkin dia mengetahui nomorku dari teman atau dari majikanku lainnya. Waktu itu, aku juga baru menggunakan telepon genggam. Setelah menyepakati jam kerja, aku melanjutkan pekerjaan di pasar raya. Jelang magrib barulah aku menuju ke appartemen lelaki itu.

Ternyata baru tiba di lift depan rumah, orang itu menarikku dengan kasar, leherku sampai lecet terkena kerah baju. Aku yang masih letih sehabis kerja, sungguh terkejut ketika orang itu memaksa untuk membuka baju! Aku pikir, inilah teguran buatku, karena sering keasyikan menerima job, sampai sering lupa sholat lima waktu. Aku berpikir juga, mungkin malam itu adalah malam kematianku. Namun ternyata Allah SWT masih mengizinkanku untuk hidup dan memperbaiki diri.

Alhamdulillah, setelah meraung-raung seraya berkejar-kejaran di dalam ruangan appartemen luas itu, di sudut ruangan aku memohon kepada lelaki itu untuk tidak menggangguku. Posisinya sudah tidak berbusana waktu itu. Dia mengatakan, “Sekaliii saja, aku siapkan bayaran besar…” tetapi aku meronta dan memohon minta dilepaskan.

Dengan izin Allah SWT, setelah aku sudah tidak bisa bersuara lagi, dia lepaskan cengkeramannya sambil berkata, “Keluarkan semua duitmu!”

Sambil melepaskan anting-antingku, ia ambil 700 RM yang kubawa, juga handphone, kemudian menendangku keluar. Aku ketakutan sekali, lalu berlari meuju taksi dan minta tolong pinjaman teman di rumah sewa untuk membayarnya.

Malam itu aku tersungkur bersyukur kepada Allah SWT karena sudah selamat dari peristiwa keji yang tak pernah terbayang olehku.

Malang masih merapat padaku, justru ketika aku bisa mudik dan melihat anak lulus SD, aku amat kecewa, ternyata suamiku sudah menikah lagi. Sakit hatiku, keluarga tidak diberitahukan, acara di sekolah anak pun ia tak datang, apalagi ketika kuketahui ada banyak kiriman uang yang kutransfer ke rekeningnya, ternyata dipergunakan untuk istri barunya. Ya Allah, aku sungguh kecewa dengan ulah suami saat itu.

Kembali lagi ke Kuala Lumpur, kuajak kakak dan iparku sekaligus. Bossku perlu karyawan dan asisten rumah untuk membantunya. Sementara aku menasihati anakku untuk sekolah yang baik dan harus pintar, aku punya target supaya dia bisa sarjana, supaya hidup kami bisa lebih baik.

Alhamdulillah aku berkenalan dengan banyak muslimah Indonesia yang kaya ilmu disini. Aku dibisikkan motivasi untuk melampiaskan kecewa dengan banyak beristighfar.Lebih baik aku memperbaiki diri, dari pada meratapi nasib. Akhirnya suamiku resmi melepaskanku dengan perceraian, dan anak malah memintaku untuk menikah lagi.

Beberapa tahun yang lalu, aku menikah dengan orang Indonesia (duda tanpa anak) yang tinggal di Kuala Lumpur juga, ia berasal dari daerah yang tak terlalu jauh dari tempatku mudik. Kami sama-sama mengurus permit,sama-sama mencicil motor, dan sama-sama menabung tiket mudik setiap dua tahun sekali. Aku merasa sangat bersyukur atas semua pengalaman ini, apalagi sekarang anakku sudah bisa berada di bangku kuliah, semoga cita-cita menjadi guru bahasa Inggris dapat dicapai olehnya, aamiin.

Penyesalan Sya’ban RA di Penghujung Hayatnya

ALKISAH seorang sahabat bernama Sya’ban RA. Ia adalah seorang sahabat yang tidak menonjol dibandingkan sahabat-sahabat yang lain.

Ada suatu kebiasaan unik dari beliau, yaitu setiap masuk masjid sebelum sholat berjamaah dimulai dia selalu beritikaf dipojok depan masjid.

Dia mengambil posisi di pojok bukan karena supaya mudah senderan atau tidur, namun karena tidak mau mengganggu orang lain dan tak mau terganggu oleh orang lain dalam beribadah.

Kebiasaan ini sudah dipahami oleh sahabat bahkan oleh RasululLah Shallallahu `alaihi Wa Sallam, bahwa Sya’ban RA selalu berada di posisi tersebut termasuk saat sholat berjamaah.

Suatu pagi saat sholat subuh berjamaah akan dimulai RasululLah Shallallahu `alaihi Wa Sallam mendapati bahwa Sya’ban RA tidak berada di posisinya seperti biasa. Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam pun bertanya kepada jamaah yang hadir apakah ada yang melihat Sya’ban RA. Namun tak seorangpun jemaah yang melihat Sya’ban RA.

Sholat subuhpun ditunda sejenak untuk menunggu kehadiran Sya’ban RA. Namun yang ditunggu belum juga datang.
Khawatir sholat subuh kesiangan, Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam memutuskan untuk segera melaksanakan sholat subuh berjamaah.

Selesai sholat subuh, Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya apa ada yang mengetahui kabar dari Sya’ban RA.
Namun tak ada seorangpun yang menjawab.

Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya lagi apa ada yang mengetahui di mana rumah Sya’ban RA.

Kali ini seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia mengetahui persis di mana rumah Sya’ban RA.
Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam yang khawatir terjadi sesuatu dengan Sya’ban RA meminta diantarkan ke rumah Sya’ban RA.

Perjalanan dengan jalan kaki cukup lama ditempuh oleh Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam dan rombongan sebelum sampai ke rumah yang dimaksud.

Rombongan Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam sampai ke sana saat waktu afdol untuk sholat dhuha (kira-kira 3 jam perjalanan).

Sampai di depan rumah tersebut beliau Shallallahu `alaihi Wa Sallam mengucapkan salam. Dan keluarlah seorang wanita sambil membalas salam tersebut.

“ Benarkah ini rumah Sya’ban RA?” Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya.

“Ya benar, saya istrinya” jawab wanita tersebut. “

Bolehkah kami menemui Sya’ban RA, yang tadi tidak hadir saat sholat subuh di masjid?” .

Dengan berlinangan air mata istri Sya’ban RA menjawab:

“ Beliau telah meninggal tadi pagi”

InnaliLahi wainna ilaihirojiun…SubhanalLah , satu – satunya penyebab dia tidak solat subuh berjamaah adalah karena ajal sudah menjemputnya.

Beberapa saat kemudian istri Sya’ban bertanya kepada Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam,

“Ya Rasul ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali dengan masing–masing teriakan disertai satu kalimat. Kami semua tidak paham apa maksudnya”.

“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam. Di masing–masing teriakannya dia berucap kalimat,

“Aduuuh, kenapa tidak lebih jauh.”

“Aduuuh, kenapa tidak yang baru.“

“Aduuuh, kenapa tidak semua.”

Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam pun melantukan ayat yang terdapat dalam surat Qaaf (50) ayat 22 yang artinya:

“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.“

Saat Sya’ban RA dalam keadaan sakratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bukan cuma itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Apa yang dilihat oleh Sya’ban RA (dan orang yang sakratul maut), tidak bisa disaksikan oleh yang lain.
Dalam pandangannya yang tajam itu Sya’ban RA melihat suatu adegan di mana kesehariannya dia pergi pulang ke Masjid untuk sholat berjamaah lima waktu.

Perjalanan sekitar 3 jam jalan kaki sudah tentu bukanlah jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban RA diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah–langkah nya ke Masjid.

Dia melihat seperti apa bentuk surga ganjarannya. Saat melihat itu dia berucap:

“Aduuuh, kenapa tidak lebih jauh.”

Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban RA, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih banyak dan surga yang didapatkan lebih indah.

Dalam penggalan berikutnya Sya’ban RA melihat saai ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin. Saat ia membuka pintu berhembuslah angin dinginyang menusuk tulang. Dia masuk kembali ke rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Jadi dia memakai dua buah baju.

Sya’ban RA sengaja memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar. Pikirnya jika kena debu, sudah tentu yang kena hanyalah baju yang luar, sampai di masjid dia bisa membuka baju luar dan solat dengan baju yang lebih bagus.

Dalam perjalanan ke tengah masjid dia menemukan seseorang yang terbaring kedinginan dalam kondisi yang mengenaskan.
Sya’ban RA pun iba , lalu segera membuka baju yang paling luar dan dipakaikan kepada orang tersebut dan memapahnya untuk bersama–sama ke masjid melakukan sholat berjamaah.

Orang itupun terselamatkan dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan sholat berjamaah.

Sya’ban RA pun kemudian melihat indahnya sorga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut.
Kemudian dia berteriak lagi :

“Aduuuh, kenapa tidak yang baru.“

Timbul lagi penyesalan di benak Sya’ban RA. Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala yang begitu besar, sudah tentu ia akan mendapat yang lebih besar lagi seandainya ia memakaikan baju yang baru.

Berikutnya Sya’ban RA melihat lagi suatu adegan saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke segelas susu. Bagi yang pernah ke tanah suci sudah tentu mengetahui sebesar apa ukuran roti arab (sekitar 3 kali ukuran rata-rata roti Indonesia)

Ketika baru saja hendak memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta diberikan sedikit roti karena sudah lebih 3 hari perutnya tidak diisi makanan. Melihat hal tersebut, Sya’ban RA merasa iba.

Ia kemudian membagi dua roti itu sama besar, demikian pula segelas susu itu pun dibagi dua. Kemudian mereka makan bersama–sama roti itu yang sebelumnya dicelupkan susu, dengan porsi yang sama.

Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian memperlihatkan ganjaran dari perbuatan Sya’ban RA dengan surga yang indah.
Ketika melihat itu diapun berteriak lagi:

“Aduuuh, kenapa tidak semua.”

Sya’ban RA kembali menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis tersebut tentulah dia akan mendapat sorga yang lebih indah. Masyaallah.

Kaya atau Miskin Bukan Jaminan Bahagia

MATERI bukanlah ukuran mutlak untuk mengukur kadar kebahagiaan. Sebab, banyak pula orang yang bergelimang harta namun dia tidak bahagia.

Kemiskinan pun bukan alasan untuk hidup tidak bahagia. Memang, kemiskinan bukanlah jaminan seseorang bisa bahagia begitu juga kekayaan. Keduanya bukan syarat mutlak untuk hidup bahagia.

Terkadang, kita bisa mendapatkan kebahagiaan dengan cara yang sederhana. Ya, amat sederhana. Di mana hati kita selalu terpaut pada-Nya dan bersyukur atas apa yang Dia anugerahkan untuk kita.

Bukan soal kekayaan atau materi yang membuat orang bahagia. Bukan pula kemiskinan yang selalu membuat kita meratapi kesedihan. Tapi bagaimana kita bisa menikmati dan mensyukuri setiap nikmat yang telah Dia berikan.

Banyak orang kaya yang tidak bahagia. Terlebih juga orang miskin. Lebih banyak tdak bahagianya dibanding bahagia. Iya, kan? Kenapa demikian? Penyebabnya mungkin sederhana kita mensyukuri setiap nikmat-Nya.

Kaya atau miskin bukan syarat mutlak untuk seseorang bisa bahagia. Banyak hal yang mungkin tanpa kita sadari bia membuat bahagia. Misalnya, udara sejuk di pagi hari yang setiap hari kita hirup, bila kita rasakan dan hayati betapa itu adalah nikmat yang luar biasa.

Bila kita hitung setiap udara yang masuk ke tubuh kita, niscaya tidak akan bisa dan tidak mampu. Karena begitu banyak udara segar yang ke tubuh kita setiap detik. Itu baru udara saja, jika kita bersyukur maih banyak karunia-Nya yang belum sempat kita syukuri.

Bila kita renungkan, kita punya mata untuk melihat, mulut untuk berbicara, telinga untuk mendengar, dan masih banyak lagi karunia-Nya. Bukankah semua itu dapat membuat kita bahagia, bila kita mensyukurinya?

Nikmat Tuhanmu yang manakah kaudustakan?

Materi Bukanlah Segalanya

Bila kita hidup hanya mencari materi, itu bukanlah segalanya. Meskipun kita menumpuk-numpuknya di dalam rumah dengan berbagai kemewahan pun tidak menjamin kita bahagia.

Justru, apa yang kita lakukan itu akan sia-sia belaka. Kita hanya mengejar dunia yang fana. Perlu diketahui, semua kemewahan itu tidak akan di bawa sampai ke liang kubur. Yang akan menemani kita adalah amal ibadah kita. Dialah teman sejati kita.

Segala kemewahan yang kita miliki kelak akan dimintai pertanggung jawaban-Nya di akhirat. Ke manakah semua itu kita gunakan? Apakah hanya untuk foya-foya?

Padahal, kita tahu banyak saudara-saudara kita yang membutuhkan ulurkan tangan. Alangkah baiknya, kalau kita membantu mereka. Dengan harta yang sudah di titipkan Allah pada kita.

Bukankah di dalam harta kita ada hak mereka?

Sudah menjadi kewajiban kita untuk mengeluarkannya. Salah satu kunci kebahagiaan adalah dengan berbagi kepada sesama. Dengan begitu, kita bisa saling merasakan penderitaan saudara kita.

Bukankah sesama muslim itu bersaudara?

Dan Allah selalu menganjurkan kita menolong saudara. Bahagia itu sederhana, dengan berbagi kita bisa bahagia. Pun menolomg saudara sesama muslim. Alangkah indahnya hidup ini, bila kita saling menolong dan berbagi kepada sesama.

Kebahagiaan itu bukanlah di cari. Tapi di ciptakan. Jika kita ingin bahagia, maka ciptakan kebahagiaan itu. Bagaimana caranya? Banyak cara yang bisa dilakukan. Misalnya, belajar mensyukuri nikmat-nikmat yang sering kita anggap kecil: seperti menghirup udara segar setiap pagi, atau mungkin bisa dengan berbagi dan menolong sesama. Ciptakan kebahagiaanmu sendiri!

Miskin Bukan Alasan Untuk Mengeluh

Mungkin kita sering mengeluh dengan keadaan. Apalagi kalau hidup sudah pas-pasan. Kita selalu menjadikan kemiskinan sebagai alasan. Alasan yang juga klise, mengeluh. Mengeluh bukanlah solusi tepat untuk keluar dari masalah.

Bisa jadi mengeluh dapat menambah masalah. Miskin itu bukan nasib yang harus di ratapi selama berhari-hari. Dan bukan pula alasan untuk kita tidak bersyukur apalagi sampai menggadaikan iman.

Janganlah kita menggadaikan iman karena sebuah kemiskinan. Biarlah hidup miskin di dunia tapi tidak di akhirat. Iman itu kuncinya surga. Bila kunci surga sudah kita gadaikan atau kita jual dengan dunia yang tidak seberapa ini bagaimana kita bisa masuk surga?

Kalau kuncinya saja sudah tak ada di genggaman kita. Kemiskinan itu nasib yang dapat di ubah. Allah SWT menegaskan dalam alqur’an bahwa Dia tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri mau mengubahnya.

Artinya apa?

Kalau kita tidak ingin hidup miskin dan ingin hidup layak ya kita harus mengubah kemiskinan itu. Bagaimana caranya? Ya, dengan bekerja lebih giat lagi.

Banyak kasus kriminal yang terjadi latar belakangnya adalah faktor kemiskinan. Himpitan ekonomi sering kali membuat orang gelap mata. Dan tidak bisa membedakan antara yang halal atau haram. Tak jarang pula, ada yang sampai menjual imannya dan masuk agama lain hanya karena ingin hidup lebih layak.

Janganlah kita sampai menjual iman. Karena itu sama saja membuang kunci surga yang sudah berada di tangan. Jangan kotori hati ini dengan sering mengeluh dan mengeluh. Karena tak ada gunanya. Apapun keadaan hidup kita saat ini, kaya atau pun miskin belajarlah untuk bersukur. Karena kunci kebahagiaan adalah dengan mensyukuri segala nikmat-Nya.