Tampilkan postingan dengan label Aa Gym. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aa Gym. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Maret 2017

‘Memperbaiki’ Shalat

Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Alloh Swt. Semoga Alloh Yang Maha Pemberi Petunjuk memberi kita kekuatan untuk senantiasa menjaga kebeningan hati. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Saudaraku, setiap perintah Alloh Swt. itu pasti kebaikan dari segala sisi. Seperti perintah sholat, pasti merupakan kebaikan, baik untuk sisi lahiriah maupun batiniah, baik untuk dunia maupun untuk akhirat. Demikian juga sholat baik untuk hubungan kita dengan sesama manusia, dengan lingkungan sekitar dan dengan Alloh Swt.

Oleh karena itu, ketika ada seseorang yang akhlaknya buruk, lisannya tajam, perbuatannya zholim, maka bisa dipastikan ada masalah dengan pelaksanaan sholatnya. Kemungkinan besar sholatnya masih bolong-bolong, dan jikapun melaksanakan hanya gerakan dan bacaan tidak meresap menjadi kesadaran.

Alloh Swt. berfirman, “..dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al Ankabut [29] : 45)

Oleh karena itu, ketika kita membicarakan sholat maka yang sedang kita bicarakan bukanlah sebatas tata caranya, bacaan dan gerakannya, waktu-waktunya saja, melainkan juga sampai kepada dampaknya. Indah sekali Islam ini, setiap ibadah pasti memiliki banyak dimensi. Ketika kualitas sholat seseorang itu bagus, maka bisa dipastikan bahwa orang tersebut dalam kesehariannya merupakan orang yang disiplin, amanah, bertanggungjawab, teratur dan terjaga setiap ucapan dan perbuatannya.

Semoga kita termasuk hamba-hamba Alloh Swt. yang senantiasa memperbaiki kualitas sholat kita, sehingga kita menjadi pribadi yang mulia, menjadi rahmat bagi orang-orang dan lingkungan di sekitar kita. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.[]

 

Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )

Kamis, 19 Januari 2017

Pantang Buruk Sangka dan Mengorek Aib

Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Alloh Swt. Dzat Yang kepada-Nya segala urusan dan seluruh makhluk akan kembali. Hanya kepada Alloh kita menyembah dan memohon pertolongan. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Alloh Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurot [49] : 12)

Saudaraku, kalau kita berprasangka buruk kepada Alloh maka pasti kita menjadi gelisah. Demikian juga jika kita berprasangka buruk kepada orang yang beriman, maka akan tidak enak hati kita. Nah, kalau hati kita sudah merasa gelisah, capek, gersang, maka segera sadari bahwa ada sesuatu yang salah.

Dan, pemicu rasa gelisah, tidak tenang, hati yang gersang juga adalah sikap mengorek-ngorek informasi, serba ingin tahu tentang diri orang lain. Apalagi jika kita sama sekali tidak punya kepentingan untuk mengetahuinya selain hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu semata. Ingin tahu aib atau kekurangan orang lain, kemudian membicarakannya dengan teman sembari berbisik-bisik. Sungguh tidak ada hak kita untuk melakukan itu. Inilah yang kemudian mengundang rasa resah dan tidak tenang menjerat hati kita.

Akan ada saatnya, kalau Alloh berkehendak kita mengetahui sesuatu, maka Alloh yang akan bukakan informasi itu kepada kita. Namun, bukan dengan jalan mengorek-ngorek urusan orang lain yang tidak hak kita untuk melakukannya. Alloh pasti tahu jika kita sudah berusaha berbaik sangka, tidak mengorek-ngorek aib orang lain, namun jika Alloh menghendaki agar kita mengetahuinya maka pasti Alloh yang akan membuka informasi itu dengan cara-Nya dan kita selamat dari burung sangka dan sikap memata-matai.

Marilah kita nikmati ketenangan dan kebersihan hati dengan cara tidak berburuk sangka dan tidak memata-matai orang yang bukan hak kita untuk melakukannya. Wallaahua’lambishowab.[]

 

Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )

Rabu, 18 Januari 2017

Merenungi Tiga Bagian Waktu

Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Alloh Swt. Dialah Dzat Yang Maha Menciptakan, Maha Memelihara, Maha Mencukupi Rezeki seluruh makhluk. Sholawat dan salam semoga selau tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Saudaraku, sesungguhnya kita sedang berpacu dengan sisa umur. Urusan umur ini adalah urusan yang besar sehingga Alloh Swt. bersumpah dengan waktu. Waktu itu menghakimi kita, siapa yang menggunakan waktunya dengan baik, maka dia akan beruntung. Sedangkan siapa yang menggunakan waktunya dengan buruk, maka dia akan merugi.

Waktu yang sudah berlalu tidak akan pernah kembali lagi meski itu hanya satu detik yang lalu. Waktu itu terdiri dari tiga; waktu yang sudah berlalu dan tak akan kembali tetapi akan menghakimi kita, waktu yang akan datang dan belum tentu ada bagi kita karena kalau ajal menjemput kita sekarang maka waktu yang akan datang bukan jatah kita. Selanjutnya adalah waktu saat ini yang sedang kita jalani.

Kegalauan atas masa lalu dan kegelisahan akan masa depan, jawabannya adalah pada saat ini. Yang telah berlalu sudah berlalu, tidak bisa berubah kecuali dengan cara pada saat ini kita memperbaiki diri. Yang lalu berlumuran dosa, maka pada saat ini kita bertaubat dan memperbaiki diri sehingga kita mendapat pertolongan Alloh, berkah dari taubat.

Kita khawatir akan masa depan, takut hidup suul khotimah, maka pada saat ini kita jalani hidup dengan penuh ketaatan pada Alloh Swt. Sehingga pelan namun pasti kita sedang meniti jalan menuju akhir hidup yang husnul khotimah.

Alloh Swt. berfirman, Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr [103] 1-3)

Saudaraku, demikianlah renungan kita mengenai tiga bagian waktu. Semoga kita termasuk hamba-hamba Alloh yang beruntung, yaitu yang bisa memanfaatkan jatah waktu untuk senantiasa mendekat kepada Alloh Swt., sehingga kita bisa meraih husnul khotimah. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.[]

Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )

Kamis, 12 Januari 2017

Setiap Masalah Pasti Bersama Jalan Keluarnya

Saudaraku, Allah Swt memberikan segala sesuatu secara tepat kepada kita. Termasuk ketika Dia memberikan ktia persoalan atau masalah, selalu hadir lengkap dengan jalan keluarnya.

Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah Saw bersabda, “Tidak akan berhenti ujian kesusahan dan penderitaan terhadap seorang mu’min dan mu’minat, baik yang menimpa dirinya sendiri, anak-anaknya, maupun hartanya, sehingga ia menemui Allah, meninggal dunia dalam keadaan tidak membawa satu dosa pun.” (HR. Tirmidzi).  

Demikianlah hikmah datangnya ujian dan kesulitan yang datang menimpa kita. Adakalanya manusia diuji oleh Allah Swt secara terus-menerus atau bertubi-tubi. Hal itu tiada lain adalah akan mengurangi dosa-dosanya. Adapun makna dari hadits di atas adalah bahwa ketika seseorang ditimpa ujian demi ujian hingga tiba waktunya ia meninggal dunia, maka ketika itu ia meninggalkan dunia dalam keadaan bersih dari noda-noda dosa.

Jangan salah sangka atau berprasangka buruk ketika kesulitan hidup atau ujian datang menimpa kita. Kita menilai bahwa ujian itu adalah kepahitan, karena kita menggunakan hawa nafsu saat menilainya. Ingatkah kita pada kisah seorang laki-laki yang telah berbuat zina di zaman Rasulullah Saw?

Laki-laki itu datang menghadap kepada Rasulullah Saw menyampaikan perbuatan dosa yang telah dilakukannya. Laki-laki itu mengakui kesalahannya dan meminta kepada Rasulullah Saw agar dihukum sesuai dengan hukum Islam yaitu hukuman rajam. Laki-laki itu benar-benar meminta agar Rasulullah Saw menunaikan hukuman itu terhadapnya.

Mengapa laki-laki ini sedemikian memintanya kepada Rasulullah Saw? Hal itu ia lakukan karena ia tahu bahwa itulah hukuman yang bisa menebus dosa yang telah dilakukannya sehingga ia terbebas dari hukuman berkepanjangan di akhirat. Ini adalah bentuk pertaubatan laki-laki tersebut kepada Allah Swt. Seandainya taubatnya itu dibagikan kepada seantero penduduk kota Madinah, maka akan masih banyak tersisa melampaui seluruh penduduk yang ada.

Mengapa laki-laki ini sedemikian siap menghadapi hukuman tersebut? Tiada lain adalah karena ia lebih mementingkan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia. Ia lebih mengutamakan keselamatan di akhirat ketimbang keselamatan di dunia. Karena setiap orang yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, ia akan berat menjalani kehidupan ini. Sedangkan orang yang tujuannya adalah akhirat, insya Allah kehidupan dunia ini akan terasa mudah dan ringan.

Allah Swt Maha Tepat Tindakan-Nya. Termasuk ketika ujian Dia turunkan kepada manusia. Ujian diturunkan-Nya secara tepat. Bahkan, ujian itu Allah Swt turunkan kepada hamba-Nya dengan tujuan untuk meninggikan derajatnya. Ada suatu derajat yang tidak bisa digapai oleh manusia kecuali dengan ujian dari Allah Swt.

Dalam satu hadits, Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya seseorang yang akan diberi kedudukan tinggi di sisi Allah, sedangkan ia tidak dapat mencapai kedudukan itu dengan amalnya, maka Allah akan terus menerus mengujinya dengan kesusahan dan kesulitan yang tidak disukainya. Sehingga ia dapat menggapai kedudukan tersebut.” (HR. Abu Ya’la).

Betapa Allah Swt sayang kepada kita. Allah bermaksud mengembalikan kita kepada-Nya dalam keadaan bersih dari noda dosa dan derajat atau kedudukan yang tinggi. Ketika ada seorang hamba yang derajat di hadapan-Nya biasa-biasa saja, maka ia akan dipacu agar menggapai derajat yang lebih baik lagi dengan cara diberikan ujian kepadanya. Ujian-ujian tersebut berbagai macam bentuknya. Misalnya adalah tiba-tiba dibenci, dicaci, dimaki dan dijauhi oleh orang lain.

Orang yang akan meraih kedudukan atau derajat yang lebih tinggi saat ditimpa ujian memiliki ciri-ciri tertentu. Salah satu cirinya adalah sikapnya yang tetap tenang. Ini adalah pengalaman yang paling mahal. Ini tanda bahwa ia adalah pecinta akhirat. Sedangkan pecinta dunia, ketika ia ditimpa ujian, maka ia akan panik, resah, putus asa dan berusaha mencari perlindungan kepada sesuatu atau makhluk, bukan kepada Allah Swt.

Tidak jarang kita menemukan orang yang menjadikan dukun atau tukang ramal sebagai tempat pelarian mereka saat ditimpa kesulitan atau ujian hidup. Ia tunggang langgang mencari pertolongan kepada sesama makhluk dan lupa pada Allah Swt Yang Maha Memberi pertolongan.

Orang pencinta dunia akan sedemikian rupa meminta pertolongan kepada makhluk. Padahal orang yang dimintai pertolongan pun dililit banyak persoalan di dalam hidupnya. Ia tidak meminta pertolongan kepada Dzat Yang memberinya kehidupan dan memberinya persoalan. Padahal Dialah Dzat Yang kuasa memberikan jalan keluarnya. Dialah Allah Swt.

Ketika Allah Swt memberikan ujian persoalan hidup kepada kita, sungguh Allah telah mengukur dengan sangat tepat ujian tersebut sehingga sesuai dengan kadar kemampuan kita untuk menghadapinya. Semua tentang diri kita, Allah Swt telah mengetahuinya. Allah Swt mengetahui kekuatan yang kita miliki. Allah Swt pun mengetahui seberapa berat ujian yang diberikan-Nya kepada kita. Segalanya sudah terukur oleh Allah Swt secara tepat.

Allah Swt berfirman,

Ÿ“..Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya..” (QS. Al Baqarah [2]: 233).

Adapun ketika kita merasakan penderitaan atas ujian-Nya, itu bukanlah disebabkan karena Allah Swt keliru mengukur kadar kemampuan kita dan kadar ujian-Nya itu. Kita menderita karena kita salah menyikapi ujian tersebut. Kita menderita karena kita selalu tidak merasa puas dengan apa yang telah diberikan-Nya kepada kita. Sehingga apa yang telah dimiliki malah menjadi penderitaan. Padahal tidaklah mungkin Allah Swt salah alamat ketika memberikan sesuatu kepada hamba-hamba-Nya.

Ketika kita sekolah dahulu. Kita menghadapi ujian kenaikan kelas yang sesuai dengan kadar keilmuan kita saat itu. Dan ujian-ujian tersebut selalu telah siap dengan jawaban-jawabannya. Tidak mungkin soal hadir tanpa ada jawabannya. Demikian juga dengan ujian hidup yang kita hadapi. Allah Swt memberi kita ujian sesuai dengan kadar kemampuan kita. Dan, Allah Swt memberikan ujian hidup kepada kita secara lengkap dengan jawaban-jawabannya. Hanya saja, hawa nafsu seringkali membuat kita menjadi buta untuk bisa menemukan jawaban-jawaban itu.

Sungguh, tidak ada yang sulit di dalam hidup ini. Kecuali kesulitan itu adalah sikap kita yang tidak menerima ketentuan-Nya. Padahal di dalam Al Quran Allah Swt telah menjelaskan,

“..Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah [2]: 216).

Bolehkah kita memiliki keinginan? Tidak ada yang melarang kita memiliki keinginan. Punya keinginan adalah salah satu tabiat alami kita sebagai manusia. Akan tetapi, hendaklah keinginan kita itu adalah hal-hal yang disukai oleh Allah Swt. Karena masalahnya adalah kita seringkali maksa, ngotot, mendapatkan apa-apa yang tidak disukai oleh-Nya. Bahkan jika pun berdoa, kita tetap saja memaksa kepada-Nya, seolah tidak yakin bahwa apa yang disukai-Nya bukanlah hal yang baik untuk kita.

Jika kita mau sejenak melihat ke dalam diri kita sendiri, maka kita akan saksikan bahwasanya keinginan-keinginan kita itu lebih dekat kepada hawa nafsu. Jika kita diberikan pilihan antara dipuji dengan dicaci, manakah yang akan kita pilih? Tentu kebanyakan kita akan memilih untuk dipuji. Kita senang sekali menerima pujian dan sanjungan. Padahal jika sekali lagi kita melihat diri secara jujur, apakah diri kita ini lebih pantas dipuji ataukah lebih pantas dicaci?!

Kita selalu ingin dipuji dan dihormati, padahal sesungguhnya diri kita ini tidak pantas menerima pujian dan penghormatan. Jikapun kita memang dipuji dan dihormati oleh orang lain, itu hanya karena Allah Swt menutupi aib atau kejelekan kita saja di hadapan orang lain. Allah Swt menutupi bekas-bekas kemaksiatan, dosa, keburukan yang kita lakukan sehingga tidak diketahui oleh orang lain. Jika mau jujur, sungguh kita tidak pantas menerima penghormatan dan pujian.

Tidak perlu kita merasa dendam pada orang yang berbuat dzalim terhadap diri kita. Karena sesungguhnya Allah Swt sudah memiliki perhitungan sendiri terhadap perbuatannya. Sikap dendam justru malah akan melahirkan dampak tidak baik terhadap diri kita sendiri. Hati menjadi resah, gelisah, dan tidak tenang setiap kali mengingat perbuatannya. Pasrahkanlah semua pada Allah Swt. Kesabaran kita menghadapi perbuatannya akan berbuah kebaikan untuk kita. Sementara kedzaliman pasti akan mendatangkan akibat pada pelakunya. Tidak akan meleset.

Apabila Allah Swt hendak memuliakan seseorang, maka tidak akan ada yang bisa mengalang-halanginya. Demikian juga apabila Allah Swt berkehendak mengambil kemuliaan seseorang, maka tidak akan ada yang kuasa menahannya untuk menjadi hina.

Allah Swt berfirman,

“Katakanlah, “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 26).

Bukanlah hal yang penting dihina atau dibenci oleh manusia. Terlebih lagi jika alasan kebencian dan hinaan mereka adalah karena kita menjaga diri untuk tetap berpegang teguh kepada Allah Swt. Selama kita tetap teguh kepada Allah, pasti Dia memberi kita ketenangan, meski manusia menghujani kita dengan serangan hinaan dan kebencian.

Ditulis oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )

Minggu, 08 Januari 2017

Pengaruh Tabiat Istri Terhadap Cara Suami Mencari Nafkah

Hasan al-Bashri berkata:

“Aku datang kepada seorang pedagang kain di Mekkah untuk membeli baju, lalu si pedagang mulai memuji-muji dagangannya dan bersumpah, lalu akupun meninggalkannya dan aku katakan tidaklah layak beli dari orang semacam itu, lalu akupun beli dari pedagang lain.”

2 tahun setelah itu aku berhaji dan aku bertemu lagi dengan orang itu, tapi aku tidak lagi mendengarnya memuji-muji dagangannya dan bersumpah, Lalu aku tanya kepadanya:”Bukankah engkau orang yang dulu pernah berjumpa denganku beberapa tahun lalu?”Ia menjawab : “Iya benar”Aku bertanya lagi:”Apa yang membuatmu berubah seperti sekarang? Aku tidak lagi melihatmu memuji-muji dagangan dan bersumpah!”Ia pun bercerita:”Dulu aku punya istri yang jika aku datang kepadanya dengan sedikit rizki, ia meremehkannya dan jika aku datang dengan rizki yang banyak ia menganggapnya sedikit.

Lalu Allah mewafatkan istriku tersebut, dan akupun menikah lagi dengan seorang wanita. Jika aku hendak pergi ke pasar, ia memegang bajuku lalu berkata:’Wahai suamiku, bertaqwalah kepada Allah, jangan engkau beri makan aku kecuali dengan yang thayyib (halal). Jika engkau datang dengan sedikit rezeki, aku akan menganggapnya banyak, dan jika kau tidak dapat apa-apa aku akan membantumu memintal (kain)’.”Masya Allah…Milikilah sifat Qana’ah -suka menerima- / jiwa selalu merasa cukup.Biasanya Wanita (Istri) sering TERJEBAK pd KEINGINANnya tuk terlihat Cantik dgn Pakaian yg Serba Mahal.Janganlah menjadi jurang dosa bagi Suamimu.

Wanita shalihah akan mendorong Suaminya kpd kebaikan,keta’atan sedangkan wanita kufur akan menjadi pendorong bagi suaminya untuk berbuat dosa,kemakshiatan.CUKUPKAN DIRI DGN YG HALAL&BAIK. Ukuran Rizki itu terletak pada keberkahannya, bukan pada jumlahnya.

[Kitab al-Mujaalasah wa Jawaahirul ‘Ilm (5/252) karya Abu Bakr Ahmad bin Marwan ].

Keteladanan Pemimpin

Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Alloh Swt. Semoga Alloh Yang Maha Mendengar segala isi hati dan Maha Mengetahui segala rahasia, menggolongkan kita sebagai orang-orang yang husnul khotimah. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Keterampilan dari seorang pemimpin bukanlah hanya terampil memberikan instruksi saja kepada bawahannya, bukan hanya terampil memberi hukuman saja pada yang dipimpinnya, bukan pula hanya keterampilan membakar semangat bawahannya untuk kerja, kerja dan kerja.  Melainkan ada yang jauh lebih penting yaitu keterampilan memberi keteladanan, memberi contoh yang baik secara nyata.

Ada seorang pemimpin yang berorasi mengajak yang ia pimpin untuk bekerja disiplin, sedangkan dirinya sendiri berleha-leha di kantornya. Ada pemimpin yang menggebu-gebu berteriak agar semua orang menjauhi perbuatan korupsi, akantetapi malah dia yang digiring polisi karena memanipulasi anggaran. Ada pemimpin yang dengan fasihnya mengajak yang ia pimpin untuk menjaga kebersihan, akantetapi dirinya malas menyapu mejanya sendiri.

Alloh Swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Alloh bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash Shoff [61] : 2-3)

Saudaraku, jikalau Alloh menakdirkan kita sebagai seorang pemimpin, maka marilah kita ikuti apa yang telah Rosululloh Saw. contohkan kepada kita. Beliau senantiasa menjadi orang yang pertama mengamalkan kebaikan sebelum mengajak orang lain untuk melakukannya. Keberhasilan seorang pemimpin adalah berbanding lurus dengan sebaik apa ia memimpin dirinya sendiri. Kegagalan seorang pemimpin dalam memimpin sesungguhnya disebabkan kerapuhan ia dalam memimpin dirinya sendiri.

Setiap pemimpin mendambakan orang-orang yang dipimpinnya menjadi orang-orang yang jujur, disiplin, bertuturkata baik dan bersikap baik. Maka semua itulah yang perlu ia lakukan sebelum orang-orang yang ia pimpin melakukannya. Kepemimpinan adalah amanah dari Alloh Swt. Semoga kita yang sedang diamanahi kepemimpinan, termasuk para pemimpin yang senantiasa memberi keteladanan dan mendapat ridho Alloh Swt. Aamiin yaa Robbal’aalamiin.

 

Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )
Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung