Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Maret 2017

Isteri Durhaka Kepada Suami

#Keluarga Muslim : Isteri Durhaka Kepada Suami#

Pelajaran Hadist Hari Ini :

Selesainya dari shalat Kusuf (shalat Gerhana), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menceritakan surga & neraka yg diperlihatkan kepada beliau ketika shalat,

وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

Artinya : “Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita. Mereka bertanya, Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah? Beliau menjawab, Disebabkan kekufuran mereka. Ada yang bertanya kepada beliau, Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, (Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu.”(HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).

السلام عليكم ورحمة الله وبر كاته

Saudaraku seiman, Segala puji hanyalah milik Allah SWT. Shalawat & salam senantiasa tercurahkan kpd Rasulullah Muhammad SAW, para keluarganya, sahabat2 nya &ummatnya yg istiqomah diatas sunnahnya hingga hari kiamat. Tausiyah group WA & BBM pagi ini akan membincangkan masalah rumah tangga muslim yakni isteri durhaka kpd suami.

Membangun mahligai rumah tangga mulai dari awal pernikahan diliputi oleh manis & pahitnya kehidupan. Perahu rumah tangga yg berlayar disambut oleh riak2 gelombak yg kecil hingga badai yg besar hingga kapal hendak karam dilautan.

Suami & isteri adl 2 insan lawan jenis yg memiliki latar belakang karakter & sifat yg berbeda. Tdk dpt saling menerima antara kelebihan & kekurangan masing2 terkadang menjadi pemicu keretakan dlm rumah tangga.

Didlm Islam kedudukan suami menjadi lahan surga ataupun bisa menjadi lahan neraka bagi isteri. Hadist diatas dgn tegas menjelaskan tentang mayoritas penduduk neraka adl wanita krn mrk durhaka thp suami & mengingkari kebaikan2nya.

Realitas kehidupan di era modern hari ini tdk sedikit kaum muslimin mengadopsi nilai2 kehidupan westernisasi Kapitalisme liberal diantaranya emansipasi & persamaan gender wanita. Atas nama persamaan gender mrk menuntut memiliki hak & persamaan dgn kaum laki2 dlm seluruh aspek kehidupan termasuk dlm berumah tangga, seolah2 hal ini menjadi era bagi para wanita modern utk tampil sejajar dgn laki2.

Tak heran sering timbul konflik dlm rumah tangga disebabkan faktor menuntut hak yg berlebihan. Didlm Islam hal yg demikian itu termasuk kedurhakaan krn hal semacam ini banyak sekali kita dapati dlm kehidupan keluarga kaum muslimin.

Ada jg didapati seorang istri yg mengingkari kebaikan2 suaminya selama sekian waktu yg panjang hanya disebabkan sikap atau perbuatan suami yg tdk cocok dgn kehendak sang istri. sebagaimana pepatah mengatakan, panas setahun dihapus oleh hujan sehari.

Pd hal yg hrs dilakukan oleh seorang istri adl bersyukur atas kebaikan yg diberikan suaminya, janganlah ia mengkufurinya krn Allah tdk akan melihat kpd istri semacam ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah SAW : Allah tdk akan melihat kpd wanita yg tdk mensyukuri apa yg ada pd suaminya & tdk merasa cukup dgn nya.”(HR.Nasa’i di dalam Al Kubra).

3 bentuk kedurhakaan isteri thp suami :

1. Durhaka dgn ucapan

2. Durhaka dgn perbuatan

3. Durhaka dgn ucapan & perbuatan.

Isteri yg berkata kasar thp suaminya, mencela & mencaci makinya adl termasuk durhaka dgn ucapan. Menolak ajakan suami memenuhi nafkah bathin adl durhaka dlm perbuatan. Termasuk bentuk kedurhakaan jg apabila seorang isteri membicarakan perbuatan suami yg tdk ia sukai kpd teman2 atau keluarganya tanpa sebab yg dibenarkan oleh syara’. Atau ia menuduh suaminya dgn tuduhan2 yg bermaksud utk menjatuhkan & merusak kehormatannya shg suaminya dipandang hina di mata orang lain.

Begitu jg apabila seorang isteri meminta talak atau di khulu’/dicerai tanpa sebab syar’i. Sungguh berat amanah menjadi seorang isteri dari seorang suami. Semoga para muslimah sbg isteri mau dibimbing, dinasehati & diarahkan oleh suaminya menjadi isteri yg soleha.

Wallahu a’lam

By ; Tommy Abdillah

RUMAH YANG TERLIHAT OLEH PENDUDUK LANGIT

Di dunia ini ada rumah yang terlihat oleh penduduk langit. Seperti apakah rumah yang terlihat oleh penduduk langit tersebut ?.

Nabi صلّى الله عليه وسلّم bersabda:

إنَّ البيت ليُتلى فيه القرآن؛ فيتراءى لأهلِ السماء كما تتراءى النجومُ لأهل الأرض

“Sesungguhnya rumah yang dibacakan di dalamnya al-Qur’an, maka rumah tersebut akan terlihat oleh para penduduk langit sebagaimana terlihatnya bintang-bintang oleh penduduk bumi.”

[Hadits dikeluarkan oleh Ahmad, Adz-Dzahabiy, Lihat kitab ash-Shahihah no. 3112].

Maka janganlah rumah kita kosong dari tilawah ayat-ayat al-Qur’an, sehingga rumah kita tidak terlihat oleh penduduk langit.

Rutinkan bacaan Qur’an di rumah kita agar rumah kita selalu terlihat oleh para penduduk langit.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ القُرْآن..

Ustadz Abdul Basid, Lc
-hafidzhahullaahu ta’aala-

Selasa, 14 Maret 2017

MINTALAH DOA PADA IBUMU..

COFFEE MORNING

MINTALAH DOA PADA IBUMU..

Jangan di kira doa seorang ibu itu biasa-biasa saja.
Dalam sebuah hadits disebutkan,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ

“ Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang yang dizholimi, doa orang yang bepergian (safar) dan doa baik orang tua pada anaknya.”
(HR. Ibnu Majah no. 3862, hasan).

Imam al-Lalika`iy meriwayatkan di dalam kitabnya Syarh as-Sunnah dan Ghanjar di dalam kitabnya Taariikh Bukhaara mengisahkan sebagai berikut:

” Sejak kecil Imam al-Bukhary kehilangan penglihatan pada kedua matanya alis buta.

Suatu malam di dalam mimpi, ibunya melihat Nabi Allah, al-Khalil, Ibrahim ‘alaihis salam yang berkata kepadanya,

‘ Wahai wanita, Allah telah mengembalikan penglihatan anakmu karena begitu banyaknya kamu berdoa.”

Pada pagi harinya, ia melihat anaknya dan ternyata benar, Allah telah mengembalikan penglihatannya.

Luar biasa, doa seorang ibu.

Imam Bukhari salah satu bukti doa ampuh ibunya.

Berbuat baiklah pada ibu dan minta terus doa baik darinya.

Selasa, 28 Februari 2017

Istri yang Taat Pada Suami, Dijamin Surga

Istri yang Taat Pada Suami, Dijamin Surga

Di antara keutamaan istri yang taat pada suami adalah akan dijamin masuk surga. Ini menunjukkan kewajiban besar istri pada suami adalah mentaati perintahnya.

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ

“Wanita mana saja yang meninggal dunia lantas suaminya ridha padanya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Tirmidzi no. 1161 dan Ibnu Majah no. 1854. Abu Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Yang dimaksudkan dengan hadits di atas adalah jika seorang wanita beriman itu meninggal dunia lantas ia benar-benar memperhatikan kewajiban terhadap suaminya sampai suami tersebut ridha dengannya, maka ia dijamin masuk surga. Bisa juga makna hadits tersebut adalah adanya pengampunan dosa atau Allah meridhainya. (Lihat Nuzhatul Muttaqin karya Prof. Dr. Musthofa Al Bugho, hal. 149).

Begitu pula ada hadits dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dengan ketaatan seorang istri, maka akan langgeng dan terus harmonis hubungan kedua pasangan. Hal ini akan sangat membantu untuk kehidupan dunia dan akhirat.

Islam pun memuji istri yang taat pada suaminya. Bahkan istri yang taat suami itulah yang dianggap wanita terbaik.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Sebagian istri saat ini melupakan keutamaan taat pada suami. Sampai-sampai menganggap ia harus lebih daripada suami sehingga dialah yang mesti ditaati karena karirnya lebih tinggi dan titelnya lebih mentereng. Wallahul musta’an.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Oleh : Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Kamis, 19 Januari 2017

Isteri Durhaka Kepada Suami

#Keluarga Muslim : Isteri Durhaka Kepada Suami#

Pelajaran Hadist Hari Ini :

Selesainya dari shalat Kusyuf (Shalat Gerhana), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menceritakan surga & neraka yg diperlihatkan kepada beliau ketika shalat,

وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

Artinya : “Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita. Mereka bertanya, Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah? Beliau menjawab, Disebabkan kekufuran mereka. Ada yang bertanya kepada beliau, Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, (Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu.”(HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).

السلام عليكم ورحمة الله وبر كاته

Saudaraku seiman, Tausiyah group WA & BBM pagi ini akan membincangkan masalah rumah tangga muslim yakni durhaka isteri kpd suami.

Membangun mahligai rumah tangga mulai dari awal pernikahan diliputi oleh manis & pahitnya kehidupan. Perahu rumah tangga yg berlayar disambut oleh riak2 gelombak yg kecil hingga badai yg besar hingga kapal hendak karam dilautan.

Suami & isteri adl 2 insan lawan jenis yg memiliki latar belakang karakter & sifat yg berbeda. Tdk dpt saling menerima antara kelebihan & kekurangan masing2 terkadang menjadi pemicu keretakan dlm rumah tangga.

Didlm Islam kedudukan suami menjadi lahan surga ataupun bisa menjadi lahan neraka bagi isteri. Hadist diatas dgn tegas menjelaskan tentang mayoritas penduduk neraka adl wanita krn mrk durhaka thp suami & mengingkari kebaikan2nya.

Realitas kehidupan di era modern hari ini tdk sedikit kaum muslimin mengadopsi nilai2 kehidupan westernisasi Kapitalisme liberal diantaranya emansipasi & persamaan gender wanita. Atas nama persamaan gender mrk menuntut memiliki hak & persamaan dgn kaum laki2 dlm seluruh aspek kehidupan termasuk dlm berumah tangga, seolah2 hal ini menjadi era bagi para wanita modern utk tampil sejajar dgn laki2.

Tak heran sering timbul konflik dlm rumah tangga disebabkan faktor menuntut hak yg berlebihan. Didlm Islam hal yg demikian itu termasuk kedurhakaan krn hal semacam ini banyak sekali kita dapati dlm kehidupan keluarga kaum muslimin.

Ada jg didapati seorang istri yg mengingkari kebaikan2 suaminya selama sekian waktu yg panjang hanya disebabkan sikap atau perbuatan suami yg tdk cocok dgn kehendak sang istri. sebagaimana pepatah mengatakan, panas setahun dihapus oleh hujan sehari.

Pd hal yg hrs dilakukan oleh seorang istri adl bersyukur atas kebaikan yg diberikan suaminya, janganlah ia mengkufurinya krn Allah tdk akan melihat kpd istri semacam ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah SAW : Allah tdk akan melihat kpd wanita yg tdk mensyukuri apa yg ada pd suaminya & tdk merasa cukup dgn nya.”(HR.Nasa’i di dalam Al Kubra).

3 bentuk kedurhakaan isteri thp suami :

1. Durhaka dgn ucapan

2. Durhaka dgn perbuatan

3. Durhaka dgn ucapan & perbuatan.

Isteri yg berkata kasar thp suaminya, mencela & mencaci makinya adl termasuk durhaka dgn ucapan. Menolak ajakan suami memenuhi nafkah bathin adl durhaka dlm perbuatan. Termasuk bentuk kedurhakaan jg apabila seorang isteri membicarakan perbuatan suami yg tdk ia sukai kpd teman2 atau keluarganya tanpa sebab yg dibenarkan oleh syara’. Atau ia menuduh suaminya dgn tuduhan2 yg bermaksud utk menjatuhkan & merusak kehormatannya shg suaminya dipandang hina di mata orang lain.

Begitu jg apabila seorang isteri meminta atau di khulu’/dicerai tanpa sebab syar’i. Sungguh berat amanah menjadi seorang isteri dari seorang suami. Semoga para muslimah sbg isteri mau dibimbing, dinasehati & diarahkan oleh suaminya menjadi isteri yg soleha.

Wallahu a’lam

By ; Tommy Abdillah

Pantang Buruk Sangka dan Mengorek Aib

Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Alloh Swt. Dzat Yang kepada-Nya segala urusan dan seluruh makhluk akan kembali. Hanya kepada Alloh kita menyembah dan memohon pertolongan. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Alloh Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurot [49] : 12)

Saudaraku, kalau kita berprasangka buruk kepada Alloh maka pasti kita menjadi gelisah. Demikian juga jika kita berprasangka buruk kepada orang yang beriman, maka akan tidak enak hati kita. Nah, kalau hati kita sudah merasa gelisah, capek, gersang, maka segera sadari bahwa ada sesuatu yang salah.

Dan, pemicu rasa gelisah, tidak tenang, hati yang gersang juga adalah sikap mengorek-ngorek informasi, serba ingin tahu tentang diri orang lain. Apalagi jika kita sama sekali tidak punya kepentingan untuk mengetahuinya selain hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu semata. Ingin tahu aib atau kekurangan orang lain, kemudian membicarakannya dengan teman sembari berbisik-bisik. Sungguh tidak ada hak kita untuk melakukan itu. Inilah yang kemudian mengundang rasa resah dan tidak tenang menjerat hati kita.

Akan ada saatnya, kalau Alloh berkehendak kita mengetahui sesuatu, maka Alloh yang akan bukakan informasi itu kepada kita. Namun, bukan dengan jalan mengorek-ngorek urusan orang lain yang tidak hak kita untuk melakukannya. Alloh pasti tahu jika kita sudah berusaha berbaik sangka, tidak mengorek-ngorek aib orang lain, namun jika Alloh menghendaki agar kita mengetahuinya maka pasti Alloh yang akan membuka informasi itu dengan cara-Nya dan kita selamat dari burung sangka dan sikap memata-matai.

Marilah kita nikmati ketenangan dan kebersihan hati dengan cara tidak berburuk sangka dan tidak memata-matai orang yang bukan hak kita untuk melakukannya. Wallaahua’lambishowab.[]

 

Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )

Selasa, 17 Januari 2017

NILAI KETAATAN ISTERI KEPADA SUAMI

Oleh: KH. Hafidz Abdurrahman, MA (Khadim Ma’had Syaraful Haramain)

Teruntuk istriku tercinta Bunda Niswa dan untuk pada wanita yg sdh dan akan menjdi seorang istri

Suatu ketika Rasulullah saw. melihat Fatimah r.a, puteri tercintanya itu sedang menggiling gandum sambil menangis. Rasulullah pun menghampirinya, seraya bertanya mengapa dia menggiling gandum sambil menangis. Dengan terbata-bata, Fatimah menuturkan kepada ayahandanya, bahwa pekerjaan menggiling gandum dan semua pekerjaan rumah tangga yang dilakukannya setiap hari membuat dirinya bosan. Makanyanya ia menangis.

Mendengar cerita puteri kesayangannya itu Nabi saw. pun segera mengambil penggilingan gandum tersebut sambil mengucapkan Bismillah. Ajaibnya, atas izin Allah SWT tiba-tiba penggilingan gandum itu berputar sendiri. Lalu terdengar dari penggilingan yang terbuat dari batu itu BERTASBIH sambil menggiling gandum yang dilemparkan Rasulullah saw. Tak begitu lama penggilingan itu berputar, Rasulullah saw. memintanya berhenti. Atas izin Allah SWT seketika penggilingan itu pun berhenti sendiri. Allahu akbar..

Nabi saw. pun menoleh ke arah Fatimah, puteri tercintanya itu seraya bersabda, “Jika Allah menghendaki, penggilingan itu akan berputar sendiri untuk puteri-Ku. Tapi itu terjadi karena Allah menghendaki beberapa kebaikan yang ditulis dan beberapa kesalahan yang dihapuskan dari Fatimah dan dinaikkan-Nya untuk puteri Nabi itu beberapa derajat lebih tinggi.”

Nabi saw. pun tak lupa menyelipkan nasehat kepada putrinya, Fatimah, dengan menjelaskan beberapa kebaikan (pahala) yang bakal diperoleh setiap wanita (isteri), jika dia ikhlas dengan penuh kesabaran menjalankan tugas dan tanggung jawab kehidupan rumah tangganya. Nabi mengingatkan, “Jika seorang wanita melayani suaminya sehari semalam dengan baik, tulus, ikhlas serta dengan hati yang benar, Allah akan mengampuni segala dosanya dan akan dicatat untuknya dari setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya dengan seribu kebaikan dan dikaruniakan seribu pahala haji dan umroh.” (Hr. Abu Daud)

Rasulullah saw. bersabda kembali, “Ketika seorang suami pulang ke rumah, kemudian isteri menyambutnya dengan senyuman, dan bersegera mengulurkan tangannya untuk mengambil tangan suaminya, maka dosa-dosa mereka berdua serta merta berguguran sebelum kedua tangan mereka dilepaskan.” (Hr. Abu Daud)

Allahu Akbar..
Subhanallah, walhamdulillah, betapa mudah jalan menuju surga bagi seorang isteri. Betapa mudah bagi seorang isteri mendapatkan ridha suaminya. Dengannya ridha Allah pun ia dapat.

Pesan Nabi kepada puterinya:

“Fatimah, kepada wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah pasti akan menetapkan kebaikan baginya dari setiap biji gandum, melebur kejelekan dan meningkatkan derajat wanita itu.”

“Fatimah, kepada wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah menjadikana dirinya dengan neraka tujuh tabir pemisah.”
“Fathimah, tiadalah seorang yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan mencuci pakaiannya, melainkan Allah akan menetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.”

“Fathimah, tiadalah wanita yang menahan kebutuhan tetangganya, melainkan Allah akan menahannya dari minum telaga kautsar pada hari kiamat nanti.”

“Fathimah, yang lebih utama dari seluruh keutamaan di atas adalah keridhaan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridha kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah wahai Fathimah, kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.”

“Fathimah, bila wanita mengandung, malaikat akan memohonkan ampunan untuknya, dan Allah menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika wanita merasa sakit saat akan melahirkan, Allah menetapkan pahala baginya sama dengan pahala para Mujahidin di jalan Allah. Jika dia melahirkan, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan ibunya. Bila dia meninggal saat melahirkan, dia tidak akan membawa dosa sedikitpun. Di dalam kubur akan mendapat taman indah yang merupakan bagian dari taman surga. Allah akan memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.”

“Fatimah, tiadalah wanita yang melayani suami selama sehari semalam dengan rasa senang serta ikhlas, melainkan Allah mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Allah memberikan kepadanya pahala seratus kali beribadah haji dan umrah.”
“Fatimah, tiadalah wanita yang tersenyum di hadapan suami, melainkan Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih.”

“Fatimah, tidaklah wanita yang membentangkan alas tidur untuk suami dengan rasa senang hati, melainkan para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.”

“Fathimah, tiadalah wanita yang meminyaki kepala suami dan menyisirnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, melainkan Allah memberi minuman arak yang dikemas indah kepadanya yang didatangkan dari sungai-sungai surga. Allah mempermudah sakaratul-maut baginya, serta kuburnya menjadi bagian dari taman surga. Allah menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shirathal-mustaqim dengan selamat.”

Begitulah, nilai ketaatan isteri kepada suaminya. Pengorbanan yang diberikannya tak akan sia-sia.

Semoga keluarga kita dihiasi dengan wanita-wanita mulia penghuni surga seperti Fatimah, yang akan dikumpulkan oleh Allah, di dunia dan akhirat. Aamiin..

Kamis, 12 Januari 2017

Setiap Masalah Pasti Bersama Jalan Keluarnya

Saudaraku, Allah Swt memberikan segala sesuatu secara tepat kepada kita. Termasuk ketika Dia memberikan ktia persoalan atau masalah, selalu hadir lengkap dengan jalan keluarnya.

Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah Saw bersabda, “Tidak akan berhenti ujian kesusahan dan penderitaan terhadap seorang mu’min dan mu’minat, baik yang menimpa dirinya sendiri, anak-anaknya, maupun hartanya, sehingga ia menemui Allah, meninggal dunia dalam keadaan tidak membawa satu dosa pun.” (HR. Tirmidzi).  

Demikianlah hikmah datangnya ujian dan kesulitan yang datang menimpa kita. Adakalanya manusia diuji oleh Allah Swt secara terus-menerus atau bertubi-tubi. Hal itu tiada lain adalah akan mengurangi dosa-dosanya. Adapun makna dari hadits di atas adalah bahwa ketika seseorang ditimpa ujian demi ujian hingga tiba waktunya ia meninggal dunia, maka ketika itu ia meninggalkan dunia dalam keadaan bersih dari noda-noda dosa.

Jangan salah sangka atau berprasangka buruk ketika kesulitan hidup atau ujian datang menimpa kita. Kita menilai bahwa ujian itu adalah kepahitan, karena kita menggunakan hawa nafsu saat menilainya. Ingatkah kita pada kisah seorang laki-laki yang telah berbuat zina di zaman Rasulullah Saw?

Laki-laki itu datang menghadap kepada Rasulullah Saw menyampaikan perbuatan dosa yang telah dilakukannya. Laki-laki itu mengakui kesalahannya dan meminta kepada Rasulullah Saw agar dihukum sesuai dengan hukum Islam yaitu hukuman rajam. Laki-laki itu benar-benar meminta agar Rasulullah Saw menunaikan hukuman itu terhadapnya.

Mengapa laki-laki ini sedemikian memintanya kepada Rasulullah Saw? Hal itu ia lakukan karena ia tahu bahwa itulah hukuman yang bisa menebus dosa yang telah dilakukannya sehingga ia terbebas dari hukuman berkepanjangan di akhirat. Ini adalah bentuk pertaubatan laki-laki tersebut kepada Allah Swt. Seandainya taubatnya itu dibagikan kepada seantero penduduk kota Madinah, maka akan masih banyak tersisa melampaui seluruh penduduk yang ada.

Mengapa laki-laki ini sedemikian siap menghadapi hukuman tersebut? Tiada lain adalah karena ia lebih mementingkan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia. Ia lebih mengutamakan keselamatan di akhirat ketimbang keselamatan di dunia. Karena setiap orang yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, ia akan berat menjalani kehidupan ini. Sedangkan orang yang tujuannya adalah akhirat, insya Allah kehidupan dunia ini akan terasa mudah dan ringan.

Allah Swt Maha Tepat Tindakan-Nya. Termasuk ketika ujian Dia turunkan kepada manusia. Ujian diturunkan-Nya secara tepat. Bahkan, ujian itu Allah Swt turunkan kepada hamba-Nya dengan tujuan untuk meninggikan derajatnya. Ada suatu derajat yang tidak bisa digapai oleh manusia kecuali dengan ujian dari Allah Swt.

Dalam satu hadits, Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya seseorang yang akan diberi kedudukan tinggi di sisi Allah, sedangkan ia tidak dapat mencapai kedudukan itu dengan amalnya, maka Allah akan terus menerus mengujinya dengan kesusahan dan kesulitan yang tidak disukainya. Sehingga ia dapat menggapai kedudukan tersebut.” (HR. Abu Ya’la).

Betapa Allah Swt sayang kepada kita. Allah bermaksud mengembalikan kita kepada-Nya dalam keadaan bersih dari noda dosa dan derajat atau kedudukan yang tinggi. Ketika ada seorang hamba yang derajat di hadapan-Nya biasa-biasa saja, maka ia akan dipacu agar menggapai derajat yang lebih baik lagi dengan cara diberikan ujian kepadanya. Ujian-ujian tersebut berbagai macam bentuknya. Misalnya adalah tiba-tiba dibenci, dicaci, dimaki dan dijauhi oleh orang lain.

Orang yang akan meraih kedudukan atau derajat yang lebih tinggi saat ditimpa ujian memiliki ciri-ciri tertentu. Salah satu cirinya adalah sikapnya yang tetap tenang. Ini adalah pengalaman yang paling mahal. Ini tanda bahwa ia adalah pecinta akhirat. Sedangkan pecinta dunia, ketika ia ditimpa ujian, maka ia akan panik, resah, putus asa dan berusaha mencari perlindungan kepada sesuatu atau makhluk, bukan kepada Allah Swt.

Tidak jarang kita menemukan orang yang menjadikan dukun atau tukang ramal sebagai tempat pelarian mereka saat ditimpa kesulitan atau ujian hidup. Ia tunggang langgang mencari pertolongan kepada sesama makhluk dan lupa pada Allah Swt Yang Maha Memberi pertolongan.

Orang pencinta dunia akan sedemikian rupa meminta pertolongan kepada makhluk. Padahal orang yang dimintai pertolongan pun dililit banyak persoalan di dalam hidupnya. Ia tidak meminta pertolongan kepada Dzat Yang memberinya kehidupan dan memberinya persoalan. Padahal Dialah Dzat Yang kuasa memberikan jalan keluarnya. Dialah Allah Swt.

Ketika Allah Swt memberikan ujian persoalan hidup kepada kita, sungguh Allah telah mengukur dengan sangat tepat ujian tersebut sehingga sesuai dengan kadar kemampuan kita untuk menghadapinya. Semua tentang diri kita, Allah Swt telah mengetahuinya. Allah Swt mengetahui kekuatan yang kita miliki. Allah Swt pun mengetahui seberapa berat ujian yang diberikan-Nya kepada kita. Segalanya sudah terukur oleh Allah Swt secara tepat.

Allah Swt berfirman,

Ÿ“..Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya..” (QS. Al Baqarah [2]: 233).

Adapun ketika kita merasakan penderitaan atas ujian-Nya, itu bukanlah disebabkan karena Allah Swt keliru mengukur kadar kemampuan kita dan kadar ujian-Nya itu. Kita menderita karena kita salah menyikapi ujian tersebut. Kita menderita karena kita selalu tidak merasa puas dengan apa yang telah diberikan-Nya kepada kita. Sehingga apa yang telah dimiliki malah menjadi penderitaan. Padahal tidaklah mungkin Allah Swt salah alamat ketika memberikan sesuatu kepada hamba-hamba-Nya.

Ketika kita sekolah dahulu. Kita menghadapi ujian kenaikan kelas yang sesuai dengan kadar keilmuan kita saat itu. Dan ujian-ujian tersebut selalu telah siap dengan jawaban-jawabannya. Tidak mungkin soal hadir tanpa ada jawabannya. Demikian juga dengan ujian hidup yang kita hadapi. Allah Swt memberi kita ujian sesuai dengan kadar kemampuan kita. Dan, Allah Swt memberikan ujian hidup kepada kita secara lengkap dengan jawaban-jawabannya. Hanya saja, hawa nafsu seringkali membuat kita menjadi buta untuk bisa menemukan jawaban-jawaban itu.

Sungguh, tidak ada yang sulit di dalam hidup ini. Kecuali kesulitan itu adalah sikap kita yang tidak menerima ketentuan-Nya. Padahal di dalam Al Quran Allah Swt telah menjelaskan,

“..Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah [2]: 216).

Bolehkah kita memiliki keinginan? Tidak ada yang melarang kita memiliki keinginan. Punya keinginan adalah salah satu tabiat alami kita sebagai manusia. Akan tetapi, hendaklah keinginan kita itu adalah hal-hal yang disukai oleh Allah Swt. Karena masalahnya adalah kita seringkali maksa, ngotot, mendapatkan apa-apa yang tidak disukai oleh-Nya. Bahkan jika pun berdoa, kita tetap saja memaksa kepada-Nya, seolah tidak yakin bahwa apa yang disukai-Nya bukanlah hal yang baik untuk kita.

Jika kita mau sejenak melihat ke dalam diri kita sendiri, maka kita akan saksikan bahwasanya keinginan-keinginan kita itu lebih dekat kepada hawa nafsu. Jika kita diberikan pilihan antara dipuji dengan dicaci, manakah yang akan kita pilih? Tentu kebanyakan kita akan memilih untuk dipuji. Kita senang sekali menerima pujian dan sanjungan. Padahal jika sekali lagi kita melihat diri secara jujur, apakah diri kita ini lebih pantas dipuji ataukah lebih pantas dicaci?!

Kita selalu ingin dipuji dan dihormati, padahal sesungguhnya diri kita ini tidak pantas menerima pujian dan penghormatan. Jikapun kita memang dipuji dan dihormati oleh orang lain, itu hanya karena Allah Swt menutupi aib atau kejelekan kita saja di hadapan orang lain. Allah Swt menutupi bekas-bekas kemaksiatan, dosa, keburukan yang kita lakukan sehingga tidak diketahui oleh orang lain. Jika mau jujur, sungguh kita tidak pantas menerima penghormatan dan pujian.

Tidak perlu kita merasa dendam pada orang yang berbuat dzalim terhadap diri kita. Karena sesungguhnya Allah Swt sudah memiliki perhitungan sendiri terhadap perbuatannya. Sikap dendam justru malah akan melahirkan dampak tidak baik terhadap diri kita sendiri. Hati menjadi resah, gelisah, dan tidak tenang setiap kali mengingat perbuatannya. Pasrahkanlah semua pada Allah Swt. Kesabaran kita menghadapi perbuatannya akan berbuah kebaikan untuk kita. Sementara kedzaliman pasti akan mendatangkan akibat pada pelakunya. Tidak akan meleset.

Apabila Allah Swt hendak memuliakan seseorang, maka tidak akan ada yang bisa mengalang-halanginya. Demikian juga apabila Allah Swt berkehendak mengambil kemuliaan seseorang, maka tidak akan ada yang kuasa menahannya untuk menjadi hina.

Allah Swt berfirman,

“Katakanlah, “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 26).

Bukanlah hal yang penting dihina atau dibenci oleh manusia. Terlebih lagi jika alasan kebencian dan hinaan mereka adalah karena kita menjaga diri untuk tetap berpegang teguh kepada Allah Swt. Selama kita tetap teguh kepada Allah, pasti Dia memberi kita ketenangan, meski manusia menghujani kita dengan serangan hinaan dan kebencian.

Ditulis oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )

Selasa, 03 Januari 2017

Lebih Utama Mana, Ber-Sedekah/Infaq/Zakat Pada Orang Miskin Atau Pada Karib Kerabat?

Karib Kerabat adalah semua yang mempunyai hubungan darah dengan kita mulai dari ibu bapak, saudara kandung,paman,bibi,keponakan,misanan,mindoan dstnya,

Pertanyaan diatas mungkin dirasa sepele namun kenyataannya, kebanyakan muslim yang belum tahu lebih memilih untuk bersedekah pada fakir miskin daripada bersedekah terhadap keluarga atau kerabatnya sendiri.

Padahal, *_Setiap perintah sedekah dan infak di dalam al Qur’an, selalu yang pertama kali disebutkan adalah karib kerabat_*

Seperti yang termaktub dalam ayat berikut ini:

وءاتى المال على حبه ذوى القربى

“….dan memberikan harta yang ia cintai kepada karib-kerabat…..” (QS. Al Baqarah 177)

وءات ذى القربى حقه والمسكين

“Dan berikanlah kepada karib-kerabat akan haknya dan orang miskin….” (QS. Al Isra 26)

Dan banyak lagi ayat lain yang senada dengan itu.

Jika kita cermati, ada satu pesan yang sangat penting untuk kita amalkan. Yaitu mendahulukan karib kerabat atau orang terdekat untuk menerima infak atau apapun bentuk kebaikan. Sebelum kita memberi kepada orang lain, kita harus perhatikan apakah ada di antara orang terdekat yang masih membutuhkan atau semua sudah makmur, tidak perlu disantuni lagi.

Amat disayangkan bila seseorang memiliki kekayaan yang membuat ia mampu menyantuni orang lain, dan sangat peduli dengan masalah sosial di lingkungannya sehingga ia mudah memberi kepada fakir miskin, anak yatim dan berbagai bentuk amal sosial lainnya. Namun sayang beribu sayang ia sangat cuek dan pelit kepada karib kerabatnya sendiri.
Barangkali ia merasa pemberian kepada keluarga terdekat tidak mendapatkan pahala. Padahal justru itulah yang lebih besar pahalanya di sisi Allah. Oleh karena itu pemahaman yang salah ini perdu diluruskan.

Tidakkah memilukan, bila seseorang tinggal di rumah yang bagaikan istana, sementara saudara kandungnya tinggal di rumah RSSS (rumah sangat sederhana sekali).

Tidakkah kita mengangkat alis bila seseorang mempunyai kekayaan besar, turun dari satu mobil mewah dengan dibukakan pintu oleh para ajudan, berpindah dari satu gedung mewah ke gedung mewah berikutnya, Namun saudara kandungnya menjadi kuli atau babu yang siap diperintah-perintah dengan suara tinggi sambil diacungi telunjuk kiri, wajahnya penuh ketakutan dengan kepala tertunduk serta badan yang membungkuk.

Ingatlah.. Rasulullah SAW bersabda:

….يا أمة محمد، والذي بعثني بالحق لا يقبل الله صدقة من رجل وله قرابة محتاجون إلى صلته ويصرفها إلى غيرهم. والذي نفسي بيده، لا ينظر الله إليه يوم القيامة

“….Wahai umat Muhammad, demi Allah yang telah mengutusku dengan kebenaran, *_Allah tidak akan menerima sedekah seseorang yang mempunyai kerabat yang membutuhkan bantuannya, sementara ia memberikan sedekah atau bantuan itu kepada orang lain_*. Dan demi Allah yang jiwaku berada dalam genggamannya, Allah tidak akan memandangnya di hari kiamat nanti”. (HR. Thabrani)

Rasulullah SAW juga pernah bersabda:

الصدقة على المسكين صدقة، وعلى القريب صدقتان، صدقة وصلة

“Sedekah kepada orang miskin dinilai satu sedekah, sedangkan kepada karib kerabat nilainya sama dengan dua, nilai sedekah dan nilai silaturrahmi”.

Ada pesan penting yang sangat jelas disini:

Jika anda menjadi orang yang kaya, jadikanlah orang terdekat anda yang pertama sekali merasakan kekayaan itu. Ibu-bapak, anak-istri, saudara kandung, baru yang lainnya.

Jangan sampai masyarakat anda memuji kedermawanan anda, sementara orang terdekat mengurut dada karena kebakhilan anda, padahal mereka dianggap kaya oleh orang lain karena anda sebagai saudaranya.

Semoga bermanfaat. Aamiin YRA.

Senin, 28 Maret 2016

Beda Nafkah dan Ihsan (kebaikan) dalam Rumah Tangga

suami-istri-500x330 JalanDakwah.info

Memberi nafkah kepada istri merupakan kewajiban “muhaddad” alias terukur menurut jumhur ulama. Artinya ada ukuran tertentu dalam memberikan besaran nafkah.

Pertanyaan berikutnya adalah berapa besaran nafkah tersebut?

Mayoritas pendapat mengatakan bahwa ukuran besar nafkah tersebut adalah pangan yang mencukupi kebutuhan sehari-hari, dalam arti tidak sampai kelaparan. Kemudian sandang (pakaian) yang memadai dalam arti dapat tertutup dengan baik aurat seorang istri dan ketika pakaian itu dicuci sang istri masih memiliki pakaian lain yang dapat menutup aurat nya. Dan terakhir adalah papan (tempat tinggal) yang layak huni, dimana ketika seseorang berada di dalam nya ia merasa terlindungi dari bahaya.

Apabila seorang suami tidak memberikan 3 hak tersebut, karena ia pelit terhadap harta nya maka istri diperkenankan untuk mengambil harta suami meski tanpa sepengetahuan nya sekedar ia mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari nya dan anak nya. Sebagaimana yang dilakukan oleh istri Abu Sofyan sesuai persetujuan Nabi Saw. Namun apabila suami tidak dapat memenuhi 3 hal tersebut karena ketidaksanggupan nya dan istri nya tidak ridho maka istri dapat mengajukan permintaan cerai. Dan apabila sang istri bersabar maka hal tersebut adalah kebaikan istri yang mendapatkan ganjaran besar di sisi Allah sebagai jalan menuju surga.

Adapun selain dari 3 hal tersebut di atas apabila diberikan kepada seorang istri maka dianggap sebagi ihsan (kebaikan) seorang suami kepada istri nya. Yang menjadi jalan bagi seorang suami meniti jalur menuju surga.

Apabila seorang suami telah memenuhi kebutuhan nafkah dasar istri, lalu istri nya tidak merasa puas akan hal tersebut maka ia telah berlaku “nusyuz” alias telah melakukan keburukan dalam rumah tangga.

Apabila istri tidak ingin berlaku “nusyuz” maka ia pun dapat mengajukan cerai dengan mengembalikan mahar yang telah diberikan oleh suami, sebagaimana yang dilakukan oleh Zainab istri Zaid r.huma.

Menentang suami, bersikap kasar, berkata buruk, tidak melayani kebutuhan utama suami merupakan sikap “nusyuz” yang wajib diperbaiki suami melalui sikap diam, nasehat hingga pukulan yang tidak menyakitkan. Dan apabila hal tersebut masih kerap terulang maka suami memiliki cukup alasan menceraikan istri nya. Namun apabila seorang suami tetap memilih bersabar seraya terus mengarahkan istri agar menjadi lebih baik maka hal itu merupakan kebaikan tambahan yang dapat membawa nya lebih cepat menuju surga.

Sungguh dalam berkeluarga ada banyak kebaikan dan jalan menuju surga, baik jalan yang berbentuk kenikmatan sehingga patut disyukuri atau berbentuk cobaan yang dengan penuh sabar dijalani. Hal inilah yang membuat Nabi Saw menganjurkan umat nya menikah dan mengatakan bahwa nikah adalah sunnahku.

(Pic : Credit to smstauhid)

Minggu, 21 Februari 2016

Keharmonisan Rumah Tangga, Anda yang Ciptakan!

JalanDakwah.info – Berdasarkan hasil counseling saya selama ini sebagian wanita muak melihat pasangan-pasangan di media sosial memasang foto kemesraan sebau pengumuman mereka romantis, mereka yang muak ini adalah mereka yang selama pernikahan tidak menemukan makna keharmonisan dan makna kebahagiaan, selain itu mereka mendapatkan curhat-curhat negatif dari teman-teman wanitanya tentang keluarga masing-masing yang mengalami hal yang sama, sehingga mereka berkesimpulan bahwa mereka yang memasang foto mesra itu adalah pencitraan, settingan, drama dll. Kesimpulan ini adalah bentuk keputusasaan mereka terhadap perjalanan hidup berumah tangganya.

Secara mendasar sebenarnya apa yang disimpulkan oleh mereka yang muak dengan foto mesra tersebut tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar, artinya masih bersifat setengah benar dan setengah salah. Dari mana benarnya? Baiklah, saya sudah menginterview banyak wanita berumah tangga dari sejak mereka menikah dari tahun pertama, dalam temuan saya mengejutkan foto mesra mereka kebanyakan di usia 40 tahun ke atas, lalu ke mana saja mereka sebelum 40 tahun? Tahun pertama sampai tahun keempat pernikahan biasanya wanita cenderung bersabar dan ikhlas menerima pasangannya, tetapi tahun kelima hingga tahun ke-15 pernikahan sebagian wanita melanglang buana mencari “pelampiasan” dengan banyak mengenal lelaki selain suaminya, bahkan sebagian dari mereka sampai berhubungan intim, tentunya tidak sepengetahuan suaminya karena berdasarkan hasil penelitian banyak pakar wanita paling jago menutupi perselingkuhan dan tindakan mesumnya di belakang suaminya, maka kemudian tidaklah heran jika Allah Swt dan Rasulullah SAW mengingatkan begitu banyak wanita masuk Neraka di akhirat kelak, bisa jadi ini salah satu penyebabnya.

Hasil penelusuran saya sebagai seorang counselor dengan menginterview klien saya ditemukan fakta mengapa para istri itu tega melakukan itu semua di belakang suaminya? Jawaban singkatnya KECEWA atau dalam bahasa penulis lebih kepada tidak mensyukuri apa yang Allah berikan padanya. Kecewa kenapa? Suaminya tidak berpenghasilan seperti suami orang lain, suaminya tidak romantis, suaminya tidak tinggi besar seperti suami orang lain, suaminya pemalu, suaminya doyan tidur, suaminya tidak mengerti perasaannya ketika diranjang, suaminya suka marah-marah pada anaknya, suaminya tidak akur dengan orang tua istrinya, suaminya pemalas, suaminya tidak jantan, suaminya lebih rendah penghasilan dari dirinya, suaminya menyeleweng, suaminya menikah lagi, dan sejuta alasan yang menyebabkan sang Istri tersebut melampiaskannya dengan mengenal lelaki lain selain suaminya, bisa jadi suami orang lain yang dikenalnya di Facebook, BBM, sahabat lamanya yang dulu pernah bertemu, teman kerjanya di kantor cabang yang berbeda, dll.

Setelah 6 sampai 10 tahun perjalanan dia melanglang buana, hingga akhirnya sampai berzina dengan banyak pria yang sebenarnya hanya memanfaatkan hubungan seksnya saja, sang Istri ini menemukan sebuah kondisi “LELAH”, muncul banyak pertanyaan mengapa aku begini, ternyata suamiku baik hati, mengapa aku begitu tega meninggalkannya dan berzina dengan banyak pria hanya karena kekurangannya, padahal lelaki lain tidak pernah memberikan nafkah apapun sedangkan suamiku setiap hari dan setiap bulannya memperhatikan aku, walaupun banyak kekurangannya ternyata laki-laki lain itu brengsek semua, dan hanya suami saya saja yang saat ini benar-benar laki-laki sejati, suamiku tidak menyakitiku mungkin karena aku terlalu pandai menutupi perselingkuhanku, Oh Tuhan……

Suami yang awalnya seperti banyak mengecewakannya, kini seperti pahlawan. Sang suaminya tanpa sadar kenapa saat ini Istrinya berubah jadi lebih baik, lebih melayani baik di ranjang maupun di luar ranjang, bahkan mulai mengajak suaminya untuk jalan-jalan, foto-foto dan kemudian Facebook, BBM, WA sang istri selalu memasang foto-foto mereka berdua, bahkan tidak jarang sang istri mengirimkan kata-kata mesra kepada suaminya dalam kondisi apapun.

Setelah 10 tahun sang istri melanglang buana dalam perselingkuhannya, mencari pelampiasan terhadap kekurangan suaminya dan ternyata tidak ketemu satupun pria yang lebih baik dari suaminya saat ini.

Karena fenomena inilah yang membuat penulis mengatakan apa yang disimpulkan wanita yang muak dengan foto mesra itu adalah settingan, kamuflase dan pencitraan tidak sepenuhnya salah. Karena cerita di atas begitu nyata dan banyak terjadi, bisa jadi pada Istri Anda saat ini.

Sumber: dakwatuna.com



jalandakwah.info

http://ift.tt/1TwGGrq