Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Maret 2017

Keutamaan Amal Membaca Al-Qur’an

#Keutamaan Amal Membaca Al-Qur’an#

عن أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ :
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ، مَثَلُ الْأُتْرُجَّةِ: رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ. وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ، مَثَلُ التَّمْرَةِ: لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ. وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُـرْآنَ، مَثَلُ الرَّيْحَانَـةِ: رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ. وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْـرَأُ الْقُرْآنَ، كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ: لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ .( متفق عليه)

Artinya : Dari Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu berkata : Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu berkata : “Perumpamaan orang mu’min yg membaca Al-Qur’an bagaikan buah Utrujah, rasa buahnya enak & aromanya wangi. Dan perumpamaan orang mu’min yg tidak membaca Al-Qur’an bagaikan buah Kurma, rasanya enak namun tidak beraroma. Sedangkan perumpamaan orang munafik yg membaca al-Qur’an, bagaikan buah Raihanah, aromanya enak namun rasanya pahit. Dan perumpaman orang munafik yg tidak membaca al-Qur’an, bagaikan buah Hanzalah, rasanya pahit tetapi tidak beraroma.(HR.Bukhari no. 4.632 & Muslim no. 1.328).

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaraku seiman, Segala puji hanyalah milik Allah SWT. Shalawat & salam senantiasa tercurahkan kpd Rasulullah Muhammad SAW, para keluarganya, sahabat2 nya & ummatnya yg istiqomah diatas sunnahnya hingga hari kiamat.

Al-Qur’an adl wahyu Allah SWT yg diturunkan kpd Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril ‘Alahi sallam sbg petunjuk hidup manusia & pembeda antara yg haq dgn yg bathil. Allah SWT berfirman,

{شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ

Artinya : Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sbg petunjuk bagi manusia & penjelasan2 mengenai petunjuk itu & pembeda (antara yg hak & yg bathil).(QS.Al-baqarah:185).

Al-Qur’an menjadi mukjizat bagi orang2 yg beriman sepanjang zaman hingga hari kiamat. Al-Qur’an menjadi penasihat, penawar hati yg sedang gelisah-gundah gulana, dpt melapangkan dada yg terasa sempit & menjernihkan fikiran yg sedang kacau. Ia menjadi petunjuk & rahmat bagi manusia, sedangkan di akhirat kelak, ia akan menjadi syafa’at bagi para pembacanya. Rasulullah SAW bersabda, “Akan didatangkan Al-Quran di hari kiamat kelak kpd ahlinya (yakni orang2 yg selalu membaca Al-Quran ) yg beramal dengannya, terutama surat Al-Baqarah & Ali-Imran..”(HR.Muslim).

Rumah tampak terang benderang menurut pandangan Allah SWT apabila di dalamnya selalu dilantunkan ayat2 suci Al-Qur’an yg di baca oleh penghuninya. Cahaya ini bukan berasal dari lampu LED penerangan rumah tp cahaya ini berasal dari setiap huruf, kata, kalimat & ayat2 yg di baca oleh penghuni rumah. Lalu di tela’ah menjadi sinar yg menerangi hati, menjadi cahaya Ilahi, menerawang dlm setiap relung kehidupan. Al-Quran adl kitab suci paling agung yg paling banyak dibaca oleh umat manusia setiap hari, yg paling banyak dihafal & paling menyejukkan hati bila diperdengarkan.

Al-Qur’an dpt terwujud menjadi pedoman & petunjuk hidup, menjadi pembeda antara yg haq & bathil, menjadi syifaa/obat jiwa bila :

1. Dibaca dgn benar, dipelajari kaedah bacaannya sesuai dgn ilmu tajwid & ilmu qira’ati. Allah SWT berfirman,

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا

“dan bacalah Al Qur’an dengan tartil” (QS.Al-Muzammil: 4).

Al-imam Ibnu Katsir rahimahullahu menafsirkan ayat diatas, Dan bacalah Al-Qur’an dgn tartilmaksudnya bacalah dgn pelan krn itu bisa membantu utk memahaminya & men-tadabburi-nya.(Tafsir Ibnu Katsir, jilid 8/250).

2. Difahami maknanya melalui penafsiran para ulama salafus saleh baik metode tafsir bilma’tsur maupun birra’yi.

3. Diamalkan seluruh isi kandungannya dlm seluruh aspek kehidupan mulai dari aqidah, ibadah, akhlaq, muamalah, hukum & politik bernegara. Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Artinya : Hai orang2 yg beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah2 syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yg nyata bagimu.(QS.Al-baqarah:208).

4. Dijadikan sbg sumber dari segala sumber hukum kehidupan. Al-Qur’an sbg ayat2 suci hrs berada diatas ayat2 Konstitusi hasil produk akal manusia yg terbatas.

Allah SWT berfirman,

{ أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ }

Artinya: Apakah hukum jahiliyah yg mereka kehendaki? Dan siapakah yg lebih baik hukumnya dari pada Allah bagi orang2 yg yakin?(QS.Al-maidah:50).

5. Dida’wahkan ditengah2 kehidupan.

Sungguh besar pahala & keutamaan bagi orang2 yg mempelajari & mengajarkan Al-Qur’an. Rasulullah SAW bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَه

Artinya : Sebaik-baik kalian adalah orang yg belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.(HR.Bukhari).

Bahkan Al-Qur’an akan menjadi penolong di hari kiamat bagi orang2 yg rajin membaca & mengamalkannya.

اقرأوا الْقُرْآن فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْم الْقِيَامَة شَفِيعًا لأَصْحَابه (رواه مسلم)

Artinya : Bacalah Al-Quran, kelak ia akan datang di Hari Kiamat memberi syafaat kepada para pembacanya.” (HR.Muslim)

*Penutup*

Sbg muhasabah diri kita bersama, Seberapa banyak kita membaca Al-Qur’an setiap hari? Bisa jadi setiap hari kita lebih banyak menghabiskan waktu utk menonton TV, on line dlm jejaring sosial, membaca koran maupun majalah.

Semoga kita mampu berlomba2 dlm kebaikan termasuk didlm membaca Al-Quran dgn mengikuti target ODOJ (one day one juz).

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Kamis, 16 Maret 2017

RUMAH YANG TERLIHAT OLEH PENDUDUK LANGIT

Di dunia ini ada rumah yang terlihat oleh penduduk langit. Seperti apakah rumah yang terlihat oleh penduduk langit tersebut ?.

Nabi صلّى الله عليه وسلّم bersabda:

إنَّ البيت ليُتلى فيه القرآن؛ فيتراءى لأهلِ السماء كما تتراءى النجومُ لأهل الأرض

“Sesungguhnya rumah yang dibacakan di dalamnya al-Qur’an, maka rumah tersebut akan terlihat oleh para penduduk langit sebagaimana terlihatnya bintang-bintang oleh penduduk bumi.”

[Hadits dikeluarkan oleh Ahmad, Adz-Dzahabiy, Lihat kitab ash-Shahihah no. 3112].

Maka janganlah rumah kita kosong dari tilawah ayat-ayat al-Qur’an, sehingga rumah kita tidak terlihat oleh penduduk langit.

Rutinkan bacaan Qur’an di rumah kita agar rumah kita selalu terlihat oleh para penduduk langit.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ القُرْآن..

Ustadz Abdul Basid, Lc
-hafidzhahullaahu ta’aala-

Minggu, 25 September 2016

Inilah Kebahagiaan

AL Qur’an adalah firman Allah; Tuhannya Ibrahim, Musa, Isa, para Anbiya, yang suci dari dosa.

Al Qur’an adalah Kalamullah, diturunkan kepada Muhammad bin Abdullah…
Laki-laki mulia tanpa cela, lisannya terpuji, akhlaq-nya dikagumi, oleh kawan dan oposisi.

Namanya tersurat, di Injil dan Taurat, diyakini Ahli Kitab
shallallahu alaihi wasallam …

Al Qur’an adalah obat jiwa yang gelisah, penenang jiwa yang kalut.
Ia penerang kalbu yang remang, wajah yang murung.
Keburukan di dalam dada, Al Qur’an penyembuhnya.
Dengan izinNya, Allah, Rabb Yang Maha Sempurna.

Al Qur’an berdimensi fisika, aerodinamika, dan matematika.
Ia adalah geologi, biologi, dan biografi.
Al Qur’an adalah sejarah manusia dan alam semesta.
Dengannya peradaban menjadi mulia, tanpanya hanyalah kumpulan ternak saja.

Al Qur’an adalah hujan bagi tanah yang tandus, gizi bagi nurani tak terurus.
Ia penawar hati yang dengki, rantai bagi lisan pencaci.
Ia penyeru sedekah, musuh para penghibah.
Al Qur’an adalah pengasah firasat dan intelektual, memberi ilmu dan hikmah yang kekal.
Ia pelurus kabar dusta, dan mendustakan si pendusta.

Al Qur’an membuka cakrawala,
dan tabir dunia dan alam setelahnya.
Ia seperti madu, di atas luka menganga.
Ia penyegar bagi pikiran yang lelah, motivator akal yang resah.

Ia harta bagi penghafalnya, haluan bagi pengamalnya.
Ia asa di dada bocah belia, remaja, dewasa, dan tua renta, di lintas benua.

Al Qur’an menorehkan senyum di wajah-wajah sendu,
meneteskan air mata di jiwa yang khusyu.
Al Qur’an adalah buku manual, ‘hidup senang mati tenang’.
Ia memuliakan yang hina, menghinakan yang ingkar.
Al Qur’an adalah masa lalu, masa sekarang, dan masa datang.

Memusuhinya pasti dimusuhi, mencelanya pasti tercela, menggugatnya pasti digugat.
Meragukannya pasti binasa, merubahnya pasti sengsara, meninggalkannya pasti celaka.
Janganlah seperti mereka, penyembah berhala, dan yang terkutuk menjadi babi dan kera.
Menuduhnya sihir, ia telah gila.

Membacanya, waktu menjadi sempurna, meninggalkannnya, usia tercecer sia-sia.
Lantunannya merdu, sempurna, tanpa cela, siapapun lisannya.
Isinya sama, dari Arabia hingga ujung dunia.

Al Qur’an adalah syafaat di Hari Kiamat, bagi siapa yang diizinkanNya.
Ia adalah kebahagiaan hakiki, melebihi televisi, torehan fiksi, gemerlap atraksi.
Ia adalah kitab di rak-rak buku kita, menunggu dibuka, dibaca, diamalkannya oleh jiwa raga.
Oleh saya, Anda, anak cucu kita semua.

Tak mengapa jika ia telah berdebu, masih ada waktu, saudaraku.
Sebelum nafas di kerongkongan, kemudian ditanyakan, “Siapa yang dapat menyembuhkan?”

Wahai Ummat Muhammad!
Wahai Ahli Kiblat!
Wahai Ahlus Sunnah!
Wahai calon penghuni kubur!

Itulah Al Qur’an! Sebab kemuliaanmu… atau kehinaanmu

Selasa, 13 September 2016

Memahami Tujuan Surat Al Kahfi (3-Habis)

C. PESAN INDAH DARI SURAT AL KAHFI

Setelah membahas macam-macam ujian kehidupan; mulai dari ujian kepercayaan, harta, ilmu dan kekuasaan, Allah gambarkan bagaimana agar terjaga dari ujian-ujian tersebut.

1. Al Quran dan penjagaannya.

Sebagaimana surat Al Kahfi yang diawali dengan pujian bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Quran dan Dia tidak mengadakan di dalamnya kebengkokan.

Lalu surat ini juga ditutup (ayat kedua dari terakhir) dengan permisalan Kalimat-Nya. Bahwa sekiranya lautan menjadi tinta untuk menuliskan Kalimat-kalimat Allah, maka itu tidak akan cukup meski didatangkan tambahan sebanyak (lautan) itu pula.

Sungguh besar mukjizat yang satu ini. Segala kabar yang disampaikan tentangnya cukuplah menjadikan ia pedoman dan penjagaan bagi hidup kita.

2. Bersahabat dengan orang-orang sholih.

“Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Rabb-mu di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhoan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (sebab) mengharapkan perhiasan dunia; dan janganlah kamu mengikuti mereka yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya, sedang keadaan mereka melampaui batas.”

Saya rasa ayat ke 28 dari surat Al Kahfi ini sangat cukup menjelaskan kita agar membersamai kawan yang senantiasa melabuhkan hati dan tindaknya kepada Allah.

3. Mengingat hakikat dunia yang sementara.

Di dalam ayat ke 45, Allah perumpamakan kehidupan dunia ini sebagaimana air yang Ia turunkan dari langit. Lalu tumbuhan-tumbuhan di muka bumi karenanya menjadi subur. Ini terjadi begitu cepat. Lihatlah apa yang kemudian Allah sampaikan setelah itu?

“Maka tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Ya, hidup ternyata sesingkat ini. Dalam kitab Khowathir Quraniyah dijelaskan bahwa penggunaan huruf penghubung (ف) pada ayat ini berartikan kata sambung yang menunjukkan urutan yang cepat.

4. Mengingat keadaan di akhirat kelak.

“Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalanakan gunung-gunung, dan kamu dapat melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan Kami tidak tinggalkan seorang pun dari mereka.

Dan mereka akan dibawa ke hadapan Rabb-mu dengan berbaris. (Allah berfirman), ‘Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada pertama kali; bahkan kamu menganggap bahwa Kami tidak akan menetapkan bagi kamu (waktu berbangkit untuk memenuhi) perjanjian’.

Dan diletakkan kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan berkata, ‘Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,’ dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Rabb-mu tidak mendzolimi seorang jua pun.”

5. Bersikap tawadhu dan sabar terhadap ilmu.

Sebagaimana kisah Musa bersama Khidir. Tatkala Musa mengira dirinya yang lebih mengetahui soal ilmu, Allah pertemukan ia dengan Khidir.
Meski berstatus Nabi, Ulul Azmi, bahkan memiliki julukan Kalimullah (orang yang diajak bicara langsung oleh Allah), Musa tetap merendahkan hati di hadapan Khidir. Serta ingin mengikuti dan belajar dari ilmu-ilmu yang Khidir ahlikan.

“Musa berkata, ‘In syaAllah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.’”

6. Senantiasa perbaiki niat.

Di paling akhir surat Al Kahfi, Allah mengingatkan kepada hamba-Nya, “Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Rabb-nya, hendaklah mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada-nya.”

Dari ayat ini, juga kembali kita ingat akan syarat diterimanya sebuah amal, yaitu yang ‘benar’ sesuai dengan petunjuk Nabi lagi tidak menyekutukan-Nya (ikhlas). Semoga Allah mudahkan kita berbuat kebajikan-kebajikan di hidup ini, yang membuah Jannah serta bahagia berjumpa dengan-Nya.

Aamiin.

Demikian rangkaian catatan Memahami Tujuan Surat Al Kahfi. Tiada penutup lebih indah selain perbanyak istighfar. Mari berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tak pernah kenyang, dan dari doa yang tak berjawab.

Sabtu, 10 September 2016

Memahami Tujuan Surat Al Kahfi (2)

B. KETERKAITAN ANTARA EMPAT KISAH

Jika kita mengingat catatan sebelumnya, kita temukan empat kisah dalam surat Al Kahfi serentak menceritakan tentang peran iman. Ashabul Kahfi yang sebab imannya, mereka teguh memegang prinsip ketauhidan. Pemilik dua kebun yang sebab tidak berimannya, ia berbangga diri dan menafikan hari akhir. Khidir yang bersama imannya, ia tunduk atas perintah Allah. Serta Raja timur dan barat, sebab imannya, kekuasaan pun jabatan memberkah bagi kaumnya.

Beginilah jelitanya Al Quran. Ia tidak mengungkap kisah secara terpisah-pisah tanpa ada keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Dalam kitab Khowathir Qur’aniyah karangan Amru Kholid berbeda lagi. Kali ini, benang merah dari keempat kisah yang menjadi penghubung ialah gambaran fitnah (ujian) utama yang dihadapi manusia.

1. Fitnah agama, di mana seseorang mendapatkan ujian baik siksaan atau gangguan sebab berpegang teguh dengan apa yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya. Banyak sekali di kehidupan kini yang menjadi fitnah agama kita. Pun fitnah inilah yang menimpa Ashabul Kahfi dahulu, dan sejarah mengisah-indahkan mereka selamat dari fitnah ini.

2. Fitnah kekayaan, fitnah inilah yang menimpa pemilik dua kebun. Ia tertipu kekayaan, hingga menyeretnya pada kufur terhadap hari akhir. Teringat satu kisah, kala itu Rasulullah memerintahkan sahabatnya agar turut berperang, karena darinya akan ada ghanimah yang banyak. Lalu sahabat itu berkata bahwa ia mengikuti perang bukan karena ghanimah, tapi karena Allah dan Rasul-Nya. Dan bagaimana Rasulullah menjawab? Ketahuilah kekayaan (harta) akan menjadi baik bila dipegang oleh orang sholih. Sebaliknya, akan celaka bila digunakan ‘tuk berbuat nista.

3. Fitnah ilmu, di mana seseorang terkagum dengan ilmunya sendiri, dan menyangka tidak ada seorang pun yang mengetahui seperti yang ia ketahui. Dikisahkan dalam shahihain, dari Ubay bin Ka’ab, tatkala Musa tengah berkhutbah di depan kaum israil, ia ditanya tentang siapakah manusia yang paling pandai. Dan Musa menjawab, ‘anaa’, ya, saya manusia paling pandai.

Maka Allah mewahyukan kepadanya agar berjumpa dengan seorang hamba yang lebih mengetahui, ialah Khidir. Lantas ketika Musa menemukannya, apakah ia enggan belajar lagi berbangga diri akan ilmunya? Tidak. Tapi Musa lantas berucap tunduk lagi tawadhu’, bolehkan saya mengikutimu agar kamu mengajarkan kepadaku ilmu? Lagi-lagi, Allah kisahkan pemeran selamat dari fitnah.

4. Fitnah kekuasaan, di mana seseorang yang dikaruniai kemampuan hebat, pengaruh yang luas, kekuasaan yang besar terkadang malah mengantarkannya pada kebanggaan. Kufur terhadap nikmat Rabb nya, dan menganggap remeh sesama. Maka kisah Dzul Qornain hadir menggambarkan sebaliknya. Ia sebagai pemimpin yang adil, menyandarkan keutamaan dan kekuatannya hanya kepada Allah.

Demikian gambaran umum fitnah dari surat Al Kahfi yang bisa kita cermati. Dalam suatu hadits dikatakan bahwa fitnah terbesar dari segala fitbah ialah Dajjal.

“Tidak ada fitnah terdahsyat,” begitu sabda Baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam, “sejak diciptakannya Adam hingga terjadinya kiamat, yang melebihi Dajjal,” lanjutnya dalam riwayat Al Hakim.

Lalu apa hubungannya Dajjal dengan keempat fitnah di atas? Dijelaskan bahwa Dajjal akan muncul sebelum terjadinya hari kiamat dengan menebarkan fitnah-fitnah yang antara lain; ia mampu menghidupkan orang mati setelah ia membunuhnya. Ia mampu memerintahkan langit untuk turunkan hujan. Harta mengikutinya selayak sekelompok lebah. Bahkan air dan api ada di tangannya.

Bila hati kosong tanpa iman, mudah saja ia terpeleset pada fitnah agama, lantas menyekutukan Allah dengan Dajjal. Atau terperangkap pada fitnah kekayaan dan kekuasaan sebab tak kuasa menahan diri. Terjerumus fitnah ilmu dengan bangkang terhadap kebenaran dan petunjuk-petunjuk Allah.
Dari sini tampak sudah tujuan surat Al Kahfi yaitu memelihara manusia dari fitnah. Kewaspadaan akan fitnah-fitnah bisa dibangun dengan membaca surat Al Kahfi lagi mentadaburi maknanya. Maka benarlah sabda Rasul tentang keutamaan surat ini,

“Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al Kahfi, niscaya dia akan terlindungi dari (fitnah) Dajjal. Dan di dalam riwayat lain disebutkan: “(sepuluh ayat terakhir) dari surat Al-Kahfi.”

(Diriwayatkan oleh Muslim I/555 no.809, Ahmad V/196 no.21760, Ibnu Hibban III/366 no.786, Al-Hakim II/399 no.3391, dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman V/453 no.2344. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).

 

 

Jumat, 09 September 2016

Inilah 9 Ancaman Penyalahguna Al Qur’an

Tidak sedikit perilaku yang tak Qurani dilakukan oleh oknum-oknum yang selalu bergumul dengan Al Qur’an. Baik dia sebagai orang yang sering membaca Al Qur’an, para penghafal Al Qur’an,  maupun yang melakukan kajian tentang Al Qur’an.

Tidak selamanya orang yang selalu bergaul dengan Al-Quran itu pasti berperilaku Qur’ani. Bahkan ada yang sampai aqidahnya bertentangan dengan Al Qur’an. Contohnya, Dr. Thaha Husein yang dikenal sebagai Bapak Sastra Arab di Mesir, ia sudah hafal Al-Quran sejak kecil, namun akhirnya ia tidak percaya bahwa Al-Quran itu wahyu Allah SWT.

Perilaku seperti itu bisa dicegah dengan mempelajari peringatan-peringatan dari Rasulullah SAW terhadap orang-orang yang salah dalam menggauli Al Qur’an. Berikut ini hadits-hadits Rasulullah SAW terhadap mereka yang menyalahgunakan Al Qur’an.

Pertama, Al Qur’an mengawal pembacanya ke Surga atau ke Neraka. Dari Abu Malik Al-Harits bin Ashim Al-Asy’ari ra, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Al Qur’an itu merupakan bukti yang menguntungkan kamu (yang mengawalmu ke surga) atau bukti yang mencelakakan kamu (yang menyeretmu ke neraka)”. (HR. Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah).

Kedua, Al Qur’an dan Susu, Dua hal yang dikhawatirkan Nabi SAW. Dari Uqbah bin Amir ra, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ada dua hal yang saya khawatirkan terhadap umatku, yaitu Al Qur’an dan susu. Dengan susu mereka akan mencari makanan yang mewah, mengikuti hawa nafsu, dan meninggalkan shalat. Sedangkan Al Qur’an nanti akan dipelajari oleh orang-orang munafik lalu dipakai untuk mendebat orang-orang mukmin”. (HR Ahmad)

Ketiga, Orang yang menyalahgunakan Al Qur’an menganggap ibadahnya Paling Baik. Dari Abu Sa’id Al-Khudry ra ia mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Di antara kamu sekalian nanti akan muncul sekelompok orang yang memandang rendah shalat kalian bersama shalat mereka, puasa kalian bersama puasa mereka, dan amal kalian bersama amal mereka. Mereka membaca Al Qur’an, tetapi Al Qur’an tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama (Islam) seperti keluarnya anak panah yang terlepas dari busurnya”. (HR Bukhari dan Ibnu Majah).

Keempat, diantara tanda-tanda orang yang menyalahgunakan Al Qur’an, usianya masih remaja dan tidak cerdas. Dari Ali bin Abi Thalib ra, ia berkata: “Saya mendengar Nabi SAW bersabda: “Pada akhir zaman nanti, akan muncul sekelompok orang yang umurnya masih muda, berakal dan berbudi rendah. Mereka mengumandangkan kalamullah. Mereka itu keluar dari Islam seperti keluarnya anak panah yang terlepas dari busurnya. Iman mereka tidak melewati tenggorokan mereka. Dimana saja kalian bertemu dengan mereka itu bunuhlah mereka. Karena orang yang membunuh mereka akan memperoleh pahala pada hari kiamat nanti”. (HR Bukhari dan Ibnu Majah).

Senin, 05 September 2016

Kenapa Malas Menghafal Quran?

SERING kali diri didalam diri kita mungkin saja pernah terhinggapi rasa malas dan patah semangat didalam menghafal Al-Qur’an. Mungkin karena kurang motivasi atau kurang target atau susah/terbata-bata didalam menghafalkannya. Tentu apa yang ada dalam diri sendirilah yang mampu mengatasi. Orang lain bisa saja menyemangati dan menjadi pendorong namun semangat itu sepenuhnya ditentukan oleh diri sendiri.

Ketika diri kita tidak merasa sulit dan mengulang-ulang ayat yang dihafal. Maka ketahuilah dalam satu huruf ada 1 kebaikan yang kemudian dilipat gandakan menjadi 10 kebaikan. Dan kita ingat berarti ketika seseorang berusaha keras mengingat-ingat yang dihafal dan membacanya berulang kali berarti pahala kebaikannya besar pula.

Niat

Yang pertama kali kita perhatikan dalam diri kita sebelum menghafalkan Al-Qur’an ialah niat kita. Niat kita murni ikhlas karena Allah dan untuk meraih ridha Allah. Bila kita hanya untuk riya’ dan menyombongkan diri maka jerih payah kita dan pahala kita akan sia-sia. Bila kita hanya untuk meraih dunia maka kita hanya mendapatkan dunia saja. Sejatinya semuanya bergantung pada apa yang kita niatkan. Niatkanlah hanya untuk meraih ridha Allah.

Minggu, 04 September 2016

Cita-citaku di Pesantren

NAMAKU Haura. Setiap tahun atau kenaikan kelas aku selalu mempunyai rencana-rencana tertentu. Saat di SD dulu, rencanaku adalah untuk mendapat nilai yang tingi, seperti semua teman di kelasku. Namun, seiring berjalannya waktu, aku sadar bahwa rencanaku tahun ini bukan hanya sekadar itu.

Aku ingat, dialog antara aku dan wali kelas kami, Bu Desi saat di SD dulu. Tiga bulan sebelum kelulusan, saat itu Bu Desi bertanya padaku, “Apa rencanamu saat SMP nanti?”

Saat itu aku menjawab, “Aku berencana untuk menghafal satu juz selama sebulan dan membaca Al-Qur’an tiga juz satu hari.”

Bu Desi tersenyum, lalu berkata, “Rencanamu kali ini berbeda dengan temen-temenmu. Luar Biasa! Ibu yakin kamu pasti bisa, walau mungkin akan ada beberapa masalah atau cobaan saat kamu melakukan semua itu.”

Aku menganggukan kepala pelan. “Ya… Pasti Bu, entahlah saat di SD saja aku menghafal sehalaman sehari jarang, bagaimana saat aku di Pesantren nanti,” ujarku.

“Karena keadaannya berbeda,” ujar Bu Desi. Lalu beliau menatapku lembut, “Lingkungan dan keadaan di pesantren nanti pasti berbeda, apa nama pesantrennya?“

“Ma’rifatussalaam,” jawabku.

“Ya! Di Ma’rifatussalaam nanti kau akan lebih baik, Ibu yakin itu. Esok lusa, Ibu akan melihatmu Haura, murid Ibu Desi di SD yang sudah menjadi penghafal Al-Qur’an.”

Aku selalu ingat dialog itu. Aku tahu semua ucapan Bu Desi benar. Saat ku SD, keadaan dan juga lingkungannya tidak mendukung. Banyak temanku yang lebih sering menonton TV daripada membaca, sering mendengarkan musik daripada Murotal, dan aku bisa dibilang terbawa oleh arus itu, walau tidak separah teman-temanku.

Aku sungguh-sungguh dengan jawabanku pada Bu Desi saat itu. Rencana untuk menghafal satu juz selama sebulan dan membaca Al-Qur’an tiga Juz sehari. Bukan hanya itu, aku juga berencana untuk membuat tulisan setidaknya tiga kali dalam seminggu saat di Ma’rifatussalaam nanti, dan yang lebih penting seorang penghafal Al-Qur’an.

Aku berada di Ma’rifatussalaam ini karena Allah. Dan aku yakin Insyaallah aku bisa melakukan semua rencanaku. Dengan pertolongan Allah. Tapi aku juga tahu, pasti akan ada cobaan atau penghalang saat aku sedang melakukan semua itu. Misalnya saja, karena tugas atau malas, bisa juga karena bosan.

Namun aku juga yakin bahwa Insyaallah aku bisa melawan semua penghalang itu. Dengan iman serta keyakinan yang kuat. Lama-kelamaan aku pasti akan terbiasa dengan semua perubahan yang akan kulalui.