Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 September 2016

Obat Kecewa, Jeritan Hati TKW di Malaysia

SAUDARA setanah air kita banyak merantau ke negeri jiran ini, baik dengan keahlian professional, akademisi, maupun yang bekerja sebagai pembantu rumah dan buruh pabrik. Semua aktivitas mengais rezeki ditekuni sebagai rangka menjalani takdirNya, ada kalanya ketidak-tahuan atau hal miskomunikasi dapat membuahkan problematika yang tak ringan penyelesaiannya di tanah rantau. Sedikit kisah dalam rubrik khas Ramadhan kali ini, semoga dapat menjadi cambuk motivasi dan bumbu hikmah serta semangat berbagi buat kita semua.

Dengan melindungi privasi serta menjaga aib saudara kita, maka kisah ini penulis rangkum menggunakan ‘gaya aku’.

***
“Saya sudah enam belas tahunan bu’, di Malaysia…” aku mengawali kisah ini. Kalau cerita dari awal, terlalu panjang, yang jelas aku berada disini karena perlu makan. Daerah kami musim kering waktu itu, di dusun ujung Jawa Timur. Lalu era Pak Harto, ada transmigrasi, jadi keluarga besar terpisah-daerah, ada yang ke Kalimantan, ada yang ke Sumatera. Aku mendaftar ikut menjadi TKW, pergi ke kota dengan modal urunan sanak saudara. Sedangkan suami menjadi kuli bangunan di Jakarta.

Ditipu calo, sudah pernah, dipangkas gaji sudah sering, tetapi aku tetap suka bekerja disini. Awal bencana adalahpermit sudah mati, tapi boss diam saja. Lalu mulailah boss bikin ulah dengan tidak memberi upah berbulan-bulan, akhirnya aku kabur… Pekerjaan tidak ada habisnya, tetapi gaji tak dikasih, dari manakah uang buat makan orang tua, satu anakku, dan saudara-saudariku di tanah air? Pikirku waktu itu.

Aku lari ke kantor Polisi, berkilo-kilo meter tak tahu arah, walhamdulillah Polisi yang berjaga itu menampungku di rumahnya. Sudah kuceritakan bahwa passportku di majikan, dan aku tidak digaji. Beliau berjanji akan membantuku.

Aku bekerja dengan teliti di rumahnya, berusaha selalu melayani majikan dengan servis terbaik, cuma satu hal tak tahan disana, kali ini majikanku selalu bertengkar. Entahlah pasal apa, setiap pagi dan malam, mereka berdebat sehingga membuat jantung berdegup kencang.

Suatu hari, sang istri berteriak, dan melemparkan gelas besar ke arah suaminya, prang! Pecahlah gelas, sebelum jatuh membentur lantai, terkena kepalaku sekilas, perihnya… Lalu mereka saling berteriak, tak henti-henti, dan itu terjadi setiap hari, astaghfirulloh! aku jadi ketakutan. Makanya aku kabur lagi setelah empat bulan disana, belum sempat dikasih gaji, tetapi aku punya beberapa puluh ringgit pemberian keponakannya karena kubantu berbenah.

Dan keponakan polisi itu juga mengajariku sholat.

Kukumpulkan keberanian untuk mencari Enjit, teman keturunan India yang dulu mengantarkan makanan ke rumah majikan lama, barangkali Enjit bisa membantuku.

Ternyata Enjit sedang pulang kampung, dan temannya menyuruhku bekerja melayani para pengunjung rumah makannya. Aku menyanggupinya, berapa pun salary tak peduli, yang penting kerja halal. Alhamdulillah seminggu disana, boss kedai memanggilku, lalu memberi beberapa puluh Ringgit. Dia berkata, “Ada kerja lebih cocok buat kamu…” aku gembira sekali.

Boss ternyata memiliki teman di sebuah usaha pasar raya, aku dilatih untuk menjadi kasir. Sebagai cadangan saja. Sementara tugas utama adalah memindahkan barang-barang, membersihkan gudang dan membantu pelanggan dalam berbelanja.

Aku rajin menabung, meskipun minimal satu setengah juta rupiah kukirimkan kepada orang tua supaya dipakai untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anakku.

Dua tahunan itu aku akhirnya bisa membuat ‘permit’ dibantu oleh agent. Tetapi masih ada utang seribuan ringgit lagi dalam pembayaran kepada agent.

Didorong rasa ingin cepat melunasi pembayaran dan biaya sekolah anak yang bertambah, aku ditolong teman untuk menambah pekerjaan ‘part-time maid’.

Dan aku tak menyangka saat memiliki sekeping anting-anting dan 700 RM hasil kerja part-time dua bulan, sore itu pengalaman pahit terjadi.

Ada seorang lelaki besar yang merupakan warga lokal sini, dia meneleponku untuk membersihkan appartemennya, sebelum dia pindah ke appartemen yang baru. Mungkin dia mengetahui nomorku dari teman atau dari majikanku lainnya. Waktu itu, aku juga baru menggunakan telepon genggam. Setelah menyepakati jam kerja, aku melanjutkan pekerjaan di pasar raya. Jelang magrib barulah aku menuju ke appartemen lelaki itu.

Ternyata baru tiba di lift depan rumah, orang itu menarikku dengan kasar, leherku sampai lecet terkena kerah baju. Aku yang masih letih sehabis kerja, sungguh terkejut ketika orang itu memaksa untuk membuka baju! Aku pikir, inilah teguran buatku, karena sering keasyikan menerima job, sampai sering lupa sholat lima waktu. Aku berpikir juga, mungkin malam itu adalah malam kematianku. Namun ternyata Allah SWT masih mengizinkanku untuk hidup dan memperbaiki diri.

Alhamdulillah, setelah meraung-raung seraya berkejar-kejaran di dalam ruangan appartemen luas itu, di sudut ruangan aku memohon kepada lelaki itu untuk tidak menggangguku. Posisinya sudah tidak berbusana waktu itu. Dia mengatakan, “Sekaliii saja, aku siapkan bayaran besar…” tetapi aku meronta dan memohon minta dilepaskan.

Dengan izin Allah SWT, setelah aku sudah tidak bisa bersuara lagi, dia lepaskan cengkeramannya sambil berkata, “Keluarkan semua duitmu!”

Sambil melepaskan anting-antingku, ia ambil 700 RM yang kubawa, juga handphone, kemudian menendangku keluar. Aku ketakutan sekali, lalu berlari meuju taksi dan minta tolong pinjaman teman di rumah sewa untuk membayarnya.

Malam itu aku tersungkur bersyukur kepada Allah SWT karena sudah selamat dari peristiwa keji yang tak pernah terbayang olehku.

Malang masih merapat padaku, justru ketika aku bisa mudik dan melihat anak lulus SD, aku amat kecewa, ternyata suamiku sudah menikah lagi. Sakit hatiku, keluarga tidak diberitahukan, acara di sekolah anak pun ia tak datang, apalagi ketika kuketahui ada banyak kiriman uang yang kutransfer ke rekeningnya, ternyata dipergunakan untuk istri barunya. Ya Allah, aku sungguh kecewa dengan ulah suami saat itu.

Kembali lagi ke Kuala Lumpur, kuajak kakak dan iparku sekaligus. Bossku perlu karyawan dan asisten rumah untuk membantunya. Sementara aku menasihati anakku untuk sekolah yang baik dan harus pintar, aku punya target supaya dia bisa sarjana, supaya hidup kami bisa lebih baik.

Alhamdulillah aku berkenalan dengan banyak muslimah Indonesia yang kaya ilmu disini. Aku dibisikkan motivasi untuk melampiaskan kecewa dengan banyak beristighfar.Lebih baik aku memperbaiki diri, dari pada meratapi nasib. Akhirnya suamiku resmi melepaskanku dengan perceraian, dan anak malah memintaku untuk menikah lagi.

Beberapa tahun yang lalu, aku menikah dengan orang Indonesia (duda tanpa anak) yang tinggal di Kuala Lumpur juga, ia berasal dari daerah yang tak terlalu jauh dari tempatku mudik. Kami sama-sama mengurus permit,sama-sama mencicil motor, dan sama-sama menabung tiket mudik setiap dua tahun sekali. Aku merasa sangat bersyukur atas semua pengalaman ini, apalagi sekarang anakku sudah bisa berada di bangku kuliah, semoga cita-cita menjadi guru bahasa Inggris dapat dicapai olehnya, aamiin.

Penyesalan Sya’ban RA di Penghujung Hayatnya

ALKISAH seorang sahabat bernama Sya’ban RA. Ia adalah seorang sahabat yang tidak menonjol dibandingkan sahabat-sahabat yang lain.

Ada suatu kebiasaan unik dari beliau, yaitu setiap masuk masjid sebelum sholat berjamaah dimulai dia selalu beritikaf dipojok depan masjid.

Dia mengambil posisi di pojok bukan karena supaya mudah senderan atau tidur, namun karena tidak mau mengganggu orang lain dan tak mau terganggu oleh orang lain dalam beribadah.

Kebiasaan ini sudah dipahami oleh sahabat bahkan oleh RasululLah Shallallahu `alaihi Wa Sallam, bahwa Sya’ban RA selalu berada di posisi tersebut termasuk saat sholat berjamaah.

Suatu pagi saat sholat subuh berjamaah akan dimulai RasululLah Shallallahu `alaihi Wa Sallam mendapati bahwa Sya’ban RA tidak berada di posisinya seperti biasa. Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam pun bertanya kepada jamaah yang hadir apakah ada yang melihat Sya’ban RA. Namun tak seorangpun jemaah yang melihat Sya’ban RA.

Sholat subuhpun ditunda sejenak untuk menunggu kehadiran Sya’ban RA. Namun yang ditunggu belum juga datang.
Khawatir sholat subuh kesiangan, Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam memutuskan untuk segera melaksanakan sholat subuh berjamaah.

Selesai sholat subuh, Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya apa ada yang mengetahui kabar dari Sya’ban RA.
Namun tak ada seorangpun yang menjawab.

Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya lagi apa ada yang mengetahui di mana rumah Sya’ban RA.

Kali ini seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia mengetahui persis di mana rumah Sya’ban RA.
Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam yang khawatir terjadi sesuatu dengan Sya’ban RA meminta diantarkan ke rumah Sya’ban RA.

Perjalanan dengan jalan kaki cukup lama ditempuh oleh Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam dan rombongan sebelum sampai ke rumah yang dimaksud.

Rombongan Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam sampai ke sana saat waktu afdol untuk sholat dhuha (kira-kira 3 jam perjalanan).

Sampai di depan rumah tersebut beliau Shallallahu `alaihi Wa Sallam mengucapkan salam. Dan keluarlah seorang wanita sambil membalas salam tersebut.

“ Benarkah ini rumah Sya’ban RA?” Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya.

“Ya benar, saya istrinya” jawab wanita tersebut. “

Bolehkah kami menemui Sya’ban RA, yang tadi tidak hadir saat sholat subuh di masjid?” .

Dengan berlinangan air mata istri Sya’ban RA menjawab:

“ Beliau telah meninggal tadi pagi”

InnaliLahi wainna ilaihirojiun…SubhanalLah , satu – satunya penyebab dia tidak solat subuh berjamaah adalah karena ajal sudah menjemputnya.

Beberapa saat kemudian istri Sya’ban bertanya kepada Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam,

“Ya Rasul ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali dengan masing–masing teriakan disertai satu kalimat. Kami semua tidak paham apa maksudnya”.

“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam. Di masing–masing teriakannya dia berucap kalimat,

“Aduuuh, kenapa tidak lebih jauh.”

“Aduuuh, kenapa tidak yang baru.“

“Aduuuh, kenapa tidak semua.”

Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam pun melantukan ayat yang terdapat dalam surat Qaaf (50) ayat 22 yang artinya:

“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.“

Saat Sya’ban RA dalam keadaan sakratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bukan cuma itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Apa yang dilihat oleh Sya’ban RA (dan orang yang sakratul maut), tidak bisa disaksikan oleh yang lain.
Dalam pandangannya yang tajam itu Sya’ban RA melihat suatu adegan di mana kesehariannya dia pergi pulang ke Masjid untuk sholat berjamaah lima waktu.

Perjalanan sekitar 3 jam jalan kaki sudah tentu bukanlah jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban RA diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah–langkah nya ke Masjid.

Dia melihat seperti apa bentuk surga ganjarannya. Saat melihat itu dia berucap:

“Aduuuh, kenapa tidak lebih jauh.”

Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban RA, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih banyak dan surga yang didapatkan lebih indah.

Dalam penggalan berikutnya Sya’ban RA melihat saai ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin. Saat ia membuka pintu berhembuslah angin dinginyang menusuk tulang. Dia masuk kembali ke rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Jadi dia memakai dua buah baju.

Sya’ban RA sengaja memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar. Pikirnya jika kena debu, sudah tentu yang kena hanyalah baju yang luar, sampai di masjid dia bisa membuka baju luar dan solat dengan baju yang lebih bagus.

Dalam perjalanan ke tengah masjid dia menemukan seseorang yang terbaring kedinginan dalam kondisi yang mengenaskan.
Sya’ban RA pun iba , lalu segera membuka baju yang paling luar dan dipakaikan kepada orang tersebut dan memapahnya untuk bersama–sama ke masjid melakukan sholat berjamaah.

Orang itupun terselamatkan dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan sholat berjamaah.

Sya’ban RA pun kemudian melihat indahnya sorga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut.
Kemudian dia berteriak lagi :

“Aduuuh, kenapa tidak yang baru.“

Timbul lagi penyesalan di benak Sya’ban RA. Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala yang begitu besar, sudah tentu ia akan mendapat yang lebih besar lagi seandainya ia memakaikan baju yang baru.

Berikutnya Sya’ban RA melihat lagi suatu adegan saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke segelas susu. Bagi yang pernah ke tanah suci sudah tentu mengetahui sebesar apa ukuran roti arab (sekitar 3 kali ukuran rata-rata roti Indonesia)

Ketika baru saja hendak memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta diberikan sedikit roti karena sudah lebih 3 hari perutnya tidak diisi makanan. Melihat hal tersebut, Sya’ban RA merasa iba.

Ia kemudian membagi dua roti itu sama besar, demikian pula segelas susu itu pun dibagi dua. Kemudian mereka makan bersama–sama roti itu yang sebelumnya dicelupkan susu, dengan porsi yang sama.

Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian memperlihatkan ganjaran dari perbuatan Sya’ban RA dengan surga yang indah.
Ketika melihat itu diapun berteriak lagi:

“Aduuuh, kenapa tidak semua.”

Sya’ban RA kembali menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis tersebut tentulah dia akan mendapat sorga yang lebih indah. Masyaallah.

Alkisah, Santri Vs Tukang Cukur

Satu siang, di tempat cukur rambut terjadi obrolan antarasi tukang cukur dengan pelanggannya. Kebetulan yang dicukur itu Zaid, seorang santri alumni sebuah Pondok Pesantren ternama.

Kian lama obrolan dua orang itu kian hangat saja.  Dari tema yang mulanya ngalor-ngidul, ke sana kemari si tukang cukur yang “abangan” itu membawa obrolan ke masalah seputar akidah.

“Kalau menurut saya, Tuhan itu tak benar-benar ada ,“ tukang cukur memulai.

“Lho kok bisa mengatakan seperti itu?” Zaid mengejar tanya.

“Ya lihat saja kehidupan ini Mas, banyak orang yang hidupnya nelangsa, penuh masalah, ribet semrawut, bahkan saking beratnya masalah itu ada yang sampai berani bunuh diri. Katanya Tuhan itu maha Pengasih yang bakal menolong setiap hambanya,. Nah buktinya mana?”

Hmm.  Zaid terdiam. Dia tak langsung menjawab. Bukan lantaran tak mampu, tapi Zaid tengah mencari jawaban yang pas buat si tukang cukur. Dia teringat benar pesan Kiainya agar bisa menyampaikan setiap hal sesuai dengan nalar lawan bicaranya.

Hingga berapa lama, Zaid belum juga angkat bicara. Si tukang cukur hampir menyelesaikan tugasnya. Tiba-tiba Zaid melihat seorang tengah duduk di luar tempat cukur rambut. Tampang dan rambut orang itu begitu acak-acakan dan berantakan. Seberkas ide pun mengalir  di kepala Zaid.

“Nah Pak, kalau Anda mengatakan Tuhan itu tak ada, maka saya katakan tukang cukur itu tak ada.“

“Lho, gimana sih, wong saya itu ada di sini,” tukang cukur tak mengerti

“Pokoknya, saya yakin kalau tukang cukur itu tak ada,“ Zaid ngeyel.

“Kalau tukang cukur itu ada, lha kok masih ada orang yang rambutnya berantakan,“ jawab Zaid sambil menunjuk seorang tak jauh dari tempat itu.

“Anda ini gimana sih, dia yang di sana itu maksudnya, kalau dia rambutnya berantakan, ya sebab tak mau datang ke tempat ini, coba kalau ke sini, pasti saya rapikan,“ sergah Tukang cukur.

“Nah, seperti itu juga pak, kalau ada orang yang ditumpuk masalah dan hidupnya begitu ribet, bukan lantaran Tuhan itu tak ada, tapi sebab si pemilik masalah itu tak mau datang menghadap Tuhannya, Allah. Coba kalau datang, berserah diri, memohon ampun dan pertolongan, Allah pasti menolongnya,” jawab Zaid mantap.

Sang Tukang cukur pun terdiam. Skak mat!

Kisah Uang 100 Ribu

Seorang guru mengangkat uang 100 ribu rupiah di depan murid-muridnya. Lalu ia bertanya,

“Siapa yang mau uang ini?”

Semua murid mengangkat tangan mereka, tanda ingin.

Kemudian guru itu meremas uang 100 ribu itu dengan tangannya, dan kembali bertanya, “Sekarang siapa yang mau uang ini?”

Kembali semua murid mengangkat tangannya.

Selanjutnya ia melemparkan uang itu kelantai dan menginjak-injaknya dengan sepatunya, sampai uang itu jadi kotor. Setelah betul-betul kotor oleh debu ia berkata,

“Sekarang siapa yang mau?”

Tetap saja seluruh murid mengacungkan tangan mereka. Saat itulah sang guru memasukkan pelajarannya,

“Inilah pelajaran kalian hari ini. Betapapun kalian berusaha merubah bentuk uang ini tidak akan berpengaruh kepada nilainya.”

“Bagaimanapun kalian dihinakan, diremehkan, direndahkan, dilecehkan, dinistakan, kalian harus tetap yakin bahwa nilai hakiki kalian tidak akan pernah tersentuh.”

“Ketika itu kalian akan tetap berdiri kokoh setelah terjatuh. Kalian akan memaksa seluruh orang untuk mengakui harga dirimu.”

“Bila kalian kehilangan kepercayaan terhadap diri kalian sendiri dan nilainya, saat itulah kalian kehilangan
segala-galanya”.

‘Mereka Merindukan Surga-Mu’

Dalam sebuah hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan Allah SWT bertanya kepada malaikat, “Apa yang dirindukan hamba-hamba-Ku dari-Ku?” Malaikat menjawab, “Mereka merindukan surga-Mu.

Allah bertanya, “Apakah mereka pernah melihatnya?” Malaikat menjawab, “Tidak.” Allah bertanya lagi, “Bagaimana pendapatmu kalau mereka pernah melihatnya?”Malaikat menjawab, “Mereka tentu akan lebih merindukannya.

Adam AS, bapak segenap manusia, dinyatakan oleh Allah pernah berada di Surga beberapa waktu lamanya sebelum kemudian diturunkan ke bumi.

Kemudian, Allah SWT mengisahkan kisah Adam AS kepada keturunannya. Ibnu al-Qayyim berkata, “Dengan demikian mereka seakan-akan pernah menyaksikannya dan ada bersama Adam AS di dalamnya.”

Menurut Ibnu al-Qayyim, manusia tercipta untuk surga dan surga tercipta untuk manusia. Dengan begitu, manusia harus segera memenuhi seruan Tuhan dan segera menuju surga.

Laksana seorang yang tinggal di kampung pengembaraan, lalu tersadar akan kampung halamannya yang menyenangkan, tentu dia merindukan kembali ke kampung halamannya.

Namun, Adam AS dan keturunannya tidak akan mudah kembali ke kampung halamannya yang menyenangkan itu. Lantaran Adam AS dan keturunannya diciptakan dari struktur tubuh yang mengharuskan mereka berbaur dengan musuh-musuh mereka, iblis dan kroni-kroninya.

Adam AS dan keturunannya seakan-akan tengah berada dalam perjalanan jauh. Sementara, musuh-musuh mereka mengintainya dari segala penjuru: dari depan, dari belakang, dari kiri, dan dari kanan mereka. Sehingga, Adam AS dan keturunannya senantiasa berada dalam ujian.

Malah, selain itu mereka dilengkapi pula dengan hawa nafsu. Lebih jauh, ujian itu sengaja diujikan oleh Allah kepada manusia. Allah SWT berfirman, “Apakah manusia mengira bahwa dia akan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban?” (QS al-Qiyamah [75] : 36).

Dalam ayat lain Allah berfirman, “Maka, apakah kalian mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main?” (QS al-Mukminun [23] : 115). Manusia seyogianya menelaah ayat-ayat tersebut agar selalu ingat dan selalu berhati-hati menjalani hidupnya di dunia ini.

Amalan manusia semata tidak akan mampu mengantarkan kerinduannya masuk ke dalam surga. Allah berfirman, “Masuklah kalian ke dalam surga disebabkan apa yang telah kalian kerjakan.” (QS an-Nahl [16] : 32).

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak seorang pun akan masuk surga karena amalnya. Para sahabat bertanya: Apakah engkau juga wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Demikian pula aku, hanya saja Allah telah memberikan rahmat-Nya kepadaku.” (HR Bukhari dan Muslim).

Manusia berhak merindukan surga. Manusia berhak memasukinya. Sepanjang, dua hal terpenuhi, rahmat Allah dan amal saleh. Namun, rahmat Allah jauh lebih menentukan.

TKW Terjerat Utang

SAUDARA setanah air kita banyak merantau ke negeri jiran ini, baik dengan keahlian professional, akademisi, maupun yang bekerja sebagai pembantu rumah dan buruh pabrik. Semua aktivitas mengais rezeki ditekuni sebagai rangka menjalani takdirNya, ada kalanya ketidak-tahuan atau hal miskomunikasi dapat membuahkan problematika yang tak ringan penyelesaiannya di tanah rantau. Sedikit kisah dalam rubrik khas Ramadhan kali ini, semoga dapat menjadi cambuk motivasi dan bumbu hikmah serta semangat berbagi bagi kita semua.

Dengan melindungi privasi serta menjaga aib saudara kita, maka kisah ini penulis rangkum menggunakan ‘gaya aku’.

***

Persisnya beberapa belas tahun yang lalu, aku masih remaja dan keluarga kami memang bukan keluarga yang tercukupi. Kami tinggal di dusun terpencil di Jawa Barat. Alhamdulillah gubuk pemberian paman kami tempati, makanan sepiring kami bagi sebelas, air putih yang kami saring dari sungai, daun-daunan menjadi sumber rezeki untuk dikumpulkan dan diikat serta dijual ke pasar.

Aku tidak mengerti tepatnya kapan, bapak dan ibu berdiskusi tentang utang-utang pamanku, dan pelik sekali, aku dan empat adik berusaha membantu keluarga paman dengan kerja serabutan, meski selalu tak mencukupi, sebab paman memiliki utang besar kepada pengijon. Waktu itu aku lulus SMP, ada teman yang berasal dari kampung sebelah, mengajakku bekerja di Malaysia. Dalam kebingungan yang amat sangat, aku juga terharu melihat adikku rela dinikahkan dengan anak si pengijon (yang sudah memiliki beberapa istri), demi mengurangi beban utang paman.

Singkat cerita, sisa tabungan orang tuaku yang terlipat-lipat di balik tikar, kupergunakan untuk membuat passport dan keperluan transportasinya dipinjami oleh temanku. Dengan memikirkan perbaikan hidup keluarga, aku sungkem kepada orang tua untuk melangkah bekerja ke Malaysia.

Kami beberapa minggu ditampung di sebuah rumah, temanku menyebut kegiatan ini sebagai ‘training’, aku dan belasan wanita di dalamnya bergantian mengerjakan banyak hal, di antaranya mencuci baju-baju (yang entah kenapa begitu banyaknya, kupikir mungkin ini seperti membantu kegiatan jasa laundry), membersihkan banyak barang dapur, mengepel lantai, melipat kertas-kertas, dan lain-lain, termasuk ada yang sibuk membantu menyelesaikan jahitan busana atau mengecat dinding.

Selanjutnya kakiku benar-benar berada di luar negeri, tak banyak yang bisa kukagumi waktu awal datang, karena yang kubayangkan adalah keluarga dan masa depan orang tua serta adik-adikku. Teman menampungku dalam bilik yang disewanya, dan mengantarkanku ke rumah seorang boss pemilik rumah makan, disitulah pertama kali aku bekerja. Aku tidak mengeluh, bekerja keras sudah menjadi makanan sehari-hari sejak aku kecil, kalian bisa membayangkan badanku harus bangun pukul empat pagi, lalu tidur pukul dua malam. Sebulan awal itu, aku membantu pekerjaan rumah di rumah besar dan di restoran sekaligus.

Satu hal yang baru kupahami, ternyata enam bulan awal bekerja, aku hanya diberi pegangan uang 10 RM (1 Ringgit Malaysia kira-kira Rp 3.300 sekarang) tiap bulan karena majikan sudah memberikan gaji kepada temanku, dan itu adalah untuk membayar utang-utang kepadanya. Aku beruntung, makan minum tidak kekurangan di rumah majikanku ini.

Akan tetapi ada hal lain yang baru kuketahui pula waktu itu, ternyata ‘surat izin kerja’ alias permitku tidak ada.

Di pertengahan tahun, tepat setelah aku ditugaskan mengurus kedai makanan milik majikan, sekaligus tinggal di sana, temanku harus mudik karena ayahnya meninggal dunia. Dan kala itu, kutitipkan beberapa hadiah kecil yang diberikan oleh anak majikan kepadaku, yaitu sebuah bantal, beberapa kaos bekas, dan beberapa lembar rupiah (sekitar tiga puluh ribuan rupiah yang tersisa di sakuku selama dalam perjalanan) buat keluargaku.

Majikanku berkata bahwa mereka akan membuatkan permit, namun pembayarannya harus potong gaji. Tak ada pilihan bagiku, lagi pula yang kukenal hanya beberapa pelanggan resto dan dua pembantu rumah lainnya di tempat ini, sehingga aku mengangguk. Nasib baik, sisa gajianku bisa kutabung, dan dua tahun kemudian aku dijadwalkan bisa pulang kampung.

Tapi rencanaku tak berjalan mulus, pembantu rumah boss sudah minta dipulangkan, memang dia sudah tiga tahun bekerja dan orang tuanya sedang sakit keras. Malah karena terketuk akan penderitaan keluarganya yang ternyata lebih pedih dariku, kupinjamkan ia tabungan yang kukumpulkan berbulan-bulan, sekitar dua juta rupiah waktu itu. Alhamdulillah setahunan setelah itu, aku baru mengetahui kalau ia mengembalikan pinjaman dengan pergi ke kampungku, memberikan uang itu kepada keluargaku.

Boss dan keluarganya punya banyak urusan di daerah lain, restonya pun diuruskan oleh anak dan keponakannya. Mereka semua cukup baik, hanya saja seluruh pekerjaan rumah tangga menjadi harus kukerjakan sendiri. Aku sampai pernah pingsan dua kali, mungkin karena terlalu capek.

Pembantu yang satu, tak kembali dari mudiknya, yang satu lagi dibawa boss buat menguruskan tempat lain, dan aku membereskan resto di pagi dan malamnya, sedangkan sepanjang siang berada di rumah besar dengan gundukan pakaian kotor, sesekali mencuci beberapa tas kumal, mencuci mobil sebanyak empat buah, memasak makanan, merapikan banyak ruangan dengan mainan anak-anak majikan, dan mengurus dua ekor kucing mereka.

Di tahun keempat, aku akhirnya bisa pulang kampung, luar biasa tangisan haru bagiku waktu itu. Meskipun aku sempat kecopetan setiba di tanah air, tapi perbekalan tabunganku mencukupi kebutuhan keluarga. Dua bulan di tanah air, aku pergunakan waktu untuk membantu orang tua dalam menggarap sawah tetangga. Sisa utang paman di pengijon masih ada, namun dapat kami lunasi dengan cicilan beberapa bulan lagi.

Aku termasuk beruntung, majikan mengantarkan dan menjemputku kembali di bandara. Lalu tahun berikutnya aku tak susah berhubungan dengan keluarga, orang tua dan aku bisa sms-an, kami membeli handphone sederhana, boss-ku menolong untuk mengisikan pulsa jika masa berlaku kartunya habis.

Kata anak dari majikanku, “Bik, tau tak kenapa bibik jaga rumah ni dan banyak lagi kerja bibik, bukan diajak ke luar kota atau ke resto seharian seperti dulu?”

Aku tak tahu… dan menggeleng.

Dia melanjutkan, “Sebab bibik tuh rajin dan cerdas, kami sayangkan bibik, saya suka masakan bibik…” sungguh aku terharu. Yang tadinya pening sekeluarga karena jeratan utang, ternyata aku bisa belajar tentang hidup dengan merantau begini, apalagi aku baru mengetahui bahwa beberapa kabar teman yang berbarengan berangkatnya waktu dulu, ternyata ada yang sakit kanker dan meninggal—tanpa diurusi oleh majikannya, ada juga yang menjadi stress karena diperkosa. Sementara aku bertambah banyak pekerjaan di istana boss ini, ternyata karena disayangi. Alhamdulillah.

Menghisab Sebelum Dihisab

“DAN (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan,” (Terjemah QS. Al-Jatsiyah : 28)

Seorang sahabat Rasulullah Saw. mengatakan, “Hisablah dirimu sebelum dihisab.”

Pernah melakukannya? Sehari saja? Pernahkah berhasil?

Saya pernah mencoba dan ternyata belum pernah berhasil, karena lupa. Juga kurang teliti!

Akhirnya saya perkecil! Hanya menghitung apa yang saya ucapkan dalam waktu kurang dari sepuluh menit!

Caranya?

Saat berkesempatan memberikan sambutan di suatu acara, saya rekam dari awal hingga akhir. Dari rekaman itu saya memperhatikan, apa-apa yang terucap dan didengar oleh puluhan orang yang hadir. Mana kata dan kalimat yang memotivasi, menambah ilmu, dan mana yang beraura negatif, melemahkan, asesoris bahkan kosong makna sekedar menghidupkan suasana.

Hal serupa bisa kita lakukan terhadap apa-apa yang kita tuliskan pada status-status di fb, postingan di grup dan blog yang terdokumentasi dengan baik, walaupun kita akan kerepotan kalau mau menghisab komen-komen yang tersebar di postingan teman-teman kita. Selain jenis kata yang kita tuliskan, juga untuk melihat perkembangan pemikiran kita, karena sebelum menuliskan, kita lebih leluasa berpikir dibandingkan sebelum bicara.

Kita dianjurkan untuk menghisab diri setiap malam sebelum tidur, secara pribadi saya sangat sulit melakukan itu, apalagi dengan kebiasaan pergi tidur ketika sudah sangat mengantuk atau bahkan tertidur karena kelelahan. Setidaknya, upayakan untuk memaafkan dan mengikhlaskan orang-orang yang dengan sengaja atau tidak, telah menyakiti hati kita.

Apa yang baiknya kita lakukan atas ketidak suksesan menghisab diri sebelum dihisab di akhirat nanti?

Perbanyak istighfar, berpikir sebelum bicara dan bertindak, batalkan prilaku yang jelas-jelas sebuah pembangkangan kepada Allah.

Minta Sama Siapa?

SIANG cerah di Kuala Lumpur, usai menjemput anak-anak latihan karate di sekolah, saya menemani suami menuju area Gombak untuk ujian qiroat. Beberapa menit jalanan macet, sembari memangku bayi, kubuka `whatsapp dan membaca beberapa berita gembira dari sisters di Krakow. Setahun terakhir ini, kami ‘absen kelas skype’ (seusai masa hectic persalinanku dan pindahan appartemen), namun kami melanjutkan berbagi kabar berita melalui grup Whatsapp, Walhamdulillah!

“Sekarang Aneta dan Kasia telah menemukan kekasih hati, keduanya melangsungkan pernikahan dengan brothers yang merupakan pendatang di Poland,” ucapku, di samping sang supir ganteng yang tengah menanti lampu merah.

“Alhamdulillah… barokalloh buat mereka…” ujar Mas Anggana.

“Trus, ingat kan dengan Brother Feroz? Walhamdulillah pas kita pindah ke Kuwait, beliau pulang ke UK, dan sekarang anaknya dua…masya `Allah, ini istrinya lagi senang menceritakan bayi mereka…” sambungku lagi.

“Wah Alhamdulillah, iya, ingat… dulu mereka agak ketakutan dengan threatment di hospital Krakow, sebab selalu perlu penerjemah di rumah sakit, karena tidak bisa berbahasa lokal….” Mas Angga turut senang mendengar kabar sahabat kita tersebut.

“Errrrm, tapi sist Em, dia hamil lagi dengan ‘yang lama’… innalillahi…” Sist Em adalah istri yang di-mut’ah oleh pendatang pemeluk syi’ah. Sewaktu kami berada di Krakow, beliau bercerita bahwa kontrak pernikahannya adalah enam bulan. Lalu suaminya kembali ke tanah air, sementara sist Em telah berbadan dua. Dan kini anaknya seusia keponakanku, berlanjut memiliki ‘adik baru’, setelah sist Em mau dimut’ah kembali.

“Sejak kita di dekatnya pun, hanya bisa menyampaikan. Hasilnya adalah urusan Allah azza wa jalla. Jadi, minta sama Allah saja, semoga Allah ta’ala menolongnya, melimpahkan hidayah dan taufiqNya untuk bertaubat, aamiin…” tanggapan Mas Angga.

Seingatku, beberapa sisters di Krakow telah saling mengingatkan tentang bahaya kawin kontrak ini, tetapi kaum pendatang pemeluk syi’ah yang bergentayangan di Eropa memang cukup banyak. Apalagi jika di awal pertemanan, taktik ‘taqiyyah’ dijalankan, maka kita memang harus lebih waspada dan tak pernah lelah untuk mempelajari al-Islam keseluruhan, berguru pada ahlul quran dan sunnah rasulNya SAW, sehingga pemahaman tidak mudah tercemar. Di wilayah Islam minoritas seperti Poland, muslimin berteman akrab dengan pemeluk syi’ah adalah hal biasa, dan itu terjadi pada sahabat-sahabat muallaf.

Sist Volha, salah satu sisterku nan cerdas sudah pernah berkata, “Aku bisa donk membedakannya, mana brother muslim, dan mana orang yang syi’ah…” ujarnya, dahulu dengan berkedip. Meskipun ia sangat ramah dan berteman dekat dengan para tokoh agama lain, sister kita ini tegas memegang prinsip. Jika seseorang mendekatinya dan mengatakan “I am muslim…”, maka ia belum langsung percaya. Namun ketika ada yang berkata, “I am muslim, of course sunni!” “Nah itu tandanya Islam, sist, hahahaha…” ujarnya.

“Kita minta sama Allah, petunjuk untuk membedakannya…dan minta petunjuk ketika ada teman baru atau berada di lingkungan baru juga…” sambungnya, yang kini tengah berbahagia karena telah bersama suami, dan menetap di Mesir, beliau menikah dengan brother asal Egypt.

Selasa, 27 September 2016

Gara-gara Ini, Sayyidina ‘Umar Urung Angkat Seorang Pemimpin

DI suatu masa, Sayyidina ‘Umar hendak mengangkat seorang pemimpin di suatu wilayah. Ia kemudian berembug dan meminta pendapat kepada orang-orang terpercaya.

Setelah mendengar dengan seksama pendapat dari sahabat-sahabatnya, ‘Umar urung mengangkat calon pemimpin itu, ia membatalkannya.

“Aku tidak akan pernah mengangkat orang itu untuk selama-lamanya,” ungkap Sayyidina ‘Umar.

Alasannya sangat sederhana, bahkan mungkin bagi kita hal itu hanya remeh temeh.

‘Umar bin Khaththab mengurungkan pengangkatan pemimpin itu, karena laki-laki calon pimpinan tersebut tak pernah mencium anaknya.

“Mana mungkin dia akan menyayangi rakyatnya, jika terhadap anak yang merupakan darah dagingnya saja ia tidak pernah mengungkapkan rasa sayangnya,” tegas ‘Umar.

Hanya karena perhatian sederhana terhadap anggota keluarganya, jadi salah satu alasan yang begitu penting bagi ‘Umar.

Lalu, bagaimana dengan sebagian dari kita yang masih memberikan pembelaan terhadap pemimpin yang kata-katanya kotor dan menjijikkan? Wallahu a’lam.

Minggu, 25 September 2016

Doa Orang Ini Pasti Diijabah Allah

ALKISAH dalam suatu peperangan yang sengit, kaum muslimin terdesak. Mereka berada dalam suasana genting, dikepung musuh. Tak berdaya, bingung, dan hampir saja menyerah.

Namun kemudian Allah Ta’ala memberi ilham ingatan pada salah satu mujahid yang turut serta dalam peperangan tersebut. Ia mengingat bahwa Rasulullah pernah menyebut sebuah nama yang jika ia berdoa, niscaya doanya pasti diijabah.

Maka, mujahid ini pun mencari salah satu sahabat itu. Ia hendak memintanya memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala. Salah satu lafal dalam doa yang dipanjatkan itu adalah, “Aku minta bahu-bahu mereka.” Lantas, apa yang kemudian terjadi?

Abdullah Azzam menjelaskannya dalam “Tarbiyah Jihadiyah”.

“Belum sampai tangannya turun ke bumi, musuh mereka telah mengalami kekalahan.” Inilah sahabat yang mulia. Sahabat yang namanya begitu harum, disebut-sebut dalam majelis para malaikat.

Inilah sahabat yang disebutkan dalam salah satu sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

“Berapa banyak orang kusut rambutnya, berdebu wajahnya, berpakaian dua kain usang, serta tidak dihiraukan manusia.” Akan tetapi, lanjut Nabi, “Kalau dia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkan sumpahnya itu.”

Pungkas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebagaimana termaktub dalam “Shahih al-Jami’ as-Shaghir”, “Di antara mereka adalah Bara’ bin Malik.”

Abdullah bin Azzam menjelaskan, “Mereka inilah orang yang tertolak dari semua pintu rumah karena rendah statusnya dalam pandangan orang.”

Padahal, “orang-orang semisal itulah yang menyelamatkan manusia dari kehancuran dan menjaga mereka dari mala petaka dan siksa Ilahi.”

Kemuliaan bukan terletak pada harta, rupa ataupun jabatan. Kemuliaan adanya dalam hati sebab kualitas iman dan taqwa seseorang. Karenanya, semoga Allah Ta’ala kurniakan sifat rendah hati kepada kita, agar tidak memandang remeh kepada siapa pun, apalagi mengolok-oloknya. Sebab, ia yang diremehkan atau diolok-olok bisa jadi lebih mulia dari kita.

Kisah Bocah Buta dan Papan Tulisnya

ALKISAH seorang bocah tengah duduk bersila di depan pintu masuk sebuah supermarket. Ia nampaknya tak mampu untuk melihat–buta–hanya duduk terpaku semata. Mengharap iba dan belas kasihan manusia. Disampingnya ia hanya ditemani kaleng kosong dan sebuah papan bertuliskan suatu kalimat.

Lama ia duduk di sana, menunggu kedermawanan dari setiap manusia yang lalu lalang melewatinya. Namun kaleng miliknya tak juga terisi penuh, meskipun ia memegang papan bertuliskan, “Aku buta, kasihanilah aku.”

Kemudian lewatlah seorang pria di depan sang bocah, ia merogoh saku celananya. Mengambil beberapa keping recehan, dan memasukannya ke dalam botol kosong milik sang bocah.

Sejenak, Pria itu mengamati papan yang sedari tadi terus menerus dipegang si bocah. Pria itu berpikir sesaat, lalu meminta sang bocah untuk meminjamkan papan miliknya. Ia menuliskan sesuatu dan berlalu begitu saja.

Kurang dari satu jam semenjak pria itu meninggalkan sang bocah, kaleng kosong yang sedari tadi melompong—kini mulai penuh terisi. Bocah itu tercekat, gembira dengan rezeki deras mengalir menghampirinya.

Beberapa waktu berselang, pria itu kembali menemui si bocah sambil menyapanya. Si bocah begitu bergembira dan berterima kasih pada pria itu, lalu menanyakan apa yang telah ditulisnya di papan miliknya.

“Hari yang sangat indah, namun aku tak dapat melihatnya. Aku hanya ingin mengungkapkan betapa beruntungnya orang-orang yang masih mampu melihat dunia ini,” itu yang aku tuliskan jawab pria itu.

Ia kemudian melanjutkan, “Aku tak mau para pengunjung memberikan uangnya karena iba padamu. Lebih dari itu, aku ingin mereka berbagi karena berterima kasih telah diingatkan untuk selalu bersyukur,” pungkas pria itu.

Senin, 19 September 2016

Pengalaman Berharga di Malaysia

SAUDARA setanah air kita banyak merantau ke negeri jiran ini, baik dengan keahlian professional, akademisi, maupun yang bekerja sebagai pembantu rumah dan buruh pabrik. Semua aktivitas mengais rezeki ditekuni sebagai rangka menjalani takdirNya, ada kalanya ketidak-tahuan atau halmiskomunikasi dapat membuahkan problematika yang tak ringan penyelesaiannya di tanah rantau. Sedikit kisah dalam rubrik khas Ramadhan kali ini, semoga dapat menjadi cambuk motivasi dan bumbu hikmah serta semangat berbagi bagi kita semua.

Dengan melindungi privasi serta menjaga aib saudara kita, maka kisah ini penulis rangkum menggunakan ‘gaya aku’.

***

Sebenarnya aku berumur lima belas tahun, namun ‘katanya kalau bekerja di luar negeri’, harus sudah berumur 21 tahun, maka di biodataku tertulis umur 21 tahun. Bukan membuat tipuan, kata pamanku, kalau tak begitu, aku tidak bisa diberangkatkan bekerja. Aku berangkat melalui jalur pengurusan tenaga kerja di kota, sementara dusun kami berada di atas bukit, daerah Jawa.

Sebanyak utang yang harus ditanggung orang tuaku, ternyata aku cuma bisa bertahan tiga bulan di negeri jiran. Tanpa bekal tabungan sepeser pun. Akan tetapi, orang tuaku tidak marah, sebab ternyata agent alias calo yang membawaku sudah menipu kami. Ia mengantongi ribuan Ringgit Malaysia yang didapat dari majikanku, yang seharusnya separuh dari uang itu adalah gaji buatku.

Untung belum dapat diraih, majikanku keturunan India dan ketat dalam urusan jatah makanan di dapur. Majikan yang lelaki begitu sangar. Dan keluarga mereka sering berkata kasar.

Aku berjumpa bapak dan ibu WNI yang mengajarkan banyak ketrampilan setelah kejadian pahit kualami. Selama dua bulan awal bekerja, jika tak ada nyonya, tuan lebih ramah kepadaku. Aku sudah merasa sangat tidak nyaman.

Hari itu jelang siang, tuan mengejutkanku di dapur, merangkulku dari belakang sampai aku sulit bernafas. Spontan, aku meronta, dan berlari keluar rumah dengan menggunakan sepotong baju di badan saja. Tadinya dia sempat mengejar, menimbulkan sedikit suara berisik di rumah tersebut. Aku sangat takut, dan mengikuti saja kemana langkah kaki berlari.

Di pinggir jalan raya kota Melaka, seorang supir taksi memberi tumpangan, beliau mendengarkan ceritaku sambil ikut menangis, lalu mengantarkanku ke tempat tetangganya yang orang Indonesia. Aku sangat malu, tetapi amat bersyukur karena telah selamat dari kekejian majikanku.

Beberapa hari di sana, aku diajak bertenang diri dengan sholat dan mengaji, diajari memasak dan membuat sedikit pernak-pernik dari pita. Lalu pak supir taksi penolong itu membawaku ke penampungan/ shelter di KBRI, supaya ada pertolongan pihak pemerintah untuk kepulanganku. Sungguh supir taksi yang baik hati, aku tidak perlu membayar ongkos katanya, padahal itu adalah perjalanan luar kota. Aku sangat terharu.

Aku tidak menyangka bahwa lebih banyak lagi teman di penampungan yang pengalamannya jauh lebih berat dari hal yang kualami, dan mujurnya aku hanya tiga bulan berada di rantau. Sedangkan banyak sahabat di penampungan yang tidak bisa pulang ke tanah air selama bekerja bertahun-tahun.

Dengan pertolongan pihak KBRI untuk menghubungi keluarga, aku kembali pulang, orang tua menjemputku di bandara tanah air. Alhamdulillah, meski tak ada uang sepeser pun, aku dapat mempraktekkan beberapa ‘pelajaran’ memasak dan merangkai pita-pita yang diajarkan sang ibu penolong. Kini aku membantu kerja di swalayan atas ajakan kakak sepupu di ibu kota Jakarta. Sesekali aku menerima tempahan cemilan dari teman-teman karyawan swalayan dan dapat membantu keperluan keluarga sehari-hari.

Satu pesan ustadzah yang berceramah di penampungan, menjadi peganganku saat berada di tanah air, “Bahwa ilmu yang berkah adalah ilmu yang bermanfaat, diamalkan dengan niat karena Allah, meskipun ‘di mata manusia’ itu hanya secuil ilmu…”

Walau telah berlalu, tiga bulan pengalaman berharga itu selalu menjadi ingatanku, harta yang hilang bisa dicari lagi, Alhamdulillah bukan harga diri yang melayang.

Memaknai Esensi Zakat (Bag-1)

Karunia Allah yang dilimpahkan kepada makhluk luar biasa besar. Meski sering tak disadari, anugerah itu meliputi segala aspek kehidupan, mulai dari yang fisik sampai nonfisik, mulai dari harta benda hingga kenikmatan yang tak kasat mata seperti kewarasan akal sehat, kesehatan, hingga iman seseorang. Tentang karunia berupa kekayaan, Allah melalui ajaran Islam mengajarkan manusia untuk tidak hanya menerima tapi juga memberi, tak hanya memperoleh tapi juga membagikannya. Di sinilah anjuran berzakat, berinfak, dan bersedekah menjadi relevan dalam agama.

Karena begitu pentingnya zakat, Islam sampai menjadikannya sebagai salah satu pilar pokok dalam berislam. Setiap umat Islam yang mampu wajib mengeluarkan zakat sebagai bagian dari pelaksanaan rukun Islam yang ketiga. Artinya, dalam urutan rukun Islam, zakat menempati deret rukun setelah shalat, ibadah yang paling ditekankan dalam Islam karena menjadi cermin dari praktik paling konkret penghambaan kepada Tuhan.

Al-Qur’an pun sering menggandengkan perintah zakat setelah perintah. Sedikitnya ada 24 tempat ayat Al-Qur’an menyebut shalat dan zakat secara beriringan. Contohnya sebagai berikut:

وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرْكَعُوا۟ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah [2]: 43)

وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا۟ لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 110)

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُمْ رَٰكِعُونَ

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (QS. Al-Ma’idah [5]: 55)

Hal ini menandakan bahwa shalat sebagai ibadah spesial seorang hamba dengan Allah tapi bisa terlepas dari keharusan untuk peduli pada kondisi masyarakat di sekitarnya. Dengan bahasa lain, umat Islam yang baik adalah mereka yang senantiasa memposisikan secara beriringan antara ibadah individual dan ibadah sosial.

Sayangnya, rata-rata tingkat kesadaran untuk berzakat seringkali lebih rendah daripada kesadaran untuk menunaikan shalat. Barangkali karena ada anggapan “hasil kerja sendiri” dari harta kita yang membuat zakat terasa berat. Belum lagi ditambah keinginan untuk menumpuk kekayaan sebanyak-banyaknya. Tertanam sebuah pikiran bahwa jika harta semakin banyak, maka semakin mudah dan enaklah kita menjalani hidup ini. Pandangan inilah yang kerap melengahkan banyak orang bahwa sebenarnya di dalam kelebihan harta kita ada hak orang lain yang sedang membutuhkan.

Jika demikian, orang-orang yang seharusnya berzakat namun tak menunaikan kewajibannya sama halnya memakan hak orang lain. Dalam konteks ini, lantas apa bedanya mereka dengan koruptor atau pencuri?

 

Mimpi Sufyan ats-Tsauri tentang Seorang Abid

Sufyan ats-Tsuri yang bermukim di Makkah selama tiga tahun suatu hari menyaksikan seorang pria penduduk setempat mengunjungi Masjidil Haram. Pria ini melaksanakan thawaf, sembahyang dua rakaat, lantas mengucapkan salam kepada ulama kelahiran Kufah itu, sebelum akhirnya pulang ke rumahnya.

Pristiwa ini yang ternyata rutin terjadi saban siang membuat Sufyan menaruh rasa kagum dan simpati kepadanya. Sufyan pun berulang kali mendatanginya hingga suatu saat pria ahli ibadah tersebut jatuh sakit dan seperti hendak menemui ajal.

Ia pun memanggil Sufyan ats-Tsauri dan berwasiat, “Apabila aku mati, mandikanlah aku dengan tanganmu sendiri, shalatkan, lalu kuburkan. Dan jangan kau tinggalkan aku sendirian di kuburan malam itu. Bacakan talqîn (tuntunlah) aku tentang tauhid dalam menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir.”

Sufyan yang bernama lengkap Sufyan bin Sa’id bin Masruq bin Habib bin Rafi’ bin Abdillah dikenal tak hanya sebagai ulama yang berpengetahuan sangat luas, tapi juga pribadi yang wara’, zuhud, dan teguh dalam memegang janji. Dan Sufyan mengiyakan semua pesan yang disampaikan sahabat karibnya tersebut.

Ketika pria ahli ibadah itu wafat, Sufyan mulai melaksanakan wasiat satu per satu, termasuk rela bermalam di sebelah kuburan sang sahabat. Dalam kesunyian itulah, ia memperoleh pengalaman spiritual yang tak disangka-sangka.

Menurut penuturan Sufyan ats-Tsauri sendiri sebagaimana direkam kitab an-Nawâdir karya Ahmad Syihabuddin al-Qalyubi, kala itu antara tidur dan terjaga, Sufyan tiba-tiba mendengar suara asing dari atas, “Wahai Sufyan, pria ini tak membutuhkan penjagaanmu, talqînmu, juga hiburanmu. Kamilah yang akan menghibur dan menuntunnya.”

“Dengan apa?”

“Dengan puasa Ramadhan yang disambung puasa enam hari pada bulan Syawal,” jelas suara itu.

Sufyan bangun, membuka mata dan tak ia dapati siapa pun di sekelilingnya. Ia berwudhu lalu menunaikan shalat. Saat tidur kembali, suara itu hadir lagi. Begitu seterusnya sampai berulang tiga kali. Sufyan pun mantap bahwa apa yang ia alami berasal dari Allah, bukan dari setan.

Ia lantas meninggalkan kuburan pria ahli ibadah tersebut dengan tenang dan berdoa, “Allâhumma waffiqnî li shiyâmi dzâlik bi mannika wa karamika, âmîn (Ya Allah, berikanlah aku taufiq untuk menjalankan puasa itu atas anugerah dan kemuliaan-Mu. Amin).”

Sabtu, 17 September 2016

Berdamailah dengan Masa Lalu

Apa engkau punya pengalaman yang menyakitkan?
Apa engkau sedih ketika mengingatnya?
Apa engkau ingin segera menghapus hal itu dalam ingatan?
Apa sudah bisa?

Masa lalu nan kelam atau pun menyakitkan memang terjadi bukan tersebab kemauan kita. Terkadang hal-hal tersebut malah datang untuk membuat dirimu menjadi lebih kuat, tentu ini merupakan skenario
Sang Khaliq. Apalah daya kita yang hanya sebatas berusaha? Apalah daya kita jika Allah telah berkehendak?

Banyak manusia kini mempunyai kebiasaan akut, yaitu melupakan. Kenapa kita harus menjadi lupa akan hal-hal di masa lalu yang seharusnya dikenang dan tersimpan apik dalam memori? Dengan mengutarakan hal ini saya sama sekali tak bermaksud untuk menyinggung perasaan, tetapi
sebagai saudara-saudari seiman sudah kewajiban untuk saling mengingatkan.

Mungkin kau pernah sangat ingin lupa atas kejadian sedih teramat dalam, lalu apakah kautahu? Hal itu malah menyebabkan kesakitan lebih daripadamu. Coba saja lupakan, namun kau akan jadi sering memikirkan.

Bila dibiarkan mungkin bisa stres, depresi, dan semacamnya. Tak maukan ketergantungan obat yang diberikan dokter jiwa itu? Pun harganya begitu wah, dua kali konsultasi dapat mencapai harga satu buah
handphone bermerek ternama. Tak percaya?

Ah, kita terkadang lupa bahwa itu ujian dari Allah, kita terkadang lupa bahwa itu dimaksudkan untuk menaikkan level iman kita.

Terimalah hal tersebut dengan lapang dada, agar kau ikhlas dan tenang jalani hidup…

Sebab hakikatnya masa lalu patut digenggam untuk menjadi penguat.

Berdamailah dengan masa lalu dan jadilah insan yang selalu berbahagia.

Tatap masa depan… Biarlah masa lalu melekat dalam memori hingga nanti.

Kamis, 15 September 2016

Mahar 2 Dirham

INILAH Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah, seorang tokoh ulama tabi’in. Amirul Mukminin Abdul Malik bin Marwan datang kepadanya melamar putrinya untuk putra mahkota, al-Walid bin Abdul Malik. Putrinya, ketika itu adalah wanita yang paling cantik dan paling sempurna, serta paling tahu (alim) dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Tetapi Sa’id bin al-Musayyib tidak ragu untuk meminta maaf (menolak) lamarannya, dan tetap bertahan kendati ia mendapat siksaan yang ditimpakan Abdul Malik kepadanya, hingga ia mencambuknya seratus cambukan. Hal itu karena al-Musayyib tahu sikap al-Walid yang kasar dan selalu memperturutkan hawa nafsu.

Sang alim yang mulia itu kembali ke Madinah, lalu diziarahi oleh Abdullah bin Abi Wada’ah, salah seorang muridnya. Lantas al-Musayyib bertanya tentang kondisinya hingga ia mengetahui bahwa istrinya telah meninggal.

Maka ia berkata kepadanya, “Tidakkah kamu mencari wanita lain?”

“Semoga Allah Ta’ala merahmati Anda, siapakah yang akan menikahkanku sedang aku tidak memiliki kecuali dua atau tiga dirham?” Jawabnya.

Sa’id berkata kepadanya, “Aku (yang) akan menikahkanmu.”

Dia bertanya, “Benar, Anda akan melakukannya?”

Ia berkata, “Ya.”

Lalu dia pun menikahkannya dengan putrinya dengan mahar dua atau tiga dirham.

Demikianlah, Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah lebih mengutamakan laki-laki yang fakir tapi bertakwa, yang memiliki kemampuan dalam agama di atas Amirul Mukminin yang kaya raya.

Tidak hanya sampai di situ, ketentraman dan keyakinannya pada agama laki-laki yang fakir itu sampai kepada seperti yang diceritakan tentangnya.

Abdullah bin Abi Wada’ah menuturkan, “Aku pun bangkit, sedang aku tidak tahu akan berbuat apa lantaran amat bahagia. Aku berjalan pulang ke rumahku dan mulai berpikir kepada siapa aku meminjam uang, dari siapa aku akan berhutang? Aku pun shalat Maghrib, lalu beranjak ke rumah.

Kunyalakan lampu, dan waktu itu aku sedang berpuasa. Aku menyegerakan makan malamku sebagai buka, yaitu berupa roti dan minyak. Tiba-tiba pintu rumahku ada yang mengetuk. Aku bertanya, ‘Siapa?’
Dia menjawab, ‘Sa’id…’

Aku mengingat-ingat setiap orang yang namanya Sa’id, maka tidak ada kecuali Sa’id bin al-Musayyib.

Yang demikian itu, karena ia tidak terlihat selama empat puluh tahun, kecuali (berada) di antara rumahnya dan masjid. Aku pun keluar untuk menemuinya, dan ternyata dia adalah Sa’id bin al-Musayyib. Aku mengira bahwa dia memiliki sebuah keperluan, saya berkata, ‘Wahai Abu Muhammad (yakni Sa’id al-Musayyib), sekiranya engkau mengirim utusan kepadaku (biar aku yang datang kepadamu).’

Dia berkata, ‘Tidak. Kamu lebih berhak untuk didatangi.’

Aku berkata, ‘Kalau begitu, apa yang engkau perintahkan?’

Ia berkata, ‘Sesungguhnya dahulu kamu seorang bujangan, maka kamu pun menikah. Aku tidak mau membiarkanmu malam ini tidur seorang diri. Ini istrimu.’

Ternyata ia berdiri di belakangnya. Kemudian ia mengambil tangannya dan mendorongnya ke pintu lalu menutupnya. Wanita itu jatuh lantaran malu. Aku menutup ulang pintu itu, lalu melangkah ke arah mangkuk tempat roti dan minyak. Aku meletakkannya di bayangan lampu agar ia tidak melihatnya. Kemudian aku naik ke loteng dan memanggil para tetangga. Mereka pun datang. Mereka bertanya, ‘Ada apa denganmu?’

Aku berkata, ‘Sungguh, aku telah dinikahkan oleh Sa’id bin al-Musayyib dengan putrinya hari ini, ia membawanya malam ini tanpa sepengetahuan orang.”

Mereka berkata, ‘Sa’id menikahkanmu?!’
Saya menjawab, ‘Ya.’
Mereka bertanya, ‘Sekarang (putri)nya di rumah ini?!’
Saya menjawab, ‘Ya.’
Mereka pun mendatanginya.

Berita itu sampai kepada ibuku. Dia pun datang seraya berkata, “Wajahku haram dari wajahmu, jika kamu menyentuh istrimu sebelum aku mengarahkannya sampai tiga hari.” Aku pun menunggu selama tiga hari, kemudian baru menggaulinya. Ternyata, dia termasuk wanita yang paling cantik, paling hafal Kitab Allah Ta’ala, paling alim dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan paling tahu hak suami. Aku tinggal selama sebulan, Sa’id tidak mengunjungiku dan aku pun tidak mengunjunginya. Baru setelah satu bulan, aku datang kepadanya di halaqah (majelis ta’lim)nya. Aku mengucapkan salam kepadanya, lalu ia menjawab salamku, dan ia tidak berbicara kepadaku hingga orang-orang yang ada di majelis itu telah bubar.

Dia bertanya, ‘Bagaimana keadaan orang itu (maksudnya putrinya)?’
Aku menjawab, ‘Baik, wahai Abu Muhammad. Sebagaimana yang dicintai teman, dan dibenci oleh musuh.”

Dia berkata, ‘Jika ada yang meragukanmu darinya, maka jangan sampai kamu memukul.’
Aku pun pulang ke rumahku, dan dia mengirimkanku uang dua puluh ribu dirham.”

Betapa besar ketentraman sosok tabi’in mulia itu akan masa depan (nasib) putrinya, sampai-sampai ia tidak berpikir untuk menanyakan detail keadaannya, lantaran ketentramannya bahwa dia berada di sisi laki-laki bertakwa, yang takut kepada Allah Ta’ala, tahu hak-haknya atas dirinya dan juga kedudukannya dari dirinya.

Kisah Pemuda Penantang Allah dan Sepiring Makanan

KERAGUAN yang dimiliki oleh seorang pemuda membuat dirinya tak percaya bahwa Allah maha menguasai dan maha mengatur hambanya. Pemuda itu menantang Allah dengan mengatakan bahwa Allah tidak akan bisa membuatnya makan jika dirinya tidak mau makan. Untuk itu, ia membiarkan dirinya dalam keadaan lapar seharian.

Melihat tingkah anaknya, sang ibu berusaha membujuk agar pemuda itu mau menyantap masakannya. Bukannya menuruti apa yang dipinta sang ibu, pemuda itu justru mengisolasi dirinya dengan memanjat pohon yang berada depan rumahnya. Dengan penuh kasih sayang, ibunya meninggalkan makanan lezat di bawah pohon. Tujuannya agar anaknya menyerah dan kembali untuk makan.

Hingga larut malam, pemuda itu masih bersikeras tidak mau makan. Lalu, lewatlah sekelompok perampok. Mereka melihat sepiring makanan lezat ditempatkan di bawah pohon. Para perampok itu saling memandang keheranan. Mereka berpikir, mungkin ada seseorang yang hendak menjebak mereka dengan menaruh racun di dalam makanan yang disimpan di bawah pohon itu.

Tak ada siapapun di sekeliling pohon itu. Lalu, tatkala salah satu perampok melihat pemuda penantang Allah tadi berada di atas pohon, dipaksalah pemuda itu turun. Dengan wajah ketakutan ia turun mendekati para perampok. Setelah berada di bawah bersama mereka, para perampok itu menyuruh si pemuda untuk mencicipi makanan. Mereka ingin mengetahui apakah sepiring makanan lezat itu ditaruh racun atau tidak.

Pemuda itu menolak. Ia tak mau memakan makanan itu. Para perampok semakin curiga bahwa makanan tersebut adalah jebakan untuk mereka. Lalu dipukullah pemuda tadi agar mau menyantap makanan itu. Karena kesakitan, pemuda tersebut akhirnya menyerah dan mulai makan. Melihat bahwa makanan itu tidak beracun, para perampok meninggalkannya dan berlalu begitu saja. Akhirnya, pemuda itu mengakui bahwa “Allah Maha Menguasai dan Mengatur atas segala sesuatu!”

Kautahu Dek, Nikmat Kebersamaan Ini Tidak Semua Orang Punya

JANGAN terlalu lama melihat ke atas Dek, karena akan terasa pegal ketika kau tertunduk Nanti. Bisa-bisa leher menjadi kaku, kalau sudah begitu kau bilang ini salah bantal. Padahal itu salahmu sendiri berlama-lama mendongak ke atas. Sebenarnya apa yang kau lihat dari bawah sini? Kebahagiaan orang lain?

Bukankah setiap kali kau lihat itu tetap sama? Lalu kenapa masih kau kunci posisi lekukan antara kepala dan lehermu itu? Melihat ke atas tak akan pernah ada habisnya, esok kau ingin melihat yang lebih tinggi lagi. Sampai kapan? Langit pun berlapis tujuh. Semua itu tidak akan pernah berakhir bila kau masih sibuk membanding-bandingkan.

Sesekali melihat ke bawah Dek! Agar tidak terjatuh saat batu menghalangi jalanmu. Bukan hanya batu, tapi kesyukuran kecil yang harus kau temukan saat merundukkan kepalamu sejenak. Sejenak saja, sampai hatimu yang melihat sendiri, bahwa hidupmu lebih layak disyukuri dari kebahagiaan semu milik orang lain.

Jika rezeki hanya cukup untuk makan, maka lihatlah mereka yang kekurangan makan. Jika merasa rumah kita kurang nyaman, maka lihatlah mereka yang tidur di emper pertokoan. Jika merasa hidup kita pas-pasan, maka lihatlah mereka yang terlilit hutang.

Ketika kita hanya bisa membeli sepeda motor, maka lihatlah mereka yang masih mengayuh laju sepedanya dengan keringat. Ketika kita hanya mampu membeli sepeda, maka lihatlah mereka yang berpergian hanya dengan berjalan. ketika berjalan harus memakai alas dan kau hanya bisa memakai sandal, maka lihatlah mereka yang tak bisa menggunakan alas kakinya karena tidak bisa berjalan.

Sekarang coba kautatap semangkuk es buah ini, segar bukan? Mari kita santap bersama, sudah kubawa 4 sendok untuk kita bagi bersama. Jangan cemberut ketika ayah hanya bisa membelinya satu, tapi harus dibagi untuk anaknya yang tidak satu. Kau tahu Dek, nikmat kebersamaan ini yang tidak semua orang punya. Mari bersyukur.

Firman Allah SWT : “ Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambahkan nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.s. Ibrahim : 7).

Ketika Allah Utus Jibril Jadi Lelaki Rupawan pada Maryam

SEORANG Seorang Ayah bercerita kisah teladan sekaligus menasihati anak gadis bungsunya ketika sedang duduk di depan teras rumah tentang seorang perempuan suci.

Kurang lebih ceritanya seperti di bawah ini.

“Nak, kamu tahu salah satu kisah Maryam?” ayah bertanya kepada anak bungsunya.

“Kisah yang mana, Yah?” anaknya balik bertanya dengan nada antusias, karena memang dari dulu ketika bapak berkisah anaknya sangat menyukainya.

Setelah itu ayah memandangi anak tersebut dengan senyuman dan menyeruput kopi kemudian langsung berkisah.

“Maryam adalah seorang perempuan suci yang memurnikan cintanya hanya kepada Allah.

“Maryam terlihat di luar rumah ketika benar-benar dalam keadaan mendesak.

“Pernah baca kisahnya tentang ketika Allah mengutus Jibril alaihissalam dalam bentuk laki2 yang rupawan, gak?
Apa reaksi Maryam?

“Yah, beliau berlindung dari ketampanan Jibril kepada Allah Sang Pemberi keselamatan.

“Apa alasannya kok hanya bertemu laki-laki, reaksinya berlebihan?” tanya si anak.

“Alasannya yah itu tadi, Nak, beliau tidak ingin cinta kepada Tuhannya terbagi.”

Ma syaa Allaah.

Bagaimana dengan keadaan kita sekarang?

Lihat cowok tampan dikit saja, wow… reaksinya itu loh. You know me lah, yah?

Berlindunglah kepada Allah. Karena Allah-lah sebaik-baik pelindung.

Selasa, 13 September 2016

Kita dan Aib

SESEORANG yang besar (hebat, baik) sebenarnya tidaklah begitu hebat. Ia besar dan hebat oleh sebab Allah yang menjadikannya besar dan baik, salah satu caraNya dengan cara menutup aib orang yang kita anggap besar, hebat dan baik itu.

Sudah sekian kali, atau beribu kali kita temukan aib diumbar, baik di media cetak maupun daring. Dan beribu-ribu kali juga kita menikmati santapan sajiannya, “dengan begitu nikmat”.

Satu demi satu, aib-aib pembesar tampil di muka publik. Masa lalu, masa kelam, dikupas kembali seolah baru saja terjadi. Selain Rasul dan Nabi Allah, siapa yang luput dari dosa. Dosa yang juga aib.

Disaat kita ingin melupakan kepedihan masa-masa kelam yang pernah kita lalui, maka disaat yang sama orang lain mencoba mengupas-upas kejadikan itu. Mereka menikmati uraian-uraian kepahitan sebagai santapan yang begitu lezat. Baik demi alasan uang, ketenaran, atau mungkin hanya sekedar penikmat waktu luang. Yang pasti, kepedihan kita merupakan kenikmatan bagi sebagian orang. Baik bagi mereka yang terlibat dalam cerita dan pengalaman pahit itu, atau mereka si penjual cerita, bisnis, atau orang yang tidak ada hubungan dan keperluan sekalipun.

Menonton jual beli aib di sebuah stasiun TV kemarin benar-benar membuat saya miris dan takut setengah mati. Dari pembesar sampai orang orang kecil pun turut bergulat dengan takdir seorang yang terhimpit. Mereka (atau mungkin kita?) merayakan apa yang disebut “tebar aib”.

Dan saya pun kini kian takut. Takut kalau-kalau Allah menampilkan aib kita dipersimpangan jalan yang tak pernah terduga, dan dipenghujungnya aib itu menjadi santapan penjual cerita.

Dan saya berlindung kepada Allah dari hal itu.

Khutbah Ied tadi pagi rupaya kembali mencolek pikiran saya diatas itu. Katanya, media telah berhasil menyebarkan kebaikan dan juga keburukan. Bahkan lebih dari itu, media pun mampu menjungkirbalikkan kebaikan menjadi fitnah dan sebaliknya. Dan media itu salah satunya berada dalam jemari kita, ialah ibu jari.

Dahulu seorang hamba di jaman Nabi Musa a.s. keluar atas panggilan Nabil Allah itu. Lalu ia berkata, “Ya Allah, aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahun, dan selama itu pula, Engkau menutup aib ku, maka aku bertaubat dan memohon ampunanMu”.

Lalu Allah menyampaikan cintanya kepada orang itu melalu Musa a.s. FirmanNya, “Ya Musa, Aku tidak membuka ‘aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku, apakah Aku membuka ‘aibnya sedangkan ia taat kepada-Ku?”

Dalam kisah lain, seorang pemuda yang pernah berzina datang kepada Khalifah Umar r.a. Ditanyakan kepada sang khalifah, apakah perlu ia menyampaikan kisah kelamnya kepada calon istri cantiknya itu. Khalifah hanya menjawab, tutuplah aib mu sebagaimana allah telah menutup aib dirimu hingga hari ini.

Sahabat, tutuplah aib diri mu. Lakukanlah dengan menutup aib saudaramu. Jaga ibu jarimu dari hal itu.

Akhirul kalam, selamat merayakan Iedul Adha. Sila menikmati santapan daging telah dikurbankan. Pastikan kita tidak memakan daging saudara kita sendiri.

Semoga Allah menjaga dan menutup aib diri kita, didunia dan diakhirat kelak. Aamiin.