Tampilkan postingan dengan label Shukur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shukur. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 September 2016

Kisah Pemuda Penantang Allah dan Sepiring Makanan

KERAGUAN yang dimiliki oleh seorang pemuda membuat dirinya tak percaya bahwa Allah maha menguasai dan maha mengatur hambanya. Pemuda itu menantang Allah dengan mengatakan bahwa Allah tidak akan bisa membuatnya makan jika dirinya tidak mau makan. Untuk itu, ia membiarkan dirinya dalam keadaan lapar seharian.

Melihat tingkah anaknya, sang ibu berusaha membujuk agar pemuda itu mau menyantap masakannya. Bukannya menuruti apa yang dipinta sang ibu, pemuda itu justru mengisolasi dirinya dengan memanjat pohon yang berada depan rumahnya. Dengan penuh kasih sayang, ibunya meninggalkan makanan lezat di bawah pohon. Tujuannya agar anaknya menyerah dan kembali untuk makan.

Hingga larut malam, pemuda itu masih bersikeras tidak mau makan. Lalu, lewatlah sekelompok perampok. Mereka melihat sepiring makanan lezat ditempatkan di bawah pohon. Para perampok itu saling memandang keheranan. Mereka berpikir, mungkin ada seseorang yang hendak menjebak mereka dengan menaruh racun di dalam makanan yang disimpan di bawah pohon itu.

Tak ada siapapun di sekeliling pohon itu. Lalu, tatkala salah satu perampok melihat pemuda penantang Allah tadi berada di atas pohon, dipaksalah pemuda itu turun. Dengan wajah ketakutan ia turun mendekati para perampok. Setelah berada di bawah bersama mereka, para perampok itu menyuruh si pemuda untuk mencicipi makanan. Mereka ingin mengetahui apakah sepiring makanan lezat itu ditaruh racun atau tidak.

Pemuda itu menolak. Ia tak mau memakan makanan itu. Para perampok semakin curiga bahwa makanan tersebut adalah jebakan untuk mereka. Lalu dipukullah pemuda tadi agar mau menyantap makanan itu. Karena kesakitan, pemuda tersebut akhirnya menyerah dan mulai makan. Melihat bahwa makanan itu tidak beracun, para perampok meninggalkannya dan berlalu begitu saja. Akhirnya, pemuda itu mengakui bahwa “Allah Maha Menguasai dan Mengatur atas segala sesuatu!”

Selasa, 13 September 2016

Ketika Tetangga Punya Handpone Baru

SENANGNYA tetanggaku saat dia dapat rezeki untuk membeli handpone baru. Kemudian dia menanyakan beberapa hal yang tidak dimengerti kepadaku tentang ponselnya. Aku dengan senang hati memberikan pengarahannya, kemudian dalam hati terbesit, ‘Ya Allah kapan ya aku punya handpone seperti ini?’

Ah rupanya telah hilang rasa syukurku saat berpikir seperti itu, bahkan handpone yang masih ditangan ini belum berusia lanjut (jadul). Kulihat kembali ponsel ini, aplikasinya tidak kalah baru dengan tetanggaku, menu panggilan dan pesannya masih bisa digunakan, jaringan internet sudah 3G. Lalu masih saja merasa kurang atas apa yang kupunya. Selama masih berfungsi, untuk apa diganti yang baru? Rupanya gengsi yang membuat syukurku runtuh. Dan berpikir lagi tentang kebutuhan bukan keinginan yang tidak ada habisnya.

Harusnya aku tidak melihat ke atas saja, bukankah rumput tetangga tak selalu hijau? Tapi sisi buruk manusiaku lebih besar dari pada kebaikannya. Andai saja jika aku sesekali melihat ke bawah, betapa banyak kesyukuran yang akan aku ucapkan nanti. Ketika tetangga punya handpone baru, bersyukurlah kita punya handpone meski bukan keluaran terbaru.

Lihatlah mereka yang tidak memiliki handpone, untuk membelinya saja sulit. Lalu bagaimana jika kita tidak memiliki handpone? Maka lihatlah mereka yang tidak bisa memainkan handpone, karena masalah pengelihatan atau kekurangan fisik sehingga tidak bisa menggenggam handpone.

Semoga ketika kita berhadapan pada situasi serupa, kita bisa merubah keinginan menjadi doa. Ketika berharap seperti ini “Ya Allah kapan ya aku punya handpone baru?” Maka dengan sadar kita merubahnya menjadi kalimat doa seperti ini “Ya Allah semoga aku bisa seperti tetanggaku.”

Bukankah Allah akan memperkenankan harapan orang yang berdoa? Bukankah mengeluh itu berarti mengingkari nikmat Allah? Rumput tetangga tak selalu hijau, maka hijaukan rumput sendiri dengan pupuk kesyukuran. Sedikit apapun akan menghijaukan.