Tampilkan postingan dengan label nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nabi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Maret 2016

Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis

Nabi Sulaiman adalah seorang nabi dan raja yang saleh. Allah memberi mukjizat kepadanya sehingga dapat memahani bahasa binatang dan menundukkan bangsa jin. Beliau sangat berwibawa dan ditakuti semua anak buahnya.

Suatu ketika, Nabi Sulaiman mengumpulkan seluruh tentaranya yang terdiri dari manusia, binatang, dan para jin. Mereka semua berkumpul memenuhi undangan sang Raja di balairung. Semua jenis binatang, besar dan kecil datang menghadiri pertemuan itu. Setelah semua diperiksa, maka Nabi Sulaiman mengetahui bahwa burung Hud-hud ternyata tidak hadir.

Sebenarnya burung hud-hud ini adalah mata-mata pasukan Nabi Sulaiman, yang bertugas mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang apa saja yang patut diketahui oleh Nabi Sulaiman. Melihat keterlambatan burung hud-hud ini, Nabi Sulaiman terlihat agak jengkel sambil bertanya,”Di manakah burung Hud-hud, mengapa belum kelihatan. Padahal tugasnya sangat penting, yakni mencari sumber mata air baru.” Melihat hal ini, semua pasukan yang hadir tidak berani menjawab.

Manakala Raja Sulaiman berhenti bicara, tiba-tiba burung Hud-hud datang. Tampaknya ia habis terbang jauh dan dengan kecepatan tinggi, hingga ia tersengal-sengal.

“Wahai Hud-hud, tidakkah kau sadari kesalahanmu. Apakah kau tidak tahu kalau sekarang aku mengadakan pertemuan? Tapi kau datang terlambat!”

“Ampun baginda raja. Sesungguhnya aku baru saja mengadakan perjalanan jauh sampai ke suatu negeri yang engkau tidak pernah mengetahuinya. Negeri ini bernama kerajaan Saba’. Kerajaan ini diperintah oleh seorang wanita. Keadaan negeri ini sangat makmur. Namun sayang, mereka menyembah matahari,” kata burung hud-hud menceritakan pengalamannya.

Tetapi Raja Sulaiman tidak serta merta mempercayai kabar tersebut. Untuk membuktikan kebenaran dari ucapan burung hud-hud, Nabi Sulaiman menuliskankan surat, dan meminta burung hud-hud untuk mengirimkannya kepada sang ratu penguasa negeri Saba yang bernama Balqis. Karena untuk bisa sampai ke negeri Saba. burung hud-hud harus menerjang hembusan angin yang sangat kencang, maka burung hud-hud meminta kepada Raja Sulaiman untuk membungkus surat itu dalam sampul emas yang tahan terhadap angin. Dan akhirnya terbanglah burung hud-hud menuju negeri Saba.

Tibalah burung hud-hud di negeri Saba. Sesampainya di sana, diam-diam burung hud-hud menjatuhkan surat itu tepat mengenai kepala sang ratu hingga membuatnya terbangun. Ia membuka sampul surat itu dan membacanya.

“Surat ini dari Sulaiman dan sesungguhnya surat berbunyi,’Dengan Nama Allah, Maha Pemurah dan Maha Penyayang.’ Bahwa janganlah kamu sekalian sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (QS An-Naml: 30-31).

Itulah kalimat awal pembuka yang ditulis Sulaiman. Selanjutnya sang Raja menambahkan untuk mengajak ratu Balqis untuk masuk Islam dan menghentikan cara ibadah menyembah matahari. Setelah membaca surat itu, Ratu Balqis mengadakan pertemuan dengan para menterinya, untuk membicarakan bagaimana menghadapi sikap raja lain yang berani mencegah kerajaan Saba’ menyembah matahari. Semua itu diperhatikan oleh burung hud-hud tanpa tertinggal sedikitpun, dan ia jadikan sebagai bahan laporan untuk Raja Sulaiman.

Kembalilah burung hud-hud ke Sulaiman. Melihat burung hud-hud kelelahan akibat terbang dalam jarak jauh, Nabi Sulaiman pun menjulurkan tangannya sehingga burung hud-hud bisa hinggap di tangan Nabi Sulaiman. Beliau kemudian berkata,”Hai hud-hud, sampaikanlah laporanmu kepadaku!”

Kemudian burung hud-hud menceritakan semuanya dari mulai sang ratu membuka surat hingga mengumpulkan semua menterinya untuk membicarakan langkah apa yang akan diambil sehubungan surat Nabi Sulaiman tersebut. Sang ratu meminta saran yang terbaik dari para menterinya. Rupanya sang ratu merasa khawatir, bila Sulaiman beserta bala tentaranya akan menyerang negeri Saba. Untuk itu, Ratu Balqis berkeinginan untuk mengirimkan seorang utusan kepada Nabi Sulaiman sambil membawa hadiah-hadiah yang menarik. Mendengar cerita hud-hud, Nabi Sulaiman pun tersenyum.

Akhirnya utusan dari negeri Saba pun pergi ke kerajaan Sulaiman. Utusan itu disambut dengan ramah tamah oleh Nabi Sulaiman. Setelah mendengar uraian utusan itu, maka Raja Sulaiman pun berkata,”Kembalilah kamu dengan hadiah-hadiah ini kepada ratumu. Katakanlah kepadanya bahwa Allah telah memberiku rezeki dan kekayaan yang melimpah ruah dan mengaruniaiku nikmat yang tidak diberikan kepada makhluk-Nya yang lain. Selain itu aku telah diutus sebagai nabi dan rasul-Nya dan dianugerahi kerajaan yang luas serta kekuasaanku meliputi jin dan binatang-binatang.”

Utusan Ratu Balqis segera kembali ke negerinya dan langsung menemui ratunya. Sementara sang Ratu terperanjat mendengarkan cerita tentang kerajaan Sulaiman dan utusannya. Diam-diam Ratu Balqis sangat ingin melihat dari dekat bagaimana kerajaan Sulaiman.Dalam hatinya ingin menaklukkan dan menguasai kerajaan itu.

Pada saat yang ditentukan, Ratu Balqis membawa laskarnya yang terpilih. Mereka berangkat menuju kerajaan Sulaiman. Sementara itu mata-mata kerajaan Sulaiman yang terdiri dari para jin memberitahukan kepada sang raja bahwa tak lama lagi Ratu Balqis akan datang bersama laskar pilihannya. Maka Raja Sulaiman mengumpul para jin dengan maksud memberi tugas penting.

“Siapa yang bisa memindahkan singgsana Ratu Balqis?” tanya Nabi Sulaiman. “Saya sanggup memindahkannya, sebelum Tuan berdiri dari tempat duduk,”jawab jin Ifrit. “Kalau saya sanggup memindahkannya sebelum mata Tuan berkedip,” kata orang saleh dari kaum Nabi Sulaiman. Pada saat itu juga singgasana Ratu Balqis sudah berada di depan Nabi Sulaiman. Melihat hal itu, Nabi Sulaiman langsung bersungkur sujud dan bersyukur kepada Allah atas kekuasaan Allah yang telah diperlihatkan kepadanya.

Beliau pun memerintahkan bangsa jin untuk membangun sebuah istanaa yang sangat indah. Lantainya terbuat dari kristal bening. Dindingnya dari kayu cendana yang harum. Atapnya terbuat dari kaca sehingga cahaya matahari dapat dibiaskan menjadi tujuh warna. Beliau memerintahkan agar pembangunan istana itu diselesaikan sesegera mungkin sebelum Ratu Balqis datang.

Tak lama kemudian, tibalah Ratu Balqis di kerajaan Sulaiman. Ia menyarankan agar para laskar yang mengawalnya cukup berhenti di luar kota untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Ratu Balqis hanya dikawal beberapa orang pembesar memasuki istana Raja Sulaiman. Ia benar-benar takjub dengan kemegahan dan kemewahan kerajaan tersebut. Berkali-kali mulutnya berdecak kagum dan kepala bergeleng-geleng. Ratu Balqis dipersilahkan duduk di singgasana yang telah dipersiapkan.

“Wah, rasanya seperti singgasana di kerajaanku?” gumam Balqis terkagum-kagum. “Benarkah?”, tanya Raja Sulaiman. “Ya, ini benar-benar persis seperti singgasanaku.”

“Ketahuilah bahwa singgasana ini memang benar-benar milikmu. Singgasana ini kupindahkan ke mari sebelum engkau datang,” Nabi Sulaiman menjelaskan.
Ratu Balqis semakin heran dengan kemukjizatan Sulaiman. Akhirnya di saat itulah dia menyatakan beriman kepada Allah dan meninggalkan cara lama, yakni kebiasaan menyembah matahari.

Mendengar pernyataan ini, Raja Sulaiman senag hatinya. Ia lalu mengajak Ratu Balqis berkeliling-keliling istana. Lagi-lagi ratu dibuat takjub ketika memasuki lantai kaca yang dikiranya air, sehingga ia buru-buru mengangkat gamis (baju panjangnya).

“Tak usah mengangkat gamismu, ini bukan air, tetapi hanya lantai kaca” kata Sulaiman sambil tersenyum. Semenjak itulah antara kerajaan Saba dan kerajaan Sulaiman bekerja sama dengan baik, karena seiman/seagama. Ratu Balqis mengharuskan rakyatnya memeluk agama nabi Sulaiman Alaihis Salam (Islam). Akhirnya Ratu Balqis yang cantik itu pun diperistri oleh Nabi Sulaiman, dan kerajaan dijadikan satu.

Sumber : anaksaleh[dot]com/kisah-islami/cerita-al-quran/48-kisah-nabi-sulaiman-dan-ratu-balqis.html

Kamis, 25 Februari 2016

Salah Satu Hikmah Dari Kisah Nabi Musa AS

Salah satu sosok individu di dalam Al-Quran yang membuat saya tertarik adalah Nabi Musa AS. Kisahnya disebutkan di beberapa bagian dalam Al-Quran. Dalam tulisan ini terdapat kisah yang ingin saya bagi dengan anda dimana kisah tersebut terdapat dalam surat ke-20 Al-Quran, yaitu surat Thaha.

Dikisahkan bahwa Musa AS sedang dalam perjalanan dengan keluarganya. (20:9) وهل اتاك حديث موسى . Yang artinya : “Apakah telah sampai padamu kisah Musa ?”. Ini adalah cara yang mengagumkan untuk memulai cerita dimana kata حديث dalam bahasa arab berarti “sesuatu yang baru”. Allah SWT ingin menunjukkan suatu bagian dari kisah nabi Musa AS yang belum pernah diceritakan sebelumnya.

(20:10) اذ راى نارا فقال لاهله امكثوا اني انست نارا لعلي اتيكم منها بقبس او اجد على النار هدى
“Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: ‘Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu.'”. Secara logika bisa kita bayangkan beberapa orang berjalan bersama-sama dalam keadaan gelap gulita, kemudian ada api di atas gunung. Siapa kira-kira yang bisa melihat api tersebut ? Tentu semua orang bisa melihatnya. Akan tetapi kalimat di dalam ayat tersebut adalah امكثوا اني انست نارا yang artinya “Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api”. Tata bahasa (Grammar) tersebut menunjukkan bahwa hanya Musa AS yang bisa melihat api itu. Karena اني digunakan dalam bahasa arab untuk meyakinkan seseorang akan sesuatu (benda / kejadian). Mengapa bisa begitu ? Karena Allah membuat api tersebut agar hanya Musa AS saja yang bisa melihatnya. Pertemuan ini Allah atur khusus untuk Musa AS.

Kemudian Musa AS menaiki gunung tersebut dengan sedikit terburu-buru karena dia sedang meninggalkan keluarganya di tengah padang pasir yang gelap. (20:11) فلما اتاها نودي يا موسى yang artinya “Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: ‘Hai Musa'”. Bisa kita bayangkan ketika kita berusaha susah payah memanjat gunung lalu ada suara yang memanggil nama kita. Sudah pasti kita terkejut dan sedikit ketakutan. Begitu pula nabi Musa AS.

Lalu apa yang pertama kali dikatakan Allah ? (20:12) اني انا ربك فاخلع نعليك انك بالواد المقدس طوى “Sesungguhnya aku ini Tuhanmu, maka tinggalkanlah kedua terompahmu, sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa”. Ini adalah fenomena yang menarik dimana kepada Rasulullah Muhammad SAW, Allah memberikan perintah, baru kemudian menyebutkan “Aku ini Tuhanmu”. Akan tetapi kepada nabi Musa AS, Allah menyebutkan “Aku ini Tuhanmu”, baru kemudian memberikan perintah “maka tinggalkanlah terompahmu”. Dan sekarang Musa AS menjadi sedikit kebingungan serta merasa berada di tempat yang salah. Tetapi Allah SWT memastikan dia ada di tempat yang benar.
(20:13) وانا اخترتك فاستمع لما يوحى “Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu)”.

Ayat tersebut cukup menarik karena dalam bahasa arab, kata اخترتك berati “Aku telah memilihmu”. Sedangkan Allah SWT berkata وانا اخترتك . Jadi kata “Aku” disebutkan dua kali. Tujuan penyebutan subjek sebanyak dua kali dalam bahasa arab adalah untuk menciptakan ke-khusus-an atau ke-eksklusif-an. Bisa disimpulkan bahwa datangnya Musa AS ke puncak gunung bukanlah kemauan Musa AS sendiri, tetapi karena Allah lah yang membuat dia (Musa AS) datang ke puncak gunung tersebut. Ini sepenuhnya sudah Allah rencanakan sebelumnya.

Kemudian ada kata إخْتِيَارٌ. Dimana kata tersebut berasal dari kata خير yang artinya bagus / baik. Allah secara khusus menggunakan kata tersebut memilih sesuatu yang baik. Para ulama mengatakan bahwa Musa AS dalam keadaan merasa bersalah telah membunuh suatu individu / orang. Dia tidak bisa melupakan itu dan merasa dirinya tidak baik. Akan tetapi Allah bisa melihat kebaikan dalam diri Musa AS meskipun dia tidak bisa melihat kebaikan dalam dirinya sendiri. Dan Allah kemudian mengatakan فاستمع لما يوحى “Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu)”.

Sumber : Lessons from the Story of Musa (as) by Nouman Ali Khan