Tampilkan postingan dengan label kaijan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kaijan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 September 2016

Namanya Hanif, dan Dia Membuat Allah Membantuku

AKU punya sahabat namanya Hanif. Orangnya lugu dan sering dijahili teman-teman sekelas. Jadi bahan ledekan, bahkan tak jarang barangnya diminta yang lain seenaknya. Tapi hebatnya, Hanif tetap baik kepada semua, tetap rela berbagi dengan yang lain, tetap senang membantu mereka, bahkan ketika ada yang membutuhkan bantuannya, ia akan denga sigap membantunya, tanpa pandang bulu, walaupun mereka ialah orang yang mem-bully-nya

Kadang rasanya gemas melihat bagaimana ia memperlakukan dan diperlakukan orang lain. Serasa ingin bilang “Nif, jangan terlalu baik. Dunia ini keras.” Tapi kadang ku merasa, apa salahnya menjadi baik? Toh tidak ada yang rugi.

Terkadang berkesan bahwa ia adalah orang yang mau disuruh-suruh. Setiap orang yang meminta bantuannya, pasti ia ladeni. Bahkan ketika ia sedang kesusahan, ia tetap membantu orang lain. “Nif, tolong beliin minum dong”, “Nif, bisa tolong print handout ini gak?”, “Panggil gurunya gih, Nif” dan setiap hari pasti ada saja perintah-perintah lain padanya.

Pernah suatu hari, esoknya kita akan ulangan yang gurunya terkenal susah sekali. Seakan tidak ada “celah kabur” dari remedial. Kalau tidak belajar, ya sekian. Hanif sehari sebelumnya penuh dengan ‘membantu orang lain’. Sampai malam pun ia belum sempat belajar, hingga esoknya pun ia kesiangan dan hanya belajar sedikit. Tapi anehnya, nilainya tertinggi di kelas, dan semua yang ia pelajari keluar. Dan itu tidak sekali, sering. Seakan guru tau apa yang ia pelajarinya dan hanya mengeluarkan soal dari apa yang ia pelajari

Kadang ku iri. Hanif tidak pernah ditimpa hal buruk. Nilainya selalu bagus, banyak yang menyukainya, banyak yang mau menolongnya, keluarganya penuh kebahagiaan, teman-temannya baik, banyak perempuan yang tertarik dengannya. Banyak sekali hal baik yang seakan menyertainya. Bahkan hingga kuliah sekarang, seakan masalah malas untuk menempel padanya. Hidupnya mungkin tidak ada yang ‘WOW’ tapi penuh dengan kebahagiaan.

Aku tidak paham, kenapa hidupnya bisa begitu mudah. Ketika kutanya padanya, ia pun bingung dan cengengesan. Pada saat itu gemas ku terlampiaskan secara nyata dalam bentuk cubitan.

Hingga suatu hari, ku sadar, ketika ku melihat suatu hadits.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang membantu menghilangkan satu kesedihan (kesusahan) dari sebagian banyak kesusahan orang mukmin ketika didunia maka Allah akan menghilangkan satu kesusahan (kesedihan) dari sekian banyak kesusahan dirinya pada hari kiamat kelak. Dan barangsiapa yang memberikan kemudahan (membantu) kepada orang yang kesusahan, niscaya Allah akan membantu memudahkan urusannya didunia dan di akhirat. Dan barangsiapa yang menutup aib orang muslim , niscaya Allah akan menutup aibnya dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan selalu menolong seorang hamba selama dia gemar menolong saudaranya.” (HR. Muslim)

Saat itulah aku sadar bahwa selama ini, Allah lah yang turun tangan atas masalah temanku ini.

Dia membantu orang lain, dan Allah pun menepati janji-Nya dengan menolongnya. Pernah Allah ingkar? Tidak. Dia menjanjikan bahwa ketika kita menolong orang lain, Dia akan menolong kita. Menurutmu, kalau Dia sudah berada di pihak kita, urusan seperti apa yang tidak mungkin terselesaikan? Entah bagaimana pun caranya, Dia yang akan mengatur. Kita tak perlu pusing memikirkan. Mudah, bukan?

Tapi faktanya, banyak yang ragu akan pertolongan Allah itu. Banyak yang berkata “Aku percaya kok” tapi hanya di mulut. Dalam praktiknya, ketika sedah kesusahan, jangankan memikirkan kesusahan orang lain, saat itu yang dipikiran kita hanya masalah pribadi kita saja. Padahal, ‘kunci jawaban’ dari masalah yang kita hadapi sudah Allah berikan. Tolong orang lain. Berikan pertolongan pada yang kesusahan, dan bantuan dari-Nya pun akan turun kepada kita.

Hanif, bahkan sebelum ia punya masalah, sudah membantu orang lain, sehingga ketika masalah datang, pertolongan Allah sudah siap sedia.

Sungguh aku bahagia punya teman sepertinya yang bukan mengajarkan kebaikan saja, tapi mencontohkannya, sehingga muncullah hikmah dari apa yang ia lakukan.

Hingga sekarang, ketika ku butuh bantuan, aku selalu memakai cara ini, dan selalu berakhir baik. Sekarang aku justru senang ketika aku susah dan ada yang meminta bantuanku, karena ku yakin bahwa Allah akan membantuku, dan aku pun merasa lega karena-Nya.

Jadi jika ada yang berkata “Gak papa nih? Urusanmu gimana? Kan sibuk” aku dapat menjawab “Biar Allah yang ngurus”.

Tak Sebatas Rindu (3-Habis)

Mereka itu adalah saudara-saudaraku dan mereka bersama denganku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku dan beruntung juga mereka yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak pernah melihatku.”

Subhanallah, pembaca yang dimuliakan Allah Swt, kitakah orang-orang yang disebut Rasulullah Saw sebagai saudara-saudaranya dan yang dirindukannya itu? Layakkah kita berharap dirindukannya padahal kita sendiri tidak merindukannya kecuali kerinduan formalitas dan ala kadarnya (ala kobernya).

Pantaskah kita dirindukannya, sedang kita lebih memilih diam tak berdaya ketika Rasulullah Saw dihina, dikarikaturkan, tuntunannya diabaikan (dipakai sekedar untuk ritual keagamaan, dicampakkan dalam kehidupan sosial masyarakat dan bernegara), padahal sesungguhnya kita diberi kesehatan dan kecerdasan sehingga mampu bergerak dan membedakan mana yang mengajak kebaikan mana menjerumuskan pada kesesatan. Kita lebih mendukung pendapat orang-orang sombong yang berkata Ayat-ayat Konstitusi harus berada di atas Ayat-ayat Suci, sebaliknya kita justru membenci orang-orang yang berani melakukan amar makruf nahi mungkar.

Kita malah apriori terhadap orang-orang yang ingin mengungkapkan kerinduannya pada Rasulullah Saw sesuai dengan apa-apa yang memang diperintahkan dan dilarang olehnya. Bila Rasulullah Saw melarang miras/narkoba/korupsi/prostitusi/dll, bukankah kita seharusnya juga berada dibarisan yang berjuang untuk memberantas itu semua.

Bila Rasulullah Saw mensunnahkan agar mensyiarkan dan memperbanyak takbir menjelang hari raya, bukankah tidak pantas bila ada pejabat muslim lagi, melarangnya. Ketika Rasulullah Saw mentauladankan untuk bersikap lemah lembut dan kasih sayang tanpa anarkis dan kekerasan, maka kita pun harus demikian.

Sebaliknya, bila Rasulullah Saw mencontohkan untuk bersikap keras, tegas, tanpa kompromi, gunakan segala kekuatan fisik, tenaga dan pikiran, maka jangan lagi ada alasan untuk tidak melakukannya. Ini akan menjadi bukti bahwa rindu ini tak sebatas rindu di hati, namun harus menjadi full-energy di seluruh ujung jari tangan dan kaki.

Saudaraku, inilah model kerinduan yang ditauladankan dan harus menjadi prototype kualitas kerinduan umat Islam di akhir zaman. Rindu yang tak sebatas formalitas/ritualitas/seremoni peringatan hari-hari besar Islam. Akan tetapi, rindu ini rindu yang membekas tanpa batas ruang dan waktu. Karena di lain hadits, kelak ketika seluruh umat manusia ini dibangkitkan dari tidurnya, termasuk juga Rasulullah Saw, maka lihatlah dengan hati dan akal sehatmu bahwa orang yang pertama kali dicari-cari dan ditanyakan Rasulullah Saw kepada malaikat bukanlah istri tercintanya Khadijah, atau putrinya Fatimah, tapi justru kita (saya, Anda dan seluruh umatnya). Subhanallah, ternyata kita amat sangat dirindukannya. Adakah rindu kita seperti itu?