Tampilkan postingan dengan label hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hidup. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 September 2016

Hidup Ini adalah Ujian

SESUNGGUHNYA setiap fase dalam hidup ini adalah ujian. Selama kita hidup, ujian akan selalu membersamai kita. Entah itu ujian berupa hal yang menyenangkan ataupun ujian berupa hal yang menyakitkan. Semuanya adalah ujian.

Ujianlah yang akan membuat kita belajar akan banyak hal. Karena melalui sebuah ujian, Allah hendak menyampaikan hikmah-hikmah-Nya kepada kita. Kita akan tumbuh menjadi orang yang lebih baik ketika kita bisa lulus dalam ujian kehidupan yang Allah berikan.

Kelak, kita akan tumbuh dengan pemahaman hidup kita yang lebih baik. Melalui ujian itu, Allah akan sertakan kemampuan-kemampuan hebat yang sebelumnya sangat sulit untuk kita taklukkan. Salahsatunya adalah kemampuan diri mengendalikan perasaan ketika ujian itu datang.

Melalui serangkaian ujian yang pahit ini, kelak kita akan bersyukur karena adanya hari ini. Karena dengan ujian-ujian inilah Allah membentuk kita menjadi manusia-manusia yang berjuang dalam kehidupannya. Bukan hanya menjadi orang yang lalai dalam angan-angan kosongnya.

Maka, bersyukurlah atas ujian yang hari ini Allah hadirkan. Karena esok hari, ujian ini akan menjadi sebuah kisah yang menarik bagi anak-cucu kita.

Sabtu, 17 September 2016

Melatih Anak Menghadapi Susah (3-Habis)

SAYA ada cerita dari teman pondok. Dia punya adik kelas yang sangat pandai. Orang tuanya juga dari kalangan high intellectual. Bapaknya pengusaha sedangkan ibunya seorang dokter. Anak ini sangat cerdas, sedari kecil sudah terbiasa membaca buku diktat ayah dan ibunya. Hingga suatu waktu ketika dimasukkan pondok, baru ketahuan ada sesuatu yang salah. Dalam menangkap materi pelajaran anak ini memang sangat cerdas. Tapi untuk berinteraksi dengan orang lain, dia tidak bisa. Bahkan sekedar melakukan hal-hal basic merawat dirinya sendiri ia tidak bisa.

Seperti mandi dan keramas. Karena dirumah ia sering ditinggal bersama pembantunya. Dan semua hal dilayani pembantunya. Para kakak kakak kelas inilah yang akhirnya memandikan. Termasuk temanku ini yang mengkramasi rambutnya. Pada kenyataannya untuk menghadapi kehidupan ini, ada banyak kemampuan yang harus kita kuasai, tidak sekedar nilai akademik. Sebagai orang tua yang baik kita harus bisa menyiapkan seorang anak yang struggle dan survivemenghadapi segala tantangan hidup.

Saya teringat momen-momen genting saya saat masuk SMA. ketika itu nilai saya sangat tipis untuk bisa masuk SMA favorit di kotaku. Kebetulan saat itu saya punya kerabat yang menjadi guru di SMA itu. Kemudian ibu memanggil saya. Beliau menanyai saya terkait nilai saya yang menipis, “Dini, kamu mau dititipkan ke Allah atau mau dititipkan pak X?” (seseorang yang menjadi kerabat saya)

Kemudian saya bilang, “saya ingin dititipkan sama Allah saja” saat itu nilai saya masuk dalam deretan terbawah. Ibu saya menunggui terus pergeseran nilai saya di sekolah. Tidak hanya ibu tapi kami sekeluarga, bapak ibu dan adik menunggui pergeseran nilai saya yang kritis. Dari pagi sampai sore di sekolah, sampai kami makan di warung dekat SMA tempat saya mendaftar. Peristiwa tersebut sangat membekas pada diri saya.

Kejadian itu mengajari diri saya, Apa itu tawakal. Apa itu tetap konsisten berjalan pada jalur yang benar. Meski begitu saya merasa support orang tua saya. Doa- doa mereka, puasa mereka, kata- kata motivasinya tidak putus-putusnya. Termasuk kesediaan ibu saya menemani saya belajar. Dan juga kesediannya menemani pengumuman nilai dari pagi sampai sore.

Jika sudah menjadi orang tua nanti, semoga Allah membantu kita untuk menetapkan azam. Agar bisa mendidik anak berani menghadapi kenyataan hidup, membiarkan mereka memecahkan masalah sendiri tanpa merasa kita abaikan.

Mari kita bayangkan sejenak, Apa yang terjadi jika orang orang besar seperti Tjokro Aminoto, Soekarno, Moh Hatta mempunyai orang tua yang tidak tegaan, tidak pernah membiarkan anaknya susah, tidak mengizinkan anaknya memilih keputusan yang beresiko, akankah orang orang tersebut akan tetap bisa menjadi seseorang yang memberi pengaruh besar.

Melatih Anak Menghadapi Susah (1)

ADIKKU menceritakan temannya yang malas sekolah. Padahal dia sudah kelas tiga SMA, bentar lagi ujian kelulusan. Jangankan belajar atau mengerjakan PR, masuk di kelas saja jarang. Sering sekali ia membolos. Ketika ditanya mengapa kok malas sekolah padahal dia sudah kelas tiga, dia menjawab “Ah tenang saja, bapakku sudah menyiapkan uang buat masukin aku jadi polisi”

Jawaban anak SMA ini rasanya mengiris dada. Membuat saya susah menelan ludah. Apa artinya bapak,ibu guru yang sudah susah payah mengajari berbagai mata pelajaran. Belasan tahun kita sekolah, banyak hal yang bisa kita dapatkan dalam proses belasan tahun tersebut. Menjalin pertemanan, berkompetisi, bertahan dengan prinsip yang baik, menghadapi berbagai jenis guru, melobi, bertahan dengan lemburan tugas. Banyak hal yang kita peroleh dari segenap rangkaian proses yang panjang, tidak hanya selembar kertas ijazah.

Mungkin alasan bapaknya menyogok karena ingin memastikan anaknya mendapat pekerjaan yang terjamin. Mungkin karena bapaknya terlalu sayang, rasa sayang yang penyalurannya kurang tepat.

Rasa sayang bukan berarti mengungkung anak pada zona nyaman. Ada kejadian menarik tentang seorang dosen yang sengaja membuat konsep, agar setiap mahasiswa keluar dari zona nyamannya. Cerita tersebut terangkum dalam buku yang berjudul “30 Paspor Di kelas Profesor” Bercerita tentang kumpulan kisah mahasiswa di kelas pemasaran internasional.

Dosen yang menjadi pengampu mata kuliah tersebut adalah Prof. Rhenald Kasali. Pada mata kuliah tersebut Rhenald kasali mewajibkan semua mahasiwanya untuk pergi ke luar negri dalam waktu 1.5 bulan, terhitung dari pertemuan pertama kuliah. Nah dari sinilah kemudian banyak polemik yang muncul. Banyak mahasiswa yang kelimpungan. Karena tidak semua mahasiswa berasal dari kalangan keluarga yang berada.

Bagi mahasiswa yang tidak mempunyai uang, mereka sibuk wira- wiri mencari sponsor. Ada pula yang tanggalnya sudah mepet tapi juga belum dapat sponsor. Seorang mahasiswa menuturkan, saking frustasi belum mendapat dana, iia memakai sepatu yang kesempitan dan berlari berkilo -kilo. Sambil berlari dia bilang, lihat saya kuat berlari dengan sepatu kesempitan ini, itu artinya saya bisa melampaui ujian ini.