Tampilkan postingan dengan label Tobat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tobat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 September 2016

2 Taubat yang Terlambat

ALLAH SWT Maha Pengampun. Allah Maha Penerima taubat. Sebesar apapun dosa dan kesalahan yang dilakukan seorang hamba ,selagi ia mau bertaubat dengan sungguh-sungguh, menyesali dosa dan kesalahanya, berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatanya, niscaya Allah akan mengampuni semua dosa yang pernah dilakukan.

Dari Anas ra.ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah Subhanahu wa ta’alah berfirman, ‘Wahai anak Adam (manusia), selama engkau masih mau berdo’a dan mengharapkan ampunan-Ku, pasti aku akan mengampuni dosa yang telah engkau perbuat dan Aku tidak menghiraukan sedikit banyaknya dosamu. Wahai anak Adam, sekiranya dosa kau setinggi langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, tentu Aku akan mengampuni dosa-dosamu. Wahai anak Adam, sekiranya engkau datang membawa dosa seisi bumi kepada-Ku, kemudian engkau mohon ampun kepada-Ku dan tidak menyekutukan Aku dengan apapun, pasti Aku memberi ampunan sebanyak itu pula’,” (HR.Tirmidzi ia berkata Hadits hasan shahih).

Begitulah besarnya kasih sayang Allah terhadap hamba hamba-Nya. Pintu taubat selalu dibuka bagi hamba-Nya yang ingin menyucikan diri dengan mengharap ampunan-Nya.

Namun ada waktu dimana pintu taubat itu ditutup. Ada saat, dimana ampunan sudah tidak diberikan. Iman dan amal seseorang tak lagi berguna. Saat itu manusia benar benar dalam kerugian yang besar.

Kapankah waktu itu tiba?

Pertama; ketika matahari telah terbit dari arah terbenamnya. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat sehingga matahari terbit dari tempat terbenamnya, apabila ia telah terbit dari barat dan semua manusia melihat hal itu maka semua akan beriman, dan itulah waktu yang tidak ada gunanya iman seseorang yang belum pernah beriman sebelumnya itu,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Musa Abdullah bin Qois Al-Asy’ari dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala senantiasa membentangkan Tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat kejahatan di siang hari bertaubat dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat kejahatan dimalam hari bertaubat; sampai saat matahari terbit dari tempat tenggelamnya,” (HR. Muslim).

Ketika matahari telah terbit dari arah tenggelamnya (arah barat), ini merupakan di antara tanda atau isyarat akan segera terjadinya kiamat. Yakni hancurnya dunia serta berakhirnya seluruh kehidupan. Maka, mulai pada saat itu pintu taubat ditutup, iman dan amal seseorang (yang belum beriman dan beramal sebelumnya) tidak lagi berguna.

Allah Subhanahu wata’alah berfirman, “… Pada hari datangnya sebagian ayat Tuhanmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu,atau dia ( belum ) mengusahakan kebaikan dalam masa imanya…” ( Al-An’am (6) : 158 ).

Kedua; Ketika sakaratul maut. Allah Subhanahu wata’alah berfirman yang artinya, “Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang diantara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku bertaubat sekarang…’” ( An-Nisa’ (4) : 18 ).

Dari Abu Abdurrahman Abdullah Ibn Umar Ibn Al-Khattab dari Nabi Sholallahu alaihi Wasalam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai pada kerongkonganya,” (HR. At-Tirmidzi dan ia betkata: Hadits hasan).

Dalam Al-Qur’an juga diceritakan bagaimana Allah menolak taubatnya Fir’aun saat sakaratul maut. “Dan kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia; ‘Saya percaya bahwa tidak ada ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh bani Israil, dan saya termasuk orang orang yang berserah diri (kepada Allah).’ Apakah sekarang (baru kamu percaya) padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan,” (QS. Yunus(10) : 90-91).

Nah, itulah waktu ketika taubat tidak lagi diterima, saat ampunan sudah tidak diberikan, rintihan dan penyesalan tak ada lagi gunanya.
Sekarang, matahari belum pernah terbit dari arah barat dan itu artinya pintu taubat masih terbuka lebar. Namun, siapakah yang dapat menjamin kalau besok pagi kita masih dapat melihat matahari terbit dari timur? Tidak ada seorang pun yang dapat mempridiksi kapan kematian ini tiba. Tidak ada yang tahu kapan datangnya ajal. Kita tidak tahu kapan saat nyawa ini sampai di kerongkongan.

Karena itulah, selagi nyawa masih di kandung raga, sebelum nyawa sampai di kerongkongan, bersegeralah menuju ampunan Allah.
Allah berfirman; “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang orang yang bertaqwa,” (Ali Imran : 133 ).

Tergesa-gesa adalah perbuatan setan, namun kata Nabi ada lima hal yang justru kita diperintahkan untuk menyegerakannya. Lima hal itu adalah; Menjamu tamu, mengurus jenazah, menikahkan anak perempuan, membayar utang, dan yang kelima bertaubat. Maka bersegeralah menuju ampunan Allah. Bertaubat sebelum taubat itu terlambat.

Wallahu a’lam bish-shawab.

2 Taubat yang Terlambat

ALLAH SWT Maha Pengampun. Allah Maha Penerima taubat. Sebesar apapun dosa dan kesalahan yang dilakukan seorang hamba ,selagi ia mau bertaubat dengan sungguh-sungguh, menyesali dosa dan kesalahanya, berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatanya, niscaya Allah akan mengampuni semua dosa yang pernah dilakukan.

Dari Anas ra.ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah Subhanahu wa ta’alah berfirman, ‘Wahai anak Adam (manusia), selama engkau masih mau berdo’a dan mengharapkan ampunan-Ku, pasti aku akan mengampuni dosa yang telah engkau perbuat dan Aku tidak menghiraukan sedikit banyaknya dosamu. Wahai anak Adam, sekiranya dosa kau setinggi langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, tentu Aku akan mengampuni dosa-dosamu. Wahai anak Adam, sekiranya engkau datang membawa dosa seisi bumi kepada-Ku, kemudian engkau mohon ampun kepada-Ku dan tidak menyekutukan Aku dengan apapun, pasti Aku memberi ampunan sebanyak itu pula’,” (HR.Tirmidzi ia berkata Hadits hasan shahih).

Begitulah besarnya kasih sayang Allah terhadap hamba hamba-Nya. Pintu taubat selalu dibuka bagi hamba-Nya yang ingin menyucikan diri dengan mengharap ampunan-Nya.

Namun ada waktu dimana pintu taubat itu ditutup. Ada saat, dimana ampunan sudah tidak diberikan. Iman dan amal seseorang tak lagi berguna. Saat itu manusia benar benar dalam kerugian yang besar.

Kapankah waktu itu tiba?

Pertama; ketika matahari telah terbit dari arah terbenamnya. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat sehingga matahari terbit dari tempat terbenamnya, apabila ia telah terbit dari barat dan semua manusia melihat hal itu maka semua akan beriman, dan itulah waktu yang tidak ada gunanya iman seseorang yang belum pernah beriman sebelumnya itu,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Musa Abdullah bin Qois Al-Asy’ari dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala senantiasa membentangkan Tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat kejahatan di siang hari bertaubat dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat kejahatan dimalam hari bertaubat; sampai saat matahari terbit dari tempat tenggelamnya,” (HR. Muslim).

Ketika matahari telah terbit dari arah tenggelamnya (arah barat), ini merupakan di antara tanda atau isyarat akan segera terjadinya kiamat. Yakni hancurnya dunia serta berakhirnya seluruh kehidupan. Maka, mulai pada saat itu pintu taubat ditutup, iman dan amal seseorang (yang belum beriman dan beramal sebelumnya) tidak lagi berguna.

Allah Subhanahu wata’alah berfirman, “… Pada hari datangnya sebagian ayat Tuhanmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu,atau dia ( belum ) mengusahakan kebaikan dalam masa imanya…” ( Al-An’am (6) : 158 ).

Kedua; Ketika sakaratul maut. Allah Subhanahu wata’alah berfirman yang artinya, “Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang diantara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku bertaubat sekarang…’” ( An-Nisa’ (4) : 18 ).

Dari Abu Abdurrahman Abdullah Ibn Umar Ibn Al-Khattab dari Nabi Sholallahu alaihi Wasalam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai pada kerongkonganya,” (HR. At-Tirmidzi dan ia betkata: Hadits hasan).

Dalam Al-Qur’an juga diceritakan bagaimana Allah menolak taubatnya Fir’aun saat sakaratul maut. “Dan kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia; ‘Saya percaya bahwa tidak ada ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh bani Israil, dan saya termasuk orang orang yang berserah diri (kepada Allah).’ Apakah sekarang (baru kamu percaya) padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan,” (QS. Yunus(10) : 90-91).

Nah, itulah waktu ketika taubat tidak lagi diterima, saat ampunan sudah tidak diberikan, rintihan dan penyesalan tak ada lagi gunanya.
Sekarang, matahari belum pernah terbit dari arah barat dan itu artinya pintu taubat masih terbuka lebar. Namun, siapakah yang dapat menjamin kalau besok pagi kita masih dapat melihat matahari terbit dari timur? Tidak ada seorang pun yang dapat mempridiksi kapan kematian ini tiba. Tidak ada yang tahu kapan datangnya ajal. Kita tidak tahu kapan saat nyawa ini sampai di kerongkongan.

Karena itulah, selagi nyawa masih di kandung raga, sebelum nyawa sampai di kerongkongan, bersegeralah menuju ampunan Allah.
Allah berfirman; “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang orang yang bertaqwa,” (Ali Imran : 133 ).

Tergesa-gesa adalah perbuatan setan, namun kata Nabi ada lima hal yang justru kita diperintahkan untuk menyegerakannya. Lima hal itu adalah; Menjamu tamu, mengurus jenazah, menikahkan anak perempuan, membayar utang, dan yang kelima bertaubat. Maka bersegeralah menuju ampunan Allah. Bertaubat sebelum taubat itu terlambat.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Jumat, 09 September 2016

Kaum yang Tergelincir Bukan Dijauhi, Beri Kabar Gembira dengan Tobatnya

“Wahai Anak Adam, seandainya dosamu membumbung setinggi langit lalu engkau memohon ampunan kepada-Ku, pasti Aku ampuni semuanya. Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan membawa kesalahan seluas bumi, lalu menemui-Ku dan tidak menyekutukan-Ku, pasti Aku mendatangimu dengan ampunan seluas bumi pula.” (HR. Tirmidzi).

 Jangan mengira orang-orang beriman bebas dari ujian dan cobaan hidup.  Setiap orang beriman pasti diuji keimanannya. Diantara orang beriman ada yang tergelincir karena tak kuat menahan godaan dan cobaan hidup. Ingat, Syaitan tak akan pernah berhenti menggoda manusia, karena syaitan adalah musuh manusia yang paling nyata.

 Jangankan orang biasa, Adam dan Hawa pun pernah terusir dari Surga setelah terbujuk rayuan Syaitan dengan memakan buah khuldi. Kemudian Adam as memohon ampun selama 40 tahun. Seperti inilah doanya Nabi Adam as dengan penuh harap.

“Ya Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

Doa Nabi Adam dan Hawa ini mengandung banyak pelajaran, bahwa seseorang yang telah melakukan dosa, harus menyadari bahwa dosa itu adalah karena perbuatan dan kesalahanya sendiri, bukan kesalahan orang atau pihak lain. Nabi Adam tidak menyalahkan Iblis yang telah menggodanya, tapi dia menyalahkan dirinya sendiri.

Selain itu, doa Nabi Adam dan Hawa ini juga mengajarkan kepada kita untuk tidak berputus asa mengharap rahmat dan ampunan Allah. Iblis berputus asa dari ampunan Allah, hingga dia tidak mau lagi memohon ampunan dari Allah atas kesalahannya. Itulah bedanya iblis dengan Nabi Adam.

Harta-Tahta-Wanita

Ada ungkapan yang mengatakan, harta, tahta dan wanita adalah godaan  manusia yang membuat orang-orang beriman futur dan tergelincir. Terjerumus dosa besar, baik yang ia sadari maupun tak disadari. Ketika orang beriman tergelincir, diantara mereka ada yang merasa hidupnya hancur, putus asa, dan dijauhkan dari masyarakat.

Belum lagi, kaum agamawan yang lebih memunculkan ayat ancaman dan hukuman keras, ketimbang memberi harapan dan membesarkan jiwa bagi orang-orang yang bertobat. Kaum agamawan acapkali mengucilkan kaum pendosa, ketimbang merangkul dan mendakwahkan kaum pendosa untuk kembali pada fitrahnya.

Itulah yang kisahkan Rasulullah Saw, seperti yang diriwayatkan Abu Sai Al-Khudri. “Dahulu, diantara Bani Israil terdapat seorang pria yang telah membunuh 99 manusia. Suatu hari, dia keluar untuk bertobat. Orang itu bertanya kepada seorang pendeta, “Apakah dosa saya terampuni jika bertobat?” Pendeta itu menjawab, “Tidak mungkin”. Orang itu lalu membunuh pendeta tersebut hingga genap menjadi 100 orang yang ia bunuh.

 Pembunuh itu tadi kemudian terus berusaha mencari harapan dengan bertanya tentang kemungkinan dosanya terampuni. Kemudian bertemulah orang bijak seraya berkata kepadanya,”Jika ingin bertobat, datangilah negeri ini dan itu.” Dia pun menurutinya. Namun, di tengah perjalanan, ia meninggal. Malaikat rahman dan malaikat azab berdebat, memperebutkan lelaki yang ingin bertobat itu.

Kemudian Allah mewahyukan  kepada negeri yang ditujunya seraya memerintahkan kepada kedua malaikat tersebut. “Ukurlah jarak antara dua negeri tersebut.” Didapati ternyata orang tersebut lebih dekat satu depa dengan negeri yang ditujunya. Hingga dosanya pun terampuni.

Dari kisah ini, hendaknya menjadi ibrah atau pelajaran. Orang yang tergelincir dan ingin bertobat itu bukan malah dijauhi, apalagi ditakuti-takuti. Berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang mensucikan dirinya. Ingatlah firman Allah yang berbunyi:

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).

Suatu ketika Abu Musa Al-Asy’ari menghukum seorang yang minum khamar (miras) dengan menghitamkan wajahnyam mencukur rambutnya, dan memerintahkan agar orang-orang menjauhinya dan tidak berinteraksi dengannya.

Mendengar hal itu, Umar bin Khaththab ra berang  dan mengancam Abu Musa. Apabila orang yang dihukum tersebut tidak dikembalikan hak-haknya untuk bergaul dengan sesama muslim yang lain, maka Umar akan menghitamkan wajah Abu Musa dan mencukur rambutnya. Akhirnya, orang tersebut kembali bisa berinteraksi dengan masyarakat.

Sesungguhnya, tobatnya orang-orang beriman yang tergelincir bisa membangkitkan rasa percaya diri dan menghapus dosanya. Seseorang pun kembali memperbarui keimanan dan keislamannya. Maka, dakwahilah mereka, besarkan jiwanya, dan berilah harapan yang besar bahwa Allah Maha Pengampun, Pengasih dan Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.

Kasih Sayang Allah

Di keheningan malam, seorang pendosa bermunajat dan memohon ampun kepada Tuhan-nya dengan penuh harap dosa-dosanya terampuni, “Ya Rabb, meski dosaku menumpuk, tapi kusadar maafmu begitu luas. Jika yang boleh berharap kepada-Mu hanya orang-orang baik, lalu kepada siapa para pendosa mengharap dan berdoa? Tiada jalan bagiku, kecuali berharap. Meminta maaf-Mu dan aku berserah diri.”

Dalam buku berjudul “Tuntunan Tobat” yang ditulis oleh Muhammad Nabil Dhaif (Penerbit Istanbul), Allah melarang para hamba-Nya berputus asa dari rahmat dan ampunan-Nya, karena pintu tobat selalu terbuka, kapan saja. Allah selalu menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya. Dia tidak menginginkan kehinaan dan kezaliman menimpa hamba-Nya.

Allah pun menangguhkan siksa para hamba agar mereka mau bertobat. Jika mereka bertobat, maka Allah akan menerimanya dengan memberi ampunan, meski dosa-dosanya membumbung setinggi langit dan membentang seluas bumi.

Dalam hadits qudsi, dari Anas bin Malik, dia pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Allah berfirman, “Wahai Anak Adam, sungguh jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, pasti akan Aku ampuni dosa yang telah engkau perbuat dan Aku tidak memedulikannya.

 “Wahai Anak Adam, seandainya dosamu membumbung setinggi langit lalu engkau memohon ampunan kepada-Ku, pasti Aku ampuni semuanya.”

 “Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan membawa kesalahan seluas bumi, lalu menemui-Ku dan tidak menyekutukan-Ku, pasti Aku mendatangimu dengan ampunan seluas bumi pula.” (HR. Tirmidzi).

Allah bahkan lebih mendahulukan kasih sayang dan ampunan-Nya daripada azab-Nya. Itulah sebabnya, Allah memerintahkan agar para pendakwah memberi kabar gembira pada orang yang tobat, sebagaimana firman Allah:

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Akulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang pedih.” (QS. Al Hijr: 49-50).

Diantara bukti kasih sayang Allah, Dia membiarkan hamba-Nya melakukan dosa dan kesalahan, sedang Dia melihat dan mengetahuinya. Allah kemudian memberi kesempatan hambanya untuk bertobat, bahkan tetap memberi limpahan rahmat nikmant dan rahmat.

Berbeda dengan alam yang menyaksikan perbuatan maksiat manusia. Langit dan bumi memohon pada Rabb-Nya agar segera menurunkan bencana. Tetapi Allah menjawab, “Biarkan Aku sendiri yang mengurus hamba-hamba-Ku. Andai kalian yang menciptakan mereka, pastilah kalian akan menyayangi mereka.”

Subhanallah, betapa sayangnya Allah, meski Dia mengetahui apa yang dilakukan hamba-hambanya. Diantara tanda sayangnya Allah adalah satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat pahalanya. Sedangkan satu keburukan hanya dicatat satu keburukan saja.

Minggu, 04 September 2016

Perbaharui Taubatmu!

TAUBAT adalah kembalinya seorang hamba yang telah berbuat dosa kepada ampunan Allah SWT. Karena pada hakikatnya tidak ada satupun manusia yang luput dari salah dan dosa di muka bumi ini. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah SAW.

“Setiap keturunan Adam itu banyak melakukan dosa dan kemaksiatan, maka sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat,” (HR. Tirmidzi).

Dari hadits tersebut diketahui bahwa setiap manusia tidak akan peernah luput dari perbuatan dosa. Kalau pun dosa itu tidak dilakukan dengan anggota badannya, manusia sering tidak menyadari perbuatan dosa yang ia lakukan dengan hatinya.