Tampilkan postingan dengan label Tausiyah BBM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausiyah BBM. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juni 2016

Keutamaan Bulan Ramadhan

بسم الله الرحمن الرحيم

Pelajaran Hadist Hari Ini :

Allah Subhana Wa Ta’ala Berfirman Dalam Hadist Qudsi :

قَالَ اللهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

Artiinya : Allah SWT berfirman, “Setiap amal anak Adam untuknya, kecuali puasa, sesungguhnya itu untuk-Ku dan Aku yang akan mengganjarnya. Puasa itu adalah perisai. Jika datang hari puasa seseorang di antara kalian maka janganlah ia berkata rafats (kotor) dan jangan memaki, jika ada orang mencacinya atau memancingnya berkelahi, hendaknya ia berkata, Aku sedang berpuasa.Demi Zat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih wangi daripada wangi misik. Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan jika ia berbuka, ia berbahagia dan jika bertemu Tuhannya, ia berbahagia karena puasanya.”(HR.Al-Bukhari, Muslim, An-Nasai, Ibn Majah dan Ahmad).

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaraku seiman, Segala puji hanyalah milik Allah Subhana wa ta’ala. Shalawat & salam senantiasa tercurahkan kpd Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallan, para keluarganya, sahabat2 nya & ummatnya yg istiqomah diatas sunnahnya hingga hari kiamat. Tausiyah group WA & BBM pd pagi ini akan membahas tentang keutamaan bulan Ramadhan.

Allah SWT tlh menjadikan bulan Ramadhan sbg bulan yg mulia bagi orang2 yg beriman. Tujuan dari amal ibadah puasa Ramadhan adl membentuk perubahan individu menjadi mukmin yg bertaqwa, menjadi masyarakat yg bertaqwa bahkan negara yg bertaqwa.

Sungguh spektakuler, Bulan Ramadhan memang sangat berbeda dgn bulan2 yg lain. Pd hal dlm bulan lain, kaum muslimin jg melaksanakan shalat, sedekah, umrah, & tilawah Al-Qur’an. Namun, kenapa dampaknya tdk sehebat bulan Ramadhan? Apa yg membedakan Ramadhan dgn sebelas bulan lainnya?

Diantara keutamaan bulan Ramadhan adl :

1. Bulan Ramadhan adl milik Allah SWT. Allah SWT pula yg akan memberikan balasannya secara langsung krn pahalanya begitu besar yg tdk dpt dihitung oleh manusia. Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata, Lafadz Aku sendiri yg akan membalasnya merupakan sebuah penjelasan tentang besarnya keutamaan & banyaknya pahala shaum. Karena orang yg mulia jika memberitahukan bhw ia sendiri yg akan memberi balasan maka hal itu menunjukkan keluasan & besarnya balasan yg akan dia berikan.(Ref : Kitab Syarh Shahih Muslim, jilid 8 hal 29).

Al-imam Qadhi ‘Iyadh Al-Maliki rahimahullahu berkata: tdk ada yg mampu menghitung besarnya pahala puasa selain Allah SWT oleh krn itu Allah SWT sendiri yg menyerahkan balasannya. Allah SWT tdk mewakilkannya kpd malaikat. Hal yg menyebabkan shaum memiliki keistimewaan ini 2 perkara:

A. Seluruh bentuk ibadah lainnya bisa diketahui oleh hamba, sedangkan shaum adl rahasia antara pelakunya dgn Allah SWT. Ia mengerjakannya ikhlas demi mencari wajah Allah semata, maka Allah pun memberi perlakuan yg istimewa ini selama ia tulus mencari ridha-Nya.

B. Inti seluruh amal kebaikan adl mencurahkan badan atau harta di jalan yg diridhoi oleh Allah. Adapun puasa menundukkan hawa nafsu, menyebabkan kelemahan & kepayahan badan, ditambah pedihnya rasa lapar & mencekiknya rasa haus. Maka antara kedua jenis ibadah ini terdapat perbedaan yg mencolok. Puasa terus berlanjut tanpa ada putusnya, dilakukan semata2 krn Allah, atau dgn taufiq dari Allah SWT. (Ref : Kitab Faidhul Qadir Syarh Jami’ Shaghir, penjelasan hadits no. 1970).

2. . Bulan Ramadhan adalah bulan ampunan (maghfirah).

Siapa diantara kita yg tdk pernah berbuat salah & dosa?. Tentunya semua diantara kita pernah melakukan dosa & maksiat krn manusia tempatnya salah maupun lupa. Apakah dosa yg kecil maupun dosa yg besar, dosa yg disengaja ataupun dosa yg tdk disengaja. Tdk ada jalan bagi manusia yg banyak dosa kecuali kembali ke jalan Allah SWT dgn memohon & taubat dgn taubat nasuha. Rasulullah SAW bersabda,

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Seluruh anak Adam berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat” (HR. Ibnu Maajah no.424).

Bulan Ramadhan adl bulan ampunan & rahmat dari Allah SWT.

) حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَفِظْنَاهُ وَإِنَّمَا حَفِظَ مِنَ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Abdillah, telah menceritakan kepada kami Sufyaan, ia berkata, kami telah menghafalnya dan sungguh ia berasal dari Az-Zuhriy, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah r.a,

Dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan (kepada Allah) dan mengharap pahala maka akan diampuni dosa2 nya yg terdahulu, dan barangsiapa yang menegakkan Lailatul Qadr dengan keimanan (kepada Allah) dan mengharap pahala maka akan diampuni dosa2 nya yg terdahulu.”(HR.Al-Bukhaariy no. 2014; Muslim no. 761).

3. Ibadah Puasa menjadi syafaat

Terjadinya hari kiamat, hari kebangkitan, hari pengumpulan seluruh manusia dipadang mahsyar serta hari penghitungan amal adl pasti kedatangannya. Pd saat itu tdk ada seorang makhluk pun yg mampu menolong & membantu antara satu manusia dgn manusia yg lainnya kecuali syafaat dari Rasulullah SAW & amal ibadah hamba yg pernah ia amalkan didunia termasuk ibadah puasa. Rasulullah SAW bersabda,

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

Artinya : “Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat pada hari kiamat. Puasa mengatakan Wahai Rabbku, aku menghalanginya dari makan dan syahwat pada siang hari maka berilah ia syafaat karenaku. Al-Qur’an pun berkata, Aku menghalanginya dari tidur pada malam hari maka berilah ia syafaat karenanya. Rasulullah mengatakan, Maka keduanya akan memberikan syafaat.” (HR. Ahmad).

Kita msh berada diawal bulan Ramadhan maka mari sama2 kita raih keutamaan bulan Ramadhan sebab bisa jd Ramadhan kali ini adl Ramadhan terakhir kali dlm hidup kita.

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Kamis, 02 Juni 2016

Fiqh Puasa : Menyikapi perbedaan Penetapan Awal & Akhir puasa Ramadhan

بسم الله الرحمن الرحيم

Pelajaran Ayat Al-Qur’an Hari Ini :

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ قَالَ قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ziyad berkata, aku mendengar Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, atau katanya Abu Al Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Berpuasalah kalian dengan melihatnya (hilal) dan berbukalah dengan melihatnya pula. Apabila kalian terhalang oleh awan maka sempurnakanlah jumlah bilangan hari bulan Sya’ban menjadi tiga puluh.”(HR. Bukhari no.1.776)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaraku seiman, Segala puji hanyalah milik Allah Subhana wa ta’ala. Shalawat & salam senantiasa tercurahkan kpd Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallan, para keluarganya, sahabat2 nya & ummatnya yg istiqomah diatas sunnahnya hingga hari kiamat. Tausiyah group WA & BBM pagi ini msh membahas seputar fiqh ibadah puasa yaitu tentang menyikapi perbedaan penetapan awal & akhir puasa Ramadhan.

Tamu agung yg selalu dinanti2 oleh kaum muslimin akan kembali hadir. Tamu agung itu adl bulan suci Ramadhan. Dalam hitungan kalender Hijriyah beberapa hari kedepan kita akan meninggalkan bulan Sya’ban & akan memasuki bulan Ramadhan thn 1437 Hijriyah. Bulan suci Ramadhan adalah bulan penuh rahmat Allah SWT, bulan ampunan, bulan waktu diturunkannya Al-qur’an & bulan yg didalamnya terdapat satu malam yg lebih baik dari pd seribu bulan yaitu malam lailatul qadar.

Momentum mulia bulan suci Ramadhan selalu diwarnai oleh perbedaan dlm mengawali & mengakhirinya. Fakta obyektif menunjukkan bhw secara teknis penentuan awal Ramadhan & Syawal selalu memiliki potensi utk berbeda, apapun landasan fiqh yg dipilih atau dipakai. Sebenarnya hal apa yg melatar belakangi terjadinya perbedaan dlm mengawali & mengakhiri puasa Ramadhan? Lalu bagaimana kita menyikapi perbedaan penetapan awal dan akhir puasa Ramadhan?.

Latar belakang perbedaan

Hisab dan Rukyah adalah alat yg dibutuhkan bagi setiap mukmin utk memastikan masuknya awal bulan qamariyah. Penetapan awal bulan qamariyah termasuk bulan ramadhan dengan melihat anak bulan (rukyah al-hilal). Rukyah al-hilal dijadikan sebab pelaksanaan puasa Ramadhan.

Hukum syara’ tlh menjelaskan bhw rukyah al-hilal merupakan sabab dimulai & diakhirinya puasa Ramadhan. Apabila bulan tdk dpt dirukyah maka puasa dilakukan setelah istikmal (sempurna) bulan Sya’ban. Hal ini didasarkan banyak dalil diantaranya,

Rasulullah SAW bersabda, Janganlah berpuasa hingga terlihat bulan. Dan janganlah berbuka (mengakhiri Ramadhan) hingga terlihat bulan pula. Maka jika pandangan kalian terhalang (mendung) sempurnakan bilangan bulan sebanyak 30 hari. (HR.Bukhari & Muslim).

Dlm menentukan kemunculan rukyah al-hilal inilah terjadi perbedaan pendapat apakah menggunakan metode hisab (perhitungan matematis) ataukah dengan metode rukyah al-hilal (pengamatan langsung).

1. Metode Hisab.

Hisab menurut bahasa berarti hitungan, arithmetic (ilmu hitung), reckoning (perhitungan), calculus (hitung), computation (perhitungan), estimation (penilaian, perhitungan), appraisal (penaksiran). Sementara menurut istilah hisab adl perhitungan benda2 langit utk mengetahui kedudukannya pd suatu saat yg diinginkan. Mengutip pendapat ormas Islam Muhammadiyah, Metode hisab Muhammadiyah berarti rangkaian proses perhitungan yang digunakan utk menentukan arah suatu tempat dari tempat lain, atau menentukan posisi geometris benda2 langit utk kemudian mengetahui waktu saat di mana benda langit menempati posisi tersebut, atau mengetahui apakah suatu siklus waktu sudah mulai atau belum.

Metode hisab Muhammadiyah, sekurang2 nya meliputi 4 obyek, yaitu hisab arah kiblat, hisab waktu2 shalat, hisab awal bulan qamariah & hisab gerhana matahari & bulan.( Pedoman Hisab Muhammadiyah, cetakan kedua Yogyakarta, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, 2009). Diantara dalil yg dijadikan hujjah metode hisab adalah : QS. Al-Baqarah ayat 185 & QS. Yunus ayat 5.

2. Metode Rukyah Al-hilal

Rukyah al-hilal adl melihat bulan sabit setelah ijtima’ & setelah wujud di atas ufuk. Ijtima’ atau konyungsi adl saat bulan & matahari memiliki bujur ekliptika yg sama. Ekliptika adl sistem koordinat langit utk menggambarkan posisi matahari, bulan & planet2 dekat. Peristiwa ijtima’ terjadi serentak sekali setiap satu periode bulan mengelilingi bumi (sinodis). Dengan demikian pada saat ijtima’, ada wilayah di muka bumi yg sedang pagi, siang, sore atau malam hari.

Sedangkan hilal hanya bisa dilihat di sore hari, bila tingginya sudah cukup sehingga pd saat matahari terbenam bulan masih di atas ufuk (Barat), sehingga ada bagiannya yg memantulkan cahaya matahari ke bumi, sebelum akhirnya bulan terbenam menyusul matahari. Inilah bulan sabit yg ditunggu2. Oleh krn itu, meski ijtima’ terjadi serentak, namun peristiwa hilal bisa dirukyat tidaklah serentak, melainkan terikat oleh aspek astronomi (posisi bujur dan lintang pengamat) & aspek geografi (perbedaan zone waktu).

Secara astro-geografi, daerah yg lbh barat (dihitung dari Batas Tanggal Internasional) akan menyaksikan bulan yg lbh tua shg peluang rukyatul hilal pd hari yg sama akan lbh besar.(Ref : Prof.Dr.Ing Fahmi Amhar, artikel aspek syar’ie & iptek dlm penentuan awal & akhir ramadhan).

Dlm pelaksanaannya, waktu rukyat adl sangat pendek, yakni kurang dari satu jam setelah matahari terbenam. Maka suatu berita rukyatul hilal yg terjadi sebelum matahari terbenam di tempat tersebut, atau setelah tengah malam, atau bahkan sebelum ijtima’ adl wajib ditolak.

3. Rukyah al-hilal dhgn Mathla’

Perbedaan berikutnya adl mathla’ yaitu tempat lahirnya bulan. Sebagian ulama mazhab Syafi’iyyah berpendapat, jika satu kawasan melihat bulan, maka daerah dengan radius 24 farsakh dari pusat rukyah bisa mengikuti hasil rukyah daerah tersebut. Sedangkan daerah di luar radius itu boleh melakukan rukyah sendiri & tdk hrs mengikuti hasil rukyah daerah lain. Hal ini didasarkan pada hadist riwayat dari Kuraib :

أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بَعَثَتْهُ إلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ فَقَالَ : فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتُهِلَّ عَلَيَّ رَمَضَانُ وَأَنَا بِالشَّامِ فَرَأَيْتُ الْهِلَالَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ ، ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلَالَ فَقَالَ : مَتَى رَأَيْتُمْ الْهِلَالَ ؟ فَقُلْتُ : رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ، فَقَالَ : أَنْتَ رَأَيْتَهُ ؟ فَقُلْتُ : نَعَمْ ، وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ ، فَقَالَ : لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلَا نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلَاثِينَ أَوْ نَرَاهُ ، فَقُلْتُ : أَلَا تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ ؟ فَقَالَ : لَا ، هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya : bhw Ummul Fadl tlh mengutusnya utk menemui Muawiyyah di Syam. Kuraib berkata, Aku memasuki Syam lalu menyelesaikan urusan Ummul Fadhl. Ternyata bulan Ramadhan tiba sedangkan aku masih berada di Syam. Aku melihat hilal pd malam Jumat. Setelah itu aku memasuki kota Madinah pada akhir bulan Ramadhan. Ibnu ‘Abbas lalu bertanya kpd ku & menyebut persoalan hilal. Dia bertanya, Kapan kalian melihat hilal? Aku menjawab, Kami melihatnya pd malam Jum’at. Dia bertanya lagi, Apakah kamu sendiri melihatnya? Aku jawab lagi, Ya & orang2 jg melihatnya. Lalu mereka berpuasa, begitu pula Muawiyyah. Dia berkata lagi, Tapi kami (di Madinah) melihatnya pd malam Sabtu. Maka kami terus berpuasa hingga kami menyempurnakan bilangan 30 hari atau hingga kami melihatnya. Aku lalu bertanya, Tdk cukupkah kita berpedoman pd rukyah & puasa Muawiyyah? Dia menjawab, Tidak, (sebab) demikianlah Rasulullah SAW tlh memerintahkan kpd kami. ( HR. Muslim no. 1819; Abu Dawud no. 1985; al-Tirmidzi 629; al-Nasa’i no. 2084; Ahmad no. 2653).

Rukyah al-hilal global potensi menyatukan ummat.

Abad 21 dikenal dgn kemajuan era teknologi & informasi digital shg pendapat yg condong kpd matla memang jadi tdk praktis & kurang populer, sebab satu kabupaten saja bisa terpecah menjadi beberapa matla. Menurut Syaikh Abdurrahman Al-Jaziri (1882-1941) dari 4 madzhab fiqh yg terkenal, tiga di antaranya (Hanafi, Maliki, Hambali) cenderung kpd rukyat global, yaitu bhw suatu kesaksian rukyat berlaku utk kaum muslimin di seluruh dunia. Sedang pengikut Imam Syafi’i condong kpd rukyat lokal yg hanya berlaku satu matla, yg kurang lbh radius 24 farsakh (kurang lbh 120 Km).

(Ref :Kitab Fiqh ‘ala al-Mazhahib al-Araba’ah juz 1 halaman 550).

Menurut Imam Asy-syaukani didlm kitabNailul Authar juz III halaman 125, pendapat kalangan Syafi’i ini berasal dari kerancuan memahami hadits Kuraib, yaitu saat menafsirkan ucapan Ibnu Abbas yg tetap berpuasa sesuai rukyah al-hilal di Madinah & tdk mengikuti hasil penglihatan bulan sabit oleh banyak orang di Damaskus yg satu hari lebih awal,Demikianlah Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami”. (HR.Jama’ah selain Bukhari & Ibnu Majah).

Dlm mengomentari hadits ini, Imam Asy-syaukani berpendapat bhw yg layak menjadi hujjah itu adl riwayat yg marfu’ (yakni ucapan Rasul sendiri) & bukan ijtihad atau pemahaman Ibnu Abbas atas ucapan Rasulullah SAW. Sedangkan ucapan Rasulullah SAW seperti dikutip pd awal tulisan ini, adl merupakan seruan yg tertuju kpd siapapun di antara kaum muslimin & tdk dikhususkan pd penduduk suatu daerah tertentu.

Penutup

Alangkah indahnya bila setiap tahun seluruh ummat Islam dpt mengawali & mengakhiri puasa Ramadhan secara bersama2. Bulan suci Ramadhan dpt dijadikan sbg momentum utk mempererat ukhwah Islam dgn menyatukan persepsi dlm hal mengawali dan mengakhiri puasa Ramadhan. Apalagi ketika ummat Islam dpt dipersatukan dlm satu ikatan pemikiran yg sama, perasaan yg sama & aturan hidup yg sama dibawah kepemimpinan Islam yakni seorang Khalifah yg menerapkan Syari’at Islam scr kaffah.

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Rabu, 01 Juni 2016

Fiqh Puasa : Batasan Waktu Makan Sahur

بسم الله الرحمن الرحيم

Pelajaran Ayat Al-Qur’an Hari Ini :

Allah Subhana Wa Ta’ala Berfirman,

ْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ} [البقرة : 187]

Artinya : Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.(QS.Al-Baqarah:185).

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaraku seiman, Segala puji hanyalah milik Allah Subhana wa ta’ala. Shalawat & salam senantiasa tercurahkan kpd Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallan, para keluarganya, sahabat2 nya & ummatnya yg istiqomah diatas sunnahnya hingga hari kiamat. Tausiyah group WA & BBM pagi ini msh membahas seputar fiqh ibadah puasa Ramadhan sbg bentuk kesungguhan kita mempersiapkan datangnya bulan Ramadhan yaitu tentang batasan waktu makan sahur.

Salah satu sunat puasa bagi orang2 yg akan berpuasa adl makan sahur. Makan sahur merupakan sunnah Rasulullah SAW baik utk puasa wajib maupun puasa sunat.
Secara bahasa (Lughawi) sahur (السَحُور) adl makanan yg disantap sebelum berpuasa. Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullahu menjelaskan, Umat islam tlh berijma’ menyatakan sunnah utk makan sahur tp berdosa bila ditinggalkan.
Dari Anas bin Malik r.a bhw Rasulullah SAW bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً

Artinya : “Sahurlah kalian karena sesungguhnya dalam sahur terdapat barakah.”(HR.Bukhari no. 1.923, Muslim no.1.095).

(Ref : Kitab Fiqh Sunnah Sayyid Sabiq hal 61).

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, Para ulama tlh bersepakat tentang sunnahnya makan sahur & bukan suatu kewajiban.(Ref : Kitab Syarh Shahih Muslim juz 7, hal 207).
Dalam riwayat lain, Nabi SAW mendorong kita untuk tdk meninggalkan makan sahur meskipun hanya dgn seteguk air. Sebagaimana hadits yg diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri r.a ia berkata bhw Rasulullah SAW bersabda,

فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَتَجَرَّعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ

Artinya : “Janganlah kalian tinggalkan ia (sahur) meskipun kalian hanya minum seteguk air. Sesungguhnya Allah & malaikat-Nya bershalawat kpd orang yg melaksanakan sahur.”(HR. Ahmad).

Makan sahur memiliki banyak keutamaan diantaranya : sbg momentum utk berniat puasa ketika seseorang lupa & lalai berniat dimalam harinya, menguatkan badan orang yg berpuasa dlm menunaikan ibadah, menambah kekuatan agar semakin rajin beribadah, menghindari buruknya akhlaq yg dpt timbul akibat rasa lapar.

Batasan Waktu Makan Sahur

Al-imam Ibnu Katsir rahimahullahu menjelaskan tafsir Surat Al-Baqarah ayat 187 diatas, Allah SWT memperbolehkan pula makan & minum di samping boleh menggauli istri dalam malam mana pun yg disukai oleh orang yg berpuasa, hingga tampak jelas baginya cahaya waktu subuh dari gelapnya malam hari. Hal ini diungkapkan di dalam ayat dgn istilah “benang putih” yg berbeda dengan “benang hitam”, kemudian pengertian yg msh misteri ini diperjelas dgn firman-Nya:

{مِنَ الْفَجْرِ}

Yaitu fajar. (QS.Al-Baqarah: 187)

Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullahu menjelaskan : Waktu sahur adl dari pertengahan malam hingga terbitnya fajar. Kita jg disunnahkan mengahirkannya sebagaimana hadist Dari Zaid bin Tsabit r.a ia berkata:

تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلاَةِ. قُلْتُ: كَمْ كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: خَمْسِيْنَ آيَةً

Artinya : “Kami makan sahur bersama Rasulullah SAW kemudian (setelah makan sahur) kami berdiri untuk melaksanakan shalat. Aku (Anas bin Malik) berkata: Berapa perkiraan waktu antara keduanya (antara makan sahur dgn shalat fajar)? Zaid bin Tsabit r.a berkata: 50 ayat.”(HR.Bukhari & Muslim).

Al-Imam Ibnu Hajar rahimahullahu menjelaskan: Bacaan tersebut bacaan yg sedang2 saja (ayat2 yg dibaca) tdk terlalu panjang & tdk pula terlalu pendek & (membacanya) tdk cepat & tdk pula lambat.(Ref : Kitab Fathul Bari juz 4, hal164).

Al-imam Ibnu Rusyd rahimahullahu berkata : Menurut Imam Malik sesuai dgn pendapat jumhur (mayoritas ulama), batasannya adl eksistensi terbitnya fajar bukan tampaknya fajar bahkan sebagian ulama membatasi sebelum terbit fajar.
Dasar pendapat Malik & jumhur adl hadits dalam kitab Bukhari, saya kira dalam riwayatnya Nabi SAW bersabda, Makan & minumlah hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan, sesungguhnya dia tdk menyeru hingga terbit fajar.(HR.Bukhari & Ibnu Majah).

Mereka yg menentukan batas sebelum fajar hanya sbg tindakan kehati-hatian & menghilangkan keraguan. Pendapat yg pertama (Imam Malik & jumhur ulama) lbh tepat & pendapat yg kedua (sebelum terbit fajar) lbh berhati-hati.
(Ref : Kitab Bidayatul Mujtahid juz 1, hal. 649).

Kesimpulan

Makan sahur termasuk salah satu sunnah Rasulullah SAW. Sebaik2 makan sahur dilakukan diakhir malam sebelum terbitnya fajar shadiq. Waktu imsyak bukan batas akhir makan sahur akan tp sbg peringatan agar lbh hati2 bhw waktu azan subuh semakin mendekat shg hrs menyegerakan makan & minum serta berniat puasa Ramadhan.

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Selasa, 31 Mei 2016

Fiqh Ibadah : Niat Puasa Ramadhan

بسم الله الرحمن الرحيم

Pelajaran Hadist Hari Ini :

وَعَنْ حَفْصَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ } رَوَاهُ الْخَمْسَةُ ، وَمَالَ التِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ إلَى تَرْجِيحِ وَقْفِهِ ، وَصَحَّحَهُ مَرْفُوعًا ابْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ – وَلِلدَّارَقُطْنِيِّ { لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يَفْرِضْهُ مِنْ اللَّيْلِ }

Artinya : Dari Hafshah Ummul Mukminin bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Barangsiapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa untuknya.”(Hadits ini dikeluarkan oleh yang lima, yaitu Abu Daud, Tirmidzi, An Nasai dan Ibnu Majah. An Nasai dan Tirmidzi berpendapat bahwa hadits ini mauquf, hanya sampai pada sahabat (perkataan sahabat). Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibbah menshahihkan haditsnya jika marfu’ yaitu sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam riwayat Ad Daruquthni disebutkan, “Tidak ada puasa bagi yang tidak berniat ketika malam hari).

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaraku seiman, Segala puji hanyalah milik Allah Subhana wa ta’ala. Shalawat & salam senantiasa tercurahkan kpd Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallan, para keluarganya, sahabat2 nya & ummatnya yg istiqomah diatas sunnahnya hingga hari kiamat. Tausiyah group WA & BBM pagi ini akan membahas tentang fiqh ibadah yakni niat puasa Ramadhan.

Niat ikhlas utk beribadah kpd Allah SWT adl perkara yg penting didlm Islam. Bahkan niat termasuk salah satu syarat sah diterimanya amal ibadah seseorang oleh Allah SWT. Tanpa dasar niat maka amal seseorang menjadi sia2 & tak berguna. Niat ikhlas jg merupakan intisari dari baiknya agama seseorang. Bila rusak niatnya dlm setiap beramal ibadah maka rusak pula seluruh amal ibadahnya.

ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Artinya : Dari Umar r.a bhw Rasulullah SAW bersabda, Amal itu tergantung niatnya, & seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yg hijrahnya kpd Allah & Rasul-Nya, maka hijrahnya kpd Allah & Rasul-Nya, Dan barang siapa yg hijrahnya karena dunia atau karena wanita yg hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.(HR.Bukhari & Muslim).

Menurut para ulama niat mempunyai 2 makna yaitu :

1. Utk membedakan antara satu ibadah dgn ibadah yg lain, seperti utk membedakan shalat dzhuhur dgn shalat Ashar, utk membedakan antara puasa Ramadhan dgn puasa sunat atau utk membedakan antara ibadah dgn adat kebiasaan seperti utk membedakan antara mandi wajib dgn mandi utk menyegarkan atau membersihkan badan. Makna niat seperti ini adl yg paling banyak dijumpai dlm kitab2 fiqih.

2. Utk membedakan tujuan melakukan suatu amalan, apakah tujuannya adl krn Allah SWT saja atau krn Allah SWT & juga krn yg lainnya.
Perbuatan yg tdk disertai dgn niat maka perbuatan tersebut tdk diakui oleh hukum syara’ & tdk ada kaitannya dgn tuntutan (thalab) atau tawaran utk memilih (takhyir).

Syarat sah niat puasa Ramadhan

1. Kokohnya keyakinan/kepastian yakni agar seseorang tdk ragu. Bahkan apabila seseorang berniat pd malam hari syak (hari yg meragukan antara masuknya Ramadhan atau belum) utk berpuasa esok harinya jika ternyata hari itu memang tlh masuk Ramadhan maka niat tsb tdk dianggap sah. (Ref : Kitab Fath Al-qadir juz 2 hal 234).

2. Menentukan niat yakni menentukan niat puasa Ramadhan atau puasa fardhu, tdk boleh menentukan puasa tertentu selain puasa Ramadhan.(Ref : Kitab Raudhah Ath-thalibin juz 2 hal 350).

Karena syarat kedua inilah kemudian muncul redaksi dari ulama utk memudahkan kaum muslimin

نويت صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةَ لِلَّهِ تَعَالَى

Aku niat berpuasa esok hari, wajib bulan Ramadhan tahun ini krn Allah ta’ala.

Kenapa hrs ditentukan? Karena puasa adl ibadah yg berkaitan dgn waktu (hari), maka hrs ditentukan waktunya, agar tdk tercampur dgn puasa lain. Layaknya shalat 5 waktu yg hrs ditentukan jenis shalatnya ketika niat agar tdk bias dgn shalat yg lain. Ini adl pendapat Mazhab. Al-Malikiyah, Al-Syafi’iyyah & Al-Hanabilah. (Ref : KIitab Al-Majmu’  juz 2 hal 50, Kitab Al-Mughni juz 3 hal 109).

Namun bagi kalangan mazhab al-Hanafiyah, tdk perlu adanya penentuan puasa dlm niat, cukup dgn niat puasa mutlak saja tanpa ditentukan jenisnya. Karena yg namanya puasa Ramadhan itu tdk mungkin dilakukan di luar Ramadhan, maka ketika ada yg berniat puasa, pastilah itu utk Ramadhan.

Lalu siapa yg menciptakan redaksi tsb?

Ulama yg menciptakan redaksi tsb adl Imam Al-Rafi’i Al-Quzwaini (w. 623 H) dari kalangan Al-Syafi’iyyah. Beliau menuliskan redaksi niat tersebut dlm kitabnya Fathul-‘Aziz bi Syarhi al-Wajiz atau biasa yg disebut dfn istilah Al-Syarhu Al-Kabir li Al-Rafi’iy (6/293) sbg implementasi atas syarat2 niat tersebut guna memudahkan bagi para muslim ketika ingin berniat puasa Ramadhan.

Kemudian, niat tersebut kembali ditulis ulang oleh Imam Al-Nawawi dlm kitabnya Raudhah al-Thalibin yg akhirnya menjadi familiar & banyak diamalkan kebanyakan kaum muslimin. (Ref : Artikel Niat puasa Ramadhan haruskah setiap malam, Ust.Ahmad Zarkasi, Lc).

3. Berniat dimalam hari yaitu setelah tenggelanmnya matahari hingga terbit fajar. Hal ini disyaratkan oleh mazhab Maliki, Syafi’i & Hambali sesuai dgn hadist Ibnu Umar r.a & Hafshah r.ah :

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ.

Artinya : Barangsiapa yg tdk berniat di malam hari sebelum fajar maka tdk ada puasa untuknya.( HR.Tirmizi).

4. Memperbarui niat (Tajdidu An-niyah) pd setiap malam Ramadhan. Wajib hukumnya berniat puasa pd setiap malam dibulan Ramadhan dgn dalih keumuman hadist diatas. Sebab setiap puasa yg dilakukan setiap hari bersifat terpisah & tdk berkaitan antara satu & yg lainnya serta tdk rusak atau batal dgn batalnya puasa pd hari lainnya.
(Ref : Syaikh Abu Malik Kamal, Kitab Shahih Fiqh Sunnah, jilid 2 hal 159-160).

Kesimpulan

Niat puasa Ramadhan hrs diperbarui setiap malam sebelum terbitnya fajar setelah tiba waktu imsyak. Semoga kita mampu menjaga niat ikhlas dlm setiap melakukan amal ibadah temasuk dlm menunaikan ibadah puasa Ramadhan.

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Senin, 30 Mei 2016

Fiqh Ibadah : Rukhsha Puasa Ramadhan

بسم الله الرحمن الرحيم

Pelajaran Ayat Al-Qur’an Hari Ini :

{أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ ۚ وَأَن تَصُومُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ} [البقرة : 184]

Artinya : (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(QS.Al-Baqarah:184).

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaraku seiman, Segala puji hanyalah milik Allah Subhana wa ta’ala. Shalawat & salam senantiasa tercurahkan kpd Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallan, para keluarganya, sahabat2 nya & ummatnya yg istiqomah diatas sunnahnya hingga hari kiamat. Tausiyah group WA & BBM pagi ini akan membahas tentang fiqh ibadah yakni rukhsha puasa Ramadhan.

Tanpa kita sadari perputaran waktu & hari silih berganti cepat berganti. Sesuai dgn kalender Hijriyah hari ini adl hari Senin tgl 23 Sya’ban 1437 Hijriyah. Artinya sekitar 6 atau 7 hari lg kita akan menghadapi & menjalani ibadah puasa Ramadhan. Utk itu penbahasan tausiyah group WA & BBM akan difokuskaan seputar fiqh puasa Ramadhan.

Pd bulan ramadhan tahun2 yg lalu ada diantara kaum muslimin yg ditimpa musibah sakit, para ibu rumah tangga yg sedang hamil atau menyusui & orang2 yg menempuh perjalanan yg jauh (musafir) shg ia tdk dpt menunaikan kewajiban puasa ramadhan secara penuh. Allah SWT tlh mensyari’atkan bagi mrk rukhsah atau keringanan utk mengganti puasa Ramadhan yg tertinggal dihari2 yg lain sebelum datangnya kembali bulan Ramadhan.

Bagi perempuan yg hamil & menyusui, tak ada khilafiyah di antara ulama keduanya boleh tak berpuasa Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنِ الْمُسَافِرِ وَالْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ أَوِ الصِّيَامَ

Artinya : Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla telah menanggalkan bagi musafir setengah (kewajiban) shalatnya & jg (kewajiban) puasanya, Dan bagi perempuan hamil & menyusui, (kewajiban) puasanya. (HR Ibnu Majah, Nasa’i, Tirmidzi). (Mahmud Uwaidhah, Al-Jami’ li Ahkam As Shiyam, hal. 53).

Ada bbrp kasus pertaanyaan terkait dgn rukhsah puasa Ramadhan yaitu :

1. Apakah disyaratkan ibu yg hamil atau menyusui krn khawatir akan dirinya, janinnya & bayi yang disusuinya ataukah hanya krn hamil & menyusui?

Ulama berbeda pendapat mengenai syarat perempuan hamil & menyusui boleh tak berpuasa Ramadhan. Sebagian ulama berpendapat, jika perempuan yg hamil & menyusui khawatir akan dirinya, atau anaknya (janin/bayi yg disusui), maka dia boleh tak berpuasa. Ini pendapat rajih dlm madzhab Syafi’i & pendapat Imam Ahmad. Namun sebagian ulama berpendapat, perempuan yg hamil & menyusui secara mutlak boleh tak berpuasa, baik ada kekhawatiran atau tdk, baik khawatir akan dirinya atau anaknya. Ini pendapat Syaikh Ali-Raghib. (Ref ;: Muhammad Abdurrahman Dimasyqi, Rahmatul Ummah fi Ikhtilaf Al-A’immah, hal.66, Ali Raghib, Ahkam As-Shalah, hal 121).

2. Apakah perempuan hamil & menyusui wajib mengqadha’ puasanya? Dlm hal ini terdapat bbrp pendapat ulama :

A. Sebagian ulama seperti Ibnu Abbas r.a & Ibnu Umar r.a, membolehkan mengganti puasa dgn fidyah, tdk mewajibkan qadha’. Namun yg rajih adl pendapat mayoritas ulama yg mewajibkan qadha’ sebab pendapat Ibnu Abbas r.a itu diragukan, mengingat dalam Mushannaf Abdur Razaq (no. 7.564) Ibnu Abbas justru berpendapat sebaliknya, yaitu wajib mengqadha’ & tak boleh membayar fidyah. (Ref ; Soal jawab KH.Siddiq Al-jawi).

B. Wajib mengqadha’ (mengganti) puasa & memberi makan kpd orang2 miskin bagi setiap hari yg ditinggalkan yaitu sebanyak 1 mud = 0,6 Kg berupa makanan pokok. Inilah pendapat Imam Asy-Syafi’i, Imam Malik & Imam Ahmad. Namun menurut ulama Syafi’iyah & Hanabilah, jika wanita hamil & menyusui takut sesuatu membahayakan dirinya (tidak anaknya), maka wajib baginya mengqadha’ puasa saja krn keduanya disamakan seperti orang yg sakit. Allah SWT berfirman,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِين

Artinya : Dan wajib bagi orang2 yg berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.(QS.Al-Baqarah:184).

C. Cukup mengqadha’ puasa saja tanpa hrs membayar fidhya. Inilah pendapat Imam Al-Auza’i, Imam Ats-Tsauriy & Imam Abu Hanifah

D. Cukup memberi makan kpd orang2 miskin tanpa mengqadha’. Inilah pendapat Ibnu Abbas r.a, Ibnu ‘Umar r.a & Syaikh Albani.

3. Bagi orang2 yg sakit kategori sakit berat yg bila berpuasa dpt membahayakan kesehatannya maka ia dpt tdk berpuasa & menggantikannya dilain hari diluar bulan ramadhan. Pengecualian ini tdk berlaku bagi orang yg sakit ringan.

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَر

Artinya : Maka barangsiapa diantara kamu ada yg sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yg ditinggalkan itu pada hari2 yg lain.(QS.Al-Baqarah:184).

4. Sementara rukhsah bagi orang2 yg menempuh perjalanan yg jauh atau musafir jumhur ulama bersepakat batasan utk mengqashsr shalat & mengqadha puasa adl sejauh 85 Km & sebagian ulama lain berpendapat bila menempuh perjalanan 3 hari 3 malam dgn menggunakan binatang tunggangan (ref : Kitab Fiqh Sunnah). Utk orang yg safar batasan jarak saat ini dikembalikan kepada urf atau kebiasaan masyarakat bila perjalanan itu sdh dikatakan kategori yg jauh maka dibolehkan baginya utk mengqadha puasa di lain hari.

Prinsipnya ajaran Islam itu mudah & tdk mempersulit bagi hamba2 Allah utk menunaikan kewajibannya selaku seorang hamba. Maka permudahlah dlm urusan ibadah dgn mengamalkan tuntunan apa yg tlh ditetapkan oleh Allah SWT & Rasul-Nya.

Allah SWT berfirman,

َ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Artinya : Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS.Al-Baqarah:185).

Semoga Allah SWT msh memberi kita kesempatan utk bertemu dgn Ramadhan nanti. Semoga Allah SWT selalu memberi kita kesehatan & kekuatan iman shg kita mampu bersungguh2 menunaikan ibadah puasa ramadhan dgn keikhlasan semata2 utk mengharapkan ridha Allah SWT. Aamiin ya Allah..

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Rabu, 11 Mei 2016

Aqidah Islam : Mengimani Hari Kiamat

بسم الله الرحمن الرحيم

Pelajaran Ayat Al-Qur’an Hari Ini :

Allah Subhana Wa Ta’ala Berfirman,

{يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ} [الأعراف : 187]

Artinya : Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat : “Bilakah terjadinya? Katakanlah : “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku, tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah : “Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”(QS.Al-A’raf:187).

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaraku seiman, Segala puji hanyalah milik Allah Subhana wa ta’ala. Shalawat & salam senantiasa tercurahkan kpd Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallan, para keluarganya, sahabat2 nya & ummatnya yg istiqomah diatas sunnahnya hingga hari kiamat. Tausiyah group WA & BBM pagi ini akan membahas tentang aqidah Islam yaitu mengimani terjadinya hari kiamat.

Bagi orang2 yg beriman kpd Allah SWT & beriman kpd Rasulullah Muhammad SAW wajib mengimani terjadinya hari kiamat. Mengimani hari kiamat merupakan bagian dari rukun iman yg ke-5. Keimanan ini bersifat pasti yg tdk ada keraguan sedikitpun tentang kejadiannya meskipun tdk seorangpun yg mengetahui kapan terjadinya.

Hari kiamat adl hari terakhir bagi kehidupan seluruh mahluk yg ada dialam semesta & hancurnya seluruh alam jagad raya. Huru hara kejadian hari kiamat sungguh dahsyat yg tdk pernah dibayangkan oleh manusia. Didlm Al-Qur’an banyak diterangkan oleh Allah SWT diantaranya,

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ (1) يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَىٰ وَمَا هُم بِسُكَارَىٰ وَلَٰكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ (2)} [الحج : 1-2]

Artinya : “Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian,  sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adl suatu kejadian yg sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pd hari (ketika) kalian melihat keguncangan itu, lalailah semua wanita yg menyusui anaknya dari anak yg disusukannya & gugurlah kandungan semua wanita yg hamil & kamu lihat manusia dlm keadaan mabuk, padahal sebenarnya tdk mabuk, tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.(QS.Al-hajj:1-2).

{إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ (1) وَإِذَا النُّجُومُ انكَدَرَتْ (2) وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ (3) وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ (4) وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ (5) وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ (6)} [التكوير : 1-6]

Artinya : Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dijadikan meluap.(QS.Attakwir:1-6).

Para ulama tlh membagi tanda2 hari kiamat menjadi 2 bagian, yaitu :

1. Tanda2 Kecil (‘alamatu shughra)
Diantara tanda2 kecil akan terjadinya hari kiamat saat sekarang ini sdh banyak terjadi.  Sebagaimana yg dijelaskan oleh Rasulullah SAW :

A. Tersebarnya kebodohan & kemaksiatan.

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ، وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ، وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ، وَيَظْهَرَ الزِّنَا.

Artinya : “Sesungguhnya di antara tanda2 hari Kiamat adl: diangkatnya ilmu, tersebarnya kebodohan, diminumnya khamr & merajalelanya perzinaan.(HR.Bukhari No.80).

B. Islam tinggal nama & mesjid banyak megah tp kosong dari hidayah.

Dari Ali bin Abi Thalib r.a. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda :  Sudah hampir tiba suatu zaman, kala itu tdk ada lagi dari Islam kecuali hanya namanya & tdk ada dari Al-Qur’an kecuali hanya tulisannya. Masjid2 mereka indah tp kosong dari hidayah. Ulama mrk adl sejahat-jahat makhluk yg ada di bawah kolong langit. Dari merekalah keluar fitnah & kpd mrk fitnah itu akan kembali .” (HR.Al-Baihaqi).

C. Waktu berlalu dgn sangat cepat.

Dari Anas bin Malik r.a. ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Tdk akan terjadi hari kiamat shg waktu terasa pendek, maka setahun dirasakan seperti sebulan, sebulan dirasakan seperti seminggu, seminggu dirasakan seperti sehari, sehari dirasakan seperti satu jam serta satu jam dirasakan seperti satu kilatan api. (sebentar saja, hanya seperti kilatan api sekejap). (HR.Tirmizi).

D. Umat Islam diperebutkan musuh krn terjangkit penyakit Wahan.

Rasulullah SAW bersabda, “Hampir tiba suatu zaman di mana bangsa2 dari seluruh dunia akan datang mengerumuni kamu bagaikan orang2 yg kelaparan mengerumuni talam hidangan mereka. Maka salah seorang sahabat bertanya, “Apakah krn kami sedikit pd hari itu? Nabi Rasulullah SAW menjawab, Bahkan kamu pd hari itu banyak sekali tp kamu umpama buih di waktu banjir & Allah akan mencabut rasa gentar thp kamu dari hati musuh2 kamu & Allah akan melemparkan ke dlm hati kamu penyakit Wahan. Seorang sahabat bertanya: Apakah wahan itu, wahai Rasulullah?. Rasulullah SAW menjawab: “Cinta dunia & takut mati”. (HR. Abu Daud).

E. Tersebarnya tulisan & pena.  Seperti saat ini tersebarnya teknologi media sosial WA, Line, BBM, Chatt dll.

Dari Umar bin Tsa’lab r.a. berkata bhw Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sebahagian dari tanda2 dekatnya Hari Kiamat, adl tersebarnya (melimpahnya) harta benda & luasnya perniagaan. Dan pena-pena akan bermunculan yg menunjukkan banyaknya bacaan &tulisan.” (HR.An-Nasa’I).

2. Tanda2 Besar (‘Alamatu Al-kubra).

Bila tanda2 besar tlh tiba maka hari kiamat akan segera terjadi. Tanda2 besar hari kiamat munculnya peristiwa2 besar yg tdk biasa terjadi. Seperti keluarnya Dajjal, turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam, keluarnya Ya’-juj & Ma’-juj serta terbitnya maatahari dari arah Barat. Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ السَّاعَةَ لاَ تَكُوْنُ حَتَّى تَكُوْنَ عَشْرُ آيَاتٍ: خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ فِي جَزِيْرَةِ الْعَرَبِ، وَالدُّخَانُ، وَالدَّجَّالُ، ودَابَّةٌ، وَيَأْجُوْجُ وَمَأْجُوْجُ، وَطُلُوْعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَنَارٌ تَخْرُجُ مِنْ قَعْرِ عَدَنٍ تَرْحَلُ النَّاسَ، وَنُزُوْلُ عِيْسَى بْنِ مَرْيَمَ e.

Artinya : “Hari Kiamat tidak akan terjadi sehingga kalian melihat sepuluh tanda:

1. Penenggelaman permukaan bumi di timur.

2. Penenggelaman permukaan bumi di barat.

3. Penenggelaman permukaan bumi di Jazirah Arab.

4. Keluarnya asap.

5. Keluarnya Dajjal.

6. Keluarnya binatang besar

7. Keluarnya Ya’juj & Ma’juj.

8. Terbitnya matahari dari barat.

9. Api yg keluar dari dasar bumi ‘Adn yg menggiring manusia.

10. Turunnya Nabi Isa bin Maryam Alaihissallam.

(HR.Muslim No.2.901).

Bila tanda2 kecil hari kiamat sdh semakin nyata terjadi maka tdk akan lama lg akan tiba tanda2 besar hari kiamat. Mari persiapkan diri utk menyongsong terjadinya hari kiamat dgn kembali ke jln Allah SWT memperbaiki diri, meningkatkan ilmu agama, berjuang dijalan Allah utk menyerukan kpd yg ma’ruf, mencegah terjadinya kemungkaran, memperbanyak amal soleh dgn harapan mendapati ajal kematian dgn husnul khatimah.

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Selasa, 26 April 2016

Hukum Pidana Islam : Qishas Hukuman Yang Adil

بسم الله الرحمن الرحيم

Pelajaran Ayat Al-Qur’an Hari Ini :

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى ۖ الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنثَىٰ بِالْأُنثَىٰ ۚ فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ۗ ذَٰلِكَ تَخْفِيفٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ ۗ فَمَنِ اعْتَدَىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ (178) وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (179)} [البقرة : 178-179]

Artinya : Hai orang-orang yg beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yg dibunuh, orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba & wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yg mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yg memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yg diberi maaf) membayar (diat) kepada yg memberi maaf dengan cara yg baik (pula). Yg demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu & suatu rahmat. Barangsiapa yg melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yg sangat pedih.

Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yg berakal, supaya kamu bertakwa.(QS.Al-Baqarah:178-179).

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaraku seiman, Segala puji hanyalah milik Allah Subhana wa ta’ala. Shalawat & salam senantiasa tercurahkan kpd Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para keluarganya, sahabat2 nya & ummatnya yg istiqomah diatas sunnahnya hingga hari kiamat. Tausiyah group WA & BBM pagi ini akan membahas hukum pidana Islam yakni tentang keadilan hukum qishas.

Kejahatan pertama yg dilakukan oleh anak Nabi Adam ‘Alaissalam adl membunuh. Allah SWT tlh mengkisahkan didlm Al-Qu’ran Surat Al-maidah ayat 28-29 tentang kedengkian Qabil thp saudaranya Habil shg ia berani membunuh saudaranya sendiri. Kisah ini menjadi ibrah bagi orang2 yg beriman utk senantiasa menjaga & memelihara nyawa manusia.

Membunuh adl termasuk dosa2 besar yg membinasakan bagi pelakunya. Allah SWT berfirman,

{وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا} [النساء : 93]

Artinya : Dan barangsiapa yg membunuh seorang mukmin dgn sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya & Allah murka kepadanya, Dan mengutukinya serta menyediakan azab yg besar baginya.(QS..An-Nisa’ : 93).

Hidup diera modern dgn konsep aturan hidup berasal dari idiologi Kapitalisme yg sekuler & liberal jauh dari rasa aman & damai. Mengutip berita on line, Tahun 2013, Polda Metro Jaya mencatat ada 51.444 kasus kriminal di Jakarta & sekitarnya, atau satu kejahatan tiap 10 menit 13 detik. Pembunuhan 74 kasus, naik 2 kasus (3%) dari tahun 2012. Artinya satu pembunuhan tiap lima hari. Pencurian dgn kekerasan 1.004 kasus & pencurian dgn pemberatan 5.011 kasus. Sementara, dari 57 kasus pemerkosaan selama tahun 2013, baru 36 kasus berhasil diselesaikan. Di tahun 2014, Polda Metro Jaya memprediksi praktik kejahatan akan meningkat. (detikNews, 29/12/2013).

Kasus pembunuhan semakin sadis & kejam baik dilakukan dgn spontan maupun terencana, dilakukan secara sendiri maupun berkelompok hingga dimutilasi. Penegakkan hukum pidana memang berjalan akan tp hasilnya jauh dari keadilan bagi keluarga korban.

Salah satu ancaman delik hukum bagi pelaku pembunuhan adl : Pasal 338 KUHP : Barangsiapa sengaja merampas nyawa orang lain, diancam, krn pembunuhan, dgn pidana penjara paling lama 15 thn.

Sedangkan Pasal 340 KUHP : Barang siapa sengaja & dgn rencana lbh dahulu merampas nyawa orang lain diancam krn pembunuhan dgn rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama 20 thn.

Hukum Pidana Islam

Allah SWT tlh menetapkan Syari’at-Nya bagi pelakuk kriminal. Sanksi dibagi menjadi 4 yaitu : Hudud, Jinayat, Ta’zir & Mukhalafah.

1. Hudud

Hudud adl sanksi atas kemaksiatan yg macam kasus & sanksinya tlh ditetapkan oleh syariah. Dlm kasus hudud tdk diterima adanya pengampunan atau abolisi. Sebab, hudud adl hak Allah SWT. Jika kasus hudud tlh disampaikan di majelis pengadilan, kasus itu tdk bisa dibatalkan krn adanya pengampunan atau kompromi.

Hudud dibagi menjadi enam: a. zina & liwath (homoseksual & lesbian); b. al-qadzaf (menuduh zina orang lain), c. minum khamr, d. pencurian, e. murtad, f. Hirabah atau bughat.

2. Jinayat

Jinayat adl penyerangan thp manusia. Jinayat dibagi dua:
1. Penyerangan thp jiwa (pembunuhan)

2. Penyerangan thp organ tubuh.

Kasus jinayat thp jiwa (pembunuhan), sanksinya ada tiga macam :

1. Qishash
2. Diyat
3. Kafarah.

Pembunuhan sendiri diklasifikasi menjadi empat jenis :

1. Pembunuhan sengaja
2. Mirip disengaja
3. Tidak sengaja
4. Karena ketidaksengajaan.

Pd kasus pembunuhan sengaja, pihak wali korban boleh memilih antara qishash ataumemaafkan dgn mengambil diyat, atau menyedekahkan diyatnya. Jika pelaku pembunuhan mendapatkan pemaafan, ia wajib membayar diyat sebanyak 100 ekor onta & 40 ekor di antaranya tlh bunting.

Sanksi pembunuhan mirip sengaja (syibh al-’amad) adl diyat 100 ekor unta & 40 ekor di antaranya bunting.

Adapun pembunuhan tdk sengaja (khatha’) diklasifikasi menjadi dua macam:
1. Seseorang melakukan suatu perbuatan yg tdk ditujukan utk membunuh seseorang, namun tanpa sengaja ternyata mengakibatkan terbunuhnya seseorang. Misalnya, ada orang memanah burung, namun terkena manusia hingga mati.

2. Seseorang yg membunuh orang yg dikiranya kafir harbi di dâr al-kufr, tetapi ternyata orang yg dibunuhnya itu tlh masuk Islam. Pd jenis pembunuhan pertama, sanksinya adl membayar diyat 100 ekor unta & membayar kafarah dgn cara membebaskan budak. Jika tdk memiliki budak, pelaku hrs berpuasa selama 2 bulan berturut2.Dalam kasus kedua, sanksinya adl membayar kafarah saja & tdk wajib diyat.

Sanksi utk pembunuhan krn ketidaksengajaan adl diyat 100 ekor onta dan membebaskan budak. Jika tdk ada budak, wajib berpuasa selama 2 bulan berturut2.

Adapun jinayat thp organ tubuh, baik thp organ tubuh maupun tulang, sanksinya adl diyat. Tdk ada qishash utk penyerangan thp organ tubuh maupun tulang secara mutlak, kecuali pd kasus penyerangan terhadap gigi & kasus jarh (pelukaan di badan). Hanya saja, kasus penyerangan gigi atau jarh bisa saja dikenai diyat. Lalu kapan pada kasus penyerangan thp gigi dikenai qishash & kapan dikenai diyat saja? Menurut fukaha, jika penyerangannya secara sengaja, dikenai hukuman qishash; sedangkan jika tdk sengaja, dikenai diyat yg besarnya tlh ditetapkan di dalam As-Sunnah. Jika orang yg dilukai tdk meminta qishash, pelaku penyerangan hanya wajib membayar diyat. Dlm kasus penyerangan pd kepala (asy-syijaj), sanksinya hanyalah diyat & tdk ada qishash.
(Ref : Syaikh Dr.Abdurrahman Al-maliki, Kitab Nizham al-’Uqubat (Sistem Hukum Pidana Islam).

Cukup jelas bagi kita bhw Syari’at Allah SWT bila ditegakkan akan mewujudkan keadilan bagi kehidupan manusia. Sangat disayangkan saat ini hukum2 Allah SWT yg terkait dgn hudud & qishas dipeti eskan,. Dgn berbagai macam argumentasi yg jauh dari keimanan dinyatakan,
seolah2 hal ini tdk menjadi kewajiban bagi orang2 yg beriman. Pd hal hukum asal perintah Allah SWT adl wajib. Sementara bila kewajiban itu tdk ditunaikan maka kaum muslimin akan berdosa.

Sistem Demokrasi Sekuler tdk akan pernah mengakomodir penerapan Syari’at Islam secara kaffah termasuk menerapkan hukum hudud. Syari’at Islam hanya bisa diterapkan dlm bingkai Khilafah Islam sesuai dgn manhaj kenabian.

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

#Syari’ah & Khilafah Mewujudkan Islam Rahmatan Lil’alamin

Jumat, 22 April 2016

Muhasabah Diri : Memperbanyak Mengingat Kematian

بسم الله الرحمن الرحيم

Pelajaran Ayat Al-Qur’an Hari Ini :

Allah Subhana Wa Ta’ala Berfirman,

{كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ} [الأنبياء : 35]

Artinya : “Setiap yg berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kamu dengan keburukan & kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), Dan hanya kepada Kami-lah kamu akan dikembalikan.” (QS.Al-Anbiya`: 35).

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaraku seiman, Segala puji hanyalah milik Allah Subhana wa ta’ala. Shalawat & salam senantiasa tercurahkan kpd Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kpd para keluarganya, sahabat2 nya & ummatnya yg istiqomah diatas sunnahnya hingga hari kiamat. Tausiyah group WA & BBM pagi Jum’at yg penuh barokah ini akan membahas muhasabah diri yakni tentang memperbanyak mengingat kematian.

Setiap makhluk yg bernyawa pasti akan mengalami kematian. Kematian adl berpisahnya ruh dari jasad manusia. Bila ajal tlh tiba saatnya cepat ataupun lambat maka Malaikat Maut akan mencabut nyawa kita. Kematian tdk disebabkan oleh penyakit yg diderita, kematian tdk ditentukan oleh usia & kematian tdk dipastikan oleh bencana musibah yg menimpa tp kematian terjadi akibat ajal dari Allah SWT. Allah SWT berfirman,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Artinya : Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila tlh datang waktunya mereka tdk dpt mengundurkannya barang sesaatpun & tdk dapat (pula) memajukannya.(QS.Al-A’raf:34).

Kematian itu datangnya pasti akan menjemput manusia meskipun ia berada diluar angkasa, dibawah lautan samudra atau ia bersembunyi didlm benteng yg kokoh. Allah SWT berfirman,

{أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ

Artinya : “Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di benteng yg tinggi lagi kokoh.”(QS. An Nisaa’ : 78).

Banyak orang yg takut menghadapi kematian bahkan berusaha utk menghindari diri dari kematian & ia ingin hidup 1000 thn lagi. Andai saja ajal kematian bisa dibayar dgn uang atau ditukar dgn jabatannya maka akan banyak orang2 konglomerat & para penguasa yg akan menukarkan harta & jabatannyanya agar ia bisa hidup lbh lama lg. Tp apa mau dikata yg namanya manusia sbg makhluk pasti akan mati binasa.

Meskipun kematian itu pasti kehadirannha tp banyak diantara manusia yg tdk mau berbekal diri utk menghadapi kematian. Mengingat kematian adl perkara yg mulia dlm rangka mengingat akan hari dahsyat dicabutnya ruh dari badan oleh malaikat maut. Mengingat mati bukan berarti pesimis dlm menjalani kehidupan didunia tp sbg pengingat diri utk mempersiapkan kehidupan akhirat. Mengingat mati dpt melembutkan hati & menghancurkan ketamakan thp dunia.

Ada sebuah riwayat hadist yg diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar r.a mengabarkan, Aku sedang duduk bersama Rasulullah SAW tatkala datang seorang lelaki dari kalangan Anshar. Ia mengucapkan salam kpd Rasulullah SAW lalu berkata,Ya Rasulullah : mukmin manakah yg paling utama? Beliau SAW menjawab, yg paling baik akhlaknya di antara mrk. Mukmin manakah yg paling cerdas? tanya lelaki itu lagi. Beliau menjawab: Orang yg paling banyak mengingat mati & paling baik persiapannya utk kehidupan setelah mati. Mrk itulah orang2 yg cerdas.”(HR. Ibnu Majah).

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata, Ad-Daqqaq berkata, Siapa yg banyak mengingat mati, ia akan dimuliakan dgn 3 perkara : bersegera utk bertaubat, hati merasa cukup & semangat dlm beribadah. Sebaliknya, siapa yg melupakan mati ia akan dihukum dgn 3 perkara : menunda2 taubat, tdk ridha dgn perasaan cukup & malas dlm beribadah. Maka berfikirlah wahai orang yg tertipu yg merasa tdk akan dijemput kematian, tdk akan merasa sekaratnya, kepayahan & kepahitannya. Cukuplah kematian sbg pengetuk hati, membuat mata menangis, memupus kelezatan & menuntaskan angan2. Apakah engkau, wahai anak Adam, mau memikirkan & membayangkan datangnya hari kematianmu & perpindahanmu dari tempat hidupmu yg sekarang?
( Ref : Kitab At-Tadzkirah, hal. 9).

Al-imam Ibnu Katsir rahimahullahu menafsirkan Surat Al-anbiya ayat 35 diatas, Tlh diriwayatkan dari Imam Syafii bhw beliau mengemukakan 2 bait syair berikut yang semakna dgn ayat ini, yaitu:

تَمَنَّى رِجَالٌ أَنْ أَمُوتَ وَإِنْ أَمُتْ فَتلْكَ سَبيل لَسْت فيهَا بأوْحد

فقُلْ للَّذي يَبْغي خِلَافَ الَّذِي مَضَى: تَهَيَّأ لأخْرى مثْلها فكَأن قَدِ

Artinya : Banyak kalangan lelaki yg mengharapkan aku mati cepat & memang mati itu merupakan suatu akhir yg saya tidak menyendiri di dalamnya.

Maka katakanlah kpd orang yg menginginkan hal yg berbeda dgn pendahulunya, bersiap-siaplah utk menghadapi masa hidupnya yg baru, kematian akan tetap menjadi suatu kepastian baginya. Allah SWT berfirman,
{وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً}

Artinya : Kami akan menguji kalian dgn keburukan & kebaikan sebagai cobaan (yg sebenar-benarnya). (QS.Al-Anbiya: 35)

Maksudnya Kami benar2 akan menguji kalian adakalanya dgn musibah & adakalanya dgn nikmat agar Kami dpt melihat siapakah yg bersyukur & siapakah yg ingkar, siapakah yg bersabar serta siapakah yg berputus asa (di antara kalian).
(Ref : Kitab Tafsir Ibnu Katsir, Daar Ibnu Hazm hal 1.237).

Semoga kita termasuk orang2 yg senantiasa banyak mengingat kematian shg dpt segera bertaubat & tetap semangat dlm beramal ibadah kpd Allah SWT hingga ajal kematian tiba.

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

#Syari’ah & Khilafah Mewujudkan Islam Rahmatan Lil’alamin

Keutamaan Amal Berdawah

بسم الله الرحمن الرحيم

Pelajaran Ayat Al-Qur’an Hari Ini :

Allah Subhana Wa Ta’ala Berfirman,

{وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ} [فصلت : 33]

Artinya :”Siapakah yg lebih baik perkataannya dari pada orang yg menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh & berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang2 yg menyerah diri” (QS. Fushshilat: 33)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaraku seiman, Segala puji hanyalah milik Allah Subhana wa ta’ala. Shalawat & salam senantiasa tercurahkan kpd Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kpd para keluarganya, sahabat2 nya & ummatnya yg istiqomah diatas sunnahnya hingga hari kiamat. Tausiyah group WA & BBM pagi ini akan membahas tentang keutamaan amal berda’wah menyerukan yg ma’ruf & mencegah yg mungkar.

Keutamaan menyerukan yg ma’ruf & mencegah dari yg mungkar adl sbg manusia yg paling baik ucapannya. Seruan da’wah kpd individu, masyarakat & negara adl upaya utk menunaikan kewajiban, menjaga eksistensi ajaran Islam, wujud kecintaan thp sesama mukmin utk saling ingat mengingatkan dlm kebenaran & kesabaran, menyelamatkan diri dari kemaksiatan & menyebar luaskan kemuliaan agama Islam sbg rahmatan lil’alamin. Sebuah riwayat hadist :

عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ
(رواه مسلم)

Artinya : Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.”(HR.Muslim).

Da’wah menurut bahasa adl seruan atau ajakan, sedangkan menurut makna syar’inya adl seruan kpd orang lain agar mengambil yg Al-khair (islam), melakukan kemakrufan & mencegah kemungkaran. Atau jg dpt di definisikan dgn upaya utk merubah manusia (baik perasaan, pemikiran, maupun tingkah lakunya) dari jahiliyyah ke islam, atau dari yg sdh islam menjadi lbh kuat lagi ke islamannya.

Tugas & tanggung jawab da’wah bukan hanya ada dipundak para Ustadz & Kyai akan tp menjadi tanggung jawab setiap individu mukmin baik laki2 maupun wanita.

Imam Ibnu Katsir rahimahullahu menafsirkan ayat di atas yaitu para da’i tsb memberi manfaat kpd dirinya & orang lain, baik secara langsung maupun tdk langsung. Bukanlah termasuk golongan ini orang2 yg menyeru kpd yg ma’ruf akan tp tdk mengerjakannya, atau mencegah dari yg mungkar akan tp ia sendiri mengerjakannya. Akan tp mereka menyeru kpd kebaikan & meninggalkan keburukan, menyeru makhluk kpd Al-khaliq. Seruan ini umum mencakup siapa saja yg menyeru kpd kebaikan & memberikan petunjuk kpd orang lain. (Tafsir Ibnu Katsir Juz 24).

Subjek da’wah dpt dilakukan oleh individu, jama’ah maupun negara, masing2 memiliki dasar & arah perjuangan tersendiri dlm mencapai sebuah target da’wah. Hal ini terjadi krn perbedaan dlm memahami realitas pd sebuah pemikiran bagaimana membangkitkan masyarakat. Allah SWT berfirman,

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya : Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yg menyeru kpd kebajikan, menyuruh kpd yg ma`ruf & mencegah dari yg munkar; merekalah orang2 yg beruntung.(QS.Al-imran:104).

Perkataan وَلْتَكُنْ terdiri dari tiga kata وَ, yg berartidan لْ yang berarti hendaklah & تَكُن berasal dari كَان – يكُون – كونا yg berarti ada, keadaan ataumenjadi. Dgn demikian وَلْتَكُنْ bisa berma’na hendaklah ada, atau hendaklah menjadi. Perkataanمِنْكُم ْ menurut Syaikh Wahbah Al-Zuhayli rahimahullahu

من لِلتَّبْعِيْض لأن مَاذُكِرَ فَرْضُ كِفَايَة لا يَلْزَم كُلَّ الأمَّة ولا يلِيْقُ بِكُلِّ احِدٍ
كالْجَهِل

lafazh من berarti sebagian krn apa yg disebutkan berikut sesuatu yg hukumnya fardlu kifayah. Apa yg diperintah dlm ayat ini tdk dpt dilakukan oleh setiap umat tdk layak dilakukan individu, seperti yg tdk punya ilmu.
(Ref : Kitab Tafsir Al-Munir, Jz.IV h.32).

Tegasnya ayat ini mengatur pembagian tugas dlm satu kesatuan umat. Namun menurut Al-Baydlawi bisa jg difahamai sbg من bayani atau penjelas yg mengisyaratkan perintah pada satu umat.
(Ref : Kitab Tafsir al-Baydlawi, tentang surat al-Nisa:77).

Yang dimaksud dengan أُمَّةٌ adl

جماعة تُرَبِّطُهُم رابِطَةٌ مُعَيَّنَنَةٌ تُجْمِعُهُم

Kelompok yg terikat oleh ikatan yg jelas shg terhimpun satu kesatuan.

Perkataan يَدْعُونَ berasal dari

دَعا – يدعو – دعوة

berarti mengajak, menyeru, memanggil. Sedangkan الْخَيْر ِ menurut Imam Thabari,

الخير يعني إلى الإسلام وشرائعه التي شرعها الله لعباده

Al-khair adl : Al-Islam & syari’ahnya yg tlh di tetapkan Allah utk hamba2 Nya.
(Ref : Kitab Tafsir Jami al-Bayan, juz IV hal 38).

Dengan demikian mengajak pd al-Khair adl berda’wah menyeru manusia kpd al-Islam, mengajar mrk utk memahami & melaksanakan syari’ah Islam. Jelaslah bhw al-Khair itu yg tlh dianggap benar & baik oleh syar’ah, walau bisa jadi anggota msyarakat ada yg menganggapnya tdk baik.

Ayat diatas menjadi dalil perintah Allah SWT kpd orang2 yg beriman utk menyerukan da’wah Islam. Hukum asal berda’wah adl fardhu ‘ain bagi setiap individu mukmin & fardhu kifayah utk membentuk jama’ah da’wah.

Sebaik2 suri tauladan dlm seluruh amal ibadah termasuk dlm hal berda’wah adl Rasulullah SAW.
Berdasarkan aktivitas da’wah Rasulullah SAW melalui kajian kitab Sirah Nabawiyah mulai dari periode Mekkah hingga Madinah selama 23 tahun dpt difahami metode atau thoriqoh da’wah Rasulullah SAW ada 3 yaitu :

1. Kaderasasi para sahabat Rasulullah SAW utk menanamkan tauhid, syakhsiyah/kepribadian Islam & tsaqofah/ilmu pemahaman Islam.

2. Interaksi pemikiran antara yg haq & bathil ditengah2 masyarakat arab jahiliyah

3. Penerapan Islam secara kaffah.

Ketiga metode dakwah ini wajib diteladani oleh ummatnya yg mengaku mencintai Rasulullah SAW. Sebaik2 seruan da’wah dilakukan oleh negara yg akan menyerukan da’wah Islam ke seluruh penjuru dunia melalui jihad fi sabilillah tp ketika tdk adanya negara Khilafah Islam maka yg berperan mengemban da’wah Islam dpt dilakukan secara berjama’ah sebab beban & tanggung jawab bukanlah perkara yg ringan.

Rintangan & tantangan da’wah jg begitu berat krn akan terus terjadi pertarungan antara yg haq & yg bathil. Dgn mengikuti metode da’wah Rasulullah SAW & berda’wah dgn penuh keikhlasan serta kesabaran maka in syaa Allah perubahan ummat akan dpt terwujud nyata baik perubahan individu, masyarakat maupun bernegara dgn jalan menerapkan Syari’at Islam secara kaffah dlm seluruh aspek kehidupan.

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

#Syari’ah & Khilafah Mewujudkan Islam Rahmatan Lil’alamin

Kamis, 31 Maret 2016

Fiqh Munakahat : Larangan Menikahi Wanita Atau Pria Kafir

بسم الله الرحمن الرحيم

 : Pelajaran Ayat Al-Qur’an Hari Ini

Allah Subhana Wa Ta’ala Berfirman,

{وَلَا تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ} [البقرة : 221]

Artinya : Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) hingga mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izinNya. Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya (perintah-perintahNya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah : 221).

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaraku seiman, Segala puji hanyalah milik Allah Subhana wa ta’ala. Shalawat & salam senantiasa tercurahkan kpd Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kpd para keluarganya, sahabat2 nya & ummatnya yg istiqomah diatas sunnahnya hingga hari kiamat. Tausiyah group WA & BBM pagi ini akan membahas tentang fiqh munakahat (pernikahan) yaitu larangan menikahi wanita kafir atau menikah dgn pria kafir.

Tata pergaulan pria & wanita diera modern saat ini cenderung mengikuti peradaban barat (western) yg berorientasi pd bebas nilai yg bersifat hedonisme & pemuasan syahwat semata. Hidup bersama tanpa ikatan pernikahan atau menikah tp berbeda agama & keyakinan (Nikah Sipil) seolah2 sdh menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Bahkan digembar gemborkan bagian dari hak azasi manusia (Human right).

Pd asalnya kecenderungan manusia suka kpd lawan jenisnya adl bagian dari fitrah manusia. Hal ini merupakan ekspresi dorongan syahwat biologis (Gharizah At-tadayun) yg ada didlm diri manusia. Allah SWT berfirman,

{زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ} [آل عمران : 14]

Artinya : “Dijadikan indah pd (pandangan) manusia kecintaan kpd apa2 yg diingini berupa: wanita2, anak2, harta yg banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang2 ternak & sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yg baik/surga.(QS.Al-imran:14).

Dorongan syahwat itu tdk dpt dikekang atau dilenyapkan dari dlm diri manusia, sebagaimana ada manusia yg menolak menikah krn hendak menjadi manusia yg suci. Siapa saja diantara manusia yg hendak melenyapkan syahwatnya sama halnya ia menolak fitrahnya sbg manusia. Syahwat bukan utk dilenyapkan & bukan pula utk diumbar akan tp utk disalurkan.

Agar dorongan syahwat itu disalurkan dgn cara yg baik & benar maka Allah SWT mensyari’atkan pernikahan. Pernikahan didlm Islam adl ibadah yg dpt menghalalkan dari yg haram (jima’), meneruskan keturunan, mewujudkan ketenteraman & kedamaian hidup bersama pasangan hidupnya. Rasulullah SAW bersabda,

قَالَ لَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَا مَعْشَرَ اَلشَّبَابِ ! مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اَلْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ , فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ , وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ , وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ; فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Artinya : Rasulullah SAW bersabda pada kami: Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mempunyai kemampuan (secara fisik dan harta), hendaknya ia menikah, krn menikah itu dapat menundukkan pandangan & memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat meredam (syahwat)”.(HR.Bukhari & Muslim).

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu menafsirkan Surat Al-Baqarah ayat 221 diatas : Ini adl pengharaman bagi kaum muslimin utk menikahi wanita2 musyrik, para penyembah berhala. Jika yg dimaksudkan adl kaum wanita musyrik secara umum yg mencakup semua wanita, baik dari kalangan ahlul kitab maupun penyembah berhala, maka Allah Ta’ala tlh mengkhususkan wanita Ahlul Kitab, melalui firman-Nya yg artinya:

“(Dan dihalalkan menikahi) wanita2 yg menjaga kehormatan di antara wanita2 yg beriman & wanita2 yg menjaga kehormatan di antara orang2 yg diberi al-Kitab sebelum kamu, jika kamu telah membayar mas kawin mereka dgn maksud menikahinya, tdk dgn maksud berzina & tdk pula menjadikannya gundik.” (QS.Al-Maa-idah: 5).

Mengenai firman Allah Ta’ala: wa laa tankihul musyrikaati hattaa yu’minn (Dan janganlah kamu nikahi wanita2 musyrik sebelum mereka beriman) Ali bin Abi Thalhah r.a meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a : Dalam hal ini, Allah SWT tlh mengecualikan wanita2 Ahlul Kitab. Hal senada jg dikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Makhul, Hasan al-Bashri, adh-Dhahhak, Zaid bin Aslam, Rabi’ bin Anas & ulama lainnya.

(Ref : Kitab Tafsir Ibnu Katsir, Daar Ibnu Hazm, hal 275).

Hukum Menikahi Ahli Kitab.

Jumhur ulama menyatakan yg dimaksud dgn kata Al-muhsanat didlm surat Al-maidah ayat 5 adl : wanita2 yg menjaga kesucian & kehormatan dirinya baik wanita2 merdeka maupun budak wanita. Dgn demikian wanita2 ahli kitab tdk termasuk wanita2 yg haram utk dinikahi. Pendapat ini jg dikemukakan oleh mayoritas sahabat & tabi’in diantaranya :

Diriwayatkan dari Jabir bhw dia pernah ditanya tentang hukum seorang muslim yg menikah dgn wanita Yahudi & Nashrani. Jabir menjawab, Kami menikahi wanita mrk (Yahudi & Nashrani) pd masa penaklukan di Kufah bersama Sa’ad Abi Waqqash. Jumlah wanita2 muslimah ketika itu msh sedikit & ketika kami kembali kami menceraikan mrk. Jabir berkata, mrk tdk berhak mewarisi seorang muslim & seorang muslim tdk berhak mewarisi mrk. Wanita2 mrk halal bagi kita & wanita2 kita haram bagi mrk.(Imam As-syafi’ie, Kitab Al-umm juz 5 hal 8).

(Ref : Syaikh Abu Malik Kamal, Kitab Shahih Fiqh Sunnah, Jilid 3 hal 138).

Dgn demikian dpt diambil kesimpulan bhw haram hukumnya bagi mukmin menikahi wanita musyrik sebelum dia beriman atau haram bagi mukminah menikahi laki2 musyrik sebelum dia beriman. Adapun pengertian ahli kitab di zaman sekarang, apakah sama dgn kaum Nasrani & Yahudi pd zaman Rasulullah para ulama ikhtilaf. Mengingat ahli kitab yg dimaksudkan adl ahli kitab atas kitab Taurat & Injil yg msh asli (seperti paman dari Khadijah waktu meyakini kenabian Nabi Muhammad bukan para pendeta atau rahib).

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Mari raih amal soleh dgn share tulisan da’wah ini. Barakallahu fiikum

Mengenal Sifat Allah Ar-rahmaan & Ar-rahiim

بسم الله الرحمن الرحيم

Pelajaran Hadist Hari  Ini :

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ الْبَهْرَانِيُّ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ جَعَلَ اللَّهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ جُزْءًا وَأَنْزَلَ فِي الْأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا فَمِنْ ذَلِكَ الْجُزْءِ يَتَرَاحَمُ الْخَلْقُ حَتَّى تَرْفَعَ الْفَرَسُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Abu al-yaman al-hakam bin nafi’ bin al-bahrani, telah mengabarkan kepada kami Sua’ib dari az-zuhri telah mengabarkan kepada kami Sa’id bin al-Musayyib bahwa Abu Hurairah berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah menjadikan rahmat (kasih sayang) seratus bagian, maka dipeganglah disisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian & diturunkan-Nya satu bagian ke bumi. Dari yang satu bagian inilah seluruh makhluk berkasih sayang sesamanya, sehingga seekor kuda mengangkat kakinya karena takut anaknya akan terinjak olehnya.”(HR.Bukhari No.5541).

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaraku seiman, Segala puji hanyalah milik Allah Subhana wa ta’ala. Shalawat & salam senantiasa tercurahkan kpd Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kpd para keluarganya, sahabat2 nya & ummatnya yg istiqomah diatas sunnahnya hingga hari kiamat. Tausiyah group WA & BBM pagi ini akan membahas tentang aqidah Islam yakni mengenal sifat Allah SWT Ar-rahmaan & Ar-rahiim.

Mengenal & mengimani nama2 & sifat2 Allah SWT yg mulia adl kewajiban bagi setiap mukmin. Salah satu nama & sifat Allah SWT yg mulia adl Ar-rahmaan & Ar-rahiim. Diantara hikmah mengenal Allah SWT & memahami nama2 & sifat2-Nya adl akan menambah kecintaan seorang hamba kpd Rabb-nya, akan membuat seorang hamba semakin mengagungkan & membesarkan-Nya.

Al-imam Ibnu Katsir rahimahullahu menjelaskan, Kata Ar-rahmaan diambil dari kata Ar-rahmah yg artinya belas kasihan, yaitu suatu sifat yg menimbulkan perbuatan memberi nikmat & karunia. Jd kata Ar-rahmaan itu adl : yg berbuat atau memberi ni’mat & karunia yg banyak.
Sedangkan kata Ar-rahiim jg diambil dari kata Ar-rahmah & arti Rahiim adl: Orang yg mempunyai sifat belas kasihan & sifat itu tetap padanya selama2nya.

Maka Ar-Rahmaan Ar-Rahiim (Ar-rahmaanirrahiim) itu maksudnya adl : Tuhan itu tlh memberi nikmat yg banyak dgn murah-Nya & tlh melimpahkan karunia yg tdk terhingga krn Dia adl bersifat belas kasihan kpd makhluk-Nya & oleh krn sifat belas kasihan itu adl suatu sifat yg tetap pada-Nya maka nikmat & karunia Allah itu tdk ada putus2nya.
Dgn demikian maka kata2 Ar-rahmaan & Ar-rahiim itu kedua2 nya adl diperlukan dlm susunan ini krn masing2 mempunyai arti yg khusus.(Ref : Tafsir Ibnu Katsir jilid I Surat Al-fatihah).

Sabab wurud al-hadist diatas dgn konteks yg sama dgn riwayat Imam Ahmad bin Hanbal dari hadist Jundub. Dalam riwayat tersebut dikisahkan bhw datang seorang Arab baduwi kemudian turun dari kendaraannya lalu dia pun mengikat kendaraannya tsb kemudian shalat dibelakang Rasulullah SAW, setelah Rasulullah SAW menyelesaikan shalatnya, orang tersebut menuju ke kendaraannya melepaskan ikatannya & menaikinya sembari berdo’a: Ya Allah rahmatilah aku & Muhammad & jangan Engkau mengikutkan seorang pun antara kami dalam rahmat-Mu yg Engkau berikan kpd kami. Kemudian Rasulullah SAW berkata : Apakah kalian akan mengatakan bhw orang ini yg sesat atau tunggangannya? Tidakkah kalian mendengarkan apa yg dikatakannya (dalam do’anya tsb)? Mrk (para sahabat) menjawab: Ya (kami mendengarkannya) kalian tlh diperingatkan (utk berhati-hati) rahmat Allah SWT sangat luas, sesungguhnya Allah SWT menciptakan 100 rahmat, kemudian Allah menurunkan satu rahmat yg dengannya para makhluk saling berinteraksi baik (dari kalangan) jin, manusia, maupun binatang & pada sisi-Nya (tersisa) 99 rahmat. Apakah kalian akan mengatakan orang tersebut lebih sesat atau tunggangannya?.

Kemudian apakah ada perbedaan antara nama Allah SWT Ar-Rahmaan dgn  Ar-Rahiim? Tentu ada sisi perbedaannya krn setiap nama punya makna yg khusus. Berikut ini penjelasan sebagian ulama tentang perbedaan diantara keduanya. Al-Arzami mengatakan: Ar-rahmaan artinya yg Maha Pengasih thp seluruh makhluk, sedangkan Ar-rahim artinya yg Maha Pengasih thp kaum mukminin.(Ref : Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari, Tafsir Basmalah).

Manusia sbg makhluk Allah SWT memiliki rasa belas kasih & sayang sebagaimana orang tua sayang kpd anak2 nya atau anak2 sayang thp kedua orang tuanya akan tp kasih sayang Allah SWT jauh melebihi kasih sayang seorang ibu kpd anaknya. Rasulullah SAW bersabda,

فقال لنا النبي ـ صلى الله عليه وسلم: ” أتَرَوْنَ هَذِهِ طارِحَةً وَلَدَهَا فيِ النَّارِ ؟ قُلْنَا : لاَ ،وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أنْ لَا تَطْرَحَهُ . فقال : للهُ أرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا“ – صحيح البخاري ، ج 5 ص 2235

Artinya : Maka berkata kpd kami Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Akankah kalian melihat ibu ini melemparkan anaknya ke dalam api? Kami menjawab: Tdk, & ia mampu utk tdk melemparkannya. Lalu Nabi SAW bersabda: Sesungguhnya Allah lbh sayang kpd hamba-Nya, melebihi sayangnya ibu ini kpd anaknya.”(HR.Bukhari no.5.999 & Muslim no.7.078).

Wujud rasa kasih sayang jg tampak dari ikatan ukhwah Islam diantara orang2 yg beriman, dimana bila tdk tampak kasih sayang itu diantara mrk maka belumlah sempurna keimanannya.

عَنْ أَبِيْ حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ خَادِمِ رَسُوْل الله عَنْ النَّبِي قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Artinya : Dari Abu Hamzah Anas bin Malik, khadim (pembantu) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau berkata, “Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya (sesama muslim) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”(HR.Buhkari no.13).

Bila seorang hamba tdk lg memiliki sifat belas kasihan & rasa sayang thp manusia yg lainnya shg suka membuat kerusakan & kedzaliman sungguh ia tlh kehilangan fitrahnya sbg makhluk Allah SWT. Maka dgn demikian ia lbh jahat dari makhluk binatang sekalipun.

Semoga rahmat Allah ta’ala senantiasa tercurahkan kpd orang2 yg beriman shg diantara mrk senantiasa berkasih sayang & dijauhkan dari permusuhan serta perpecahan.

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Mari raih amal soleh dgn share tulisan da’wah ini. Barakallahu fiikum.

Kamis, 24 Maret 2016

Fiqh Thaharah : Apakah Menyentuh Isteri Membatalkan Wudhu

بسم الله الرحمن الرحيم

Pelajaran Ayat Al-Qur’an Hari Ini :

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ} [المائدة : 6]

Artinya : Hai orang-orang yg beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu & tanganmu sampai dengan siku & sapulah kepalamu & (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki & jika kamu junub maka mandilah, Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yg baik (bersih); sapulah mukamu & tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.(QS.Al-Maidah:6).

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaraku seiman, Segala puji hanyalah milik Allah Subhana wa ta’ala. Shalawat & salam senantiasa tercurahkan kpd Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kpd para keluarganya, sahabat2 nya & ummatnya yg istiqomah diatas sunnahnya hingga hari kiamat. Tausiyah group WA & BBM pagi ini akan membahas tentang fiqh thaharah, apakah menyentuh isteri dpt membatalkan wudhu?

Perkara menyentuh isteri apakah membatalkan wudhu adl termasuk masalah klasik yg tlh berlangsung lama yaitu sejak perkembangan mazhab2 Islam hingga saat ini. Masalah ini adl masalah Khilafiyah yg bersifat cabang agama (furu’iyyah) bukan perbedaan yg mendasar shg Islam mentolerirnya. Meskipun para ulama mampu menghormati perbedaan pendapat tp terkadang disikapi dgn fanatik mazhab secara berlebihan bagi para pengikutnya.

Perbedaan pendapat dlm memahami nash dalil baik dalil Al-Quran maupun dalil Al-hadist sebenarnya tlh terjadi sejak generasi sahabat Rasulullah SAW seperti dlm peristiwa perang khandaq Rasulullah SAW bersabda,

لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ

Artinya : Janganlah salah seorang diantara kalian melaksanakan shalat ashar kecuali di Bani Quraizhah.(HR.Bukhari No.4.119).

Dlm menyikapi pernyataan ini para sahabat Rasulullah ada diantara mereka yg shalat didlm perjalanan & sebahagian yg lain mengakhirkannya hingga sampai di Bani Quraizhah sementara Rasulullah SAW mendiamkan mrk dlm hal ini.

Ikhtilaf ada 2 macam yaitu : ikhtilaf yg terpuji & ikhtilaf yg tercela. Ikhtilaf yg terpuji adl dlm perkara2 dzanni dari perkara furu’ (cabang agama) sebagaimana ikhtilaf yg didiamkan oleh Rasulullah SAW kpd para sahabat jg seperti  ikhtilaf para sahabat dalam perkara2 yg ada pd mrk. Sedangkan ikhtilaf yg tercela adl menyangkut perkara pokok2 agama (ushuluddin) seperti aqidah Islam, Sebagaimana Syi’ah rafidhah & Ahmadiyah.

Antara Pro & Kontra

Berwudhu & bersuci dari hadast & najis adl salah satu syarat sah shalat shg seorang mukmin wajib berwudhu ketika hendak shalat & wajib pula mengetahui perkara2 yg membatalkan wudhu. Bersentuhan kulit setelah berwudhu antara suami & isteri apakah membatalkan wudhu ataukah tidak, hal ini tlh menjadi ikhtilaf dikalangan para ulama.

Setidaknya terdapat 3 pendapat dlm masalah ini :

1. Sebagian ulama berpendapat bhw menyentuh isteri membatalkan wudhu secara mutlaq seperti pendapat Imam Syafi’ie & Imam Ibnu Hazm.

Bersentuhan kulit laki2 dgn kulit perempuan dgn bersentuhan itu batal wudhu yg menyentuh & disentuh, dgn syarat bhw keduanya sdh sampai umur baligh berakal & diantara keduanya bukan mahram baik mahram nasab keturunan, persusuan ataupun perkawinan.

(Ref : KH.Sulaiman Rasyid, Fiqh Islam hal 32).

2. Sebagian ulama berpendapat menyentuh isteri tdk membatalkan wudhu seperti pendapat Imam Ahmad bin Hambal & Imam Ibnu Taimiyah.

Ibnu Abbas r.a menyatakan,

إن”المس” و”اللمس”، و”المباشرة”، الجماع، ولكن الله يكني ما شاء بما شاء

Artinya : Namanya Al-mass, Al-lams & Al-mubasyaroih bermakna jima’ (berhubungan badan). Akan tp Allah SWT menyebutkan sesuai dgn yg Dia suka. Dlm perkataan lainnya disebutkan,

أو لامستم النساء”، قال: هو الجماع.

Artinya : Makna ayat lamastumun nisaa’ adl jima’ (berhubungan badan)

(Ref : Imam Thabari, Kitab Tafsir Thabari juz 8 hal 389).

Syaikh Sayyid Sabiq menyatakan, Disini kita ingin mengemukakan hal2 yg disangka membatalkan wudhu pd hal tdk demikian krn tdk adanya alasan yg sah dpt dijadikan pegangan : 1. Menyentuh wanita tanpa ada batas.

(Ref : Kitab Fiqh Sunnah Sayyid Sabiq, juz I hal 37).

3. Sebagian ulama berpendapat menyentuh isteri bila dgn syahwat dpt membatalkan wudhu seperti pendapat Imam Malik bin Anas.

Perbedaan pendapat para ulama diatas berawal dari pemahaman ayat Al-qur’an diatas pd kalimat :

أَوْ لاَمَسْتُم النِّسَآءَ

Artinya : “Atau kamu menyentuh dgn istri.” (QS.An-Nisa’: 43).

Salah satu faktor terjadinya perbedaan pendapat dlm perkara fiqh adl perbedaan dlm memahami nash dalil, apakah dalil Al-qur’an maupun dalil hadist.

Perbedaan perkara furu’(u) Ad-diin Perkara2 fiqih praktis yg di istinbath (digali) dari dalil-dalil terperinci terbagi kepada 2 yaitu :

1. Perkara2 yg qath’i baik qath’i tsubut (sumber) maupun dilalah (penunjukkan) hukumnya.

2. Perkara2 yg dzanni dlm tsubut atau dilalahnya ataupun dalam kedua-duanya sekaligus.

Adapun perkara qath’i dlm tsubutnya maka ia berarti pasti bhw sumbernya berasal dari Allah & Rasul-Nya yakni dari Al-Quran atau hadist mutawattir. Sedangkan perkara yg qath’i dlm dilalahnya yaitu yg pasti dlm penunjukkannya yakni pasti (qath’i) maknanya & tdk diambil darinya kecuali satu makna saja seperti haramnya khamar, haramnya zina, haramnya riba atau haramnya membunuh ataupun mencuri. Semua itu tsabit (tetap) qath’i & tidak mengandung makna kecuali satu makna saja.

(Ref : Syekh Muhammad Asy-syuwaiki, Kitab Al-khalash wa ikhtilaf An-nas hal 80).

Nah, pd ayat diatas termasuk dzanni dilalah yaitu apakah pemahaman kalimat : لاَمَسْتُمُ adl menyentuh secara hakiki ataukah majazi/kiasan.
Para ulama mazhab Imam Syafi’ie memahami kalimat menyentuh adl secara makna hakiki yaitu setiap terjadi persentuhan kulit antara suami & isteri maka wudhu nya secara muthlaq batal.

Sementara ulama mazhab yg lain seperti mazhab Imam Ahmad bin hambal berpendapat bersentuhnya kulit antara suami & isteri yg sdh berwudhu tdk membatalkan wudhunya secara mutlaq, baik disertai dgn syahwat ataupun tdk. Argumentasinya adl memahami dalil ayat diatas kalimat menyentuh secara majazi/kiasan.

Kesimpulan

Jd dlm hal ini kita selaku orang awam atau muqallid ‘am boleh mengikuti salah satu pendapat para ulama diatas, apakah mengikuti pendapat ulama mazhab Syafi’ie, mazhab Maliki ataukah mazhab Hambali dgn konsekwensi bila berwudhu mengikuti pendapat mazhab tertentu maka kaifiyat shalatnya jg mengikutinya.

Kemudian mari kedepankan saling menghormati perbedaan pendapat dlm perkara furu’iyyah tanpa hrs cepat memvonis selain pendapat golongannya adl bid’ah atau sesat selama pendapat golongan yg lain didasarkan kpd hujjah dalil yg dpt dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Mari raih amal soleh dengan share tulisan da’wah ini. Barakallahu fiikum

Gerhana Matahari : Bukti Kekuasaan Ciptaan Allah SWT

بسم الله الرحمن الرحيم

Pelajaran Ayat Al-Qur’an Hari Ini :

{وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (38) وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ (39) لَا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۚ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ (40)} [يس : 38-40]

Artinya :

38. Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Allah yang maha perkasa lagi maha mengetahui.

39. Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua.

40. Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaraku seiman, Segala puji hanyalah milik Allah Subhana wa ta’ala. Shalawat & salam senantiasa tercurahkan kpd Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam, para keluarganya, sahabat2 nya & ummatnya yg istiqomah diatas sunnahnya hingga hari kiamat. Tausiyah group WA & BBM pagi ini akan membahas tentang fenomena alam gerhana matahari sbg bukti kekuasaan & kebesaran ciptaan Allah SWT.

Gerhana Matahari total akan melintas di 12 provinsi di Indonesia besok pd tgl 9 Maret 2016. Indonesia merupakan negara satu2nya yg dpt menikmati gerhana matahari total. akan terjadi di Samudra Hindia & berakhir dilautan Pasifik dekat dgn Hawaii AS. Indonesia merupakan satu-satunya negara yg dpt menikmati gerhana Matahari Total di wilayah daratan.

Di Indonesia gerhana matahari total akan melintasi 12 provinsi mulai dari Sumatera Barat (Pulau Pagai Selatan), Sumatra Selatan (Palembang), Jambi, Bengkulu, Bangka Belitung (Tanjung Pandan), Kalimantan Tengah ( Palangkaraya ), Kalimantan Timur (Balikpapan), Kalimantan Barat , Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah (Palu, Poso, Luwu), Maluku Utara (Ternate & Maba). Tetapi jalur totalitas gerhana tdk melalui semua kota di provinsi.(Ref : http://ift.tt/1LJb3sj).

Gerhana Matahari terjadi ketika posisi bulan terletak di antara bumi & matahari shg menutup sebagian atau seluruh cahaya Matahari. Walaupun Bulan lbh kecil, bayangan Bulan mampu melindungi cahaya Matahari sepenuhnya krn Bulan yg berjarak rata2 jarak 384.400 kilometer dari Bumi lbh dekat dibandingkan Matahari yg mempunyai jarak rata2 149.680.000 kilometer.(Ref : http://ift.tt/1LInvcj).

Dlm perspektif ilmu Astronomi matahari sbg pusat tata surya krn gravitasinya matahari menjadi pusat tata surya. Meski bukan bintang terbesar tp matahari menjadi bintang paling besar bagi manusia di bumi krn jaraknya paling dekat dgn bumi.

Jarak matahari dari bumi adl 149.000.000 KM shg sering dibulatkan menjadi 150 juta KM. Jarak inilah yg disebut dgn satu satuan astronom. Diameter matahari diperkirakan mencapai 1.390.000 KM. Lapisan matahari terdiri dari :

1. Atomsfer matahari.
Atmosfer matahari sbg bagian terluar memiliki kerapatan (densitas) gas yg paling rendah. Pd daerah yg dekat dgn permukaan matahari, suhunya sangat rendah dibandingkan bagian luar yang bisa mencapai jutaan derajat Celsius.

2. Fotosfer matahari.

Fotosfer atau permukaaan matahari merupakan gas yg memiliki kerapatan yg sangat tinggi. Lapisan ini merupakan lapisan yg tdk tembus pandang krn lapisan gasnya sangat tebal & pekat. Fotosfer berfungsi sbg selimut agar matahari tdk terlalu banyak kehilangan energi. Suhu di fotosfer diperkirakan mencapai 6.000 ºC.

3. Inti matahari
Inti matahari disusun oleh gas yg sangat padat dgn kerapatan kira2 100 kali lbh padat dibandingkan kerapatan air. Akibatnya, gravitasi yg terjadi di inti matahari sangat besar. Suhu di inti matahari sangat tinggi, yaitu mencapai 15.000.000 ºK.
(Ref : http://ift.tt/1RmfJUh).

Gerhana matahari bukan hanya sekedar fenomena alam biasa yg terjadi dgn sendirinya tanpa ada yg mengaturnya. Terjadinya gerhana matahari mutlak atas kehendak & ketetapan dari Allah SWT selaku Al-khaliq & Al-mudabbir.

Al-imam Ibnu Katsir rahimahullahu menafsirkan Surat Yasin ayat 38 diatas, Sehubungan dgn makna kalimat لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ada 2 pendapat :

1. Mengatakan bhw makna yg dimaksud mustaqarril laha adl tempat menetapnya matahari, yaitu di bawah ‘Arasy yg letaknya berhadapan dgn letak bumi bila dilihat dari arah ‘Arasy. Dgn kata lain, di mana pun matahari berada ia tetap berada di bawah ‘Arasy. Demikian pula semua makhluk lainnya, mengingat ‘Arasy merupakan atap bagi kesemuanya. Bentuk ‘Arasy itu bukan bulat, tidak seperti yg disangka oleh para ahli ilmu ukur & bentuk.

Sesungguhnya ia berbentuk seperti kubah yg mempunyai tiang2, dipikul oleh para malaikat letak ‘Arasy berada di atas semesta alam, yakni berada di atas semua manusia. Matahari itu apabila berada di tengah kubah falak di waktu dzuhur, maka saat itulah mentari berada paling dekat dgn ‘Arasy. Dan apabila berputar di garis edarnya hingga letaknya berlawanan dgn kedudukan tsb, yaitu bila berada di tengah malam, maka mentari berada di tempat yg paling jauh dengan ‘Arasy. Pada saat itulah mentari bersujud & meminta izin utk terbit lagi, sebagaimana yg disebutkan di dalam banyak hadist.

قَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْم، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ [التَّيْمِيِّ] ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ عِنْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ، فَقَالَ: “يَا أَبَا ذَرٍّ، أَتَدْرِي أَيْنَ تغربُ الشَّمْسُ؟ ” قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: “فَإِنَّهَا تَذْهَبُ حَتَّى تَسْجُدَ تَحْتَ الْعَرْشِ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ: {وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ} .

Artinya : Imam Bukhari mengatakan, tlh menceritakan kpd kami Abu Na’im, tlh menceritakan kpd kami Al-A’masy, dari Ibrahim At-Taimi, dari ayahnya, dari Abu Zar r.a. yg mengatakan bhw ketika ia sedang bersama Nabi SAW. di dalam masjid bertepatan dgn waktu tenggelamnya mentari, maka Nabi SAW bertanya, Hai Abu Zar, tahukah kamu ke manakah mentari itu terbenam? Abu Zar menjawab. Allah & Rasul-Nya lbh mengetahui. Nabi SAW bersabda: Sesungguhnya mentari itu pergi hingga sujud di bawah ‘Arasy. Yang demikian itu dijelaskan oleh firman-Nya, Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yg maha perkasa lagi maha mengetahui.” (QS.Yasin: 38).

2. Mengatakan bhw yg dimaksud dgn mustaqarril laha adl batas terakhir perjalanannya, yaitu pd hari kiamat nanti perjalanannya terhenti & diam tdk bergerak lagi, serta di gulung (dipadamkan), maka alam semesta ini telah mencapai usianya yg paling maksimal. Berdasarkan pengertian ini, berarti yg dimaksud dgn mustaqari adl berkaitan dgn zaman & waktu, bukan dgn tempat seperti yg ada pd pendapat pertama.

(Ref : Tafsir Ibnu Katsir, Daar Ibn Hazm, hal 1.569).

Peristiwa gerhana matahari dpt dijadikan sbg sarana bagi manusia utk mampu membaca ayat2 kauniyah akan kebesaran & keagungan ciptaan Allah SWT. Sembari mengikuti sunnah Rasulullah SAW bila terjadi gerhana matahari & gerhana bulan menunaikan shalat Khusyuf baik secara berjama’ah di Mesjid maupun secara munfarrid kemudian dilanjutkan dgn memperbanyak beristighfar & berzikir kpd Allah SWT.

Wallahu a’lam

By : Tommy Abdillah

Mari raih amal soleh untuk share tulisan da’wah ini.

Minggu, 28 Februari 2016

Amal Ibadah Sebaiknya “Dilapisi” Ilmu Agama

“Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15)
Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin.
Mu’adz bin Jabal –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan,
العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ
“Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15)

Ulama hadits terkemuka, yakni Al Bukhari berkata, “Al ‘Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali (Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat)“. Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allah ta’ala,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ
“Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS. Muhammad [47]: 19).
Dalam ayat ini, Allah memulai dengan ‘ilmuilah’ lalu mengatakan ‘mohonlah ampun’. Ilmuilah yang dimaksudkan adalah perintah untuk berilmu terlebih dahulu, sedangkan ‘mohonlah ampun’ adalah amalan. Ini pertanda bahwa ilmu hendaklah lebih dahulu sebelum amal perbuatan.
Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan keutamaan ilmu. Hal ini sebagaimana dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah ketika menjelaskan biografi Sufyan dari jalur Ar Robi’ bin Nafi’ darinya, bahwa Sufyan membaca ayat ini, lalu mengatakan, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Allah memulai ayat ini dengan mengatakan ‘ilmuilah’, kemudian Allah memerintahkan untuk beramal?” (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 1/108)
Al Muhallab rahimahullah mengatakan, “Amalan yang bermanfaat adalah amalan yang terlebih dahulu didahului dengan ilmu. Amalan yang di dalamnya tidak terdapat niat, ingin mengharap-harap ganjaran, dan merasa telah berbuat ikhlas, maka ini bukanlah amalan (karena tidak didahului dengan ilmu, pen). Sesungguhnya yang dilakukan hanyalah seperti amalannya orang gila yang pena diangkat dari dirinya.“ (Syarh Al Bukhari libni Baththol, 1/144)
Ibnul Munir rahimahullah berkata, “Yang dimaksudkan oleh Al Bukhari bahwa ilmu adalah syarat benarnya suatu perkataan dan perbuatan. Suatu perkataan dan perbuatan itu tidak teranggap kecuali dengan ilmu terlebih dahulu. Oleh sebab itulah, ilmu didahulukan dari ucapan dan perbuatan, karena ilmu itu pelurus niat. Niat nantinya yang akan memperbaiki amalan.” (Fathul Bari, 1/108)

Setelah kita mengetahui hal di atas, berikut akan membuat kita lebih termotivasi dalam hal ini.

Pertama, Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu di akhirat dan di dunia
Di akhirat, Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu beberapa derajat berbanding lurus dengan amal dan dakwah yang mereka lakukan. Sedangkan di dunia, Allah meninggikan orang yang berilmu dari hamba-hamba yang lain sesuai dengan ilmu dan amalan yang dia lakukan.
Allah Ta’ala berfirman,
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS Al Mujadalah: 11)
Kedua, seorang yang berilmu adalah cahaya yang banyak dimanfaatkan manusia untuk urusan agama dan dunia meraka.
Dalilnya, satu hadits yang sangat terkenal bagi kita, kisah seorang laki-laki dari Bani Israil yang membunuh 99 nyawa. Kemudian dia ingin bertaubat dan dia bertanya siapakah di antara penduduk bumi yang paling berilmu, maka ditunjukkan kepadanya seorang ahli ibadah. Kemudian dia bertanya kepada si ahli ibadah, apakah ada taubat untuknya. Ahli ibadah menganggap bahwa dosanya sudah sangat besar sehingga dia mengatakan bahwa tidak ada pintu taubat bagi si pembunuh 99 nyawa. Maka dibunuhlah ahli ibadah sehigga genap 100 orang yang telah dibunuh oleh laki-laki dari Bani Israil tersebut.
Akhirnya dia masih ingin bertaubat lagi, kemudian dia bertanya siapakah orang yang paling berilmu, lalu ditunjukkan kepada seorang ulama. Dia bertanya kepada ulama tersebut, “Apakah masih ada pintu taubat untukku”. Maka ulama tersebut mengatakan bahwa masih ada pintu taubat untuknya dan tidak ada satupun yang menghalangi dirinya untuk bertaubat. Kemudian ulama tersebut menunjukkan kepadanya agar berpindah ke sebuah negeri yang penduduknya merupakan orang shalih, karena kampungnya merupakan kampung yang dia tinggal sekarang adalah kampung yang penuh kerusakan. Oleh karena itu, dia pun keluar meninggalkan kampung halamannya. Di tengah jalan sebelum sampai ke negeri yang dituju, dia sudah dijemput kematian. (HR. Bukhari dan Muslim). Kisah ini merupakan kisah yang sangat masyhur. Lihatlah perbedaan ahli ibadah dan ahli ilmu.
Ketiga, Ilmu adalah Warisan Para Nabi
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah memperoleh keberuntungan yang banyak.” (HR Abu Dawud no. 3641 dan Tirmidzi no. 2682. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud dan Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Keempat, Orang yang Berilmu yang Akan Mendapatkan Seluruh Kebaikan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Setiap orang yang Allah menghendaki kebaikan padanya pasti akan diberi kepahaman dalam masalah agama. Sedangkan orang yang tidak diberikan kepahaman dalam agama, tentu Allah tidak menginginkan kebaikan dan bagusnya agama pada dirinya.” (Majmu’ Al Fatawa, 28/80).

Sumber : rumaysho.com