Tampilkan postingan dengan label Rasulullah Saw. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rasulullah Saw. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 September 2016

Permohonan Maaf Paling Indah Sepanjang Sejarah

PARA sahabat tengah berkumpul disebuah majlis, waktu itu Rasulullah ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ tidak bersama mereka. Ada Khalid Bin Walid, Ibnu ‘Auf, Bilal dan Abu Dzar di Majlis itu. Mereka sedang membicarakan sesuatu, lalu Abu Dzar mengemukakan pendapatnya dan berkata,

“Menurutku… Pasukannya mestinya begini dan begitu.”

Bilal menyanggah, “Tidak, usulan yang keliru.”

Abu Dzar membalas, “Engkau juga wahai anak orang yang berkulit hitam menyalahkanku!?”

Bilal lalu berdiri, marah dan menyesalkan perkataan sahabatnya, dia lalu berkata,

“Demi Allah… Aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ”

Bilal tiba dihadapan Rasulullah ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ sambil mengadu,

“Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mendengar apa yang dikatakan Abu Dzar padaku?”

Rasulullah ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ bertanya,

“Apa yang dia katakan padamu?”

Bilal menjawab, “Dia mengatakan begini dan begitu…”

Wajah Rasulullah kemudian berubah.

Abu Dzar mendengar hal ini. Dia bergegas ke masjid dan menyapa Rasulullah ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ,

“Assalamu Alaikum warahmatullah wabarakatuh, Ya Rasulallah.”

Rasulullah menjawab, “Wahai Aba Dzar, apa dengan ibunya engkau menta’yirnya (menjelekkannya)? Sungguh pada dirimu ada kejahiliyaan.”

Abu Dzar sontak menangis, dia mendekat ke Rasulullah dan berkata,

 “Wahai Rasulullah, mintalah kepada Allah agar mengampuniku.”Sambil menangis, dia keluar dari masjid menemui Bilal yang sedang berjalan. Dia lalu membaringkan kepalanya sampai pipinya menempel ketanah dan berkata,

“Wahai Bilal. Demi Allah, aku tak akan mengangkat kepalaku sampai engkau menginjaknya dengan kakimu. Engkau adalah orang yang mulia dan aku orang yang hina!”

Hal ini membuat Bilal menangis. Dia mendekati sahabatnya, mencium pipinya dan berkata,

“Demi Allah, aku tak akan menginjak wajah yang pernah sujud kepada Allah.”

Mereka berdua lalu berdiri, berpelukan sambil menangis.

Adapun hari ini. Iya, hari ini. Sebagian diantara kita menyakiti saudaranya 10 kali dan dia tak mengatakan, “Maafkan aku, wahai saudaraku.”

Sebagian diantara kita mencela saudaranya, melukai prinsip dan hal yang paling berharga pada diri saudaranya dan dia tak mengatakan “Maafkan aku.”

Sebagiannya lagi melanggar kehormatan saudaranya, dan mendzhaliminha tapi malu mengatakan “Aku menyesalinya.”

Dan diantara kita ada yang menyakiti saudara dan temannya dengan tangannya tapi malu mengatakan “Aku menyesalinya.”

Meminta maaf merupakan tradisi orang yang mulia, meski sebagian menganggapnya menghinakan diri.

Semoga Allah memaafkan kita semua. Dan kami meminta maaf kepada semua yang pernah tersakiti dengan perkatan ataupun perbuatan kami.

“Tak ada kebaikan pada diri kita jika kita meninggal dalam keadaan belum saling memaafkan.”

Wujudkan Cinta Kita pada Rasul

Cinta adalah suatu hal yang fitrah dan dimiliki oleh setiap manusia. Perasaan itu muncul bersamaan dengan rasa ingin membuktikan perasaan cinta itu. Begitupun Rasul saw amat mencintai umatnya. Hampir separuh hidupnya, Muhammad berikan waktu, tenaga dan pikiran untuk umatnya semata. Terus berpikir agar Islam mampu menyebar hingga keseluruh pelosok dunia. Berbagai ujian beliau hadapi, ujian kesabaran beliau lalui. Cacian hingga siksaan yang beliau rasakan pun dilaluinya tanpa ada perasaan mengeluh dan menyesal. Tentu, tak pantas jika diri ini tak mencintai Rasul-Nya.

Al-Baidhawi berkata, “ Cinta adalah keinginan untuk taat”. Ibnu Arafah berkata, “ Cinta menurut istilah orang arab adalah yang menghendaki sesuatu untuk meraihnya.” Al-Zujaj berkata, “ Cintanya manusia kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menaati keduanya dan ridha terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah saw”. Dari definisi tersebut, menjelaskan pentingnya bagi setiap muslim untuk memperhatikan rasa cinta kepada Rasulullah. Jangan sampai mengatakan cinta, padahal realisasi dalam kehidupan tak tampak sedikitpun mencintai Rasulullah.

Dari definisi diatas, Wujud cinta hakiki kepada Rasulullah saw dengan menjalankan apa yang diperintahkan dan menjauhkan segala yang dilarang olehnya. Tentu bukan perkara yang mudah untuk menjalankan apa-apa yang diperintahkan dan menjauhi apa-apa yang dilarang. Namun disinilah cinta kita sebagai umatnya akan di uji. Cinta yang hakiki akan mengarahkan kepada keinginan untuk taat.

Di bulan Ramadhan Rasulullah saw dan para sahabat semakin memperbanyak melakukan aktivitas dakwah dan jihad untuk menyebarkan Islam keseluruh jazirah arab. Perang-perang pun dilakukan, seperti perang Badar, Futuh Mekah, dll. Begitu besar cinta mereka terhadap Rasul, di bulan Ramadhan yang kondisinya mereka pun sedang berpuasa sangat bersemangat menyambut seruan dari Allah dan Rasul-Nya untuk pergi berjihad agar tersebarnya Islam di Jazirah Arab.

Dari sinilah maka patut bagi kita yang mengatakan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, sudah selayaknya mengevaluasi diri dan mengupayakan untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan sebenar-benarnya cinta. Karena cinta tak cukup hanya dikatakan, namun cinta menuntut untuk dibuktikan.