Tampilkan postingan dengan label Pesan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 September 2016

Pesan oleh Sang Pencipta Pelangi

ALLAH SWT mewarnai dunia dengan berbagai keelokan pemandangannya. Dihiasi dengan segala hal yang berbau wangi dan memesona. Nikmat ini patut disyukuri oleh setiap makhluk bernama manusia. Di antara ciptaan Allah yang begitu menarik adalah pelangi.

Benda langit ini memiliki daya pikat, sebab warnanya begitu anggun melengkung, membentang di cakrawala. Pelangi memang tak sering muncul, ia akan muncul setelah redanya hujan.

Allah menciptakan pelangi dalam bentuk yang indah dan elegan. Meski demikian Allah tak menyebut pelangi dalam Alquran. Pelangi merupakan fenomena alami yang terjadi di atmosfer bumi. Pelangi ini sendiri merupakan pembiasan cahaya matahari oleh molekul air, sehingga melalui molekul air tersebut cahaya matahari dibengkokkan.

Beberapa pesan yang hendak disampaikan oleh Allah melalui makhluk anggun ini:

A. Pelangi memiliki tujuh warna yang berbeda. Allah ingin memberitahu bahwa sesungguhnya hidup tak lepas dari berbagai pro dan kontra; suka dan duka, tawa dan tangis, baik dan buruk, kesemuanya akan berpadu dalam hidup, sebab hidup mesti memiliki dinamika.

 B. Tak tampak pelangi melainkan setelah redanya hujan. Allah ingin menunjukkan kepada manusia bahwa sebenarnya jalan menuju bahagia itu tak selalu mulus. Akan datang rintangan, akan menghadang masalah, akan ada benturan, yang Allah peruntukkan kepada hamba-Nya sebagai bentuk ujian dan penilaian. Setelah gelap, terbitlah terang sebagaimana yang dituturkan oleh R.A Kartini.C. Pelangi akan datang bersama cahaya mentari, ia tidak terjadi di waktu malam. Kepada yang selalu yakin dan memasrahkan diri kepada Allah semata, sesungguhnya Allah akan membimbingmu dari masa yang kelam, penuh derita, luka dan darah, menuju kepada peraduan yang kekal di dalam jannah-Nya. Allah ingin mengungkapkan arti kesabaran yang sesungguhnya.

Renungkan dan resapi setiap kehidupan ini. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka,” (Ali ‘Imran/3:190-19).

Saat Nabi Menjawab ‘Pertanyaan’

Nabi adalah orang yang membawa berita. Bukan sembarang berita, tapi ini berita dari langit. Semua Nabi membawa dua pesan utama: percaya kepada Tuhan dan percaya pada hari akhir/hari kebangkitan.

 

Pesan dari langit bukan sekadar pepesan kosong melainkan juga harus diterapkan untuk terciptanya ketertiban dan kenyamanan. Pada titik ini, Nabi menjelma menjadi suri tauladan untuk menjalankan pesan ilahi.

Nabi bukan hanya pembawa pesan (messenger) sebagaimana layaknya tukang pos yang tidak tahu isi pesan. Nabi diberi pemahaman akan berita atau pesan yang hendak diteruskan kepada sesama. Bahkan Nabi juga menjawab sejumlah pertanyaan mengenai maksud dan kandungan berita langit. Nabi juga menjadi orang pertama yang berhadapan dengan mereka yang tidak percaya dan mengingkari pesan langit.

Ada yang jelas-jelas menentang (kafir) namun ada pula yang hatinya mendua antara percaya dan tidak percaya (munafiq). Banyak pihak yang sekadar iseng bertanya kepada Nabi. Atau bertanya untuk menguji dan mengolok-olok. Ada pula yang gemar mencari-cari kesalahan, menguping dan membocorkan pembicaraan Nabi, bahkan ada yang meniru gerak-gerik Nabi berbicara sekadar mengejek setiap kali Nabi menyampaikan pesan atau penjelasan.

Dalam Hadis riwayat Imam Bukhari dikisahkan Nabi naik mimbar dan kemudian “menantang” jamaah untuk mengajukan pertanyaan yang mereka mau, dan pasti saat itu akan Nabi jawab. Melihat Nabi yang terlihat geram, sejumlah sahabat menangis terisak-isak. Nabi berulangkali berseru: “bertanyalah kalian kepadaku!” Seorang bertanya, “dimana tempat tinggalku kelak?” Nabi menjawab: “kamu di neraka!” lantas Abdullah bin Hudzaifah bertanya: “siapa ayahku Ya Rasul?” Nabi menjawab, “Ayahmu Hudzaifah.” Nabi masih menunggu siapa lagi yang mau bertanya segala macam kepadanya dengan terus mengulang: “Ayo bertanya lagi?!”

Umar bin Khattab kemudian berkata: “Radhina billahi Rabba, wa bil Islami dina, wa bi Muhammadin shallahu ‘alayhi wa sallam Rasula (Kami ridha Allah sebagai Rabb Kami, Islam sebagai agama kami dan Muhammad SAW sebagai Rasul).” Ucapan Umar di tengah isak tangis para sahabat tersebut mengandung pertaubatan, penyesalan akan ketidaksopanan sejumlah pihak dan juga pengulangan janji kesetiaan kepada Nabi.

Nabi terdiam sejenak mendengar ucapan Umar. Nabi kemudian bersabda: “Pada dinding ini telah diperlihatkan kepadaku surga dan neraka. Belum pernah kulihat kebaikan dan keburukan seperti hari ini.” Ucapan Nabi bermakna gentingnya situasi saat itu akibat kemarahan Nabi.

Peristiwa ini berbuntut panjang. Dalam riwayat Imam Muslim diceritakan kisah tambahan betapa ibu Abdullah murka pada anaknya yang bertanya siapa bapaknya di depan Nabi. Bukan saja pertanyaan itu tidak penting ditanyakan tapi juga seolah meragukan jalur nasabnya. Kata ibunya, “Kamu sangka ibumu ini pelacur yang kemudian aibnya mau kamu buka di depan Nabi dan jamaah dengan bertanya seolah meragukan siapa ayahmu?! Aku tidak pernah mendengar seorang pun yang lebih durhaka ketimbang engkau!”

Ada memang orang yang selalu ingin tahu hal-hal yang amat sangat detil dari agama ini. Nabi yang membawa gagasan besar dan pesan dari langit disibukkan dengan pertanyaan remeh temeh, seperti orang yang kehilangan unta dan kemudian bertanya hal itu kepada Nabi.

Nabi pernah bersabda:

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji kepada kalian, maka berhajilah”. Seseorang berkata, ”Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah?” Maka beliau diam hingga orang tersebut mengulanginya sampai tiga kali, kemudian Rasulullah bersabda, ”Kalau aku katakan ya, niscaya hal tersebut menjadi wajib, dan niscaya kalian tidak akan sanggup,” kemudian beliau bersabda, ”Biarkanlah aku terhadap apa yang aku tinggalkan kepada kalian. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena pertanyaan dan penentangan mereka kepada nabi-nabi mereka. Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, kerjakan semampu kalian. Dan jika aku melarang sesuatu pada kalian, tinggalkanlah.”

Maka kemudian turunlah ayat: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian, niscaya menyusahkan kalian.” [al-Mâidah: 101].

Jadi, apa kita tidak boleh bertanya? Tentu boleh. Ada sekitar 12 ayat di mana Allah turun tangan langsung menjelaskan jawaban dengan menggunakan redaksi: “Mereka bertanya kepadamu tentang….” Itu karena pertanyaannya sangat penting. Di lain kesempatan, Nabi juga senang sekali berdialog dengan para sahabatnya. Ini artinya Nabi tidak keberatan menghadapi berbagai pertanyaan sahabat.

Namun seringkali orang bertanya bukan untuk mendapatkan jawaban. Ada yang bertanya untuk menunjukkan bahwa dia juga memiliki pengetahuan tentang hal yang dibicarakan. Ada yang bertanya untuk menyindir, atau untuk menunjukkan kita lebih pintar dari yang ditanya. Atau bertanya untuk menebar pesona betapa alim dan dermawannya kita.

Simak pertanyaan model ini: “Mengapa ya Ustadz setiap saya habis bersedekah rasanya nikmatttt sekaliii?” Lantas disusul pertanyaan jamaah lain, “Kalau saya rasanya nikmat itu pas sehabis shalat tahajud 12 rakaat. Kenapa ya Ustadz?” Atau yang satu ini: “Bu Ustadzah, setiap saya pergi umrah setiap bulannya kenapa ya saya selalu menangis kalau shalat di depan Ka’bah? Dan anehnya tetangga saya katanya tidak bisa keluar air mata di Tanah Suci. Apakah perbedaan ini karena saya rajin menyantuni anak yatim, sementara tetangga saya itu terkenal pelitnya ya Bu?”