Tampilkan postingan dengan label Haji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Haji. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 September 2016

Ketika Dua Malaikat Bercakap-cakap Tentang Jamaah Haji yang Diterima Allah

SUATU ketika Ali ibn Mauqif berkisah, sebagaimana diceritakan dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali.

“Aku pernah menjalankan ibadah haji dalam satu tahun. Ketika malam Arafah tiba, aku tertidur di masjid Al Khaif, Mina. Ketika terlelap, aku bermimpi bertemu dengan dua sosok malaikat yang turun dari langit. Keduanya mengenakan pakaian serba hijau”.

Malaikat yang satu bertanya kepada yang lain “Wahai hamba Allah”.

“iya, ada apa hamba Allah?”

“Tahukah engkau berapa orang yang menunaikan haji, mengunjungi Baitullah pada tahun ini?”

“Tidak, aku tak tahu.”

“Yang datang ibadah haji ke Baitullah tahun ini ada 600 ribu orang.”

“Lalu, apakah engkau tahu berapa di antara mereka yang diterima ibadahnya oleh Allah SWT?”

“Tidak, aku tak tahu hal itu.”

“Dari sekian ribu orang jamaah haji, yang diterima hajinya hanya enam orang saja.”

Setelah bercakap-cakap, kedua malaikat itu kemudian naik kembali ke atas langit, lenyap dari pandangan. Aku pun terbangun dari tidur. Aku kemudian menjadi sangat sedih dibuatnya. Bingung akan peristiwa itu. Yang kupikirkan kala itu, andai saja yang diterima itu hanya enam orang, apa mungkin aku termasuk dari keenam orang itu?

Setelah selesai dari Arafah, aku kemudian berdiri di samping masy’aril haram (Muzdalifah). Lalu aku berpikir keras, memikirkan tentang nasib mereka—jamaah haji—sebanyak ini, namun yang diterima hanya enam orang saja. Hingga aku diserang kantuk yang sangat dan tertidur pulas. Tiba-tiba kedua malaikat itu datang kembali, ia turun dari langit seperti dahulu saat mereka pertama kali datang.

Satu malaikat bertanya kepada yang lain. Mereka berbincang-bincang sebagaimana yang dahulu pernah mereka bahas. Ada percakapan tambahan menarik dalam percakapan mereka kali ini. Satu malaikat bertanya “Apa yang engkau tahu, bagaimana kebijaksanaan Tuhan kita malam ini?”

“Tidak”

Malaikat yang bertanya pada permulaan kali pembicaraan itu mengatakan “Sesungguhnya Allah telah memberikan anugerah atas masing-masing dari enam orang tersebut dibalas berupa 100 ribu orang lain yang sedianya tidak diterima menjadi diterima oleh Allah berkat enam orang yang diterima tersebut”. Aku pun kemudian terbangun dan bergembira tiada tara.

Jumat, 02 September 2016

Berqurbanlah, dan Ambillah 9 Hikmah darinya

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan haji, atau bulan Zulhijjah. Yang mana dalam bulan tersebut ada salah satu amalan sunnah yang sarat hikmah.

 

Ustadz Arifin Ilham memberikan 9 poin tentang hikmah berqurban, antara lain:

  1. Bukti nyata bersyukur, “Supaya mereka menyebut nama Allah atas apa yang Allah rizkikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (QS. Al Hajj: 34).
  1. Bukti Cinta kepada Allah, “Kalian tidak akan meraih kebaikan sempurna kecuali infakkan apa yg paling kalian cintai…” (QS Al Baqoroh 93).
  1. Bukti Sebagai Hamba yang Bertaqwa, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-sekali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yg dapat mencapainya” (Al – Hajj: 37).
  1. Meneladani Rasulullah, maka barang siapa berqurban, berhak mendapatkan syafaat Rasulullah, “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali Imron 31).
  1. Berhak Beribadah kepada Allah, “Barang siapa yang mempunyai keluasan (harta) dan tidak mau berkurban, maka janganlah mendekati tempat shalat kami!” (HR Ahmad, Ibnu Majah, Al Hakim, Ad Daruquthni dan Al-Baihaqi).
  1. Meraih ampunan dosa, “Fatimah, berdirilah dan saksikan hewan sembelihanmu itu. Sesungguhnya kamu diampuni pada saat awal tetesan darah itu dari dosa-dosa yang kamu lakukan… (HR. Abu Daud dan At-Tirmizi).
  1. Pahalanya sangat besar, “Pada tiap-tiap lembar bulunya itu kita memperoleh satu kebaikan” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).
  1. Hewan qurban bersaksi, “Sesungguhnya ia (hewan qurban) akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku dan bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah hewan qurban akan jatuh pada sebuah tempat didekat Allah sebelum darah mengalir menyentuh tanah. Maka berbahagialah jiwa dg nya”. (HR At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim).
  1. Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar (Ismail).Maka tatkala anak itu sampai (aqil baligh) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yg diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.