Tampilkan postingan dengan label Dosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dosa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 September 2016

Pelajaran dari Kapur dan Penghapus

IBU Guru berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari’at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, “Ibu punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri Ibu ada kapur, di tangan kanan ada penghapus.

Jika Ibu angkat kapur ini, maka berserulah “Kapur!”, jika Ibu angkat penghapus ini, maka berserulah “Penghapus!” Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.

Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, “Baik sekarang perhatikan. Jika Ibu angkat kapur, maka berserulah “Penghapus!”, jika Ibu angkat penghapus, maka katakanlah “Kapur!”. Dan permainan diulang kembali.

Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.

“Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.

Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.”

“Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?” tanya Guru kepada murid-muridnya. “Paham Bu Guru”

“Baik permainan kedua,” Ibu Guru melanjutkan. “Bu Guru ada Qur’an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah karpet. Quran itu “dijaga” sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet. Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet.

Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?” Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.

Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur’an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.

“Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan terang-terangan. Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar. Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pundasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…”

“Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian. Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari’at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan.”

“Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?” tanya mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo’a dahulu sebelum pulang…”

Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.

Sabtu, 10 September 2016

Berlumur Doa (2-Habis)

KARENA saya dan Anda pasti berlumur dosa, sekaligus berlumur doa, adakalanya kita enggan berdoa, malas dan bahkan meninggalkan doa. Tak jarang, seketika mendapat kesuksesan, alpa untuk berdoa. Seringnya, ketika terpuruk dalam kegagalan, dalam hati mengumpat ternyata doa kita tidak dikabulkan dan berarti Allah SWT menyelisihi janji-Nya sendiri, naudzubillahi min dzalik.

Oleh karenanya, ketika keadaan seperti ini menghampiri, sadari bahwa kadar iman sedang menurun dan perlu untuk dinaikkan kembali. Salah satunya dengan membaca kembali pesan Rasulullah SAW sebagaimana berikut ini;

1) Do’a itu ibadah yang mulia, sebagaimana hadits, “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah ta’ala selain do’a” (HR. Ahmad).

2) Do’a bermanfaat kapan saja, sebagaimana hadits, “Sesungguhnya doa itu bermanfaat baik terhadap apa yang telah terjadi maupun yang belum terjadi, maka hendaklah kalian berdoa.” (HR. At-Tirmidzi).

3) Ancaman Allah Swt bagi yang tidak mau berdo’a, sebagaimana hadits, “Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan memurkainya”. (HR. At-Tirmidzi).

Di sisi yang lain, ada beberapa hal yang harus senantiasa kita ingat dan waspada, yaitu adanya sifat naluriah manusia pada umumnya, yang bisa mendekatkan kita dengan dosa, menjauhkan dari doa.

Pertama, sifat sombong, sebagaimana firman Allah Swt, “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari ibadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir [40]: 60).

Kedua, sifat tergesa-gesa (terburu-buru), kurang sabar, hingga kemudian berputus asa karena merasa permintaannya tidak didengar dan dikabulkan Allah Swt. “Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. al-Isra:11).

Dalam hadits, Rasulullah SAW pun mengingatkan, “Seorang hamba yang berdo’a akan terus menerus dikabulkan do’anya selama ia tidak berdo’a dengan dosa dan memutuskan silaturrahim, dan selama ia tidak tergesa-gesa ingin cepat dikabulkan. Dikatakan kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah SAW apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa ingin cepat dikabulkan?” Rasulullah Saw bersabda, “Yaitu ketika ia berkata, ‘aku telah berdo’a, aku telah berdo’a, tapi aku tidak melihat do’aku dikabulkan.’ Kemudian ia mengeluh karenanya, dan akhirnya meninggalkan do’anya.” (HR. Muslim).

Ketiga, sifat kurang berhati-hati dalam hal mengkosumsi makanan dan minuman yang halal. Rasulullah Saw bersabda, “Ia berdo’a kepada Allah, tapi makanan dan minumannya dari barang yang diharamkan, maka bagaimana mungkin aakan dikabulkan do’anya.” (HR. Muslim).
Pembaca yang dimuliakan Allah SWT.

Karena saya dan Anda pasti berlumur dosa, sekaligus berlumur doa, bilamana kita berhasil mengendalikan dengan baik dan benar sifat-sifat naluriah di atas, maka doa-doa kita pasti akan segera dikabulkan. Dan logika terbaliknya, jika selama ini kita merasa doa-doa tak kunjung dikabulkan oleh-Nya, maka jawabannya sudah tersebutkan di atas.

Berlumur Doa (1)

KARENA saya dan Anda pasti berlumur dosa, sekaligus berlumur doa, maka sepatutnya kita berusaha menyeimbangkannya. Dalam hal kuantitas dan kualitas, usahakan lebih sedikit dosa lebih banyak doa.

Dosa merupakan efek dari berbuat keburukan sedangkan doa manifestasi dari kebaikan. Tidak ada yang tahu kadar kuantitas dan kualitas masing-masing orang, kecuali dirinya sendiri dan Allah Swt.

Silakan bercermin!

Karena saya dan Anda pasti berlumur dosa, sekaligus berlumur doa, maka ingatlah selalu janji Allah SWT dalam mengabulkan permohonan hamba-Nya, sebagaimana tertera dalam QS. Al-Baqarah [2]: 186, yang artinya “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku.” Demikian pula Anas bin Malik ra, menceritakan kisahnya saat bersama Rasulullah Saw, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Allah Swt berfirman,

“Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli.

Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu, dan Aku tidak peduli.

Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” (HR. At-Tirmidzi).

Subhanallah, mantap dan luar biasa janji Tuhan kita, Allah Swt, Sang Maha Penerima Taubat, singkatnya asal mau berdo’a saja, sebanyak apapun dosa yang kita kumpulkan, Allah Swt menjanjikan ampunan-Nya. Semoga Freddy Budiman, kita dan saudara lainnya, termasuk salah satu anak Adam yang berhak menerima janji ini. Amin ya Rabb al Alamin. Maka jangan sedikit pun enggan dan malas berdoa! Dan bukan pula berarti kita lantas seenaknya memperbanyak dosa.

Karena saya dan Anda pasti berlumur dosa, sekaligus berlumur doa, maka doa adalah senjata utama. Jangankan kita, manusia yang senantiasa berbuat dosa dan jarang sekali serius berdoa, Nabi-nabi Allah Swt pun mengandalkan doa. Doa Nabi Nuh AS, terabadikan dalam Q.S Al-Qamar: 10 yang berbunyi, “Maka ia Mengadu kepada Tuhannya: “bahwasannya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku)”.

Doa Nabi Yunus AS, diabadikan dalam Q.S al-Anbiya’: 87–88, doa Nabi Yakub AS dalam Q.S al-Anbiya’: 83. Demikian pula doa Nabi kita, Muhammad Saw, yang terukir indah dalam Q.S al ‘Imran, 26, yang artinya, “Katakanlah, “Wahai Tuhan Yang Maha mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki.

Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Benang merah ayat ini, tentu saja bila kita berlumur dosa, pasti Allah SWT akan menghinakan kita, dan sebaliknya bila kita berlumur doa, Allah Swt pasti akan memuliakan kita.

Minggu, 04 September 2016

Aku Mengingkari Semua yang Engkau Katakan padaku

Abdul Aziz bin Daud pernah berkata, “Pada suatu hari ketika aku sedang berada di rumah seseorang yang sedang naja’, aku berusaha untuk membimbing dia mengucapkan kalimat tauhid, “La Illa Ha Illa Allah” di kuping orang tersebut dan memintanya untuk mengikuti perkataanku.

Akan tetapi, betapa terkejutnya aku karena dia tidak mau meengatakan kalimat tersebut, malah ia mengatakan, ‘Aku mengingkari semua yang engkau katakan kepadaku.’ Dan setelah mengucapkan kalimat tersebut kemudian dia meninggal tanpa sempat mengucapkan kalimat tersebut.

Alhasil, orang tersebut meninggal dalam kekufuran sebagaimana yang dia yakini dan katakana di akhir hidupnya.

Sesudah kejadian itu, akupun bertanya kira-kira dosa apakah yang dilakukaan oleh orang tersebut sehingga lidah dan hatinya mengingkari keesaan Allah SWT. kemudian teman-temannya menjawab bahwa laki-laki itu adalah pecandu dan peminum arak atau minuman-minuman keras.

Obat Agar Bisa Istiqamah dalam Taubat

SETIAP penyakit ada obatnya dan setiap penyakit ada ahli yang dapat menangani untuk menyembuhkannya. Obat penyakit badan dan tubuh bisa diserahkan kepada dokter. Tetapi penyakit hati hanya bisa diobati dengan kembali kepada agama yang benar.

Hati yang lalai merupakan pokok segala kesalahan. Dan penyakit hati ini lebih banyak dari penyakit badan, karena orang tersebut tidak marasa bahwa dirinya sedang sakit. Dan akibat dari penyakit ini seolah-olah tidak tampak di dunia ini. Adapun obat mujarab bagi penyakit hati sesudah ia kembali kepada agama yang benar ialah :

1. Mengingat ayat-ayat Allah yang menakutkan dan mengerikan tentang siksa yang pedih bagi orang-orang yang berbuat dosa dan maksiat.

2. Membaca hikayat nabi-nabi para salafus shalih serta musibah-musibah yang menimpa mereka dan umatnya akibat dosa yang mereka lakukan.

3. Selalu mengingat bahwa setiap dosa dan maksiat mempunyai akibat jelek di dunia maupun di akhirat.

4. Senantiasa mengingat ayat-ayat dan hadist-hadist yang mengisahkan tentang siksa-siksa dari satu persatu dosa, seperti dosa minum khamar, riba, zina, ghibah dan lain-lain.

5. Membaca istighfar dan sayyidul istighfar setiap hari.