Tampilkan postingan dengan label Berbicara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berbicara. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 September 2016

Banyak Pencari Rezeki dengan Pandai Berbicara dan Membual, Tanda Akhir Zaman

KEAHLIAN dalam berbicara merupakan hal yang baik bagi seseorang. Sebab, dengan kemampuan berbicaranya, ia bisa menjadi seorang motivasi bagi orang lain. Ia pun bisa menghipnotis orang lain dengan kata-katanya, agar mereka mendengar kebenaran dan menerima kebenaran.

Hanya saja, tak semua orang yang ahli berbicara itu dapat berbicara yang baik. Ada pula orang yang menggunakan keahlian berbicaranya ini untuk membohongi orang lain. Sehingga, orang lain mudah terayu dengan kata-kata bohongnya. Bahkan, keahlian dalam membual dan berbicara bohong ini dijadikan sebagai sarana pencari rezeki.

Mencari rezeki atau memperoleh dunia dengan cara sesuai syariat bukanlah perbuatan aib. Contohnya, mencari penghidupan dengan mengajar, memberikan penjelasan kepada orang lain, atau berargumentasi, seperti profesi seorang pengacara, guru, dan lainnya yang memang mengandalkan kemampuan berbicara.

Namun, apabila seseorang mencari makan dengan lisannya, baik dengan cara menjilat orang lain, bersumpah palsu dalam jual-beli atau pun berbohong, maka perbuatannya itu sungguh tercela. Dan sayangnya, hal ini akan banyak terjadi di akhir zaman.

Suatu ketika, Umar ibn Sa’ad ibn Abi Waqqash punya keperluan dengan ayahnya, Sa’ad ibn Abi Waqqash. Ia lalu menyampaikannya kepada sang ayah lewat syair-syair berupa pujian dan sanjungan yang biasa disampaikan orang untuk meraih apa yang mereka inginkan. Sa’ad ibn Abi Waqqash belum pernah mendengar syair-syair seperti itu. Karenanya, ketika anaknya itu selesai bicara, Sa’ad bertanya, “Anakku, apa bicaramu sudah selesai?” Umar menjawab, “Ya, sudah.”

Sa’ad pun berkata, “Engkau tidak terlalu jauh dari apa yang engkau perlakukan. Aku sendiri tidak lebih zuhud darimu sejak aku mendengar apa yang engkau ucapkan tadi. Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Kelak akan ada suatu kaum yang mencari makan dengan lidah mereka, sebagaimana sapi makan dari tanah’,” (HR. Ahmad. Syaikh Al-Ana’uth menilai riwayat ini hasan).

Abdullah ibn Amr meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Di antara tanda semakin dekatnya Kiamat adalah diangkatnya orang-orang jahat, disingkarkannya orang-orang baik, kata-kata kotor mulai banyak diucapkan, amal dibagus-baguskan, dan kejelekan menyebar luas.”

Abdullah ibn Amr lalu bertanya, “Apa yang dimaksud dengan kejelekan?” Beliau menjawab, “Semua yang ditulis selain Al-Quran,” (HR. Ath-Thabrani. Menurut Al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawa’id, bahwa para penyampai riwayat ini adalah perawi hadis shahih)

Kamis, 01 September 2016

Perjumpaan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bertemu Sa’id bin al-Musayyah, lantas Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya memohon kepada Alah agar mengumpulkan aku dan kamu di pasar surga.” Sa’id bertanya, “Apakah di surga ada pasar?”

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Iya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita kepadaku bahwa penduduk surga ketika telah masuk ke dalam surga, mereka tinggal di dalamnya berkat keutamaan amal perbuatannya, maka mereka diperkenankan kira-kira Hari Jumat sebagaimana hari-hari di dunia, mereka mengunjungi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah menampakkan singgasana-Nya kepada mereka. Dia nampak bagi mereka di salah satu pertamanan surga. Dibuatkan untuk mereka mimbar-mimbar dari cahaya, mimbar-mimbar dari mutiara, mimbar-mimbar dari permata, mimbar-mimbar dari emas, dan mimbar-mimbar dari perak. Orang yang paling rendah tingkatakannya –di dalam tidak ada yang hina- duduk di atas bukit misk (kasturi) dan kapur barus. Mereka tidak memandang bahwa yang mempunyai kursi lebih baik tempatnya daripada mereka.”

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah! Apakah kita dapat melihat Rabb kita?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Iya. Apakah kalian ragu-ragu dapat melihat matahari dan rembulan pada malam purnama?’ Kami menjawab, “Tentu tidak.’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menambahkan, ‘Demikian pula kalian semua tidak ragu-ragu dapat melihat Rabb kalian Azza wa Jalla. Tidak ada seorang pun yang tersisa dari majelis tersebut melainkan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga, Dia berkata kepada seseorang di antara kalian, ‘Wahai fulan! Apakah engkau ingat ketika engkau melakukan ini dan itu.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan sebagian kesalahan-kesalahan orang tersebut ketika di dunia. Lalu orang tersebut berkata, ‘Ya Rabbi, bukankah Engkau telah mengampuniku?’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Ya, telah Kuampuni. Lantaran keluasan ampunan-Ku, engkau dapat sampai pada kedudukanmu ini.’ Pada saat mereka dalam kondisi tersebut, tiba-tiba awan menyelubungi mereka dari atas, lalu awan tersebut menurunkan hujan yang baik kepada mereka. Mereka belum pernah menjumpai keharuman yang semisal keharuman tersebut. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Bangunlah menuju kemuliaan yang telah Kusediakan untuk kalian, lalu ambillah yang kalian kehendaki!’.”

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu melanjutkan kisahnya, “Lantas kami mendatangi pasar yang dikelilingi oleh para malaikat. Di dalamnya terdapat hal-hal yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbesit dalam hati. Lantas dibawakan untuk kita apa yang kita inginkan. Tidak ada sesuatu pun yang dijual di sana dan tidak perlu membeli. Di pasar itu para penduduk surga saling bertemu satu sama lain. Orang yang mempunyai kedudukan tinggi dapat bertemu orang yang kedudukannya lebih rendah –di dalam surga tidak ada yang hina- lalu dia terpikat dengan pakaian yang dilihatnya. Belum sampai selesai berbicara sehingga dia membayangkan pakaian yang lebih baik lagi. Hal ini lantaran tidak selayaknya seseorang bersedih hati di dalam surga. Selanjutnya kami kembali ke tempat kami masing-masing, lalu istri-istri kita menyambut kita seraya berkata, ‘Selamat datang… sungguh, engkau datang dengan ketampanan dan kebaikan melebihi daripada ketika engkau berpisah dengan kami tadi.’ Kami menjawab, ‘Sungguh, kami baru saja menghadap Rabb Kami Yang Maha Perkasa Subhanahu wa Ta’ala dan memastikan kami akan kembali sebagaimana kami telah kembali.”

(HR. At-Tirmidzi, Dia berkata bahwa hadits ini gharib diriwayatkan oleh Ibnu Majah di dalam kitab Sunan-nya Juz II hal. 207)