Tampilkan postingan dengan label Ayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ayah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 September 2016

Anomali Cinta Bapak (3 Habis)

TETAPI bagaimanapun, bapak bukanlah seorang malaikat. Kami pernah berseteru hebat, sampai aku mengunci pintu dan bapak menungguiku berjam-jam. Dan semua kebencianku pada bapak perlahan luruh ketika tertumbukkan pada kenangan-kenangan baiknya. Dan semua kata-kata burukku yang kulontarkan menjadi hal yang paling aku sesalkan dalam hidupku. Jika ada dari kita yang sedang membenci orang tuanya, cobalah kita ingat kenangan bersama. Mungkin hal itubisa membantu kita untuk mengikhlaskan.

Tapi masalahnya iya kalau ada kenangan, kalau tidak? Aku harap ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Karena ternyata tidak semua anak mempunyai kenangan bersama bapaknya. Bahkan ada beberapa teman,yang tidak merasakan perubahan yang signifikan ketika bapaknya sudah meninggal. Karena ia tidak punya kenangan sama sekali.

Wajarlah ketika hati ini tergetar waktu mendengar Ust. Nouman Ali membicarakan ini. Beliau mengatakan, “ Kita hidup di zaman yang aneh. Ketika banyak dari kita yang meraih gelar doktor, pakar sejarah, ahli agama tetapi tidak mengerti bagaimana menjadi ayah yang baik. Saya diberi kesempatan oleh Allah untuk mengunjungi ratusan komunitas Muslim dan yang saya menemui masalah yang sama. Kebanyakan kita begitu mementingkan pendidikan untuk dua alasan utama, yaitu karir dan strata social. Tetapi banyak diantara kita melalaikan hal-hal basic untuk memberi waktu pada keluarga.

Ketahuilah para Ayah, ketika anakmu berumur 4, 5, 6, 7 tahun mereka membutuhkanmu. Ketika mereka memanggilmu untuk sekedar memamerkan gambarnya atau mengajak main mobil-mobilan. Tetapi ketika saat itu engkau mengacuhkannya, tunggu saja sewaktu nanti ia besar. Ia akan mengacuhkanmu. Jika kau bertanya tadi bagaimana sekolahnya, bagaimana ini dan itu, dia akan menjawab singkat “Yah begitulah..”

Sontak hatiku membenarkan itu. Sesibuk apapun seorang ayah, setidaknya setap hari ia harus menyisihkan waktu untuk keluarganya. Entah satu jam, 30 menit atau 15 menit untuk membersamai anaknya. Entah main game, main mobil-mobilan atau bercerita sebelum tidur.

Dan kini aku tahu jawabannya, mengapa aku bisa memaafkan Bapak ketika dipuncak kemarahan, Mengapa pendapat dari Bapak begitu aku dengarkan. Karena Bapak telah memberikan sebagian besar hidupnya untukku. Bapak telah memberikan waktunya untukku. Ketulusannya akan hal itu telah menjadi keindahan tersendiri. Termasuklagu pengantar tidur siang semasa aku kecil yang sampai sekarang masih senang aku dengarkan. Izinkan aku memetiknya disini. Satu bait yang melafazkan tentang ketulusan.

“Di bumi yang berputar pasti ada gejolak
Ikuti saja iramanya,isi dengan rasa
Cinta yang kuberi sepenuh hatiku
Entah yang kuterima, aku tak peduli”
(Lirik apakah ada bedanya; Ebiet G Ade).

Terimakasih Bapak atas cinta yang kau beri sepenuh hatimu. Dan entah mengapa. Sampai sekarang aku tidak tahu alasannya, mengapa aku bisa mengatakan cinta ke semua orang, tetapi tidak pada Bapak. Aku hanya bisa memeluknya erat diatas sepeda motornya setiap kali bapak menjemputku diterminal. Oh Tuhan jenis anomali cinta apalagi ini?

Anomali Cinta Bapak (2)

AKU masih ingat sekali, ketika aku diantar bapak ke TK. Kala itu aku berlari-lari menuju sekolah. Karena tidak hati-hati, aku terjatuh. Lututku berdarah. Rasanya perih. Lalu aku menangis. Bapak yang seharusnya segera pergi mengajar jadi terhenti. Bapak menungguiku sampai aku selesai menangis. Setelah selesai menangis, giliran aku yang jadi malas ke sekolah. Aku malu pergi ke sekolah dengan wajah sembab, apalagi alasannya hanya karena jatuh. Aku malu terlihat cengeng. Saat itu aku tidak bilang apa-apa ke bapak, tapi bapak bisa membaca keinginanku.

Sesampai di sekolah, bapak langsung bilang pada wali kelasku bu Giyah. Bapak berkata dengan lantang, seperti orang marah, seperti mahasiswa yang sedang orasi. Kata bapak waktu itu, “Dini pagi ini menangis karena ingin dinaikkan di TK B” Saat itu aku memang masih di TK A dan ingin naik TK B. Tapi pada pagi itu aku tidak menangis karena masalah ini. Aku menangis karena jatuh. Tapi bapak bilang ke bu guru aku menangis karena ingin dinaikkan ke TK B. Saat itu aku tidak berpikir jauh tentang kebohongan. Yang aku rasakan, aku begitu merasa terlindungi, begitu merasa tentram karena bapak ada di pihakku.

Banyak sekali kenangan bapak yang bermunculan di benakku. Bapak yang mengantarku sekolah, bapak yang menjemputku sekolah. Bapak yang memandikanku. Bapakyang kerap mengajakku ke sungai untuk mencuci pakaian kami sekeluarga. Bapakyang mengajariku naik sepeda. Bapak yang mengajariku badminton. Bapak yang mengajariku membaca huruf alfabhet dan Qur’an. Bapak yang mengajariku perkalian. Bapak juga yang memukul punggungku dengan sapu lidi jika aku bolos. Dan bekas sabetannya akan terasa perih sekali ketika terkena air sewaktu mandi.

Sudah banyak sekali yang telah dilakukan bapak untukku. Satu hal yang membuat kecanduan sampai aku dewasa adalah tidur siang. Ini karena bapak selalu menidurkanku di siang hari. Biasanya Bapak menidurkanku sambil memperdengarkan lagu Ebiet G.Ad. Dari sanalah pertama kali aku belajar tentang diksi. Dan bapak akan menjelaskan dengan cara yang mudah kupahami setiap kali aku bertanya tentang konotasi lirik yang susah. Aku pernah bertanya pada bapak, “Bulan merah itu artinya apa Bapak?” Kemudian bapak menjawab, “Yang namanya bulan itu, tidak ada yang warnanya merah. Yang namanya bulan selalu putih. Jika Ebiet bilang bulan itu merah, berarti sedang menceritakan suasana hatinya yang larut dalamangan-angan”

Karena sosok bapaklah, aku ingin mengerjakan sesuatu yang mudah tapi tetap menduduki jabatan yang mulia. Aku ingin menjadi guru SD. Agar mempunyai waktu yang banyak untuk keluarga dan tentunya bisa tidur siang. Mungkin karena alasan kedua kurang beken atau bagaimana, aku tidak diterima di sekolah keguruan. Padahal aku sudah mencoba 3 kali SNMPTN. Malah keterimanya di UGM.

Sampai sekarang, Bapak tetap menjadi teman yang menyenangkan bagiku. Kami selalu bertukar cerita layaknya teman sebaya. Bapak selalu hobi menceritakan pengalaman sehari-harinya, tentang perdebatannya saat rapat atau tentang berita TV yang baru dilihatnya. Bapak juga menjadi teman yang menyenangkan untuk diajak pergi ke bioskop ataupun ke toko buku. Kalau punya uang bapak akan membelikanku buku kalau tidak, kita berdua akan kompak numpang baca bersama.

Anomali Cinta Bapak (1)

SEANDAINYA Bapak tahu hal yang paling aku sesalkan dalam hidupku adalah ketika aku pernah menghentikan detik-detik untuk mencintainya. Sekalipun Bapak tahu saat itu aku sedang membencinya, tetapi bapak senantiasa tetap menyayangiku. Maka Bapak, izinkan aku membagi kisah kita berdua. Semoga rima-rimanya akan mendetingkan lebih banyak nurani lagi.

Selama 23 tahun usiaku, hal terburuk yang pernah kulakukan adalah ketika aku pernah bilang pada bapak dengan setengah berteriak, “aku tidak bisa menerima, aku tidak rido dan aku benci” kemudian aku berlari, membanting pintu dan menguncinya lantas menangis. Dan bapak hanya bisa menungguiku didepan pintu. Bapak hanya bisa berkata dengan tersendat, mungkin ada sejuta rasa yang mengganjal di benaknya.

Ketika itu bapak hanya bisa bilang, “Sewaktu kamu masih kecil, sewaktu kamu sakit, bapaklah yang gendong kamu terus.” Kemudian bapak terdiam. Bapakku yang biasanya cerewet, bapakku yang biasanya garang telah hilang ditelan suram. Bapak memilih membisu sekian jam lamanya.

Bapak hanya berkata dengan satu kalimat, tapi bapak tidak sadar jika satu kalimat itu memantik ribuan memori yang mampu mencairkan puncak egoismeku. Tentu aku masih ingat sampai sekarang, Bapak tidak hanya menggendongku saat aku sakit. Aku masih ingat sekali waktu kita mendaki gunung.

Aku dan teman-teman yang lain kelelahan. Kemudian bapak meraih tubuh adikku untuk ditaruh di lengan kanannya. Kemudian merengkuh tubuhku untuk ditaruh di lengan kirinya. Bapak menggendong aku dan adikku saat mendaki. Saat itu aku bangga sekali. Aku memandangi teman-temanku dalam gendongangan bapak sembari tersenyum pongah. Tersenyum untuk pamer, “lihatlah, aku punya bapak yang kuat”

Saat berpergian jauh, Bapak juga menggendongku terus. Karena sewaktu kecil aku selalu mabuk kendaraan. Bila aku di dudukkan,maka perutku akan terasa mual bukan main. Aku akan terus muntah sampai keluar cairan bening, sampai lidah terasa pahit. Seolah-olah isi perut ini sudah habis. Dan aku akan berhenti muntah, bila perutku berada di posisi telentang. Maka bapaklah yang merebahkan tubuhku dipangkuannya. Bapak membopongku dalam posisi duduk 8 jam lamanya. Itulahyangharus dilakukann bapak setiap tahun, setiap kali ketika kami mudik kerumahnenek.

Pernah suatu ketika kami sekeluarga bepergian dengan bus. Bapak mengajakku pindahtempat duduk menjauh dari ibu dansaudara-saudaraku. Bapak melatihku untuk duduk, kemudian aku muntah-muntah terus. Bapak menadahinya dengan tas kresek. Lalu bilang, “Tidurlah, kresek muntahanmu ini akan bapak buang. Jadi nggak ada yang tahu kalau kamu muntah”

Ketika sampai di terminal, Ibu bilang padaku, “kok wajahmu pucat? Tadi kamu mutah ya?” Saat itu bapak bilang “Nggak, dia nggak muntah kok” Saat-saat seperti itulah aku merasa, bapak adalah pahlawanku. Mabuk kendaraan merupakan suatu aib di keluargaku. Apalagi kalau diketahui saudara-sudaraku. Dan bapak rela berbohong untuk diriku.